Se connecterTatapan Ravin tertahan beberapa saat. Aneya menangkap sesuatu yang berbeda di sana, ada kecemasan yang disembunyikan di balik wajah pria itu yang tetap berusaha tenang. Rahangnya memang sempat mengeras, tetapi Ravin masih mengatur napasnya perlahan, seolah tidak ingin membuat kegelisahan Aneya semakin buruk. “Aku tahu ini membuatmu khawatir, tapi kumohon padamu untuk tetap tenang. Kita belum tahu apakah pria itu benar-benar Arya. Jangan sampai kita membuat kesimpulan sebelum memastikan semuanya,” ujar Ravin rendah. Aneya mengangguk kecil, meski jemarinya masih saling menggenggam di atas meja. Cara Ravin berbicara sedikit meredakan sesak di dadanya, tetapi bayangan sosok yang tadi dilihatnya masih terus berputar di kepala. Ravin tiba-tiba bangkit dari kursinya. Gerakan pria itu membuat Aneya refleks mendongak, matanya mengikuti Ravin yang kini mengambil beberapa langkah menjauh dari meja. “Tunggu di sini, tidak akan lama,” kata Ravin dengan suara yang perlahan memudar. Aneya
“Lagipula aku tidak ingin tenagamu habis hanya karena memikirkannya, aku tidak melarangmu bercerita, aku harap kau tidak mengartikan seperti itu,” lanjut Ravin dengan senyum hangat yang menghias wajahnya. Aneya mengangguk kecil, senyum tipis sempat terukir sebelum ia kembali mengambil sepotong ayam di hadapannya. Percakapan tentang masa lalu perlahan mereka tinggalkan. Kini, yang terdengar hanya suara bungkus makanan yang sesekali bergesekan, denting es di dalam gelas minuman, dan tawa kecil yang muncul di sela-sela obrolan ringan mereka. Untuk beberapa saat, Aneya membiarkan dirinya menikmati makan siang itu tanpa memikirkan apa pun yang telah terjadi sebelumnya. Kehadiran Ravin saat ini membuatnya mampu mengalihkan hal yang sempat mengganggu pikiran. Ravin meletakkan bungkus makanan setelah suapan terakhir. “Tunggu di sini, biar aku yang bayar.” Aneya spontan menahan tangan pria tersebut. Bahkan sebelum Ravin sempat berdiri. “Biar aku saja,” cegah Aneya, “sesekali aku yang
Aneya mendongak ke sumber suara. Matanya membulat ketika melihat Ravin berdiri di hadapannya dengan sebuah nampan di tangan. Pria itu meletakkannya di atas meja, memperlihatkan dua dus kecil ayam goreng, nuget ayam, kentang goreng, dua gelas minuman bersoda, dan dua gelas es krim. Aneya mengedip beberapa kali. Pandangan matanya berpindah dari makanan sebanyak itu kepada Ravin, lalu kembali lagi pada nampan. “Ravin…,” ucap Aneya, hanya nama itu yang berhasil lolos dari bibirnya. Pria tersebut menarik kursi di hadapannya dan duduk santai. Pandangannya fokus pada Ravin yang kemudian membagi menu tersebut untuk dirinya dan kemudian menyampirkan nampan di samping meja mereka. “Aku tahu hal itu masih membuatmu trauma,” kata Ravin, “tapi, makan dulu sebelum semuanya menjadi dingin,” Aneya melirik dua gelas es krim yang terletak di atas meja. Ia kemudian mengangkat alisnya sambil menahan senyum. “Es krim ini bukannya sudah dingin?” celetuk Aneya dengan nada bercanda. Ravin terli
Ravin terkekeh pelan. “Kau pasti mulai merasa kepanasan.” “Benar. Cuaca hari ini membuatku gerah,” sahut Aneya sambil mengusap tengkuknya. Tanpa terlalu memikirkannya, ia membuka dua kancing bagian atas kemejanya. Bukan untuk menarik perhatian dari Ravin, melainkan semata-mata agar udara terasa lebih lega di sekitar lehernya. Aneya kemudian mencondongkan tubuh ke arah panel pendingin udara. Jemarinya baru saja hendak menekan tombol ketika ia merasakan tatapan dari arah samping. Ia langsung menoleh dan Ravin sedang memandanginya. Tatapan pria itu tidak lagi setenang beberapa saat lalu. Matanya sempat turun sekilas sebelum kembali bertemu dengan pandangan Aneya, sementara senyum tipis perlahan muncul di sudut bibirnya. “Astaga!” seru Aneya dalam hati. Aneya terdiam. Baru menyadari posisi kemejanya, ia buru-buru merapikan bagian kerah yang terbuka. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Aneya berusaha terdengar biasa. Ravin hanya mengangkat alis, seolah tidak merasa bersalah
Ravin terkekeh pelan, entah dibagian mana yang membuat pria itu merasa lucu. Lirikan mata Ravin jatuh pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, sorot mata itu kemudian menatap Aneya dengan teduh. “Pantas saja kau bertanya seperti itu, sekarang sudah mendekati pukul Waktu Aneya Bagian Makan Siang,” canda Ravin yang sontak melepaskan tawanya. Aneya mengerucutkan bibirnya sambil mendorong pelan dada pria itu, sedangkan Ravin masih menyunggingkan senyum khas di wajah tampan itu. Ketika pria tersebut akhirnya mengambil sedikit jarak, Aneya memperhatikan dengan saksama jemari Ravin yang sibuk merapikan bagian depan kemeja, padahal tidak ada satu pun lipatan yang terlihat berantakan. “Biar aku saja,” kata Aneya cepat dan turut memperbaiki. Tangannya terulur untuk membenahi kerah kemeja Ravin. Gerakannya sempat terhenti ketika menyadari jarak mereka kembali begitu dekat. “Apa sekretarisku sengaja memperlambat waktu makan siang hanya untuk mendapatkan momen seperti ini?” goda
Aneya bergeming sesaat, sebelum ia kembali memberanikan diri menatap Ravin. Ia sempat berusaha menelan ludah sebelum membuka suara. “Aku hanya teringat sesuatu, seandainya dulu semuanya tidak berakhir seperti itu, mungkin sebagian uang ini sudah masuk ke tabungan yang pernah kami rencanakan,” aku Aneya jujur bernada lirih. Pria itu tidak menyela. Aneya perlahan menundukkan wajah, takut kalimatnya terdengar seperti tanda bahwa ia masih menyimpan perasaan untuk mantan kekasihnya, Arya. “Aku tidak merindukannya, hanya … menyayangkan semuanya. Empat tahun itu bukan waktu yang sebentar. Ada banyak rencana yang akhirnya harus dilepaskan begitu saja,” lanjut Aneya cepat. Tidak ada perubahan tajam pada wajah pria tersebut, tidak ada juga pertanyaan yang dilayangkan dimana membuat Aneya merasa harus membela diri. “Aku mengerti,” sahut Ravin sambil mengangguk pelan. Aneya mengangkat wajahnya. Ia mendapati air muka pria itu tampak biasa saja, tidak ada tanda secuil protes yang tak te
Sedikit demi sedikit, seolah tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan kedekatan itu, sementara pikirannya justru semakin kacau. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram lebih erat, dan setiap detik yang berlalu hanya membuatnya semakin sulit membedakan mana yang ingin ia hindari dan mana yang diam-diam ia
Persneling mobil menjadi batas yang sedikit mengganggu, decakan kesal Ravin dapat ditangkap oleh telinganya. Pria itu kemudian melepas pegangan yang bersemayam di pinggang Aneya saat menariknya mendekat beberapa detik lalu. Sorot matanya mengekor Ravin yang membuka pintu mobil tergesa, pria tersebu
“Sayangnya tidak, aku serius atas apa yang kukatakan. Jika dia tidak bisa berkomitmen, maka biarkan aku menjadi lelaki pertama yang membuktikan padamu akan hal tersebut,” jawab Ravin dengan tegas dan terdengar serius. Aneya terkesiap dengan apa yang ia dengar. Nada pria itu bergema tidak main-mai
Perhatian mereka teralihkan pada suara yang muncul di tengah ketegangan itu. Bagi Aneya, suara tersebut terasa seperti penolong yang datang di waktu paling tepat. Cengkeraman Arya di bahunya perlahan melonggar dan kemudian melepaskannya. Arya mundur beberapa langkah, menciptakan jarak di antara mer







