LOGINAneya memperhatikan gerakan ibu jari Ravin yang menyentuh layar ponsel. Sesaat kemudian, suara dari seberang terdengar lebih jelas memenuhi kabin. Ravin rupanya mengaktifkan pengeras suara. Ia spontan menegakkan tubuh. Pandangannya memperhatikan ponsel di tangan Ravin, menunggu jawaban yang akan terdengar dari sana. “Kami sudah memeriksanya kembali, Pak, semuanya aman. Dia tetap berada pada jarak yang aman di dalam ruangannya,” jawab suara bariton dari seberang. Aneya menahan napas, tetapi mencoba menghembuskannya secara perlahan. Ravin tidak langsung membalas, tatapannua tetap lurus ke jalan, sementara satu tangannya menggenggam kemudi lebih erat. “Periksa tanda-tanda lainnya,” ujar Ravin, “apa ada kemungkinan dia sempat mencoba keluar tanpa sepengetahuan kalian?” “Seperti apa, Pak?” sahut suara dari ponsel terdengar bingung. “Masuk ke ruangannya dan periksa area sekitar, apabila kalian menemukan pembungkus makanan dari restoran cepat saji, maka ia sempat berhasil melarik
“Cepat sekali perginya,” sambung Ravin setengah berbisik. “Itu yang membuatku semakin bingung,” ujar Aneya pelan dengan pandangan yang masih tertuju pada tempat yang sama tersebut. Aneya mengembuskan napas panjang. Ada rasa tidak nyaman yang kembali menetap di dadanya, terlebih setelah semua yang terjadi belakangan ini. Ia masih mencoba mengingat kembali wajah pria tersebut, berharap ingatannya tidak keliru. “Kita kembali ke kantor saja, sambil menunggu kabar dari mereka. Semoga saja tidak ada gerakkan tambahan yang dibuat oleh Arya,” kata Ravin kemudian. Aneya menoleh kepadanya. Ia tidak banyak berdebat dan hanya mengangguk kecil. Mereka pun berlalu meninggalkan area tersebut. Aneya berjalan di sisi Ravin menuju pintu keluar, tetapi beberapa kali ia masih sempat melirik ke belakang. Berharap sosok yang tadi dilihatnya tiba-tiba muncul dari arah mana saja di area restauran itu. Begitu pintu restoran terbuka, udara dari luar menyambut wajahnya. Aneya menarik napas dalam-dalam sebe
Tatapan Ravin tertahan beberapa saat. Aneya menangkap sesuatu yang berbeda di sana, ada kecemasan yang disembunyikan di balik wajah pria itu yang tetap berusaha tenang. Rahangnya memang sempat mengeras, tetapi Ravin masih mengatur napasnya perlahan, seolah tidak ingin membuat kegelisahan Aneya semakin buruk. “Aku tahu ini membuatmu khawatir, tapi kumohon padamu untuk tetap tenang. Kita belum tahu apakah pria itu benar-benar Arya. Jangan sampai kita membuat kesimpulan sebelum memastikan semuanya,” ujar Ravin rendah. Aneya mengangguk kecil, meski jemarinya masih saling menggenggam di atas meja. Cara Ravin berbicara sedikit meredakan sesak di dadanya, tetapi bayangan sosok yang tadi dilihatnya masih terus berputar di kepala. Ravin tiba-tiba bangkit dari kursinya. Gerakan pria itu membuat Aneya refleks mendongak, matanya mengikuti Ravin yang kini mengambil beberapa langkah menjauh dari meja. “Tunggu di sini, tidak akan lama,” kata Ravin dengan suara yang perlahan memudar. Aneya
“Lagipula aku tidak ingin tenagamu habis hanya karena memikirkannya, aku tidak melarangmu bercerita, aku harap kau tidak mengartikan seperti itu,” lanjut Ravin dengan senyum hangat yang menghias wajahnya. Aneya mengangguk kecil, senyum tipis sempat terukir sebelum ia kembali mengambil sepotong ayam di hadapannya. Percakapan tentang masa lalu perlahan mereka tinggalkan. Kini, yang terdengar hanya suara bungkus makanan yang sesekali bergesekan, denting es di dalam gelas minuman, dan tawa kecil yang muncul di sela-sela obrolan ringan mereka. Untuk beberapa saat, Aneya membiarkan dirinya menikmati makan siang itu tanpa memikirkan apa pun yang telah terjadi sebelumnya. Kehadiran Ravin saat ini membuatnya mampu mengalihkan hal yang sempat mengganggu pikiran. Ravin meletakkan bungkus makanan setelah suapan terakhir. “Tunggu di sini, biar aku yang bayar.” Aneya spontan menahan tangan pria tersebut. Bahkan sebelum Ravin sempat berdiri. “Biar aku saja,” cegah Aneya, “sesekali aku yang
Aneya mendongak ke sumber suara. Matanya membulat ketika melihat Ravin berdiri di hadapannya dengan sebuah nampan di tangan. Pria itu meletakkannya di atas meja, memperlihatkan dua dus kecil ayam goreng, nuget ayam, kentang goreng, dua gelas minuman bersoda, dan dua gelas es krim. Aneya mengedip beberapa kali. Pandangan matanya berpindah dari makanan sebanyak itu kepada Ravin, lalu kembali lagi pada nampan. “Ravin…,” ucap Aneya, hanya nama itu yang berhasil lolos dari bibirnya. Pria tersebut menarik kursi di hadapannya dan duduk santai. Pandangannya fokus pada Ravin yang kemudian membagi menu tersebut untuk dirinya dan kemudian menyampirkan nampan di samping meja mereka. “Aku tahu hal itu masih membuatmu trauma,” kata Ravin, “tapi, makan dulu sebelum semuanya menjadi dingin,” Aneya melirik dua gelas es krim yang terletak di atas meja. Ia kemudian mengangkat alisnya sambil menahan senyum. “Es krim ini bukannya sudah dingin?” celetuk Aneya dengan nada bercanda. Ravin terli
Ravin terkekeh pelan. “Kau pasti mulai merasa kepanasan.” “Benar. Cuaca hari ini membuatku gerah,” sahut Aneya sambil mengusap tengkuknya. Tanpa terlalu memikirkannya, ia membuka dua kancing bagian atas kemejanya. Bukan untuk menarik perhatian dari Ravin, melainkan semata-mata agar udara terasa lebih lega di sekitar lehernya. Aneya kemudian mencondongkan tubuh ke arah panel pendingin udara. Jemarinya baru saja hendak menekan tombol ketika ia merasakan tatapan dari arah samping. Ia langsung menoleh dan Ravin sedang memandanginya. Tatapan pria itu tidak lagi setenang beberapa saat lalu. Matanya sempat turun sekilas sebelum kembali bertemu dengan pandangan Aneya, sementara senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirnya. “Astaga!” seru Aneya dalam hati. Aneya terdiam. Baru menyadari posisi kemejanya, ia buru-buru merapikan bagian kerah yang terbuka. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Aneya berusaha terdengar biasa. Ravin hanya mengangkat alis, seolah tidak merasa bersalah
“Apa?!” seru Arya terkejut. “Masih kurang jelas?! Perlu ku ulangi lagi?!” cecar Aneya dengan sambil bersedekap dada. “Kau tidak boleh mengakhiri hubungan kita!” murka Arya yang naik pitam. “Bagiku boleh, mulai detik ini aku bukan pasanganmu lagi, dan kau tidak perlu repot untuk mencari cara m
Aneya terdiam beberapa detik di tempat. Jemarinya langsung bergerak di atas layar ponsel, sibuk membalas pesan dari Ravin tanpa benar-benar memedulikan sekitar. Fokusnya tertahan penuh pada percakapan itu, sementara Arya dibiarkan berdiri beberapa langkah darinya, seolah Aneya sengaja menciptakan j
“Aku sangat perlu dan akan mendiskusikan hal itu bersama Arya,” jawab Aneya dengan jujur. “Kalian akan bertemu besok?” tanya Ibu Aneya dengan penasaran. “Iya, kebetulan kami sudah membuat jadwal temu dari hari-hari sebelumnya,” jawab Aneya tanpa mengalihkan perhatian dari benda di hadapannya.
Aneya sontak terkejut, beruntung ia sudah berada di pekarangan kantor. Hal tersebut membuatnya segera mematikan pengeras suara dari ponsel dan menempelkan benda itu ke telinga. “Kau membuatku terkejut!” seru Aneya setengah berbisik sembari menatap sekitar. “Ada yang menjemputmu?” tanya Ravin tida







