Se connecterAqiqah putra Yudha digelar besar-besaran di kediaman keluarga Giriandra. Awalnya Yudha ingin acara itu digelar di Batalyon Rajawali saja. Akan tetapi, Rudi dan Lusiana tidak mengizinkan dan bersikukuh akan menggelar acara itu di rumah mereka. Salah seorang yang berbaur di antara para tamu undangan terus saja membagikan informasi kepada Ayana. Dibayar dengan sejumlah uang, wanita yang bekerja sebagai salah satu karyawan catering itu mengirimkan foto bahagia dari sang pemilik acara. Dalam hitungan detik, foto-foto itu kini berada di tangan Ayana. Wanita yang tengah bersembunyi di kota lain itu meremas ponselnya. Harusnya, dia yang berdiri di posisi Yudha. "Semua gara-gara kalian! Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia selamanya. Lihat saja, apa yang akan kulakukan untuk menghancurkan kalian!" gumam Ayana memekik kesal. Sejak dua bulan terakhir, ia bahkan berusaha menghindari keluarganya. Meski semua orang tuanya mencemaskan dirinya, Ayana tahu kalau mereka tidak benar-benar menc
Rudi dan Lusiana menyambut kedatangan para tamunya. Pasangan itu sampai meneteskan air mata melihat senyum lebar Yudha. Bahkan, kini putra mereka itu sudah mau tidur di rumah ini lagi. Semua atas keinginan Tari, sehingga Yudha mau mengalah. Tari mengungkapkan jika ia menolak permintaan Lusiana dan Rudi, mungkin saja mertuanya berpikir dirinya belum benar-benar memaafkan dan melupakan kejadian buruk di masa lalu. Yudha pun akhirnya melunak. Meski pasangan itu sudah tahu tentang fakta kalau cucu yang mereka nanti bukan darah daging mereka, tapi Rudi dan Lusiana menerimanya dengan sepenuh hati. Dunia hanya tahu bahwa, putra pertama Yudha dan Tari adalah cucu pertama Rudi dan Lusiana. "Sepertinya, Anda jadi terlihat lebih muda sejak jadi kakek," puji salah seorang kolega bisnisnya. Rudi tertawa sembari mengangguk. "Sepertinya begitu. Saya belakang ini memang lebih sering olahraga biar lutut saya masih kuat. Waktu cepat berlalu dan tidak lama lagi, saya pasti kewalahan mengejar langka
Tangisan bayi yang melengking membuat belasan orang itu bersorak. Mereka sejak tadi menunggu kelahiran bayi Tari dan Yudha. Rian meneteskan air mata mendengar suara tangisan keponakannya. Rasanya sungguh luar biasa. Bahkan saat ini, perasaannya lebih sulit dijelaskan dibanding soal matematika rumit.Yudha baru saja bangkit dari sujud syukurnya. Pria itu lekas berbalik memeluk Rian sampai seragam Rian juga ikut kotor karenanya. Keduanya saling berbisik mengucap selamat."Akhirnya dia lahir. Selamat, Bang," bisik Rian."Aku jadi ayah, Yan," bisik Yudha.Arbian menepuk pundak Yudha sembari berkata, "Akhirnya akan ada yang berani memarahimu."Kamil dan Prasetyo tertawa. Dua pria paruh baya itu setuju akan hal itu. Yudha dan keras kepalanya bahkan berani melawan senior dan atasannya sendiri. Sejauh ini, Yudha hanya akan mengalah pada anak kecil saja. Pintu ruang bersalin terbuka. Semua mata menoleh menunggu siapapun yang hendak keluar. Mereka tak sabar ingin tahu."Selamat, bayinya laki-
Suara ledakan petasan kembali menandakan jika musuh menginjak ranjau. Serka Hilman tertawa saat Kapten Raka menghela napas panjang. Perhitungannya meleset dan sekarang ia sudah dinyatakan tewas dalam permainan ini."Sayang sekali, Kapten. Tim Charlie sekarang tersisa dua orang saja," ucap Hilman dari atas pohon."Kalian lanjutkan ke pos berikutnya! Pos terakhir sudah dekat, cepat!" perintah Kapten Raka.Awalnya, Tim Charlie bergerak agresif dengan berhasil melumpuhkan Hilman, Fatur, dan Rian. Namun, siapa sangka jebakan yang disiapkan Hilman justru balik menjadi bumerang untuknya.Dua anggotanya mengangguk lalu bergegas. Tak lama kemudian, saat keduanya mendaki tebing, punggung mereka terkena peluru karet. Punggung mereka seketika berwarna merah.Dari saluran walkie talkie, Ken berkata, "Game over! Kapten, dua penyusup terakhir berhasil dilumpuhkan. Laporan selesai!""Kerja bagus, Ken! Kau dapat bonus kalau
Lusiana sudah beberapa kali mencari tahu tentang Ayana. Akan tetapi, tetap saja tak ada kabar. Sepertinya, gadis itu sengaja menghilang. Pihak rumah sakit tempat Ayana bekerja hanya memberikan informasi singkat. Ayana mengajukan cuti panjang. Sejujurnya, Lusiana takut jika Ayana menaruh dendam padanya. Jangan sampai gadis itu malah menyebar fitnah di luar sana. Suami dan anak-anaknya benar. Bila Ayana bisa memfitnah Tari sekejam itu, maka tidak menutup kemungkinan Ayana juga bisa memfitnah dirinya. Mendengar suara mobil putranya, Lusiana beranjak. Tidak seperti biasanya, Arbian pulang dengan wajah lelah, tapi tidak sore ini. Senyum putra sulungnya itu merekah. "Ada kabar bahagia apa sampai anak mama yang satu ini tersenyum lebar? Tumben? Biasanya kamu pulang bawa setumpuk lelah," komentar Lusiana. Arbian terkekeh kecil lalu meraih tangan mamanya. Pria itu tidak lekas pamit ke kamar seperti biasanya. Arbian justru menarik Lusiana duduk di
Kembali terbangun dengan menghirup udara segar Pulau Dewata sudah pernah dirasakan Yudha. Akan tetapi, berbeda dengan beberapa hari terakhir. Ia tidak terbangun sendirian, melainkan di sampingnya ada bidadari bumi yang membuatnya betah bergelayut di bawah selimut.Rencana bulan madunya sudah berhasil ia realisasikan sejak tiga hari lalu. Janjinya sudah Yudha penuhi. Terekam jelas senyum bahagia Tari saat menikmati harinya di tempat ini.Yudha tersenyum mengenang ucapan Tari dulu. Meski Pulau Bali cukup dekat dengan Surabaya, tapi istrinya belum pernah sekalipun menginjak pulau ini. Tari mengaku tidak pernah punya kesempatan berlibur karena sibuk mencari uang untuk makan. Kini, wanitanya itu tidak perlu lagi hawatir akan uang. Dengan sifat Tari, Yudha yakin jika uang yang ia siapkan untuk istrinya itu tidak akan habis hingga saat tiba waktunya menghembuskan napas terakhir."Sayang," bisik Yudha mengecup pundak polos istrinya. "







