Share

Bab 12

Penulis: Lavenhaze
last update Tanggal publikasi: 2026-01-28 10:26:25

“Ini … bukan apa-apa, Pak, jangan khawatirkan saya,” ujar Aneya terbata-bata.

Aneya menurunkan tangannya dari pipi. Ia merapikan rambutnya yang sudah mulai panjang, mencoba menutupi memar yang disadari oleh Ravin.

“Apa yang kau coba tutupi dariku?” tanya Ravin tegas.

“Ini masalah pribadi saya, Pak,” jawab Aneya.

Ravin diam. Pandangannya beradu dengan Aneya.

“Baik, saya akan mengirimkan beberapa berkas melalui surelmu. Harap dikerjakan dengan baik,” titah Ravin berlalu dari ruangan.

Aneya menghe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 188

    Suara decitan pelan dari pintu di belakangnya membuat Aneya tersentak. Kepalanya berputar cepat ke arah sumber suara. Dalam satu gerakan, ia sudah duduk tegak. Badannya tak lagi terlentang seperti beberapa detik sebelumnya, sementara pandangannya terpaku pada celah pintu yang perlahan terbuka. Aneya menahan napas sesaat. Namun, begitu wajah yang dikenalnya terlihat jelas, ketegangan di bahunya perlahan luruh. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Senyum tipis telah lebih dulu terukir di wajah Ravin saat langkah pria tersebut masuk ke dalam ruangan, membuat Aneya tanpa sadar ikut mengangkat sudut bibirnya. Setidaknya, penantiannya selama dua puluh menit akhirnya menemukan jawaban. “Sudah lama menungguku?” tanya Ravin menghampiri. “Iya, aku pikir kau meninggalkanku sendirian di sini,” jawab Aneya dengan suara yang parau. Ravin mengernyitkan dahi. “Apakah kau baik-baik saja?” Aneya mengangguk cepat. “Iya, aku tidak apa-apa.” Suara yang keluar masih terdenga

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 187

    Aneya memperhatikan wajah Ravin memerah, dengan seringai yang tampak bahagia. Ravin mengangguk pelan tanda mengindahkan pertanyaan darinya. “Verifikasinya berhasil,” ucap Ravin tersipu. Tawa ringan dari Aneya ikut mengisi suasana hangat. Sesaat kemudian, ia menopang wajahnya dengan telapak tangan dan siku yang bersandar pada sofa, ia menatap Ravin dengan saksama. “Sekarang apa yang harus kuperbuat?” tanya Aneya sambil menghela napas. “Apakah kau bosan?” tanya Ravin mengunci pandangannya. “Sejujurnya … iya, aku bosan, berikan aku kesibukan, rasanya gaji yang baru kuterima tadi terasa seperti gaji buta untuk hari ini,” jawab Aneya berterus terang. “Sudah kubilang, hari ini kau tidak perlu mengerjakan apapun, bersantailah sesaat denganku,” sahut Ravin dengan nada tenang. Aneya mengerucutkan bibirnya sambil mengembuskan napas kasar, posisinya kini berubah menjadi bersandar pada sofa. Namun, ia tahu sorot mata pria tersebut belum beranjak dari dirinya. Ia kemudian memperhat

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 186

    Benda kecil berwarna silver itu terayun di hadapan Aneya, terjepit di antara ibu jari dan telunjuk Ravin. Tatapannya langsung jatuh pada benda tersebut. Sesaat ia hanya berkedip, sebelum ingatannya kembali pada langkahnya yang terburu-buru meninggalkan area parkiran. Tanpa sempat memedulikan pertanyaan Ravin yang belum selesai, Aneya segera mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Namun, baru saja ujung jarinya hampir menyentuh benda itu, Ravin lebih dulu menarik tangannya ke belakang. Hal tersebut membuat Aneya memutar badannya, kini posisinya dan Ravin begitu dekat. Bahkan lebih dekat daripada jarak yang mereka ciptakan saat di parkiran tadi. “Hei! Berikan padaku!” seru Aneya kesal. “Aku akan memberikannya padamu jika kau melakukan satu hal,” kata Ravin penuh akan maksud yang terdengar menggoda. Aneya berdecak kasar. “Jangan lagi.” Ravin melangkah mendekat, membuat Aneya spontan mundur setapak. Namun, belum sempat ia memberi jarak lebih jauh, punggungnya lebih dulu menyentuh perm

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 185

    “Tidak ada usul lain yang terpikirkan, kita akan mengambil rencana kedua seperti yang saya katakan sebelumnya, tapi kita harus memastikan dirinya terlebih dulu,” jawab Ravin terdengar rasional dan bijak. Erik mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan memastikan kabar berikutnya dan segera mengonfirmasikannya.” “Saya akan tetap menunggu keputusan dan perkembangannya,” sahut Ravin dengan tegas. Erik kembali mengangguk sebelum berbalik dan meninggalkan mereka. Langkah pria tersebut semakin menjauh hingga akhirnya benar-benar menghilang dari area parkiran. Aneya masih berdiri di tempatnya, begitu juga dengan pria di sampingnya. Ia mengembuskan napas dan menggeser sedikit posisi tubuhnya. Sejak tadi, bahunya terasa kaku tanpa ia sadari. Ia menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga, lalu melirik Ravin dari sudut mata. “Aku kira kau akan langsung menyetujui usul tersebut,” ujar Aneya, memecah hening yang sempat mengambil alih beberapa saat. Ravin menolehkan pandangan kepadany

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 184

    “Jangan khawatir, itu bukan sesuatu yang membuatmu terlihat salah di mataku,” sahut Ravin seraya tersenyum. Aneya menatapnya beberapa saat. Senyum Ravin masih bertahan, hangat dan tanpa ada kesan menghakimi. Kalimat tersebut mampu membuat Aneya meyakini dirinya sendiri bahwa itu bukan sepenuhnya hal yang salah. Beberapa detik kemudian, Ravin kembali mengarahkan pandangannya ke jalan. Tangannya yang tadi sempat mengusap rambut Aneya turun perlahan dan kembali menggenggam setir. “Terima kasih sudah meyakinkanku,” gumam Aneya pelan. Aneya membiarkan kepalanya bersandar pada jok. Ia menatap sisi wajah Ravin dari samping, lalu tanpa sadar tersenyum kecil. Setidaknya, ia tidak perlu merasa malu hanya karena pikirannya sempat dipenuhi kekhawatiran yang berlebihan. Halaman perusahaan milik Ravin mulai terlihat di ujung jalan. Begitu mobil memasuki area parkir, Aneya mengenali deretan kendaraan yang tertata rapi di sekitar gedung. Ravin mengarahkan mobil ke tempat biasanya, pria itu

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 183

    Aneya memperhatikan gerakan ibu jari Ravin yang menyentuh layar ponsel. Sesaat kemudian, suara dari seberang terdengar lebih jelas memenuhi kabin. Ravin rupanya mengaktifkan pengeras suara. Ia spontan menegakkan tubuh. Pandangannya memperhatikan ponsel di tangan Ravin, menunggu jawaban yang akan terdengar dari sana. “Kami sudah memeriksanya kembali, Pak, semuanya aman. Dia tetap berada pada jarak yang aman di dalam ruangannya,” jawab suara bariton dari seberang. Aneya menahan napas, tetapi mencoba menghembuskannya secara perlahan. Ravin tidak langsung membalas, tatapannua tetap lurus ke jalan, sementara satu tangannya menggenggam kemudi lebih erat. “Periksa tanda-tanda lainnya,” ujar Ravin, “apa ada kemungkinan dia sempat mencoba keluar tanpa sepengetahuan kalian?” “Seperti apa, Pak?” sahut suara dari ponsel terdengar bingung. “Masuk ke ruangannya dan periksa area sekitar, apabila kalian menemukan pembungkus makanan dari restoran cepat saji, maka ia sempat berhasil melarik

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 21

    “Baik, Pak,” jawab Aneya, “hanya saja, saya tidak ingin merepotkan,”“Jangan berpikir seperti itu,” ujar Ravin.Nada suara pria itu terdengar tenang, tidak menekan. Aneya mengangguk kecil. Ia tidak menambahkan apa pun lagi.Aneya dapat merasakan sisi lembut pria itu sesaat. Ravin tidak berkata apa-

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 20

    “Lepaskan,” perintah suara itu lagi.“Kau tidak punya hak menyuruhku. Akan ku buat jalang simpananmu ini menderita!” gertak Arya.Kalimat itu jatuh seperti benda tumpul yang menghantam telinga Aneya. Nafasnya tercekat. Sebelum sempat memahami sepenuhnya makna kata-kata itu, tarikan di rambutnya se

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 19

    “Oh ayolah, mengapa terasa susah bagimu. Aku hanya mengajakmu untuk bertemu sebentar,” paksa Arya dari seberang.“Kalau aku bilang tidak mau, berarti aku tidak mau!” jelas Aneya sedikit meninggi.“Sialan! Bahkan ketika aku coba meminta maaf, kau masih jual mahal, wanita lain tidak ada yang seperti

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 10

    Aneya tertegun dengan pertanyaan yang baru saja ia dengar dari Ravin. Ia memutar otak untuk menjawab pertanyaan itu tanpa harus memberitahukan pada Ravin tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya.“Saya sedikit tidak sabar untuk menghadapi pertemuan hari ini, makanya jam tidur saya semalam sedik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status