로그인Suasana tenang itu buyar seketika oleh bunyi klik tumit sepatu di lantai marmer. Dari lorong, Tasya muncul. Lengannya terlipat di depan dada, wajahnya menyimpan ekspresi tajam.
“Aysha, aku ingin bicara dengan Rani sebentar,” katanya, nada suaranya dingin. Dengan satu gerakan tangan yang elegan namun tegas, ia mengusir kepala pelayan itu. Aysha hanya mengangguk patuh, lalu mundur keluar ruangan tanpa suara. Tatapan Tasya menancap pada Rani, bibirnya melengkung membentuk senyum mengejek. Ia melangkah maju, tumit sepatunya berketuk pelan, mendekatkan jarak dengan sengaja. “Jadi, adikku,” ucapnya dengan nada merendahkan. “Kuharap kau sudah mulai menyesuaikan diri. Tak ada gunanya jika suami tersayangku mengira keluarganya tidak sempurna.” Rani mengangkat dagunya sedikit, meski hatinya bergetar. “Aku sedang berusaha belajar,” jawabnya pelan. “Bagus.” Senyum Tasya melebar tipis. Ia condong mendekat, berbisik di telinga Rani, napasnya hangat menempel di kulit. “Dan kalau suatu saat kau lupa menempatkan dirimu… aku punya cara untuk mengingatkannya.” Ucapan itu menyalurkan rasa dingin ke tulang belakang Rani. Ia spontan mundur selangkah, menjauh dari kedekatan itu. Tasya justru terhibur, matanya berkilat geli melihat ketakutan adiknya. “Tenanglah, adikku,” bisiknya mengejek. “Aku hanya peduli pada kebaikanmu.” Ia lalu berbalik, melangkah pergi, sebelum berhenti di ambang pintu. Menoleh sekilas, ia menambahkan dengan nada manis penuh ancaman: “Oh, dan Rani? Pastikan kau sudah siap untuk makan malam pukul enam tepat. Dimas tidak suka orang yang terlambat.” Belum sempat menenangkan diri, suara langkah berat terdengar dari serambi. Rani menoleh, melihat Dimas, ponsel menempel di telinganya, wajahnya serius. Ia berbicara singkat, lalu menutup panggilan dan menyelipkan ponsel ke saku. Tatapannya segera jatuh pada Rani. Tajam. Menembus. Membuat darahnya berdesir. “Rani,” sapanya datar sambil melangkah mendekat, gerakannya penuh perhitungan. “Ya, Kak Dimas?” suara Rani nyaris tak terdengar, ia berusaha keras menahan pandangannya tetap bertemu mata pria itu. “Tasya bilang kau mengalami sedikit kesulitan dengan aturan rumah,” ujarnya, nada suaranya netral tapi sarat ketidakpuasan. Pipi Rani memanas, teringat insiden sebelumnya. “Maafkan aku,” ucapnya terbata. “Aku masih belajar… aku janji tidak akan terulang.” Dimas menatapnya lama, pandangannya menekan hingga Rani nyaris goyah. “Pastikan memang tidak terjadi lagi,” katanya akhirnya, tenang namun mengancam. “Kami menuntut standar tertentu dari siapa pun yang tinggal di sini.” Ia melangkah lebih dekat, begitu dekat hingga Rani bisa mencium colognenya, segar, maskulin, memabukkan. Suara Dimas merendah, nyaris seperti bisikan. “Dan ingat, Rani. Tasya mungkin saudaramu, tapi di rumah ini… akulah yang membuat aturan.” Rani menggigil, rasa takut dan sesuatu yang tak terdefinisi merayap bersamaan. Ia hanya mampu mengangguk, lidahnya kelu. “Dimas,” panggil Tasya semanis madu, seolah tadi tak terjadi apa-apa. “Kebetulan, aku ingin membicarakan pesta makan malam nanti malam.” Sekejap, ekspresi Dimas berubah. Ia berdiri tegak, profesional, menanggalkan setiap jejak keintiman barusan. “Tentu,” jawabnya datar. “Aku akan segera di ruang kerja.” Tasya melirik Rani sekilas sebelum meraih lengan Dimas dengan posesif. “Ayo, sayang,” ujarnya manis, menggiring suaminya menjauh, meninggalkan Rani kembali sendirian dengan gejolak pikirannya. Saat Rani berjalan-jalan di dalam rumah megah itu, ia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Tangannya otomatis menyusuri pagar marmer halus ketika ia menaiki tangga besar yang melengkung anggun ke atas. Di puncak tangga, ia berhenti sejenak, terpikat oleh sebuah vas cantik berisi bunga-bunga eksotis. Warna-warnanya yang cerah memberi kontras indah dengan nuansa netral koridor di sekitarnya. Rani terus melangkah, matanya mengintip ke sebuah ruang baca yang dindingnya dipenuhi rak berisi buku-buku berjilid kulit, lengkap dengan kursi empuk yang seolah mengundang siapa pun untuk tenggelam dalam ketenangan. Tak jauh dari sana, ia menemukan ruang olahraga modern dengan peralatan lengkap, serta kamar mandi bergaya spa dengan bathtub besar dan pancuran hujan yang berjejer. Perjalanannya membawanya ke sepasang pintu Prancis yang terbuka menuju teras luas. Dari sana, taman yang tertata rapi terbentang indah di depannya. Aroma bunga bermekaran bercampur dengan wangi rumput segar memenuhi udara. Hangatnya sinar matahari menyentuh kulitnya saat ia melangkah keluar. Terlalu larut dalam pikirannya sendiri, Rani baru sadar ada seseorang ketika sebuah suara berat dengan logat asing menyapanya dari belakang. “Sepertinya kamu asisten baru,” kata suara itu. Rani berbalik. Seorang pria berdiri di sana, tampan dengan kulit kecokelatan dan rambut yang pucat karena matahari. Senyumnya ramah. Ia hanya mengenakan kaus ketat dan celana jeans pudar yang menonjolkan tubuh berototnya, sangat kontras dengan latar taman yang begitu tertata. “A-aku Rani,” ucapnya terbata, merasakan pipinya panas karena kaget. “Maaf kalau aku mengganggu.” Pria itu tertawa kecil, matanya menyipit hangat. “Tidak sama sekali,” jawabnya. “Aku Danish, tukang kebun di sini. Senang berkenalan denganmu, Rani.” Ia mengulurkan tangan yang kasar karena kerja keras. Dengan sedikit ragu, Rani menyambutnya. Ada sensasi aneh, seolah percikan listrik mengalir ketika telapak mereka bersentuhan. Genggamannya kuat tapi tetap lembut. “Senang bertemu juga,” gumam Rani, jantungnya berdegup kencang. Ia buru-buru menarik tangannya dan merapikan rambutnya yang jatuh ke wajah. “Jadi, apa yang membawamu ke sini?” tanya Danish sambil bersandar santai pada pagar teras, kedua lengannya terlipat di dada. Otot lengannya tampak menegang samar di balik kausnya. Rani cepat-cepat mengalihkan pandangan, merasa wajahnya memanas lagi. “Aku hanya berkeliling,” jawabnya canggung, merangkul dirinya sendiri. “Rumah ini begitu besar. Aku penasaran ingin melihat-lihat.” Danish mengangguk mengerti. “Pasti butuh waktu untuk terbiasa, ya? Apakah ini pertama kalinya kamu bekerja untuk keluarga Satya?” Rani terdiam sebentar, bimbang harus berkata apa tentang hubungannya dengan Tasya dan Dimas. “Kurang lebih begitu,” ucapnya singkat. Danish menatapnya sejenak, seperti mencoba membaca lebih dari jawaban samar itu. Lalu ia melangkah sedikit lebih dekat. “Kalau kamu butuh teman bicara atau sekadar bantuan untuk memahami tempat ini, aku ada di sini,” katanya pelan, tulus. “Memang aku ‘hanya’ tukang kebun, tapi percayalah, aku sudah sering melihat drama yang tersembunyi di balik tembok rumah semacam ini.” Mata Rani melebar, kaget sekaligus tersentuh oleh ketajaman dan kebaikannya. “Terima kasih,” ujarnya lirih. “Aku benar-benar menghargainya.” Danish tersenyum hangat, membuat garis halus di sudut matanya semakin terlihat. “Sama-sama. Dan hei, kalau kamu butuh udara segar dari dalam rumah, carilah aku di taman."Melihat Rani yang mulai terhuyung dan mencengkeram meja dengan wajah pucat pasi, Tasya tidak menunjukkan keterkejutan yang nyata. Ia tidak panik, tidak juga memanggil bantuan. Sebaliknya, ia dengan sangat cepat memasang topeng kekhawatiran yang paling meyakinkan di dunia.Tasya segera berdiri dan menghampiri Rani, tangannya bergerak seolah ingin menolong, namun ia hanya menyentuh bahu Rani dengan sangat ringan sebuah sentuhan yang terasa dingin di tengah rasa panas yang menyiksa tubuh gadis itu."Ya ampun, Rani! Kenapa ya?" seru Tasya dengan nada suara yang bergetar, seolah ia pun ikut cemas melihat kondisi adiknya. Wajahnya menunjukkan gurat keprihatinan yang dalam, matanya melebar seolah terkejut.Rani mencoba mengatur napasnya yang tersengal, "Kak... perutku... sakit sekali... kepalaku juga..." suaranya nyaris tak terdengar, terputus oleh rintihan nyeri yang terus menghujam.Tasya mendekatkan wajahnya ke telinga Rani, seolah ingin membisikkan kata kata penenang, namun matanya tetap
Pagi itu, penthouse terasa begitu tenang dan damai. Sinar matahari yang lembut menembus tirai sutra di ruang makan, menciptakan suasana hangat yang seolah olah telah menghapus semua ketegangan di malam malam sebelumnya. Tasya tampil memukau dengan gaun rumahan berbahan satin yang elegan, rambutnya tertata rapi tanpa cela, memancarkan aura seorang kakak yang sangat penyayang.Tidak ada lagi kegelapan di wajahnya. Yang ada hanyalah kelembutan yang begitu tulus hingga siapa pun yang melihatnya akan merasa terharu.Rani sedang duduk di meja makan kecil di area dapur, tampak sedikit pucat namun mencoba untuk tersenyum. Kehadiran Tasya yang tiba tiba mendekat dengan nampan perak membuat Rani sedikit terkejut."Rani, Sayang..." suara Tasya terdengar sangat merdu dan penuh kasih. "Kakak perhatikan belakangan ini kamu terlihat sedikit lemas. Kamu pasti sedang lelah karena perubahan hormon itu, kan?"Tasya meletakkan nampan itu di depan Rani. Di atasnya terdapat sebuah mangkuk sup keramik yang
Tasya berdiri mematung sejenak di tengah kekacauan pecahan vas yang berserakan. Napasnya yang memburu perlahan mulai teratur, seolah ia sedang melakukan transisi yang sangat sadar dari seorang wanita yang murka menjadi seorang aktris yang ulung. Ia menarik napas dalam dalam, memaksakan detak jantungnya kembali ke ritme normal. Dengan gerakan yang sangat tenang hampir terlalu tenang ia merogoh saku jubahnya. Ia mengambil kembali alat tes kehamilan itu, menatap dua garis merah yang seolah mengejeknya untuk terakhir kali. Tanpa ragu, ia menyembunyikan benda kecil itu jauh ke dalam saku tersembunyi di tas mewahnya, memastikan tak ada satu pun mata yang bisa menemukannya. Ia kemudian melangkah di antara pecahan keramik, gerakannya anggun seolah ia sedang berjalan di atas panggung catwalk, bukan di tengah reruntuhan vas yang ia hancurkan sendiri. Ia mengambil sapu tangan sutra dari meja, menyeka sedikit noda air di tangannya dengan gerakan yang sangat presisi. Wajahnya kembali terpasan
Tasya berlutut perlahan di samping keranjang sampah yang tersembunyi. Jemarinya yang dingin dan kaku menaruh kembali alat tes kehamilan itu di antara tisu bekas dan sampah lain, menyusunnya sedemikian rupa seolah benda itu tak pernah disentuh, seolah tak ada rahasia besar yang baru saja terkuak. Ia meratakan lipatan sampah, memastikan tidak ada jejak gangguan yang terlihat, lalu berdiri tegak dengan gerakan anggun yang dipaksakan. Namun, topeng di wajahnya kini tak lagi sama. Senyum tipis yang terukir di bibirnya bukan lagi senyum manis kakak yang penuh perhatian, melainkan senyum miring yang menyeramkan, matanya menyala dengan kilatan niat jahat yang pekat. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi rasa bersalah. Hanya ada kebencian murni dan tekad untuk menghancurkan apa yang berani merebut miliknya. Ia berbisik pelan, suaranya terdengar lembut namun menusuk hingga ke tulang, seolah sedang mengucapkan ucapan selamat pada tamu yang akan berangkat ke kematian. "Kalau begitu... sela
Udara di kamar Rani terasa hening, hanya berbau samar sabun bayi dan wangi bunga melati yang lembut. Tasya melangkah masuk tanpa suara, gerakannya pelan namun penuh niat buruk, matanya menyapu setiap sudut ruangan seolah sedang memburu jejak musuh. Ia tahu Rani sering ceroboh, sering lupa menyembunyikan barang-barang pribadi di tempat yang seharusnya aman. Dan hari ini, nasib benar-benar berpihak pada keburukannya—atau mungkin justru membuka pintu neraka yang selama ini tertutup rapat.Saat ia menunduk memeriksa keranjang sampah yang tersembunyi di balik lemari pakaian, tangannya tiba-tiba berhenti bergerak. Di antara tisu bekas dan kemasan permen, tergeletak sebuah benda plastik kecil yang bentuknya terlalu ia kenal.Dengan jari gemetar menahan rasa ingin tahu yang bercampur ketakutan, Tasya meraih benda itu. Ia mengangkatnya perlahan ke arah cahaya jendela.Detik itu juga, napasnya tercekat.Di sana, terlihat jelas dua garis merah yang tegas dan mencolok. Garis yang menandakan satu
"Tapi ini salah, Kak..." isaknya tertahan, suaranya parau dan menyakitkan. "Kita salah. Ini haram. Kakak suami Kak Tasya... dan aku... aku merasa seperti merusak segalanya. Aku merasa jahat sekali, Kak... kenapa rasanya enak tapi salah? Kenapa aku merasa bersalah setiap kali menatapnya?" Ia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua beban yang menekan dadanya selama berbulan-bulan ini. Rasa takut, rasa bersalah, dan kebingungan bercampur aduk menjadi satu Mendengar itu, alis Dimas mengerut rapat. Ia tidak suka mendengar kata-kata itu. Ia tidak suka Rani menganggap apa yang mereka miliki sebagai kesalahan. Dengan cepat ia menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, memeluknya sangat erat seolah ingin menyatukan tulang mereka. Tangan besarnya mengusap rambut panjang Rani dengan gerakan menenangkan, sementara bibirnya mendekat ke telinga gadis itu, membisikkan kata-kata yang terasa seperti mantra penenang sekaligus racun halus. "Dengar aku baik-baik, Sayang," bisiknya rendah, tegas,
. Saat Rani melangkah ke arah dapur sambil membawa piring sarapan, tangan Dimas tiba-tiba melesat meraih pergelangan tangannya. Genggamannya kuat, posesif. Ibu jarinya sengaja menekan titik nadinya—cukup dekat untuk merasakan detak jantung Rani yang berdegup cepat, membawa rahasia yang hanya mere
Tasya memperhatikan mereka dari balik cangkir kopinya. Garpunya berhenti di udara ketika ia melihat tangan Dimas bertumpu di punggung bawah Rani—gerakan yang terlalu akrab untuk sekadar kebiasaan sopan. Ia mengenali sentuhan itu, pernah melihatnya berkali-kali dalam berbagai acara sosial, tetapi p
Mata Rani terbuka seketika, seolah ditarik paksa keluar dari mimpi yang belum sempat melepaskannya. Kegelapan kamar menyambutnya, namun jantungnya masih berlari—debarannya terperangkap di tulang rusuk bersama sisa mimpi yang melekat seperti jaring laba-laba.Gaun pengantin itu terasa terlalu nyata.
Ruang makan pagi itu dipenuhi suasana tenang yang aneh, meski meja penuh dengan suara sendok dan piring. Afqlah sibuk dengan ponselnya, tertawa kecil melihat meme yang lewat di layar. Tasya duduk di ujung meja, menyeruput kopi sambil membolak-balik majalah mode, seolah tidak meny







