LOGIN
“Kalau minta sumbangan itu, jangan sampai memeras donaturnya!” sindir seorang wanita paruh baya yang melemparkan segopok uang ke pangkuan seorang gadis berambut sebahu.
Mata gadis itu berembun. Dengan tangan gemetar ia menyentuh dua bundel uang pecahan seratus ribu rupiah itu. Uang dengan nominal yang telah dijanjikan pemilik perusahaan tempat Tari bekerja sebagai cleaning service. Tanpa mampu ia bendung, tetesan bening itu jatuh satu persatu membasahi uang di pangkuannya.
Tari sama sekali tidak berniat memeras. Ia hanya sedang berusaha mengumpulkan uang sumbangan untuk biaya operasi jantung salah satu adik pantinya. Ia juga tidak meminta, tapi Tuan Giriandra, suami dari wanita di hadapannya itulah yang memintanya datang ke rumah mewah ini. Pria itu mendadak harus ke luar kota sehingga tidak sempat mampir ke panti.
Dengan bibir bergetar dan menelan getir, Tari berucap, “Te-terima kasih banyak, Nyonya.”
“Hem!” gumamnya duduk menyilang kaki.
Tari menelan saliva untuk kesekian kalinya sejak datang ke rumah ini. Setelah sejam lebih menerima caci maki, akhirnya istri atasannya itu memberikan uang yang dijanjikan.
“Lain kali jangan minta lagi! Kalau masih mau, cium kaki saya dulu!” tukasnya sebelum gadis yang bersimbah air mata itu beranjak dari sofa.
Tari menatap alas kaki si Nyonya Besar. Sangat jauh berbeda dengan kakinya yang polos tak beralaskan apa pun. Saat datang tadi, ia diminta melepas alas kakinya agar tidak menapaki karpet mahal ruang tamu ini.
Mengingat kondisi adik pantinya yang semakin memburuk, Tari mengumpulkan keberanian. Ia menatap mata wanita judes yang duduk ongkang-ongkang kaki sambil membolak-balik tabloid di pangkuannya.
Menyadari jika sedang ditatap, wanita itu mendongak membalas tatapan gadis berbaju lusuh itu. “Kenapa?”
“Kalau Nyonya bersedia membiayai operasi jantung adik panti saya, saya bersedia mencium kaki Anda, Nyonya,” ucapnya lirih.
Bukannya merasa iba, wanita dengan bibir berpoles liptik merah itu beranjak dan tertawa terbahak-bahak. “Heh! Kamu pikir uang untuk operasi jantung itu sedikit? Mikir! Kamu kira uang yang kamu pegang sekarang itu daun yang habis disapu di halaman? Itu duit hasil keringat suami saya! Awas ya, sekali lagi saya dengar kamu minta sumbangan sama suami saya,” ucapnya menoyor kepala gadis itu. “Saya pastikan tidak akan ada lagi donasi untuk panti tempat kamu tinggal. Mengerti?!”
“I-iya, Nyonya,” sahut Tari terbata. Ia hanya sedang mencoba, mungkin saja wanita itu mau mengabulkannya.
“Mau saya kasih tahu caranya buat dapat uang banyak dan cepat?” bujuk wanita itu.
Tari menoleh dengan penuh harap. “Anda punya tawaran pekerjaan untuk saya, Nyonya?”
“Ada. Saya sarankan kamu jual diri. Wajah jelek kamu bisa ditutupi makeup. Tubuh kamu memang tidak sebagus model, tapi cukup berisi di sisi yang tepat. Pasti banyak yang mau bayar mahal untuk pelayanan gadis murahan seperti kamu,” ucap wanita itu dengan senyum mengejek.
Rasanya jantung Tari seperti ditusuk-tusuk. Kalimat-kalimat hinaan dari wanita itu seakan tak ada habisnya. Tari merasa ingin segera pergi dari hadapan nenek sihir yang satu ini.
Tari menggeleng pelan menghapus air matanya. Walau memaksakan diri, gadis itu berusaha menunjukkan senyum terbaiknya. Nominal 20 juta rupiah memang bukan nominal yang kecil. Maka, sebisa mungkin ia harus menahan sakit dari penghinaan ini.
Nominal di tangannya ini adalah gaji setengah tahun bagi Tari. Kalau saya tidak memikirkan sulitnya mengumpulkan rupiah dalam waktu singkat, mungkin ia akan mengembalikannya.
Itulah masalah besar Tari sekarang. Selain nominal yang sangat besar, dirinya juga tidak punya banyak waktu. Dokter menyarankan agar segera dilakukan operasi.
“Sana kamu pergi! Jangan pernah datang dan menginjakkan kaki di rumah ini lagi!” desis wanita itu menarik kasar lengan Tari dan mendorongnya keluar dari ruang tamunya. Tak lupa wanita itu menendang sepasang sandal jepit itu keluar.
Blam!!!
Disaat yang sama, Tari nyaris terjungkal jika saja seseorang tidak menahan lengannya. Tari menghela lega, hampir saja ia jatuh menggelinding di tangga teras rumah ini. Sepertinya bukan hanya terkilir, tapi kepalanya mungkin akan terluka.
“Maafkan sikap mama saya,” ucap seseorang.
Suara bariton itu terdengar tegas, tapi juga hangat disaat yang sama. Tari menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria berseragam loreng.
Tubuh tinggi tegapnya seperti tiang kokoh. Bahunya lebar dan lengannya kekar. Membuka kelopak matanya lebih lebar, Tari dapati wajah rupawan dengan rahang yang tegas, hidung bangir dan bibir yang mengulas senyum tipis. Kontras dengan sorot tatapnya yang tajam dan lengkung alisnya yang hitam pekat.
Mama.
Satu kata itu menyadarkan Tari sehingga refleks menarik lengannya. Jangan sampai wanita bermulut culas itu kembali muncul dan mencecarnya. Bukan tidak mungkin dirinya dituduh sebagai penggoda putranya.
“Maaf dan terima kasih,” ucap Tari berusaha berdiri sendiri dan membersihkan kedua telapak tangannya.
Tari kembali menjauh untuk mengambil sandalnya. Ia harus segera pulang memasak untuk makan malam adik-adik panti. Malam ini ia juga harus kerja paruh waktu di warung tenda.
“Anda butuh uang berapa?”
“Ha?” Tari kembali menoleh ke arah pria tampan dan gagah itu. Siapa pun akan setuju jika melihat wujud tentara yang satu ini.
“Bukannya Anda sedang mengumpulkan uang untuk sumbangan? Saya tanya, berapa banyak yang Anda butuh? Saya bisa kasih hari ini juga,” ucap pria yang di dadanya melekat sulaman nama Yudha.
Tari mengulas senyum tipis lalu bertanya, “Anda berniat menyumbang atau punya maksud tertentu?”
Pria itu maju selangkah. Lengannya tersilang di dada, menunduk lalu berbisik, “Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga, Nona.”
Tari memejamkan mata menahan kesal. Gadis itu masih sadar di mana kakinya berpijak. Ia belum meninggalkan rumah mewah ini.
“Saya butuh uang 250 juta, Tuan Muda,” jawab Tari mengulurkan map di tangannya.
Pria itu menerima dan mulai membacanya. Tari yakin dia bisa melihat proposal bantuan pembiayaan untuk tiga anak panti yang sedang sakit. Terutama anak yang butuh operasi jantung dalam waktu dekat.
Bola mata yang dibingkai alis tebal itu bergerak ke kanan dan ke kiri. Dari jarak sedekat ini, Tari bisa mencium aroma kayu dan buah segar. Parfum mahal memang punya kelasnya sendiri.
Seketika Tari merasa minder. Tubuhnya mungkin bau keringat karena harus berlari dari gerbang perumahan ini. Tadi tidak ada ojek sama sekali di dekat gerbang, sementara istri atasannya mengharuskannya datang sebelum pukul dua siang. Wanita itu mengatakan ada janji penting. Kenyataannya, ia hanya sedang dipermainkan.
Pria berseragam loreng itu mengembalikan map hijau pada Tari seraya berkata, “Saya punya penawaran untuk Anda, Nona Andi Ayudia Batari.”
“Tidak, terima kasih, Tuan Muda,” tolak Tari menggeleng. Tari menduga pria itu akan memberikan ide yang sama seperti yang diutarakan mamanya tadi. “Saya permisi.”
Baru dua langkah Tari menuruni tangga teras, pria itu berkata, “Saya siapkan uang 300 juta. Bagaimana?”
###
Kembali terbangun dengan menghirup udara segar Pulau Dewata sudah pernah dirasakan Yudha. Akan tetapi, berbeda dengan beberapa hari terakhir. Ia tidak terbangun sendirian, melainkan di sampingnya ada bidadari bumi yang membuatnya betah bergelayut di bawah selimut.Rencana bulan madunya sudah berhasil ia realisasikan sejak tiga hari lalu. Janjinya sudah Yudha penuhi. Terekam jelas senyum bahagia Tari saat menikmati harinya di tempat ini.Yudha tersenyum mengenang ucapan Tari dulu. Meski Pulau Bali cukup dekat dengan Surabaya, tapi istrinya belum pernah sekalipun menginjak pulau ini. Tari mengaku tidak pernah punya kesempatan berlibur karena sibuk mencari uang untuk makan. Kini, wanitanya itu tidak perlu lagi hawatir akan uang. Dengan sifat Tari, Yudha yakin jika uang yang ia siapkan untuk istrinya itu tidak akan habis hingga saat tiba waktunya menghembuskan napas terakhir."Sayang," bisik Yudha mengecup pundak polos istrinya. "
"Rian itu ... dia sebenarnya adiknya Kapten Hamdani. Sama seperti Mas Arbian, Rian juga paman dari bayi kami," jelas Yudha membuat kedua orang tuanya kembali terkejut."Rahasiakan hal ini!" pinta Tari menatap kedua mertuanya bergantian. Di sisi lain, ia tidak ingin mereka mencegah Rian mendekati keponakannya sendiri. Terutama Lusiana."Pantas saja anak itu sangat protektif terhadap Tari," batin Rudi teringat bagaimana usaha Rian selama ini. Setiap ada kesempatan, Rian akan keluar batalyon dan mencari keberadaan Tari. Dengan kecerdasan dan kepekaannya, Rian akhirnya menyadari jika dirinya terlibat dan mulai membuntutinya. Bukannya langsung memberitahu Yudha, Rian tetap berpikir panjang dan menimbang banyak hal.Tari beranjak ke dapur dan disaat itu Rudi berkata, "Pantas saja kamu tidak keberatan Kayla dekat dengan Rian. Ternyata kamu sudah lama mengenal Rian.""Dia jauh lebih baik dari Yudha, Pa. Kalau Rian tidak punya kontrol dan kesabaran yang besar, dia tidak akan meminta tolong Ka
'Boleh nggak, sekali ini saja aku egois, Mas?' Sepenggal kalimat itu sempat membuat Yudha bergeming beberapa hari yang lalu. Tari tidak minta berlian, rumah, atau saham. Istrinya hanya minta kesempatan untuk egois. Memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan karena memikirkan perasaan orang lain.Yudha saat itu mengangguk tanpa merasa keberatan. Kini, Yudha sudah mendapati jawaban dari rasa penasarannya. Tari melaporkan suaminya sendiri pada sang Danyon. Hal itu sama sekali tak pernah terlintas dalam benak Yudha.Bukan hanya Yudha saja yang terkejut. Keluarga Giriandra dan Tim Alfa pun demikian. Mereka sama sekali tidak menduga jika Tari akan mengambil tindakan setegas ini. Akibatnya, Yudha dikeluarkan dari daftar promosi kenaikan pangkat tahun ini."Tari! Apa kamu sudah gila?! Kenapa kamu malah laporin Yudha sama atasannya?! Dasar wanita tidak tahu diuntung!" cecar Lusiana yang sore ini datang ke rumdis putranya. Tari dengan santai menyuguhkan jus jeruk untuk kedua mertuanya. T
Demi mendapatkan kembali surat gugatan cerainya yang berada di tangan Letkol Pasha, mau tidak mau Tari harus menghadap. Ia tidak ingin masalah gugatannya itu sampai ke telinga orang lain dan jadi bahan gosip. Saat ini, ia dan Yudha berada di rumah sang Danyon."Saya benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan Bu Tari ini. Saya terkejut sekali saat melihat surat ini ada di laci berkas rahasia suami saya," ucap Ibu Danyon.Letkol Pasha menghela napas panjang. Terakhir kali bertemu Tari di rumah tempat Yudha kabur, ia melihat sikap dingin wanita itu pada Yudha. Sebagai orang luar dan hanya merupakan atasan dari pasangan itu, ia sama sekali tidak tahu seluk-beluk dari masalah rumah tangga Yudha dan Tari. Akan tetapi, sebagai pimpinan ia harus memberi mereka sedikit pelajaran agar tidak mengulangi hal yang sama."Jadi kapan sidang cerai kalian?" tanya Letkol Pasha."Tidak akan ada sidang seperti itu. Saya sudah menarik kembali gugatan saya, Komandan. Saya menyesali perbuatan saya," ucap
Setelah mendapatkan tanda tangan Tari, Kamil menghela napas panjang. Setidaknya, AG Tekstil tidak perlu melakukan PHK karyawan. Selama ini, ia membantu Rudi menjalankan perusahaan itu agar banyak kepala keluarga yang bisa memberi makan istri dan anak mereka. "Maaf ya, Om. Tari sama sekali tidak tahu kalau Mas Yudha alihkan sahamnya ke aku," ungkap Tari yang masih syok mengetahui kalau dirinya dalam sekejap menjadi salah satu wanita miliarder. "Pantas saja ngeluarin duit 300 juta kayak ngasih jajan. Ternyata Mas Yudha memang sekaya ini," batin Tari yang baru tahu kalau suaminya punya aset saham AG Tekstil bernilai puluhan miliar. Kamil menatap puas berkas legal di tangannya. Dua pengacara yang hadir di rumah sakit itu tampak saling lirik. Satunya adalah pengacara AG Tekstil dan satunya lagi pengacara perceraian Tari. "Maaf ya, Pak. Saya udah nyusahin," ungkap Tari pada pengacara perceraiannya. Pria itu tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, Bu Tari. Saya justru senang karena Ibu
Tari mengerjap dan matanya terperangkap pada pemandangan kota malam yang indah. Batinnya bertanya-tanya, apakah saat ini ia sudah mati? "Mas ...," lirih Tari yang terbangun karena mimpi buruk yang menghantuinya. "Aku di sini, Sayang," bisik Yudha dengan tangan kiri yang terus bergerak mengusap rambut istrinya. Tari menoleh dan menatap wajah tampan pria yang tersenyum padanya. "Tidurnya lama banget." Kalimat itu terdengar merajuk. "Kamu masih hidup, Mas?" tanya Tari linglung dan mencoba bangun dari tempat tidur. Rasa pusing yang mendera membuat Tari kembali merebahkan kepalanya. Ia baru menyadari jika bantalnya terasa hangat. Itu bukan bantal, melainkan lengan Yudha. "CK! Memangnya kamu mau jadi janda?" tanya Yudha cemberut. "Aku lihat kamu kena kaca, Mas." Yudha menggeleng dan berujar, "Bukan aku, tapi pelaku yang menculik kamu." "Pelaku?" gumam Tari teringat pria yang tiba-tiba muncul menyerang Yudha dengan pedang panjang. Tari kembali mendongak. Rasanya masih sulit percay







