Share

Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar
Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar
Penulis: Yes, me! Leesoochan

🖤 EPISODE 1

last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-04 15:46:53

Rani tiba di Citra Asmarayudha Residence, diantar oleh Tasya. Dari balik kaca mobil, ia menatap gerbang hitam menjulang. Satpam bernama Rahman memberi salam dengan sikap kaku, membuat Rani merasa kecil dan asing, seolah baru saja melangkah ke dunia lain.

Saat mobil berhenti di depan pintu masuk megah, mata Rani membesar melihat rumah yang berdiri anggun di hadapannya. Fasad marmer putih berkilau diterpa cahaya sore, sementara taman di sekelilingnya mekar penuh warna. Tasya melirik padanya dengan senyum puas.

“Selamat datang di rumah, Rani,” ucapnya manis, meski terdengar palsu.

Rani turun dari mobil dengan jantung berdebar. Udara di sekitarnya dipenuhi aroma bunga eksotis bercampur dengan segarnya rumput yang baru dipangkas. Ia menggenggam erat pegangan kopernya, merasa seperti orang asing di dunia penuh kemewahan ini. Sepatu hak Tasya berketuk pelan di jalan berbatu, memimpin langkah menuju pintu depan.

“Aku yakin kamu akan betah di sini,” katanya sambil melirik sekilas pada adiknya dengan senyum seakan penuh pengertian. “Dimas sudah menyiapkan kamar untukmu.”

Begitu masuk ke serambi, Rani tertegun melihat kemewahan yang menyambutnya. Sebuah tangga besar melingkar ke atas, sementara lampu kristal menggantung megah di langit-langit, memantulkan cahaya pelangi di lantai marmer. Tiba-tiba, suara berat terdengar menggema di lorong.

“Tasya, kau sudah kembali.”

Dimas Elvano Satya muncul dari ruang kerjanya, tatapannya langsung tertuju pada Rani. Ia tampak nyaris sempurna dalam balutan jas yang rapi membentuk tubuh atletisnya, rambut hitamnya tertata tanpa cela. Kehadirannya begitu dominan, membuat jantung Rani berdegup kencang.

“Jadi ini adikmu?” tanyanya, melangkah mendekat, gerakannya seperti predator yang sedang mengukur mangsa. Rani berdiri kaku, matanya terkunci pada pria itu. Dari dekat, ia bisa mencium aroma halus cologne, perpaduan kayu cendana dan sesuatu yang maskulin. Tatapannya tajam, seolah mampu menembus hingga ke dalam dirinya.

“Rani,” sela Tasya, cepat-cepat meraih lengan Dimas dengan sikap posesif. “Bukankah dia manis? Aku yakin dia akan berguna di rumah ini.”

Senyum tipis muncul di bibir Dimas. “Aku juga yakin begitu,” gumamnya tanpa mengalihkan pandangan dari Rani. “Ayo, biar kutunjukkan kamarmu.” Ia mengisyaratkan ke arah tangga, tangannya terulur menunggu.

Rani ragu sejenak, lalu meletakkan tangannya di genggamannya. Jantungnya kembali berdegup kencang saat merasakan cengkeraman kuat dan menguasai itu. Ia menuruti langkah Dimas menaiki tangga, matanya tak lepas dari punggung lebar pria itu, dari cara jasnya jatuh mengikuti bahu kokoh setiap kali ia bergerak.

Mereka melewati lorong panjang yang dipenuhi lukisan mahal dan karpet mewah. Rani merasa kian kecil, bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya menantinya dengan keputusan tinggal di rumah ini.

Dimas berhenti di depan sebuah pintu, lalu mendorongnya terbuka. Sebuah kamar luas tersingkap, dipenuhi nuansa pastel lembut. Tempat tidur empat tiang besar berdiri di tengah ruangan, dihiasi tirai sutra dan bertumpuk bantal empuk.

“Ini kamarmu,” ujar Dimas, menyingkir sedikit agar Rani bisa masuk. “Semoga sesuai dengan harapanmu.”

Rani ragu di ambang pintu, matanya terbelalak menatap kemewahan di dalam. Ruangan itu lebih besar daripada seluruh apartemennya dulu, lantainya tertutup karpet lembut, ada area duduk dengan sofa dan kursi mengelilingi meja kopi, meja rias berukir indah menempel di dinding, dan jendela setinggi langit-langit menampilkan pemandangan taman hijau yang menakjubkan.

“Ini… indah sekali,” bisiknya, melangkah masuk. Ia meletakkan koper di sisi ranjang, merasa canggung dengan gaun hitam sederhana yang dikenakannya di tengah ruangan penuh kemewahan.

Saat ia masih berdiri kikuk, Dimas berdehem. “Aysha akan mengajakmu berkeliling dan menjelaskan aturan rumah ini,” katanya, nada suaranya tak memberi ruang untuk membantah. “Ikuti instruksinya dengan baik.”

Belum sempat Rani menjawab, seorang wanita masuk. Pakaian hitam dengan celemek putih membalut tubuhnya, rambutnya disanggul rapi. Rani langsung menebak: Aysha, kepala staf rumah tangga.

“Selamat datang, Rani,” sapa Aysha dengan senyum ramah. “Saya Aysha. Hari ini saya akan menemanimu berkeliling.”

Dimas hanya mengangguk singkat, lalu berbalik keluar dan menutup pintu di belakangnya. Rani menoleh pada Aysha, diliputi campuran lega sekaligus gugup.

“Mari kita mulai dari dapur,” kata Aysha ceria, memberi isyarat padanya untuk ikut. “Penting bagimu memahami bagaimana segalanya berjalan di sini.”

Mereka menuruni tangga besar menuju dapur luas yang dipenuhi peralatan modern. Rani nyaris terpana melihat ukurannya. Segala sesuatu dari baja tahan karat berkilau di bawah cahaya terang, sementara sebuah meja marmer besar berdiri di tengah ruangan. Rani tak tahan untuk menyusuri permukaannya dengan jemari, kagum pada kehalusannya.

“Pertama-tama,” Aysha menunjuk panel di dinding, “di sinilah semua aturan dan jadwal rumah tercatat.” Ia mengetuk layar sentuh, dan daftar instruksi muncul. “Kamu harus hafal. Tuan Dimas menuntut kesempurnaan.”

Rani mengangguk sungguh-sungguh. Kata-kata seperti kebersihan, ketepatan waktu, dan kerahasiaan terasa membebaninya. Ia sadar tanggung jawab yang dipikulnya jauh lebih berat dari perkiraannya.

Tur berlanjut ke ruang tamu, penuh barang antik dan karya seni mahal. Rani mendengarkan dengan tekun, berusaha menyerap setiap detail.

“Sekarang, biar saya tunjukkan cara menata meja makan,” kata Aysha sambil menuntunnya ke ruang makan besar. Meja mahoni panjang terbentang, cukup untuk menampung dua puluh orang. Ia mulai mengeluarkan peralatan makan dan gelas kristal, menjelaskan aturan penempatan satu per satu.

Rani memperhatikan seksama, mencoba menirukan. Namun saat ia meraih gelas, sikunya tanpa sengaja menyenggol vas di dekatnya. Vas itu jatuh dan pecah berantakan di lantai.

Rani membeku, jantungnya berdegup kencang. Pecahan porselen berkilau menyebar di atas lantai kayu. Senyum Aysha sempat memudar, tapi ia segera menguasai diri.

“Tidak apa-apa,” katanya lembut namun tegas. “Kecelakaan bisa terjadi. Tapi di rumah ini, kita harus selalu berhati-hati.”

Ia berlutut, memunguti pecahan besar, lalu memberi isyarat agar Rani mengambil sapu dan pengki. Saat mereka membersihkan bersama, Aysha terus berbicara dengan nada menenangkan.

“Saya tahu ini terasa berat, Rani. Rumah ini punya aturan dan tuntutannya sendiri. Tapi sekarang kamu bagian dari keluarga, dan kami akan membantumu menyesuaikan diri.”

Rani mengangguk penuh rasa terima kasih. Ada kelegaan yang menyeruak, meski hatinya masih diliputi kecemasan. Setelah semuanya beres, Aysha berdiri dan menepuk bahunya dengan hangat.

“Kamu akan baik-baik saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Tangan hangat Aysha di bahu Rani menghadirkan sedikit rasa nyaman, seperti jeda singkat di tengah hari yang penuh tekanan.

“Terima kasih,” gumam Rani pelan, matanya tertunduk. “Aku berusaha sebaik mungkin untuk mengerti semuanya.”

“Kamu baik-baik saja,” balas Aysha lembut, nadanya menenangkan. “Kalau ada yang membingungkan atau kamu butuh bantuan, jangan ragu untuk bertanya. Kami semua ada untuk mendukungmu.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 89

    Ruang konferensi dipenuhi dengungan percakapan rendah dan suara kertas yang saling bergesekan. Dimas duduk di ujung meja, tubuhnya tegak, tatapannya terkunci pada layar presentasi di depan. Namun pikirannya melayang ke tempat lain—terseret pada sosok Rani, pada kegelisahan yang perlahan berubah menjadi obsesi dan kian mencengkeramnya dari dalam.Di seberang meja, Elano Hartono—saingannya sekaligus kekasih rahasia Tasya—bersandar santai di kursinya. Senyum tipis penuh kepuasan terlukis di wajahnya. Sepanjang rapat, ia terus menyelipkan komentar sinis, mempertanyakan keputusan Dimas dengan nada seolah-olah tulus, namun cukup tajam untuk menjatuhkannya di hadapan klien penting mereka.“Keluargamu kelihatannya… agak tidak stabil,” ujar Elano ringan, sambil melirik Dimas dengan ekspresi sok pengertian. “Maksudku, punya adik ipar yang tinggal serumah—itu pasti cukup mengganggu fokus, ya.”Rahang Dimas mengeras. Jari-jarinya mencengkeram pena lebih erat dari yang seharusnya. Ia tahu Elano se

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 88

    Saat matahari mulai tenggelam, bayang-bayang panjang menjalar di halaman mansion. Rani menarik diri ke kamarnya, kepalanya penuh oleh pengungkapan yang baru saja disampaikan Danish. Ia mondar-mandir tanpa tujuan, mencoba mencerna semuanya—pernikahan yang seolah dihapus dari sejarah, bisik-bisik tentang kemiripannya dengan istri pertama Dimas, serta sikap Tasya dan Dimas yang terasa ganjil setiap kali berada di dekatnya.Tiba-tiba sebuah pikiran menghantamnya, membuat langkahnya terhenti. Ia teringat bahwa hampir seluruh staf lama telah diganti tepat sebelum kedatangannya. Hanya segelintir orang yang tersisa—Rahman, Aisya, dan Danish. Apakah mereka satu-satunya yang mengetahui terlalu banyak? Orang-orang yang pernah menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lihat?Jantung Rani berdegup lebih cepat saat ia memikirkan kemungkinan itu. Jika Tasya dan Dimas sampai berusaha menghapus masa lalu mereka, rahasia apa lagi yang sedang mereka sembunyikan? Dan mengapa, dengan semua risiko i

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 87

    Rani berjalan tanpa tujuan di taman yang mengelilingi penthouse itu. Langkahnya pelan, pikirannya masih kacau sejak pertemuannya dengan Tasya. Ada terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, dan semuanya terasa menyesakkan. Ia butuh pengalih perhatian—apa pun, asal pikirannya tidak kembali pada hal-hal yang membuat dadanya terasa berat. Saat melewati pagar tanaman yang rimbun dan deretan bunga yang tertata rapi, ia melihat Danish, tukang kebun, sedang memangkas semak mawar. Pria itu mendongak ketika Rani mendekat dan tersenyum ramah. “Selamat pagi, Nona Rani,” sapa Danish sambil menyeka keringat di dahinya. “Cuacanya bagus hari ini.” Rani mengangguk pelan, pandangannya menerawang ke hamparan taman yang terawat sempurna. “Iya…” gumamnya. Setelah ragu sejenak, ia menambahkan, “Danish… boleh aku bertanya sesuatu?” Danish menghentikan pekerjaannya dan menatapnya penuh perhatian. “Tentu saja. Ada apa, Nona?” Rani menggigit bibirnya sebentar, seolah menimbang kata-kata. “Ak

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 86

    Pagi ini, Rani menaiki tangga loteng yang berderit, kain lap berdebu tergenggam di tangannya. Udara terasa pengap, sarat aroma kayu tua dan kenangan yang seolah telah lama dikubur. Sambil menyeka rak-rak berdebu, pikirannya melayang pada peristiwa aneh yang terjadi semalam.Saat tangannya meraih sebuah album foto yang tertutup sarang laba-laba, album itu tiba-tiba terlepas dari genggamannya dan jatuh terbuka ke lantai. Rani membungkuk untuk mengambilnya, lalu membeku. Matanya melebar ketika melihat isi album tersebut.Halaman-halamannya dipenuhi foto-foto pernikahan. Pernikahan Dimas dan Tasya, sepertinya. Namun satu foto membuat jantung Rani mencelos. Sebuah foto close-up wajah pengantin perempuan—wajah itu telah hangus terbakar, seolah sengaja dirusak, hanya menyisakan garis-garis hitam di tempat wajah seharusnya berada.Jantung Rani berdebar kencang. Siapa yang tega melakukan hal seperti itu? Dan mengapa?Tangannya gemetar saat memegang album itu. Tiba-tiba, ingatan samar menyeruak

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 85

    Mereka saling berpandangan dengan gelisah sambil mendengarkan kata-kata Tasya di luar sana.“Kalau dia mengingat semuanya… kita selesai,” suara itu terdengar bergetar, sarat ketakutan dan keputusasaan.Rahang Dimas mengeras, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia menatap Rani, melihat kebingungan dan kecemasan terpahat jelas di wajah perempuan itu.“Dia sedang membicarakan kita,” bisiknya nyaris tak terdengar.Rani mengangguk, jantungnya berdegup kencang saat mencoba memahami maksud di balik ucapan Tasya. Apa arti selesai? Dan mengapa Tasya tampak begitu takut jika Dimas mengingat sesuatu? Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat ke pintu kamar. Dimas refleks melangkah ke depan Rani, berdiri protektif, tubuhnya menegang seolah bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Pintu berderit terbuka. Tasya berdiri di ambang pintu. Matanya menyipit saat menangkap pemandangan di hadapannya—Dimas berdiri di depan Rani, wajah keduanya dipenuhi kekhawatiran. Ia melangkah masuk, su

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 84

    Mata Dimas menyipit mendengar kata-kata Rani. Rahangnya mengeras, otot di sana tampak berkedut. “Kamu sedang menginjak es yang rapuh, adik kecil,” peringatnya dengan suara rendah, mengandung ancaman. “Itu cuma momen kelemahan. Tidak lebih.” Ia menyingkirkan selimut dan bangkit dari ranjang. Tubuhnya yang tinggi menjulang di hadapan Rani. Panas dari kulitnya yang telanjang terasa jelas, dan Rani tak bisa mengabaikan cara otot-otot itu menegang dan bergerak setiap kali ia melangkah. “Kamu pikir kamu mengenalku hanya karena beberapa ciuman dan sentuhan yang dicuri?” Dimas mencibir. “Kamu sama sekali tidak tahu apa yang mampu kulakukan.” Rani ikut berdiri. Meski rasa takut mengalir deras di nadinya, ia menolak mundur. “Aku cukup tahu,” katanya pelan. “Aku tahu bahwa saat Tasya tidak ada, kamu tak pernah benar-benar bisa menjauh dariku. Cara kamu menatapku… seolah ingin melahapku hidup-hidup.” Ia melangkah lebih dekat, jantungnya berdegup keras. “Dan aku tahu, saat kamu menyebut na

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status