Home / Rumah Tangga / Benih Rahasia Kapten Yudha / Part 2 Tuan Muda Berseragam Loreng

Share

Part 2 Tuan Muda Berseragam Loreng

Author: Lisani
last update Last Updated: 2023-08-10 22:43:57

“Besok sore setelah shalat Ashar, temui saya di Kafe Biru. Jangan sampai Anda menyesal,” ucapnya berlalu masuk ke dalam rumahnya.

Tari masih terpaku di tempat mencoba mencerna ucapan pria tadi. Tari ingat, dia adalah putra kedua Tuan Giriandra yang merupakan seorang perwira TNI AD. Terakhir kali ia melihat pria itu saat ulang tahun perusahaan beberapa tahun lalu.

“Apa benar dia mau menyiapkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?” gumam Tari mengernyit bingung. “Pasti ada maunya.”

Tari berjalan tergesa. Dengan lincah jemarinya mengutak-atik ponsel memesan ojek online. Pria paruh baya satpam rumah ini tampak meninggalkan kursinya dan hendak membuka pintu gerbang.

Ponsel yang diutak-atik itu tiba-tiba berdering. Pikirnya, itu mungkin driver yang mengkonfirmasi penjemputan. Namun, kening Tari berkerut menyadari jika panggilan telpon itu bukan dari aplikasi ojek online. Senyum Tari mengembang, menduga itu mungkin saja salah seorang calon donator.

“Halo? Selamat siang, ini dengan Tari. Maaf, saya sedang bicara dengan siapa?” sapa Tari santun.

“Calon donatur. Jangan lupa besok sore di Kafe Biru, Nona Tari. Simpan kontak saya agar Anda tahu kalau saya tidak bercanda,” sahut suara yang sama dengan suara yang beberapa saat lalu didengarnya.

Tari menatap layar ponselnya sejenak. Ia tidak sedang berhalusinasi. Panggilan telpon itu nyata.

“Hati-hati di jalan, Nona Tari. Jangan berjalan seperti orang linglung, nanti tersandung. Hati-hati dengan tas bawaan Anda, jangan disampir di bahu, sebaiknya ditaruh di depan,” sarannya sehingga membuat langkah Tari terhenti.

Tari berbalik ke arah pintu utama. Pintu itu masih tertutup rapat seperti tadi. “Di atas,” bisik suara itu.

Tari mendongak dan melihat pria berseragam loreng itu berdiri di balkon kamar. “Anda dapat nomor saya dari mana, Tuan Muda?”

“Dari dalam map yang Anda pegang, Nona. Ingatan saya cukup bagus. Bukan masalah besar jika harus menghapal deretan angka,” jawab Yudha mengulas senyum melihat wajah melongo gadis yang berdiri di bawah sana.

Klik!

Tari tersentak mendengar panggilan telpon itu diakhiri sepihak. Pria itu berbalik dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Tari akhirnya pamit pada satpam rumah itu karena ojeknya sudah tiba.

Sepanjang perjalanan Tari terngiang ucapan si Tuan Muda Berseragam Loreng. Tasnya juga dipeluk erat seperti saran pria itu. Tujuannya sekarang adalah ATM setor tunai di swalayan dekat panti. Ia tidak punya waktu mengantri di bank. Ada banyak pekerjaan di panti yang harus dikerjakannya.

###

Bersama dua anak panti, Tari menata hasil masakan sederhana yang dibuatnya. Ada tumis kangkung, oseng tempe bercampur daging ayam yang dicabik dan setoples kerupuk.

“Nanti, panggil adek-adek yang lain untuk bantu kalian cuci piring. Kakak mau berangkat kerja dulu. Nanti lantainya jangan lupa disapu juga ya, Dek,” pinta Tari pada kedua anak panti yang sudah duduk di bangku SMA itu.

Keduanya hanya mengangguk lalu keluar untuk memanggil adik-adik panti lain agar bersiap makan malam. Sementara Tari sendiri merapikan empat kantong kerupuk eceran yang sudah dikemasnya sore tadi. Keuntungannya lumayan untuk membeli dua rak telur ayam. Lima kantong kerupuk lainnya sudah dibawa ke warung terdekat dan sudah ditukar dengan sekarung beras.

Tari membuka kulkas dan memeriksa stok bumbu yang ada. Langkahnya berpindah ke jendela memperhatikan kebun sayur mereka. Kangkung, bayam, sawi hijau dan daun singkong masih ada. Begitu juga dengan cabai, tomat dan terung. Setidaknya mereka masih punya stok makanan untuk sepekan.

Setelah mendengar suara klakson ojek, Tari bergegas untuk berangkat kerja ke warung tenda. Di sana ia diberi gaji mingguan untuk bersih-bersih dan mencuci piring. Pemiliknya juga mengizinkannya menjual kerupuk sehingga Tari amat bersyukur dengan pekerjaannya yang satu ini.

Malam merambat dan warung tenda itu kian ramai. Mengusap peluh di dahi dengan lengannya, Tari tersenyum. Ada banyak tumpukan piring dan gelas yang harus dicucinya sebelum pulang.

“Semangat Tari, bereskan semua ini lalu pulang. Besok subuh kamu harus ke kantor AG Tekstil untuk bekerja,” gumamnya dan mulai bekerja dengan cekatan.

Sejam lebih berlalu dan pekerjaan Tari sudah beres. Setelah mencuci bersih tangannya, gadis itu melepas apron dan merapikannya. Di luar, samar-samar Tari mendengar suara ribut-ribut. Terdorong  rasa penasaran, ia pun beranjak.

“Tolong jaga wanita Anda dengan baik. Beritahu juga agar dia tidak genit sama pria lain,” ucap seseorang yang suaranya tidak asing di telinga Tari.

“Eh, Mas, saya tidak genit ya!” sanggah wanita bertubuh semok dan berpakaian ketat itu menatap nyalang.

Pria yang di mata Tari hanya tampak punggungnya saja, mengakhiri kesibukan di ponselnya. Pria dengan balutan kaos Polo hitam itu lalu berkata, “Kalau tidak genit, kenapa dari tadi Anda menoleh dan minta kenalan sama saya? Kalau Anda memang menarik, dari tadi saya mungkin akan melirik. Kenyataannya, saya tahu mana wanita yang pantas dilirik dan harus diabaikan.”

“Dasar nggak tahu diuntung! Rugi kamu nolak saya! Macho tapi gay!” sindir wanita itu menggebrak meja. Wanita berambut pirang iti kesal, karena pria yang menarik perhatiannya sama sekali tidak menanggapinya.

“Maaf saya sama sekali tidak gay. Pria yang bersama saya tadi adalah rekan kerja saya. Saya ke sini sekalian jemput gadis yang pantas dilirik,” jawabnya lagi seraya mengulurkan selembar uang merah dan diberikan pada karyawan yang membawakan bungkusan pesanannya. “Kembaliannya disimpan saja, Dek.”

Wanita yang sudah kepalang malu itu menyugar rambut pirangnya. Bibir tebalnya yang dipoles lipstik merah terang sudah manyun saat pria yang mungkin kekasih atau supirnya itu membujuk agar segera menyudahi keributan. Tampak tak ada nyali di depan pria yang masih santai duduk di kursi plastik.

“Apa Nona Tari sudah selesai bekerja?” tanya pria itu mendongak pada karyawan tadi.

Tari yang sejak tadi diam menguping, kini membelalak mendengar namanya disebut. Belum lagi rekan-rekan kerjanya menoleh ke arahnya.

“Bagaimana bisa Pria Loreng itu tiba-tiba ada di sini?” batin Tari menelan saliva menyadari jika pria yang menyebut namanya malah berbalik menatapnya.

“Tari, ayo pulang! Saya jauh-jauh ke sini sengaja mau jemput dan antar kamu pulang,” ucap Yudha mengulas senyum tipis.

Wanita yang membuat keributan tadi kembali tertawa. Suara lengkingan tawanya terdengar mengejek. Lirikan matanya memindai penampilan Tari.

“Gadis kumal itu yang kau lirik? Levelku jauh di atasnya. Tidak kusangka pria tampan dan mapan sepertimu melirik gadis berwujud Upik Abu itu!” ledeknya tersenyum pongah.

“Kan Cinderella yang cantik dan baik hati memang sering diledek Upik Abu. Masih mending teman saya dibanding Anda. Cantik nggak, seksi juga nggak? Norak lagi! Jadi wanita itu jual mahal dikit, Tante. Jangan bikin malu karena buat onar di tempat orang lain. Kalau mau teriak-teriak, di sana tuh, ada jembatan gantung,” saran karyawan warung tenda yang membersihkan permukaan meja.

“Awas ya kalian!” teriak wanita itu pergi menghentakkan kakinya kesal.

Tari yang menyaksikan keributan itu dan namanya diseret-seret jadi ikutan kesal. “Jangan suka bertingkah sesuka hati Anda, Tuan Muda!” gumam Tari saat berlalu di samping pria itu.

“Pantesan aku ditolak, cowoknya Tari ternyata Kapten Yudha,” ucap karyawan yang menerima kembalian uang dari Yudha. Pemuda itu mengulum senyum jahil pada rekannya.

Tari yang melotot langsung menukas, “Maaf, orang ini bukan pacar saya!”

“Tidak perlu disembunyikan lagi, Tar. Udah paham kok, kenapa kami nembak nggak digubris. Ternyata ayangnya kamu levelnya beda,” sahut rekannya yang satu lagi.

Baru saja Tari hendak menanggapi, tapi pemilik warung tenda menyela. “Yang penting Kapten Ganteng yang macho ini nggak gay. Lain kali ajak timnya lagi ya, Mas.”

“Iya, Pak. Kami pamit dulu,” balas Yudha menarik tangan Tari keluar.

Di luar warung tenda, Tari menghempaskan tangannya. Matanya menyorot tajam sebagai aksi protesnya. Yudha tahu gadis itu marah, tapi ia sama sekali tidak bermaksud membuatnya kesal.

Sudah lama dirinya tidak datang ke sini. Terhitung mungkin setahun lalu sebelum dirinya bertugas. Tadinya ia pikir salah mengenali suara yang menyahuti panggilan beberapa karyawan. Untuk memastikan dugaannya, ia memilih tinggal dan memesan makan agar punya alasan untuk berlama-lama di dalam.

“Ayo, saya antar pulang!” Yudha menarik handle pintu mobilnya.

“Harusnya Anda meminta maaf lebih dulu, Tuan Muda!” tukas Tari mendorong pintu mobil sehingga kembali tertutup.

###

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Benih Rahasia Kapten Yudha   Part 150 Ajakan Bulan Madu

    "Rian itu ... dia sebenarnya adiknya Kapten Hamdani. Sama seperti Mas Arbian, Rian juga paman dari bayi kami," jelas Yudha membuat kedua orang tuanya kembali terkejut."Rahasiakan hal ini!" pinta Tari menatap kedua mertuanya bergantian. Di sisi lain, ia tidak ingin mereka mencegah Rian mendekati keponakannya sendiri. Terutama Lusiana."Pantas saja anak itu sangat protektif terhadap Tari," batin Rudi teringat bagaimana usaha Rian selama ini. Setiap ada kesempatan, Rian akan keluar batalyon dan mencari keberadaan Tari. Dengan kecerdasan dan kepekaannya, Rian akhirnya menyadari jika dirinya terlibat dan mulai membuntutinya. Bukannya langsung memberitahu Yudha, Rian tetap berpikir panjang dan menimbang banyak hal.Tari beranjak ke dapur dan disaat itu Rudi berkata, "Pantas saja kamu tidak keberatan Kayla dekat dengan Rian. Ternyata kamu sudah lama mengenal Rian.""Dia jauh lebih baik dari Yudha, Pa. Kalau Rian tidak punya kontrol dan kesabaran yang besar, dia tidak akan meminta tolong Ka

  • Benih Rahasia Kapten Yudha   Part 149 Pilihan Untuk Lusiana

    'Boleh nggak, sekali ini saja aku egois, Mas?' Sepenggal kalimat itu sempat membuat Yudha bergeming beberapa hari yang lalu. Tari tidak minta berlian, rumah, atau saham. Istrinya hanya minta kesempatan untuk egois. Memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan karena memikirkan perasaan orang lain.Yudha saat itu mengangguk tanpa merasa keberatan. Kini, Yudha sudah mendapati jawaban dari rasa penasarannya. Tari melaporkan suaminya sendiri pada sang Danyon. Hal itu sama sekali tak pernah terlintas dalam benak Yudha.Bukan hanya Yudha saja yang terkejut. Keluarga Giriandra dan Tim Alfa pun demikian. Mereka sama sekali tidak menduga jika Tari akan mengambil tindakan setegas ini. Akibatnya, Yudha dikeluarkan dari daftar promosi kenaikan pangkat tahun ini."Tari! Apa kamu sudah gila?! Kenapa kamu malah laporin Yudha sama atasannya?! Dasar wanita tidak tahu diuntung!" cecar Lusiana yang sore ini datang ke rumdis putranya. Tari dengan santai menyuguhkan jus jeruk untuk kedua mertuanya. T

  • Benih Rahasia Kapten Yudha   Part 148 Menghadap Danyon

    Demi mendapatkan kembali surat gugatan cerainya yang berada di tangan Letkol Pasha, mau tidak mau Tari harus menghadap. Ia tidak ingin masalah gugatannya itu sampai ke telinga orang lain dan jadi bahan gosip. Saat ini, ia dan Yudha berada di rumah sang Danyon."Saya benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan Bu Tari ini. Saya terkejut sekali saat melihat surat ini ada di laci berkas rahasia suami saya," ucap Ibu Danyon.Letkol Pasha menghela napas panjang. Terakhir kali bertemu Tari di rumah tempat Yudha kabur, ia melihat sikap dingin wanita itu pada Yudha. Sebagai orang luar dan hanya merupakan atasan dari pasangan itu, ia sama sekali tidak tahu seluk-beluk dari masalah rumah tangga Yudha dan Tari. Akan tetapi, sebagai pimpinan ia harus memberi mereka sedikit pelajaran agar tidak mengulangi hal yang sama."Jadi kapan sidang cerai kalian?" tanya Letkol Pasha."Tidak akan ada sidang seperti itu. Saya sudah menarik kembali gugatan saya, Komandan. Saya menyesali perbuatan saya," ucap

  • Benih Rahasia Kapten Yudha   Part 147 Siapa Saja yang Tahu

    Setelah mendapatkan tanda tangan Tari, Kamil menghela napas panjang. Setidaknya, AG Tekstil tidak perlu melakukan PHK karyawan. Selama ini, ia membantu Rudi menjalankan perusahaan itu agar banyak kepala keluarga yang bisa memberi makan istri dan anak mereka. "Maaf ya, Om. Tari sama sekali tidak tahu kalau Mas Yudha alihkan sahamnya ke aku," ungkap Tari yang masih syok mengetahui kalau dirinya dalam sekejap menjadi salah satu wanita miliarder."Pantas saja ngeluarin duit 300 juta kayak ngasih jajan. Ternyata Mas Yudha memang sekaya ini," batin Tari yang baru tahu kalau suaminya punya aset saham AG Tekstil bernilai puluhan miliar. Kamil menatap puas berkas legal di tangannya. Dua pengacara yang hadir di rumah sakit itu tampak saling lirik. Satunya adalah pengacara AG Tekstil dan satunya lagi pengacara perceraian Tari. "Maaf ya, Pak. Saya udah nyusahin," ungkap Tari pada pengacara perceraiannya.Pria itu tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, Bu Tari. Saya justru senang karena Ibu mena

  • Benih Rahasia Kapten Yudha   Part 146 Ingin Egois

    Tari mengerjap dan matanya terperangkap pada pemandangan kota malam yang indah. Batinnya bertanya-tanya, apakah saat ini ia sudah mati? "Mas ...," lirih Tari yang terbangun karena mimpi buruk yang menghantuinya. "Aku di sini, Sayang," bisik Yudha dengan tangan kiri yang terus bergerak mengusap rambut istrinya. Tari menoleh dan menatap wajah tampan pria yang tersenyum padanya. "Tidurnya lama banget." Kalimat itu terdengar merajuk. "Kamu masih hidup, Mas?" tanya Tari linglung dan mencoba bangun dari tempat tidur. Rasa pusing yang mendera membuat Tari kembali merebahkan kepalanya. Ia baru menyadari jika bantalnya terasa hangat. Itu bukan bantal, melainkan lengan Yudha. "CK! Memangnya kamu mau jadi janda?" tanya Yudha cemberut. "Aku lihat kamu kena kaca, Mas." Yudha menggeleng dan berujar, "Bukan aku, tapi pelaku yang menculik kamu." "Pelaku?" gumam Tari teringat pria yang tiba-tiba muncul menyerang Yudha dengan pedang panjang. Tari kembali mendongak. Rasanya masih su

  • Benih Rahasia Kapten Yudha   Part 145 Anak Ingusan

    Kapten Raka menurunkan tangannya setelah Letkol Pasha menerima tanda hormatnya. Di belakangnya ada Tim Alfa dan Tim Charlie yang turut memberi hormat. "Lapor, Komandan. Misi penyelamatan selesai dan sandera saat ini berada di rumah sakit, dibawah pengawasan ketat tim medis. Satu anggota terluka parah dan dirawat di rumah sakit. Dua anggota tim luka ringan dan enam lainnya dalam kondisi baik. Korban dari pihak lawan, tiga di antaranya dinyatakan meninggal dunia, lima luka ringan, dan sembilan belum sadarkan diri dari efek bius. Tiga peledak rakitan berhasil dijinakkan. Semua TKP disisir dan ditemukan barang bukti seperti yang terlampir dalam bukti laporan saya," ucap Kapten Raka. "Laporan diterima. Kerja bagus. Sekarang, kembali ke barak masing-masing dan lekas beristirahat. Saya tahu kalian penasaran dengan kondisi Kapten Yudha dan istrinya. Tapi saat ini, Tuan Giriandra tidak mengizinkan siapapun menjenguk putra dan menantunya. Saya harap kalian bisa mengerti," balas Letkol Pasha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status