Share

🖤 EPISODE 77

last update Last Updated: 2025-12-31 23:57:40

Di lantai bawah, Rani terduduk kaku di lantai gudang, dikelilingi kotak-kotak berisi kenangan yang terlupakan dan mimpi-mimpi yang ditinggalkan. Di samping tangannya yang gemetar, sebuah cincin emas tergeletak. Desainnya sederhana, namun kini terpatri kuat di benaknya, menyatu dengan bayangan dirinya berjalan menuju altar bersama Dimas di bawah kanopi suci—sementara Tasya menyaksikan dari kejauhan, air mata membasahi wajahnya.

Setelah membereskan gudang sebisanya, Rani melangkah pergi. Dengan langkah ragu, ia menuju ruang kerja Dimas dan mengetuk pintunya.

Kepala Dimas tersentak mendengar ketukan itu. Aroma asam wiski masih melekat di napasnya ketika ia menyadari bahwa Rani entah bagaimana berhasil menemukan jalan ke ruang pribadinya—tanpa izin. Sesaat, ia tergoda untuk mengabaikannya, membiarkannya berdiri di luar sementara ia kembali menenggelamkan diri dalam minuman mahal.

Namun ia memilih bangkit.

Dengan gerakan lambat dan terukur, nyaris seperti pemangsa, Dimas berdiri dari kursi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 82

    Rani langsung meringkuk menyendiri, tiba-tiba merasa terbuka dan sangat rentan setelah kabut gairah perlahan sirna. Dia merasakan cairan Dimas mengalir keluar dari tubuhnya, menetes ke bagian dalam paha—sebuah pengingat yang pahit tentang apa yang baru saja mereka lakukan. "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Dimas dengan suara pelan, memecah keheningan yang telah menyelimuti ruangan. Dia memandang Rani dengan ekspresi yang sulit ditebak, tangannya tetap terletak di pinggulnya dengan sikap yang tetap posesif. “Hanya membayangkan bagaimana jadinya jika ini bukan cinta terlarang.” Mata Dimas menyipit mendengar ucapan Rani. Cengkeramannya di pinggul Rani sedikit menguat. “Cinta terlarang,” ulangnya pelan, seolah menimbang kata itu. “Jadi, itu yang kamu pikirkan tentang kita?” Ia mencondongkan tubuh, napasnya hangat menyentuh telinga Rani saat berbisik, “Karena bagiku, tak ada yang terlarang di sini. Kamu adik istriku—bukan orang asing yang kutemui di jalan.” Rani menggigil menden

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 81

    Rani mencoba fokus ke arah TV, tapi gambar-gambar yang berkedip-kedip tampak kabur saat pikirannya melayang kembali ke kilas ingatan yang selalu menghantui. Dia masih bisa merasakan napas hangat Dimas menyengat di telinganya, kata-katanya yang berbisik seperti janji yang penuh rahasia. "Kamu milikku sekarang," gumamnya, tangannya meluncur ke atas perutnya dengan sikap posesif. "Selamanya." Ingatan itu membuatnya merinding, hingga dia tidak sadar menggigil. Dia tahu itu bukan kenyataan... belum. Tapi kesan sentuhan Dimas masih terasa seperti hantu yang tak kunjung pergi. Tiba-tiba, suara langkah kaki bergema di lorong luar. Jantung Rani terasa seperti melompat ke tenggorokan saat dia mengenali gaya berjalan berat Dimas yang semakin dekat. Dia langsung duduk lebih tegak, mencoba menenangkan diri saat pintu terbuka dan dia masuk ke dalam ruangan. Dimas berhenti di ambang pintu, matanya menyapu-liat sosok Rani yang tampak tegang. Sebuah senyuman menyelimuti bibirnya ketika melihat pi

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 80

    .Saat mereka kembali ke Kediaman Asmarayudha, mobil itu tenggelam dalam keheningan yang menekan. Hanya sesekali Afqlah memecahnya dengan pertanyaan polos tentang kegiatan sekolahnya hari ini. Rani menjawab seadanya, pikirannya masih berputar pada sikap posesif Dimas di taman—dan sentuhan tangannya yang terasa belum sepenuhnya hilang dari pahanya.Cengkeraman Dimas pada setir semakin menguat ketika ia menyusuri jalanan yang padat. Rahangnya mengeras, jelas menahan sesuatu yang nyaris meledak. Sesekali, tatapannya melirik ke arah Rani di kursi penumpang, tajam dan penuh tekanan, seakan menantangnya untuk berkata atau melakukan sesuatu.Begitu mereka tiba di rumah, Dimas memarkir mobil dan mematikan mesin. Ia diam sejenak, menatap lurus ke depan, sebelum akhirnya berbicara.“Rani,” ucapnya pelan, suaranya rendah dan terkendali. “Ikut aku ke ruang kerja. Sekarang.”Itu bukan permintaan.Tanpa menunggu jawaban, Dimas keluar dari mobil dan melangkah masuk ke rumah. Rani buru-buru melepas s

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 79

    Rahang Dimas mengeras ketika ia melihat Rani tertawa kecil menanggapi sesuatu yang diucapkan Danish saat mereka merawat mawar bersama. Pemandangan itu membuat perutnya terasa melintir oleh cemburu. Rani miliknya. Sialan. Perempuan kesayangannya, istri rahasianya—meski tanpa nama resmi. Ia melangkah keluar dari kantor dengan langkah panjang, menuruni tangga. Suara sepatunya menggema di serambi marmer saat ia menuju taman. Rani mendongak ketika menyadari kehadirannya. Senyum di wajahnya perlahan memudar, tergantikan keraguan saat melihat ekspresi kelam Dimas. “Dimas,” sapa Rani pelan, ragu-ragu, sambil mundur selangkah menjauh dari Danish. Pelayan itu segera menundukkan kepala dengan hormat sebelum meminta izin pergi. “Apa yang kalian bicarakan?” tuntut Dimas. Suaranya rendah, berbahaya, saat ia memperkecil jarak di antara mereka. “Kalian terlihat… cukup akrab.” Mata Rani membesar, terkejut oleh tuduhan dalam nada suaranya. “Tidak ada yang penting. Kami hanya mengobrol.” Dimas meny

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 78

    Zenira mencondongkan tubuhnya sedikit di atas meja arisan, cukup dekat untuk membuat bisikannya terasa seperti rahasia yang seharusnya tidak pernah diucapkan.“Aku mungkin terlalu peka,” katanya ringan, seolah menertawakan dirinya sendiri, “tapi aku perhatikan Dimas selalu tahu di mana Rani berada. Di pesta mana pun.”Kata-katanya menggantung di udara, tipis namun lengket. Khalisa Kamila tidak langsung menanggapi. Ia hanya memutar seruling sampanyenya pelan, memperhatikan pantulan cahaya kristal sebelum akhirnya melirik ke meja utama.Dimas duduk di samping Tasya, sebagaimana mestinya. Sikapnya rapi, senyumnya terukur. Namun pandangannya—entah disengaja atau tidak—sesekali melayang ke arah Rani yang berdiri tak jauh dari sana, berbincang dengan tamu lain. Terlalu sering untuk dianggap kebetulan, terlalu singkat untuk disebut kesalahan.“Dia adik iparnya,” Khalisa akhirnya berkata datar.“Tentu,” Zenira mengangguk cepat. “Dan tidak ada yang salah dengan itu.”Namun senyumnya mengatakan

  • Benih Yang Ditinggalkan Kakak Ipar   🖤 EPISODE 77

    Di lantai bawah, Rani terduduk kaku di lantai gudang, dikelilingi kotak-kotak berisi kenangan yang terlupakan dan mimpi-mimpi yang ditinggalkan. Di samping tangannya yang gemetar, sebuah cincin emas tergeletak. Desainnya sederhana, namun kini terpatri kuat di benaknya, menyatu dengan bayangan dirinya berjalan menuju altar bersama Dimas di bawah kanopi suci—sementara Tasya menyaksikan dari kejauhan, air mata membasahi wajahnya.Setelah membereskan gudang sebisanya, Rani melangkah pergi. Dengan langkah ragu, ia menuju ruang kerja Dimas dan mengetuk pintunya.Kepala Dimas tersentak mendengar ketukan itu. Aroma asam wiski masih melekat di napasnya ketika ia menyadari bahwa Rani entah bagaimana berhasil menemukan jalan ke ruang pribadinya—tanpa izin. Sesaat, ia tergoda untuk mengabaikannya, membiarkannya berdiri di luar sementara ia kembali menenggelamkan diri dalam minuman mahal.Namun ia memilih bangkit.Dengan gerakan lambat dan terukur, nyaris seperti pemangsa, Dimas berdiri dari kursi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status