Masuk#
Lyra tidak langsung bergerak setelah Adhikara meninggalkannya. "Kita lihat saja nanti." Kalimat itu berputar di kepalanya, membuatnya merasa tidak nyaman. Lyra akhirnya berbalik menuju dapur, menyalakan keran, membiarkan air mengalir lebih lama dari yang dibutuhkan, sekadar untuk menenangkan pikirannya. Dia mencuci wajahnya dan menatap pantulan wajahnya di permukaan wastafel yang tampak pucat. “Aku tidak boleh lemah. Dia memang senang menggertak dan mengancam seperti seorang pengecut,” gumamnya pelan. "Aku harus bertahan di ruman ini demi Mama," lanjutnya. Matanya berkaca-kaca. Di lantai atas, Adhikara berdiri di depan jendela kamarnya. Lampu kamar dibiarkan mati. Bayangan Lyra memenuhi benaknya, wajah kaget Lyra, matanya bulat Lyra yang bergetar, melintas tanpa izin memenuhi kepalanya. “Brengsek,” desisnya. Dia menekan telapak tangan ke kaca jendela. Marah pada dirinya sendiri. # Lyra menaiki tangga membawa segelas air untuk Sri Rukmini. Setiap langkahnya terasa berat, seolah rumah itu sengaja mengingatkannya bahwa dia tidak punya tempat aman di sini. Saat melewati kamar Adhikara— Pintu itu terbuka. Lyra refleks berhenti. Adhikara berdiri di ambang pintu dan menatapnya. “Kau lama sekali di bawah hanya untuk air itu,” katanya singkat. Lyra menahan rasa kesalnya. “Aku mau ke kamar Nenek,” jawab Lyra, suaranya terkontrol tapi raut wajahnya jelas terlihat tegang. Tatapan Adhikara turun perlahan lalu kembali naik ke wajah Lyra, seakan dia sedang memindai Lyra. Ada sesuatu di matanya yang sulit untuk ditebak. "Nenek sudah menunggu lama," ujarnya namun dia malah berdiri menghalangi Lyra. Lyra tidak mundur. Tapi jari-jarinya mencengkeram gelas lebih erat. “Kalau begitu permisi, aku harus lewat dan Kak Adhi menghalangi jalan,” ucapnya lirih. "Kalau aku tidak mau, memangnya kau mau apa?" Adhikara menatapnya tajam. Lyra terdiam, mematung di tempatnya. Dari dalam kamar Sri Rukmini, suara batuk kecil terdengar. Adhikara akhirnya melangkah mundur. “Antarkan air itu,” ucapnya. Dia melangkah masuk ke kamarnya sendiri menutup pintu tepat di depan Lyra. Lyra berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya melangkah lagi. Dadanya terasa sesak, tapi kali ini bukan hanya karena takut. Ada sesuatu yang lain. Perasaan terjebak—bukan hanya di rumah ini, tapi di dalam permainan Adhikara yang belum ia pahami aturannya. # Pagi datang dengan cepat. Lyra berdiri di depan gerbang rumah Bramantya dengan tas kanvas di bahunya dan wajah yang terlalu tenang untuk seseorang yang nyaris tak tidur. Udara masih lembap, aspal sedikit basah oleh sisa hujan dini hari. Ia menunduk, mengecek jam di ponselnya, lalu menghela napas pelan. Angkutan umum biasanya lewat sepuluh menit lagi. “Aku akan terlambat kalau harus menunggu,” gumamnya pada diri sendiri. Ia melangkah ke tepi jalan, matanya menyapu arus kendaraan yang mulai padat. Suara mesin mobil berhenti tepat di sampingnya. Lyra tidak langsung menoleh. Lebih tepatnya, dia mengabaikannya karena dia sudah tahu siapa pemilik mobil itu. “Kau mau ke kampus?” suara itu terdengar datar dari balik jendela yang turun perlahan. Lyra menegang, lalu menoleh. Adhikara duduk di balik kemudi, kemeja gelapnya rapi, jam tangan mahal melingkar santai di pergelangan tangannya. “Iya,” jawab Lyra singkat. “Naik,” katanya. Itu bukan permintaan tapi sebuah perintah. Lyra menatap mobil itu sebentar, lalu kembali ke jalan. “Aku biasa naik angkutan umum,” tolaknya halus. “Aku tahu, tapi kau akan terlambat kalau menunggu. Kita di kelas yang sama, jadi cepat naik,” ulang Adhikara. “Tidak perlu, aku bisa memesan ojek online,” balas Lyra. Kali ini dia mengeluarkan ponselnya. Dengan kesal, Adhikara keluar dari mobilnya dan merampas ponsel Lyra. "Hei?!" protes Lyra. Adhikara menghapus aplikasi ojek online dari ponsel Lyra sebelum mengembalikannya. “Sekarang kau tidak bisa memesan ojek online.” Nada suara Adhikara tenang, tapi justru itu yang membuat Lyra kesal. Ia mengeratkan tali tasnya. “Bisa tidak Kak Adhi membiarkan sendiri dan tidak menggangguku? Mata kuliah ini penting untukku,” katanya. Adhikara memiringkan kepala sedikit. “Makanya naik, aku juga harus segera sampai di kampus. Kalau aku terlambat, itu salahmu,” balas Adhikara. Keheningan kembali tercipta selama beberapa saat antara mereka, suasana terasa berat dan kaku. Sebuah klakson mobil membuat Lyra mundur sekaligus memecahh keheningan saat itu. “Aku benar-benar akan terlambat,” gumamnya, lebih ke diri sendiri. “Makanya, masuklah cepat dan kita bisa segera pergii dari sini,” ulang Adhikara, kali ini dengan nada suara yang lebih rendah. Lyra menggigit bibirnya. Ia benci kenyataan bahwa ia butuh tumpangan dari Adhikara hari ini. Ia membuka pintu dengan gerakan cepat dan duduk di kursi penumpang tanpa menoleh lagi. Adhikara tersenyum puas dan ikut naik ke dalam mobil. Mobil melaju dalam diam. Beberapa detik berlalu tanpa suara. “Kenapa tidak sarapan tadi?” tanya Adhikara akhirnya. "Sejak kapan Kak Adhi perduli aku sarapan atau tidak?" Lyra balas bertanya. “Aku hanya bertanya, bukan berarti aku peduli,” ujar Adhikara. “Baguslah, karena sarapan atau tidak, itu urusanku.” Lyra membuang pandangannya ke luar jendela. Adhikara melirik sekilas. “Aku akan membiarkanmu pagi ini karena moodku sedang bagus. Lain kali kau harus ingat, rumahku berarti aturanku dan orang luar sepertimu harus menaatinya,” ucapnya penuh peringatan. Lyra menoleh heran pada Adhikara. Bagaimana bisa pria itu benar-benar tidak konsisten dengan apa yang pria itu ucapkan sebelumnya? Meski begitu dia menarik napas panjang. "Aku mengerti." Lagi-lagi dia memilih untuk lebih baik mengalah. Dia terlalu lelah untuk berdebat dengan Adhikara. Mereka sudah hampir tiba di kampus. "Aku turun di sini saja," ujarnya. "Bukankah sudah kubilang kalau pagi ini aku ada mata kuliah yang sama denganmu?" balas Adhikara. "Kak Adhi sendiri yang bilang kalau tidak boleh ada seorangpun di kampus yang tahu kalau kita adalah saudara... tiri," ucap Lyra. Adhikara melirik Lyra sekilas sebelum akhirnya malah menekan pedal gas melewati tempat yang ditunjuk oleh Lyra sebelumnya.#Malika duduk terdiam di ruang tengah kediaman keluarga Bramantya, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menunjukkan deretan pesan tanpa balasan. Sudah dua hari nomor Lyra tidak aktif. Setiap kali ia mencoba menghubungi, hanya suara operator yang menyambutnya, tanda kalau Lyra tidak mengaktifkan ponselnya. Meski Adhikara berulang kali meyakinkannya bahwa Lyra hanya sedang butuh waktu di rumah seorang teman, insting Malika sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ada sesuatu yang tidak beres, sebuah firasat buruk yang terus membayangi pikirannya."Haruskah aku mencari dan menemuinya di rumah temannya itu?" gumam Malika pelan.Padahal, Malika ingin berbicara langsung dengan Lyra mengenai rencananya. Itulah alasan mengapa Malika rela menginap di rumah keluarga Bramantya di tengah jadwal kerjanya yang sangat padat kali ini."Lyra," gumam Malika pelan, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian ruangan tersebut. Dia sebenarnya hanya tidak ingin Lyra mengalami apa yang dulu suda
#Lampu kamar yang temaram masih menyala, membiaskan cahaya redup yang menyentuh wajah Adhikara. Di sisi tempat tidur, Lyra berdiri mematung. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap, sebuah blus sederhana dengan jaket tipis yang membungkus tubuh ringkihnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah tas kecil yang berisi barang-barang miliknya yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan. Salah satunya foto keluarganya.Lyra menunduk, menatap Adhikara yang masih terlelap dengan napas yang teratur. Selama beberapa saat, matanya beralih pada lantai kamar. Pakaian mereka berserakan di sana, menjadi saksi bisu betapa kacaunya gairah keduanya beberapa jam yang lalu. Aroma percintaan mereka, campuran antara wangi maskulin Adhikara dan aroma tubuhnya sendiri, masih tertinggal pekat di udara, masuk ke dalam paru-parunya dan membuat dada Lyra terasa sesak. Ia menggigit bibirnya pelan. "Ini benar-benar yang terakhir," gumam Lyra, suaranya nyaris tidak terdengar, hilang ditelan kesunyian kama
#Malam itu, ruang tengah apartemen terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara rendah dari tayangan televisi yang sebenarnya tidak benar-benar mereka tonton. Adhikara duduk di sofa besar, merengkuh tubuh Lyra dalam pelukannya. Ini adalah momen langka. Selama hubungan mereka terjalin, ketenangan seperti ini hampir tidak pernah ada. Biasanya hanya ada ketegangan, air mata, atau gairah yang meledak karena amarah. Namun setelah makan malam tadi, suasana mendadak melunak.Adhikara menyisir rambut Lyra yang halus dengan jemarinya, gerakan yang sangat protektif sekaligus posesif. Ia menghirup aroma sampo dari puncak kepala gadis itu, mencoba meresapi kedamaian yang terasa asing ini."Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Adhikara dengan suara rendah, nyaris berbisik.Lyra yang sejak tadi hanya menyandarkan kepalanya di dada Adhikara perlahan mendongak. Matanya terlihat lelah, namun ia memaksakan sebuah lengkungan tipis di bibirnya. "Aku sudah tidak apa-apa, Kak," balasnya sing
#Deru mesin mobil sport Adhikara memecah keheningan jalanan menuju kompleks apartemennya. Dia mencengkeram kemudi dengan buku-jari tangannya yang memutih. Amarah dan ketakutan bercampur aduk di dadanya sejak ia mendengar kabar bahwa neneknya, Sri Rukmini, telah menemui Lyra secara sepihak. Dia mengetahui itu dari sopir yang baru saja mengantar neneknya pulang."Sialan," umpat Adhikara sambil menyalip kendaraan di depannya dengan kasar.Meski petugas apartemen sudah memastikan pada Adhikara kalau Lyra sudah kembali ke apartemen meski sempat terlihat keluar dari gedung itu sebelumnya, dia tetap saja tidak bisa menghapuskan rasa khawatirnya.Matanya melirik sebuah kotak beludru kecil yang tergeletak di dashboard mobilnya. Cincin itu seharusnya baru akan ia berikan setelah peringatan empat puluh hari kematian Ratna Puspita. Ia ingin melamar Lyra setelah masa berduka selesai. Namun, campur tangan neneknya mengubah segalanya. Adhikara merasa terdesak. Ia membutuhkan ikatan yang lebih ku
#Langkah kaki Sri Rukmini terdengar berwibawa saat ia memasuki ruang teh eksklusif di kawasan Senayan tersebut. Aroma teh yang menenangkan dan interior serba putih yang megah menyambutnya, namun suasana hatinya jauh dari kata damai. Tempat ini biasanya menjadi tempatnya berkumpul bersama rekan-rekan yang dia kenal dari kalangan atas. Namun sore ini, ia datang bukan untuk bertemu dengan salah satu teman kalangan atasnya, melainkan dengan Lyra.Sri Rukmini memilih tempat ini karena ini tidak jauh dari kompleks apartemen mewah milik Adhikara.Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang ia cari. Lyra duduk sendirian di sudut yang cukup privat, membelakangi jendela besar yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Anehnya, Sri Rukmini merasa gadis itu terlihat sangat cocok berada di sana. Cara Lyra memegang cangkir porselennya, punggungnya yang tegak, hingga caranya menyesap Earl Grey terlihat begitu elegan, seolah ia memang dibesarkan di lingkungan yang sama eksklusifnya
#Cahaya lampu temaram di kamar apartemen itu terasa asing saat Lyra perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut nyeri seolah ada godam yang menghantam sarafnya. Hal pertama yang ia tangkap adalah sosok Adhikara yang duduk di tepi ranjang, bayangannya jatuh menimpa tubuh Lyra yang tampak semakin ringkih di balik selimut."Kau sudah bangun?" tanya Adhikara pelan. Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Bagaimana perasaanmu? Kau tidur sangat lama, Lyra. Aku sudah membelikan makanan untukmu kalau-kalau kau merasa lapar." Tangannya terulur menyentuh anak rambut yang jatuh di pipi dan dahi Lyra lalu menyelipkannya ke belakang telinga Lyra."Jangan tidur terus," ucap Adhikara lagi.Lyra tidak menjawab. Matanya yang sembab menatap Adhikara dengan binar yang redup, kosong dan menyayat hati, seolah jiwanya telah terkuras habis."Kau sudah kembali?" gumam Lyra lirih.Setelah itu, ia kembali memejamkan mata seakan tidak lagi memiliki keinginan untuk sekadar bangkit atau menapak







