LOGINYudha merebahkan tubuhnya di ranjang sembari membayangkan wajah kesal Tari. Gadis itu dengan berani mengarahkan telunjuk ke wajahnya. Sikapnya berbanding terbalik saat gadis itu dicecar oleh mamanya.
Siang tadi Yudha menyaksikan apa yang mamanya lakukan pada gadis itu. Sejujurnya ia sendiri heran mengapa wanita yang telah mengandung dan melahirkannya itu seperti manusia yang kehilangan hati nurani. Padahal, dulu kehidupan keluarga mereka juga jauh dari kata layak.
Masih teringat saat papanya kena PHK. Papanya memutuskan untuk membuka jasa jahit pakaian. Mamanya seringkali mengeluh karena mereka terkadang harus berhutang pada saudaranya. Kakaknya sendiri harus menunda kuliah dan bekerja untuk menabung uang kuliahnya sendiri. Sementara ia dan adiknya akan bertugas membersihkan rumah atau membantu mengemas pakaian pesanan.
Setelah papanya berhasil membuka usaha konveksi hingga membuka pabrik garmen, mamanya justru berubah sombong. Segala sesuatu selalu saja diukur dengan materi.
“Yudha … mama boleh masuk?” Lusiana mengetuk pintu kamar anak tengahnya.
Tanpa menjawab, Yudha beranjak membuka pintu kamar. Lusiana tersenyum dan menarik putranya duduk di ranjang. Yudha bisa menebak keinginan mamanya. Permintaan yang sama seperti tahun sebelumnya.
“Kalau mama mau bicara perjodohan, lupakan saja,” ucap Yudha sebelum mamanya bicara.
Wajah Lusiana yang tadinya berseri-seri, kini cemberut. Belum apa-apa, harapannya sudah dipatahkan. Namun, bukan Lusiana kalau pantang menyerah dengan keinginannya.
“Mama cuma minta kamu kenalan saja dulu. Siapa tahu kalian cocok? Dia seorang dokter, mama sebenarnya sudah cukup dekat dengannya sejak dua tahun ini. Mama merasa kalau dia pantas untuk jadi menantu keluarga kita,” bujuk Lusiana meremas punggung tangan putranya.
“Kenapa Mama tidak minta putra sulung dulu yang menikah? Masa Yudha langkahi?” ungkap Yudha menggeleng pelan. Meski usianya sudah 30 tahun, namun pernikahan belum ada dalam daftar keinginannya.
Lusiana menghela napas cukup panjang. “Bukannya mama tidak membujuk kakakmu. Mama sama papa itu sudah lelah. Apalagi setelah dia jujur kalau dia mandul. Gadis mana yang mau menikahi pria mandul? Kalaupun ada, keluarga gadis itu pasti menentang.”
Yudha membelalak karena baru tahu hal ini. “Mas Arbian mandul? Mama jangan bercanda, Mama harusnya pastikan dulu kebenarannya.”
“Sudah, mama sudah minta dia cek ke dokter. Hasil pemeriksaannya memang begitu. Kalaupun dia bisa punya anak, peluangnya kurang dari 10%. Jadi tolonglah Yud, mama sama papa itu sudah tua. Masa sampai sekarang kami belum punya cucu?” ungkap Lusiana merajuk.
Yudha memijat kepalanya. Adiknya sendiri baru tamat kuliah. Tidak mungkin mereka langsung memintanya menikah. Pantas saja mamanya bersikeras untuk menjodohkannya agar bisa segera menikah.
“Mama beneran mau cucu?” tanya Yudha menoleh menatap mamanya.
Lusiana mengangguk dengan senyum merekah. “Yudha akan kasih, tapi dengan satu syarat.”
“Apa, Nak? Buruan bilang sama mama.” Lusiana tampak tidak sabaran.
“Yudha pilih calon istri sendiri. Mama bisa mulai persiapan pernikahan dari sekarang. Dia gadis sederhana, bukan dari keluarga terpandang, tapi Yudha menyukainya. Kalau Mama tidak keberatan, Yudha akan mengajaknya menikah dalam waktu dekat. Kalau perlu, sebelum Yudha kembali ditugaskan. Bagaimana?” Lusiana terdiam tampak sedang menimbang tawaran putranya.
“Mama bicarakan saja dulu sama papa. Karena Mama tahu sendiri, aku bukan anak kecil lagi yang bisa dipaksa. Kalau Mama keberatan, silakan Mama tunggu putri bungsu Mama siap menikah dan kasih cucu,” lanjut Yudha lagi.
###
Suara lonceng kembali terdengar. Pertanda baru saja ada pengunjung baru yang masuk ke dalam kafe bernuansa biru itu. Yudha untuk kesekian kalinya menoleh. Sudah sejam lebih ia menunggu, tapi Tari tak kunjung muncul.
“Sepertinya gadis itu tidak tertarik dengan tawaranku. Di mana aku bisa dapat gadis baik-baik dan waras yang bisa diajak kerja sama?” batin Yudha melirik jam digital di pergelangan tangannya.
Baru saja menarik kunci mobilnya, Yudha kembali mendaratkan bokongnya di kursi. Gadis yang ditunggunya akhirnya muncul juga. Sudut bibir Yudha berkedut.
Salah satu dari tiga gadis yang jadi targetnya itu terengah. Wajahnya kusut masai dengan mata yang sembab. Tak perlu ditanya lagi, mungkin berjam-jam gadis itu menangis.
Tari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia tidak mendapati pria yang mengajaknya bertemu di tempat ini. Gadis itu kembali mengusap pipinya yang berderai air mata.
“Dia pasti sudah pulang. Harapan terakhirku sudah hilang. Apa yang harus kulakukan sekarang? Di mana aku bisa dapat uang 215 juta lagi dalam sehari?” batin Tari berbalik badan dan kembali keluar.
Gadis berambut pendek itu menatap sekelilingnya. Beberapa orang memperhatikannya dengan tatapan aneh. Tari menunduk memperhatikan pakaiannya yang kotor. Tadi karena berlari dan tersandung, celananya kena noda lumpur.
“Ya Allah, beri aku petunjuk,” batin gadis itu mendongak menatap langit yang masih mendung. Sisa air hujan pun masih membasahi bumi.
Grap!
Tari tersentak saat seseorang menggenggam tangan kanannya. “Walau terlambat, terima kasih karena sudah datang, Nona Tari.”
“A-apa Anda benar-benar bisa memberikan uang itu? Adik panti saya harus dioperasi secepatnya,” ucap Tari kembali menangis.
“Kita ke rumah sakit sekarang, setelah itu baru kita bicara,” ajak Yudha yang menarik Tari ke tempat mobilnya terparkir.
Tari menahan lengan Yudha. Menghalau ketakutannya, gadis itu perlahan mendongak menatap mata pria bertubuh tinggi tegap itu. “Dengan apa, saya harus membayar Anda?”
“Dengan satu syarat,” bisik Yudha.
Tari mengusap kasar wajahnya dan menyusutkan air mata. “Apa syaratnya?”
“Bayar dengan tubuhmu,” jawab Yudha santai sehingga membuat pegangan gadis itu di lengannya perlahan terlepas.
Sesaat, Tari merasakan dunia berhenti putar. Tiga kata yang baru saja dikatakan pria di hadapannya itu seakan menarik paksa jantung lepas dari rongganya.
“Jangan menarik kesimpulan sebelum saya menjelaskannya. Sebaiknya, kita ke rumah sakit dulu. Saya juga ingin menunjukkan sesuatu di sana,” ucap Yudha terdengar lembut, tapi tidak mengurangi rasa sakit di hati Tari.
Tanpa keduanya sadari ada yang melihat kedekatan mereka berdua. Bahkan, sangat terkejut melihat Yudha membukakan pintu mobil untuk seorang gadis. Sesuatu yang selama ini tak pernah dilakukan pria itu.
###
Aqiqah putra Yudha digelar besar-besaran di kediaman keluarga Giriandra. Awalnya Yudha ingin acara itu digelar di Batalyon Rajawali saja. Akan tetapi, Rudi dan Lusiana tidak mengizinkan dan bersikukuh akan menggelar acara itu di rumah mereka. Salah seorang yang berbaur di antara para tamu undangan terus saja membagikan informasi kepada Ayana. Dibayar dengan sejumlah uang, wanita yang bekerja sebagai salah satu karyawan catering itu mengirimkan foto bahagia dari sang pemilik acara. Dalam hitungan detik, foto-foto itu kini berada di tangan Ayana. Wanita yang tengah bersembunyi di kota lain itu meremas ponselnya. Harusnya, dia yang berdiri di posisi Yudha. "Semua gara-gara kalian! Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia selamanya. Lihat saja, apa yang akan kulakukan untuk menghancurkan kalian!" gumam Ayana memekik kesal. Sejak dua bulan terakhir, ia bahkan berusaha menghindari keluarganya. Meski semua orang tuanya mencemaskan dirinya, Ayana tahu kalau mereka tidak benar-benar menc
Rudi dan Lusiana menyambut kedatangan para tamunya. Pasangan itu sampai meneteskan air mata melihat senyum lebar Yudha. Bahkan, kini putra mereka itu sudah mau tidur di rumah ini lagi. Semua atas keinginan Tari, sehingga Yudha mau mengalah. Tari mengungkapkan jika ia menolak permintaan Lusiana dan Rudi, mungkin saja mertuanya berpikir dirinya belum benar-benar memaafkan dan melupakan kejadian buruk di masa lalu. Yudha pun akhirnya melunak. Meski pasangan itu sudah tahu tentang fakta kalau cucu yang mereka nanti bukan darah daging mereka, tapi Rudi dan Lusiana menerimanya dengan sepenuh hati. Dunia hanya tahu bahwa, putra pertama Yudha dan Tari adalah cucu pertama Rudi dan Lusiana. "Sepertinya, Anda jadi terlihat lebih muda sejak jadi kakek," puji salah seorang kolega bisnisnya. Rudi tertawa sembari mengangguk. "Sepertinya begitu. Saya belakang ini memang lebih sering olahraga biar lutut saya masih kuat. Waktu cepat berlalu dan tidak lama lagi, saya pasti kewalahan mengejar langka
Tangisan bayi yang melengking membuat belasan orang itu bersorak. Mereka sejak tadi menunggu kelahiran bayi Tari dan Yudha. Rian meneteskan air mata mendengar suara tangisan keponakannya. Rasanya sungguh luar biasa. Bahkan saat ini, perasaannya lebih sulit dijelaskan dibanding soal matematika rumit.Yudha baru saja bangkit dari sujud syukurnya. Pria itu lekas berbalik memeluk Rian sampai seragam Rian juga ikut kotor karenanya. Keduanya saling berbisik mengucap selamat."Akhirnya dia lahir. Selamat, Bang," bisik Rian."Aku jadi ayah, Yan," bisik Yudha.Arbian menepuk pundak Yudha sembari berkata, "Akhirnya akan ada yang berani memarahimu."Kamil dan Prasetyo tertawa. Dua pria paruh baya itu setuju akan hal itu. Yudha dan keras kepalanya bahkan berani melawan senior dan atasannya sendiri. Sejauh ini, Yudha hanya akan mengalah pada anak kecil saja. Pintu ruang bersalin terbuka. Semua mata menoleh menunggu siapapun yang hendak keluar. Mereka tak sabar ingin tahu."Selamat, bayinya laki-
Suara ledakan petasan kembali menandakan jika musuh menginjak ranjau. Serka Hilman tertawa saat Kapten Raka menghela napas panjang. Perhitungannya meleset dan sekarang ia sudah dinyatakan tewas dalam permainan ini."Sayang sekali, Kapten. Tim Charlie sekarang tersisa dua orang saja," ucap Hilman dari atas pohon."Kalian lanjutkan ke pos berikutnya! Pos terakhir sudah dekat, cepat!" perintah Kapten Raka.Awalnya, Tim Charlie bergerak agresif dengan berhasil melumpuhkan Hilman, Fatur, dan Rian. Namun, siapa sangka jebakan yang disiapkan Hilman justru balik menjadi bumerang untuknya.Dua anggotanya mengangguk lalu bergegas. Tak lama kemudian, saat keduanya mendaki tebing, punggung mereka terkena peluru karet. Punggung mereka seketika berwarna merah.Dari saluran walkie talkie, Ken berkata, "Game over! Kapten, dua penyusup terakhir berhasil dilumpuhkan. Laporan selesai!""Kerja bagus, Ken! Kau dapat bonus kalau
Lusiana sudah beberapa kali mencari tahu tentang Ayana. Akan tetapi, tetap saja tak ada kabar. Sepertinya, gadis itu sengaja menghilang. Pihak rumah sakit tempat Ayana bekerja hanya memberikan informasi singkat. Ayana mengajukan cuti panjang. Sejujurnya, Lusiana takut jika Ayana menaruh dendam padanya. Jangan sampai gadis itu malah menyebar fitnah di luar sana. Suami dan anak-anaknya benar. Bila Ayana bisa memfitnah Tari sekejam itu, maka tidak menutup kemungkinan Ayana juga bisa memfitnah dirinya. Mendengar suara mobil putranya, Lusiana beranjak. Tidak seperti biasanya, Arbian pulang dengan wajah lelah, tapi tidak sore ini. Senyum putra sulungnya itu merekah. "Ada kabar bahagia apa sampai anak mama yang satu ini tersenyum lebar? Tumben? Biasanya kamu pulang bawa setumpuk lelah," komentar Lusiana. Arbian terkekeh kecil lalu meraih tangan mamanya. Pria itu tidak lekas pamit ke kamar seperti biasanya. Arbian justru menarik Lusiana duduk di
Kembali terbangun dengan menghirup udara segar Pulau Dewata sudah pernah dirasakan Yudha. Akan tetapi, berbeda dengan beberapa hari terakhir. Ia tidak terbangun sendirian, melainkan di sampingnya ada bidadari bumi yang membuatnya betah bergelayut di bawah selimut.Rencana bulan madunya sudah berhasil ia realisasikan sejak tiga hari lalu. Janjinya sudah Yudha penuhi. Terekam jelas senyum bahagia Tari saat menikmati harinya di tempat ini.Yudha tersenyum mengenang ucapan Tari dulu. Meski Pulau Bali cukup dekat dengan Surabaya, tapi istrinya belum pernah sekalipun menginjak pulau ini. Tari mengaku tidak pernah punya kesempatan berlibur karena sibuk mencari uang untuk makan. Kini, wanitanya itu tidak perlu lagi hawatir akan uang. Dengan sifat Tari, Yudha yakin jika uang yang ia siapkan untuk istrinya itu tidak akan habis hingga saat tiba waktunya menghembuskan napas terakhir."Sayang," bisik Yudha mengecup pundak polos istrinya. "







