MasukKevin menekan gas motor yang dikendarainya keluar dari rumah, dengan sedikit ngebut ia mengejar mobil merah metalik yang ditumpangi Tante Mili. Setelah mobil itu terlihat jelas sudah berada di depan, ia memelankan laju motornya, kemudian mengikutinya dengan jarak dua kendaraan yang berada di belakangnya. Setelah sampai di pertigaan jalan, tampak mobil Mili berbelok arah ke kiri, Kevin terus membuntuti, hingga ia berhenti saat mobil itu memasuki halaman parkir sebuah klinik 24 Jam. “Rupanya benar ia mau mengecek kesehatan,” batin Kevin. Kevin memutuskan untuk memarkir motor di dekat sebuah kedai makan pinggir jalan. Tidak lama kemudian, Rony keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu penumpang bagian tengah. Mili pun turun dari mobil, lalu berjalan dengan gayanya yang elegan dan modis menuju ke dalam klinik. Rupanya Rony pun ikut mengantar masuk ke dalam klinik yang tampak sepi pengunjung itu. Sekadar menunggu, Kevin memesan segelas minuman jus, lalu mengeluarkan ponsel dari saku
“Bro… bangun, bro!” usik Kevin pada Rasya yang masih tertidur pulas, Rasya hanya terbangun sebentar karena merasa terusik, lalu matanya terpejam kembali. “Gw mau pinjam motor, Sya… gue mau keluar dulu sebentar,” ucapnya memberitahu sahabatnya itu.“Hmm…” gumam Rasya mengiyakan. Kevin bergegas mengambil kunci motor Rasya yang ditaruh di dalam tasnya, lalu dengan mengenakan jaket hitam dan topi biru tua ia keluar kamar untuk mengikuti Tante Mili bersama sopir pribadinya.“Mbak Nung, coba lihat di depan, Tante Mili masih ada apa sudah pergi?” pinta Kevin pada pembantunya yang sedang mengepel lantai ruang tamu.Mbak Nung segera mengintip dari balik jendela, tampak di halaman mobil yang ditumpangi Mili mulai bergerak perlahan menuju pintu keluar. “Tante Mili mau jalan tuh, Mas,” ucap Mbak Nung memberitahu Kevin.“Iya, Mbak, aku mau keluar dulu ya…,” jelas Kevin bergegas keluar rumah.“Loh, emang Mas Kevin mau kemana?”Kevin tak menghiraukan pertanyaan Mbak Nung, ia terus keluar rumah lal
Saat sarapan pagi, Mili melayani Gun dengan penuh perhatian, dari makan dan minum ia sendiri yang menyediakan, untuk menunjukkan kalau saat ini sudah berubah menjadi istri paling berbakti pada suami.“Pah…, hari ini Mamah mau ke klinik, mau cek kesehatan,” ujar Mili sekadar beralasan agar bisa keluar rumah dengan bebas.“Loh, memangnya Mamah sakit apa?”“Nggak sakit apa-apa sih, Pah, cuma kan Mamah lama tinggal bersama orang-orang di tahanan, takutnya ada penyakit yang ditularkan mereka pada Mamah, Pah.”“Oh, papah ngerti sekarang. Mamah mau ditemani Papah atau bagaimana?”“Nggak usah, Pah, biar Mamah pergi sendiri saja diantar sopir.”“Ya sudah, nanti setelah Papah sampai kantor, Papah suruh si Bas antar Mamah ke klinik.”“Gimana ya, Pah, sekarang kan Baskoro sudah jadi bagian dari keluarga kita, kakak iparnya Chantika, jadi menurut Mamah kalau masih dijadikan sopir pribadi keluarga sepertinya kurang etis, kurang beretika, Pah. Apalagi harus menyuruh ini-itu, jadi sungkan, Pah.”Gun
Saat melintas di ruang keluarga, Mili melihat Kevin sedang tertidur pulas di atas sofa sambil memegang ponsel yang masih menyala di tangannya, “Oh, rupanya ada di sini si setan kecil,” ucapnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.Dengan penuh perhatian, Mili memindahkan ponsel dari tangan Kevin ke atas meja, lalu menutupi tubuh anaknya itu dengan selimut. “Tidur yang nyenyak ya, anakku sayang, aku mau senang-senang dulu dengan temanmu,” gumam Mili sambil tersenyum, kemudian ia berjalan ke dapur untuk mengambil minuman dan camilan di atas meja makan, lalu pergi kembali ke kamar tidurnya di lantai 2.Sejurus Mili pergi, Rasya membersihkan diri di kamar mandi, lalu berpakaian. Ia penasaran terlebih dahulu mencari keberadaan Kevin, lalu ia melihatnya sedang tidur berselimut di atas sofa. “Jangan-jangan dia kelelahan setelah ML dengan ibu tirinya. Dasar, Kevin!” pikir Rasya. “Kini giliran aku yang mereguk kenikmatan,” semangatnya menyala penuh hasrat berjalan menuju ke kamar Mili. Namun, ba
Kevin masuk ke dalam kamarnya, ia mendapati Rasya sudah tidur terlentang di atas tempat tidur dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan selembar boxer berwarna kelabu. “Aku curiga, kok bisa dia langsung tertidur pulas. Biasanya kalau keinginannya belum tersalurkan, sampai pagi pun dia tidak bisa tidur dengan nyenyak,” gumam Kevin merasa keheranan.Sampai akhirnya, terdengar langkah seseorang menaiki anak tangga, Kevin segera mengintip dari celah pintu kamarnya. Tampak Mili sedang berjalan sambil menuju kamarnya sambil menenteng beberapa tas belanjaan. Jika ingin menurutkan kata hati, ingin rasanya Kevin mengikuti istri ayahnya itu ke kamar tidurnya, lalu ia akan berpura-pura perlu pinjam sesuatu, kemudian sudah pasti disuruh masuk ke dalam kamar yang sepi oleh Tante Mili. Saat itulah kemungkinan besar terjawab semua hasrat dan rasa penasarannya. Tapi, Kevin tidak ingin mengambil risiko untuk masuk ke dalam kamar papa dan ibu tirinya itu. Ia menyadari kalau Mili adalah perempuan li
Tok! Tok! Tok! Rasya mengetuk kamar pembantu itu lalu menyuruh orang di dalamnya keluar. Tentu saja mereka di dalam terkejut bukan kepalang. Mendadak hening.Rasya mengetuk-ngetuk daun pintu kamar itu lagi, karena belum juga dibukakan. "Hey... buka...!" teriak Rasya. Sampai akhirnya ketika pintu itu terbuka seorang lelaki bertubuh tambun yang sedang menutupi wajahnya dengan topi tersembul dari balik pintu. “Pak Parjo...? Ngapain di sini?” tanya Rasya yang memang sudah kenal dengan penjaga rumah Kevin itu.“Maaf Mas..., tolong jangan diberitahu ke boss atau Mas Kevin...,” ucap Parjo yang merasa malu karena tertangkap basah di dalam kamar Mbak Nung.“Jangan gitu dong, Pak..., Bapak kan punya istri... kalau saya laporkan ke papanya Kevin Bapak bisa dipecat,” ancam Rasya, Parjo langsung melutut di hadapan Rasya.“Ampun Mas... jangan, Mas... kasihani saya...” rengek Parjo.“Ya sudah, Pak, pergi sana sebelum saya berubah pikiran,” perintah Rasya yang sebenarnya penasaran dengan wanita y







