Share

Bab 10

Author: Lavenhaze
last update publish date: 2026-01-27 09:36:33

Aneya tertegun dengan pertanyaan yang baru saja ia dengar dari Ravin. Ia memutar otak untuk menjawab pertanyaan itu tanpa harus memberitahukan pada Ravin tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya.

“Saya sedikit tidak sabar untuk menghadapi pertemuan hari ini, makanya jam tidur saya semalam sedikit terganggu, Pak,” alibi Aneya seraya tersenyum kecil.

Aneya berharap jawaban yang baru saja keluar dari mulutnya bisa meyakinkan Ravin sepenuhnya. Namun, air wajah pria itu tampak berubah, seolah ti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 184

    “Jangan khawatir, itu bukan sesuatu yang membuatmu terlihat salah di mataku,” sahut Ravin seraya tersenyum. Aneya menatapnya beberapa saat. Senyum Ravin masih bertahan, hangat dan tanpa ada kesan menghakimi. Kalimat tersebut mampu membuat Aneya meyakini dirinya sendiri bahwa itu bukan sepenuhnya hal yang salah. Beberapa detik kemudian, Ravin kembali mengarahkan pandangannya ke jalan. Tangannya yang tadi sempat mengusap rambut Aneya turun perlahan dan kembali menggenggam setir. “Terima kasih sudah meyakinkanku,” gumam Aneya pelan. Aneya membiarkan kepalanya bersandar pada jok. Ia menatap sisi wajah Ravin dari samping, lalu tanpa sadar tersenyum kecil. Setidaknya, ia tidak perlu merasa malu hanya karena pikirannya sempat dipenuhi kekhawatiran yang berlebihan. Halaman perusahaan milik Ravin mulai terlihat di ujung jalan. Begitu mobil memasuki area parkir, Aneya mengenali deretan kendaraan yang tertata rapi di sekitar gedung. Ravin mengarahkan mobil ke tempat biasanya, pria itu

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 183

    Aneya memperhatikan gerakan ibu jari Ravin yang menyentuh layar ponsel. Sesaat kemudian, suara dari seberang terdengar lebih jelas memenuhi kabin. Ravin rupanya mengaktifkan pengeras suara. Ia spontan menegakkan tubuh. Pandangannya memperhatikan ponsel di tangan Ravin, menunggu jawaban yang akan terdengar dari sana. “Kami sudah memeriksanya kembali, Pak, semuanya aman. Dia tetap berada pada jarak yang aman di dalam ruangannya,” jawab suara bariton dari seberang. Aneya menahan napas, tetapi mencoba menghembuskannya secara perlahan. Ravin tidak langsung membalas, tatapannua tetap lurus ke jalan, sementara satu tangannya menggenggam kemudi lebih erat. “Periksa tanda-tanda lainnya,” ujar Ravin, “apa ada kemungkinan dia sempat mencoba keluar tanpa sepengetahuan kalian?” “Seperti apa, Pak?” sahut suara dari ponsel terdengar bingung. “Masuk ke ruangannya dan periksa area sekitar, apabila kalian menemukan pembungkus makanan dari restoran cepat saji, maka ia sempat berhasil melarik

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 182

    “Cepat sekali perginya,” sambung Ravin setengah berbisik. “Itu yang membuatku semakin bingung,” ujar Aneya pelan dengan pandangan yang masih tertuju pada tempat yang sama tersebut. Aneya mengembuskan napas panjang. Ada rasa tidak nyaman yang kembali menetap di dadanya, terlebih setelah semua yang terjadi belakangan ini. Ia masih mencoba mengingat kembali wajah pria tersebut, berharap ingatannya tidak keliru. “Kita kembali ke kantor saja, sambil menunggu kabar dari mereka. Semoga saja tidak ada gerakkan tambahan yang dibuat oleh Arya,” kata Ravin kemudian. Aneya menoleh kepadanya. Ia tidak banyak berdebat dan hanya mengangguk kecil. Mereka pun berlalu meninggalkan area tersebut. Aneya berjalan di sisi Ravin menuju pintu keluar, tetapi beberapa kali ia masih sempat melirik ke belakang. Berharap sosok yang tadi dilihatnya tiba-tiba muncul dari arah mana saja di area restauran itu. Begitu pintu restoran terbuka, udara dari luar menyambut wajahnya. Aneya menarik napas dalam-dalam sebe

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 181

    Tatapan Ravin tertahan beberapa saat. Aneya menangkap sesuatu yang berbeda di sana, ada kecemasan yang disembunyikan di balik wajah pria itu yang tetap berusaha tenang. Rahangnya memang sempat mengeras, tetapi Ravin masih mengatur napasnya perlahan, seolah tidak ingin membuat kegelisahan Aneya semakin buruk. “Aku tahu ini membuatmu khawatir, tapi kumohon padamu untuk tetap tenang. Kita belum tahu apakah pria itu benar-benar Arya. Jangan sampai kita membuat kesimpulan sebelum memastikan semuanya,” ujar Ravin rendah. Aneya mengangguk kecil, meski jemarinya masih saling menggenggam di atas meja. Cara Ravin berbicara sedikit meredakan sesak di dadanya, tetapi bayangan sosok yang tadi dilihatnya masih terus berputar di kepala. Ravin tiba-tiba bangkit dari kursinya. Gerakan pria itu membuat Aneya refleks mendongak, matanya mengikuti Ravin yang kini mengambil beberapa langkah menjauh dari meja. “Tunggu di sini, tidak akan lama,” kata Ravin dengan suara yang perlahan memudar. Aneya

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 180

    “Lagipula aku tidak ingin tenagamu habis hanya karena memikirkannya, aku tidak melarangmu bercerita, aku harap kau tidak mengartikan seperti itu,” lanjut Ravin dengan senyum hangat yang menghias wajahnya. Aneya mengangguk kecil, senyum tipis sempat terukir sebelum ia kembali mengambil sepotong ayam di hadapannya. Percakapan tentang masa lalu perlahan mereka tinggalkan. Kini, yang terdengar hanya suara bungkus makanan yang sesekali bergesekan, denting es di dalam gelas minuman, dan tawa kecil yang muncul di sela-sela obrolan ringan mereka. Untuk beberapa saat, Aneya membiarkan dirinya menikmati makan siang itu tanpa memikirkan apa pun yang telah terjadi sebelumnya. Kehadiran Ravin saat ini membuatnya mampu mengalihkan hal yang sempat mengganggu pikiran. Ravin meletakkan bungkus makanan setelah suapan terakhir. “Tunggu di sini, biar aku yang bayar.” Aneya spontan menahan tangan pria tersebut. Bahkan sebelum Ravin sempat berdiri. “Biar aku saja,” cegah Aneya, “sesekali aku yang

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 179

    Aneya mendongak ke sumber suara. Matanya membulat ketika melihat Ravin berdiri di hadapannya dengan sebuah nampan di tangan. Pria itu meletakkannya di atas meja, memperlihatkan dua dus kecil ayam goreng, nuget ayam, kentang goreng, dua gelas minuman bersoda, dan dua gelas es krim. Aneya mengedip beberapa kali. Pandangan matanya berpindah dari makanan sebanyak itu kepada Ravin, lalu kembali lagi pada nampan. “Ravin…,” ucap Aneya, hanya nama itu yang berhasil lolos dari bibirnya. Pria tersebut menarik kursi di hadapannya dan duduk santai. Pandangannya fokus pada Ravin yang kemudian membagi menu tersebut untuk dirinya dan kemudian menyampirkan nampan di samping meja mereka. “Aku tahu hal itu masih membuatmu trauma,” kata Ravin, “tapi, makan dulu sebelum semuanya menjadi dingin,” Aneya melirik dua gelas es krim yang terletak di atas meja. Ia kemudian mengangkat alisnya sambil menahan senyum. “Es krim ini bukannya sudah dingin?” celetuk Aneya dengan nada bercanda. Ravin terli

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 87

    Langkahnya teratur menuju kamar. Ketika Aneya menutup pintu, ia kemudian mendengar getaran yang berasal dari benda pipih di samping bantal. Badan Aneya seolah menuntun dirinya untuk segera memeriksa ponsel tersebut. Sebuah pesan dari Ravin, cukup membuatnya duduk terpaku pada sisi ranjang. “Ter

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 81

    “Baiklah, aku mengumpulkan semua niat dan tenagaku terlebih dahulu,” jawab Aneya berbicara sendiri dan mengganti posisi menjadi duduk. Ia menarik napas dalam, lirikannya jatuh pada laptop yang berada di atas meja kerja yang dulunya merupakan meja belajar. Pelan kakinya berpijak ke lantai dan berh

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 79

    Di saat semua orang tengah sibuk dengan hiruk pikuknya dunia, Aneya masih terbaring di atas tempat tidurnya. Perlahan ia membuka mata, memindai sekitar. “Apa aku terlambat lagi hari ini?” tanya Aneya dalam hati. Ia tidak langsung bergegas, Aneya menarik selimut yang berada di ujung tempat tidur

  • Benih Cinta Dalam Ruang Direktur   Bab 78

    “Kenapa terkejut? Lagi pula kau hanya masa lalunya,” cibir wanita tersebut dengan bangga. “Masa lalu?! Aku bahkan belum mengakhiri hubunganku dengannya, asal kau tahu, aku dan Arya hanya mengambil jeda dan bukan sepenuhnya berpisah!” terang Aneya dengan nada meninggi. “Aku tidak peduli, jangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status