مشاركة

Bab 12

مؤلف: Lavenhaze
last update تاريخ النشر: 2026-01-28 10:26:25

“Ini … bukan apa-apa, Pak, jangan khawatirkan saya,” ujar Aneya terbata-bata.

Aneya menurunkan tangannya dari pipi. Ia merapikan rambutnya yang sudah mulai panjang, mencoba menutupi memar yang disadari oleh Ravin.

“Apa yang kau coba tutupi dariku?” tanya Ravin tegas.

“Ini masalah pribadi saya, Pak,” jawab Aneya.

Ravin diam. Pandangannya beradu dengan Aneya.

“Baik, saya akan mengirimkan beberapa berkas melalui surelmu. Harap dikerjakan dengan baik,” titah Ravin berlalu dari ruangan.

Aneya menghe
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 200

    “Bukannya aku enggan merespons pertanyaanmu, tapi aku mengambil waktu beberapa saat untuk memikirkan pertanyaan itu terlebih dulu. Aku mencoba membuatmu yakin dengan cara yang akan kita kerahkan besok tentunya, dan lagi … tentu saja aku sangat yakin bahwa kau tidak akan bersalah saat sidang dilakukan nantinya,” jawab Ravin lugas terdengar meyakinkan. Aneya menurunkan kedua tangannya dari dada, ekspresinya mengendur. Ia maju selangkah mendekati Ravin. “Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah kesal padamu,” kata Aneya sederhana sambil mengulum bibirnya ke dalam. “Aku juga minta maaf, aku harap setelah ini dan semua penjelasanku dapat diterima dengan baik. Aku harap kau bisa memaafkanku,” balas Ravin sambil menundukkan wajahnya. Ada senyum getir yang tercipta di wajah Aneya, pria di hadapannya sudah terlalu banyak mengucap kata permintaan maaf di penghujung hari. Ia menghela napasnya pelan dan mengangguk sebisanya. “Tenang saja,” sahut Aneya kemudian terdengar singkat. “K

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 199

    “Lupakan saja,” balas Aneya sambil mengerucutkan bibirnya. Tawa Ravin semakin menjadi, salah satu tangan pria tersebut kembali bertengger di pucuk kepala Aneya. Elusan yang pelan dan menenangkan itu kembali dilakukan Ravin. “Ayolah, aku akan mendengarkan ceritanya,” sahut Ravin tanpa menoleh. Aneya menghela napas panjang. “Apakah aku pernah menceritakan padamu bahwa Arya juga ikut terlibat dalam hal itu?” “Benar kah?” tanya Ravin terkejut dan menoleh sebentar. “Bukan sesuatu yang besar, hanya terlibat dalam menambah beban pikiranku kala itu,” jawab Aneya datar dengan pandangan lurus. Detik itu juga sepi kembali mengambil alih di antara mereka. Tidak ada pertanyaan atau candaan yang memicu pria di sampingnya untuk membuka suara, begitu pun dengan Aneya. “Aku minta maaf jika itu membuka luka lama bagimu,” ucap Ravin dengan nada yang pelan. “Tidak masalah, maaf juga karena aku belum bisa menceritakannya padamu … butuh energi yang banyak untuk itu,” balas Aneya bersama dengan hela

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 198

    Ravin menghela napas, perlahan Aneya melepaskan pelukannya. Ia sempat mengangkat wajah, memperhatikan pergerakan yang dilakukan pria tersebut, tetapi Ravin justru beralih ke sisi mobil dan membukakan pintu untuknya. Aneya terdiam sesaat sebelum mengalihkan pandangan ke kursi penumpang. “Ayo, pulang. Kita berdua sudah terlalu lelah untuk hari ini,” ujar Ravin dengan nada yang lembut. “Dia benar, aku saja yang terlalu berlebihan … sepertinya,” batin Aneya sembari menyeret kakinya pelan. Pintu mobil tertutup dengan bunyi dentuman pelan. Aneya tetap diam di kursi penumpang, pandangannya terpaku pada halaman luas di balik kaca depan. Jemarinya terkulai di pangkuan, tak bergerak meski beberapa detik berlalu. Tak lama kemudian, pintu di sisi pengemudi terbuka dan tertutup kembali. Ravin memutar kunci kontak, disusul deru mesin yang memenuhi kabin. Namun, Aneya masih belum mengalihkan pandangannya. Sepanjang perjalanan, Aneya hanya menatap jalanan dari balik kaca jendela. Tak sepatah

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 197

    “Akhirnya kau membuka suara,” celetuk Arya sarkas dengan seringai khasnya. Ravin meraih pergelangan tangan kiri Aneya, lalu bangkit dari tempat duduk. Aneya segera menyusul, napasnya memburu saat ia berdiri di sisi pria itu. Jemarinya menegang dalam genggaman Ravin, sementara tatapannya tertuju tajam pada Arya. “Kau bahkan terdengar tidak serius setiap kali menanggapi Ravin!” pekik Aneya bersama dengan amarah yang akhirnya meluap. “Jika aku tidak serius, untuk apa aku mengerahkan tenaga dalam menjawab pertanyaan seperti itu?” sahut Arya, “jangan terlalu dendam padaku, kita dulu juga pernah menjalin hubungan.” Rahang Aneya mengeras. Ia merenggut tangannya dari genggaman Ravin, lalu melangkah cepat menghampiri Arya. Jemarinya mengepal erat di sisi tubuh, sementara tatapannya tak lepas dari pria itu, seolah tak ada lagi yang mampu menghalangi langkahnya. Telapak tangan Aneya mendarat telak di pipi Arya, menghasilkan bunyi tamparan yang memecah keheningan. Ia tertegun saat melih

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 196

    “Salahkah jika aku percaya diri pada hal yang kuyakini?” tanya Arya sarkas membalik pertanyaan. “Senang mendengarmu begitu percaya diri,” sahut Ravin tak kalah sarkas. Netra Aneya bergantian melirik kedua pria yang berada di sekitarnya. Ia mengembuskan napas pelan melalui hidung, berusaha agar salah satu dari mereka tidak ada yang menyadari hal tersebut. “Sampai kapan aku akan dikarantina di sini?” tanya Arya kemudian. Aneya memperhatikan gerak-gerik Arya yang merogoh saku celana, seolah berusaha keras mengeluarkan benda dari dalam sana. Sebatang rokok kemudian dibakar oleh pria itu, tidak ada yang membuka suara dan Arya terlihat tetap santai menghisap rokoknya beberapa kali dengan kepulan asap yang beberapa kali dikeluarkan dari mulutnya. “Aku tidak akan menjawab pertanyaan tersebut, tapi aku ingin bertanya satu hal padamu,” kata Ravin mencoba tetap pada topik. “Ravin, kau punya terlalu banyak pertanyaan, aku bahkan tidak yakin akan menjawab semua pertanyaan itu,” ucap Ar

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 195

    Aneya bergeming sembari menatap ke arah pintu yang menuju balkon. Tanpa sadar ia menarik napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan, ia mencoba membuat perasaannya stabil. “Aku siap,” jawab Aneya akhirnya terdengar pelan. “Tetap bersamaku, jangan lepaskan genggamannya,” sahut Ravin setengah berbisik. Genggaman pria itu semakin menguat kala langkah kaki mereka kini tertuju pada satu arah menuju pintu tersebut. Pria itu kemudian menarik pintu kaca besar setelah berhasil memutar gagangnya. Semilir angin malam yang terasa sejuk seketika menyambut mereka, salah satu tangan Aneya mencoba memperbaiki rambutnya yang tertiup angin. Pandangannya mengedar, balkon itu cukup luas. “Di mana dia?” gumam Aneya pelan hampir tak terdengar. “Ikut aku, balkon ini terhubung dengan beberapa bagian balkon di sisi samping,” ucap Ravin sederhana. Aneya sedikit terkejut ketika pria di sampingnya mendengar apa yang baru saja ia katakan. Sepersekian detik berikutnya, derap langkah mereka berjalan

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 110

    Aneya terdiam beberapa detik di tempat. Jemarinya langsung bergerak di atas layar ponsel, sibuk membalas pesan dari Ravin tanpa benar-benar memedulikan sekitar. Fokusnya tertahan penuh pada percakapan itu, sementara Arya dibiarkan berdiri beberapa langkah darinya, seolah Aneya sengaja menciptakan j

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 107

    “Aku sangat perlu dan akan mendiskusikan hal itu bersama Arya,” jawab Aneya dengan jujur. “Kalian akan bertemu besok?” tanya Ibu Aneya dengan penasaran. “Iya, kebetulan kami sudah membuat jadwal temu dari hari-hari sebelumnya,” jawab Aneya tanpa mengalihkan perhatian dari benda di hadapannya.

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 105

    Aneya sontak terkejut, beruntung ia sudah berada di pekarangan kantor. Hal tersebut membuatnya segera mematikan pengeras suara dari ponsel dan menempelkan benda itu ke telinga. “Kau membuatku terkejut!” seru Aneya setengah berbisik sembari menatap sekitar. “Ada yang menjemputmu?” tanya Ravin tida

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 92

    Detik dan menit berlalu, tidak ada tanda-tanda bahwa Aneya akan beranjak. Alih-alih keluar untuk mengambil udara segar atau mengisi perut, ia memilih untuk memeriksa kembali pekerjaannya. “Semuanya sudah lengkap dan aman, apa lagi yang akan ku kerjakan sore nanti? Atau mungkin Ravin ingin menginf

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status