Share

Bab 3. Saudara Tiri

Penulis: Kichi Ang
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 16:43:25

#

Lyra tidak langsung bergerak setelah Adhikara meninggalkannya.

"Kita lihat saja nanti."

Kalimat itu berputar di kepalanya, membuatnya merasa tidak nyaman.

Lyra akhirnya berbalik menuju dapur, menyalakan keran, membiarkan air mengalir lebih lama dari yang dibutuhkan, sekadar untuk menenangkan pikirannya. Dia mencuci wajahnya dan menatap pantulan wajahnya di permukaan wastafel yang tampak pucat.

“Aku tidak boleh lemah. Dia memang senang menggertak dan mengancam seperti seorang pengecut,” gumamnya pelan.

"Aku harus bertahan di ruman ini demi Mama," lanjutnya. Matanya berkaca-kaca.

Di lantai atas, Adhikara berdiri di depan jendela kamarnya. Lampu kamar dibiarkan mati.

Bayangan Lyra memenuhi benaknya, wajah kaget Lyra, matanya bulat Lyra yang bergetar, melintas tanpa izin memenuhi kepalanya.

“Brengsek,” desisnya.

Dia menekan telapak tangan ke kaca jendela. Marah pada dirinya sendiri.

#

Lyra menaiki tangga membawa segelas air untuk Sri Rukmini.

Setiap langkahnya terasa berat, seolah rumah itu sengaja mengingatkannya bahwa dia tidak punya tempat aman di sini.

Saat melewati kamar Adhikara—

Pintu itu terbuka.

Lyra refleks berhenti.

Adhikara berdiri di ambang pintu dan menatapnya.

“Kau lama sekali di bawah hanya untuk air itu,” katanya singkat.

Lyra menahan rasa kesalnya.

“Aku mau ke kamar Nenek,” jawab Lyra, suaranya terkontrol tapi raut wajahnya jelas terlihat tegang.

Tatapan Adhikara turun perlahan lalu kembali naik ke wajah Lyra, seakan dia sedang memindai Lyra. Ada sesuatu di matanya yang sulit untuk ditebak.

"Nenek sudah menunggu lama," ujarnya namun dia malah berdiri menghalangi Lyra.

Lyra tidak mundur. Tapi jari-jarinya mencengkeram gelas lebih erat.

“Kalau begitu permisi, aku harus lewat dan Kak Adhi menghalangi jalan,” ucapnya lirih.

"Kalau aku tidak mau, memangnya kau mau apa?" Adhikara menatapnya tajam.

Lyra terdiam, mematung di tempatnya.

Dari dalam kamar Sri Rukmini, suara batuk kecil terdengar.

Adhikara akhirnya melangkah mundur.

“Antarkan air itu,” ucapnya.

Dia melangkah masuk ke kamarnya sendiri menutup pintu tepat di depan Lyra.

Lyra berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya melangkah lagi.

Dadanya terasa sesak, tapi kali ini bukan hanya karena takut.

Ada sesuatu yang lain.

Perasaan terjebak—bukan hanya di rumah ini, tapi di dalam permainan Adhikara yang belum ia pahami aturannya.

#

Pagi datang dengan cepat.

Lyra berdiri di depan gerbang rumah Bramantya dengan tas kanvas di bahunya dan wajah yang terlalu tenang untuk seseorang yang nyaris tak tidur.

Udara masih lembap, aspal sedikit basah oleh sisa hujan dini hari. Ia menunduk, mengecek jam di ponselnya, lalu menghela napas pelan.

Angkutan umum biasanya lewat sepuluh menit lagi.

“Aku akan terlambat kalau harus menunggu,” gumamnya pada diri sendiri.

Ia melangkah ke tepi jalan, matanya menyapu arus kendaraan yang mulai padat.

Suara mesin mobil berhenti tepat di sampingnya.

Lyra tidak langsung menoleh. Lebih tepatnya, dia mengabaikannya karena dia sudah tahu siapa pemilik mobil itu.

“Kau mau ke kampus?” suara itu terdengar datar dari balik jendela yang turun perlahan.

Lyra menegang, lalu menoleh.

Adhikara duduk di balik kemudi, kemeja gelapnya rapi, jam tangan mahal melingkar santai di pergelangan tangannya.

“Iya,” jawab Lyra singkat.

“Naik,” katanya. Itu bukan permintaan tapi sebuah perintah.

Lyra menatap mobil itu sebentar, lalu kembali ke jalan.

“Aku biasa naik angkutan umum,” tolaknya halus.

“Aku tahu, tapi kau akan terlambat kalau menunggu. Kita di kelas yang sama, jadi cepat naik,” ulang Adhikara.

“Tidak perlu, aku bisa memesan ojek online,” balas Lyra. Kali ini dia mengeluarkan ponselnya.

Dengan kesal, Adhikara keluar dari mobilnya dan merampas ponsel Lyra.

"Hei?!" protes Lyra.

Adhikara menghapus aplikasi ojek online dari ponsel Lyra sebelum mengembalikannya.

“Sekarang kau tidak bisa memesan ojek online.” Nada suara Adhikara tenang, tapi justru itu yang membuat Lyra kesal.

Ia mengeratkan tali tasnya.

“Bisa tidak Kak Adhi membiarkan sendiri dan tidak menggangguku? Mata kuliah ini penting untukku,” katanya.

Adhikara memiringkan kepala sedikit.

“Makanya naik, aku juga harus segera sampai di kampus. Kalau aku terlambat, itu salahmu,” balas Adhikara.

Keheningan kembali tercipta selama beberapa saat antara mereka, suasana terasa berat dan kaku.

Sebuah klakson mobil membuat Lyra mundur sekaligus memecahh keheningan saat itu.

“Aku benar-benar akan terlambat,” gumamnya, lebih ke diri sendiri.

“Makanya, masuklah cepat dan kita bisa segera pergii dari sini,” ulang Adhikara, kali ini dengan nada suara yang lebih rendah.

Lyra menggigit bibirnya. Ia benci kenyataan bahwa ia butuh tumpangan dari Adhikara hari ini.

Ia membuka pintu dengan gerakan cepat dan duduk di kursi penumpang tanpa menoleh lagi.

Adhikara tersenyum puas dan ikut naik ke dalam mobil.

Mobil melaju dalam diam. Beberapa detik berlalu tanpa suara.

“Kenapa tidak sarapan tadi?” tanya Adhikara akhirnya.

"Sejak kapan Kak Adhi perduli aku sarapan atau tidak?" Lyra balas bertanya.

“Aku hanya bertanya, bukan berarti aku peduli,” ujar Adhikara.

“Baguslah, karena sarapan atau tidak, itu urusanku.” Lyra membuang pandangannya ke luar jendela.

Adhikara melirik sekilas.

“Aku akan membiarkanmu pagi ini karena moodku sedang bagus. Lain kali kau harus ingat, rumahku berarti aturanku dan orang luar sepertimu harus menaatinya,” ucapnya penuh peringatan.

Lyra menoleh heran pada Adhikara. Bagaimana bisa pria itu benar-benar tidak konsisten dengan apa yang pria itu ucapkan sebelumnya?

Meski begitu dia menarik napas panjang.

"Aku mengerti." Lagi-lagi dia memilih untuk lebih baik mengalah. Dia terlalu lelah untuk berdebat dengan Adhikara.

Mereka sudah hampir tiba di kampus.

"Aku turun di sini saja," ujarnya.

"Bukankah sudah kubilang kalau pagi ini aku ada mata kuliah yang sama denganmu?" balas Adhikara.

"Kak Adhi sendiri yang bilang kalau tidak boleh ada seorangpun di kampus yang tahu kalau kita adalah saudara... tiri," ucap Lyra.

Adhikara melirik Lyra sekilas sebelum akhirnya malah menekan pedal gas melewati tempat yang ditunjuk oleh Lyra sebelumnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 8. Kesalahan Kedua 5

    #Lyra baru saja menyelesaikan cucian terakhir. Tangannya masih terasa lembap saat ia memeras ujung kaus tipis miliknya, lalu menggantungkannya di tali jemuran belakang. Ini karena para pembantu yang lain tidak akan pernah membiarkannya menggunakan mesin cuci untuknya mencuci bajunya sendiri, jadi Lyra harus mencuci bajunya secara manual seperti sekarang ini."Selesai juga," gumamnya pelan. Napasnya sedikit terengah-engah. Dia bahkan belum sempat mengisi perutnya sejak tadi.Waktu sudah lewat dari yang Lyra perkirakan. Ponselnya bergetar sejak beberapa menit lalu dan panggilan dari dokter yang merawat ibunya di rumah sakit baru sempat dia balas sekarang.Lyra bergegas masuk ke rumah, melewati dapur, lalu menuju kamarnya. Karena terlalu terburu-buru, Lyra hanya mendorong pintu kamarnya setengah hati tanpa memastikan kuncinya benar-benar terpasang.“Aduh semoga aku masih sempat bertemu dokternya,” gumamnya dengan gelisah sambil membuka lemari pakaian.Lyra menanggalkan kemeja dan celan

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 7. Kesalahan Kedua 4

    #Adhikara duduk di salah satu meja kafe dekat kampus bersama beberapa teman satu angkatannya. Tempat itu cukup ramai, dipenuhi suara obrolan mahasiswa dan denting sendok mengenai gelas. Namun, meja mereka justru berada di sudut yang agak terpisah, cukup jauh dari keramaian, seolah menjadi ruang aman untuk percakapan yang lebih lepas.Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan memegang ponsel, sementara tangannya yang lain bertumpu di meja. Sejak tadi ia lebih banyak diam. Tidak ikut tertawa. Tidak ikut menyela. Keberadaannya terasa seperti bayangan yang ikut duduk, bukan bagian dari obrolan teman-temannya.“Ngomong-ngomong,” ucap Rivan sambil menyeruput kopinya.“Kalian sadar tidak sih kalau Lyra itu cantik? Malah menurutku, dia salah satu yang tercantik dari angkatan baru.” Dia tampak bersemangat saat berbicara.Adhikara tidak bereaksi. Matanya masih tertuju ke layar ponsel.Bagas mendengus kecil. “Kau benar. Sayangnya dia sedikit dingin pada orang lain, terutama pada lawan je

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 6. Kesalahan Kedua 3

    #Lyra dan Alesa keluar dari gedung kuliah saat matahari sudah mulai condong ke barat. Lorong kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa berdiri berkelompok, sebagian duduk di tangga, sebagian lagi bersandar sambil menatap ponsel.“Aku tidak suka suasananya,” ucap Alesa pelan.Lyra menoleh sekilas.“Kenapa?”“Orang-orang terlalu sering melihat ke arah kita,” jawab Alesa tanpa ragu.Lyra menarik napas pelan.“Biarkan saja. Kita pulang.”Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir motor dan jalur angkutan umum. Langkah Lyra tetap tenang, meski ia sadar bisikan-bisikan kecil mulai terdengar saat mereka lewat.“Itu dia kan? Yang tadi pagi turun dari mobil Kak Adhi." Suara seorang perempuan terdengar samar.Lyra tidak menoleh.“Aku sumpah, dia sok jual mahal,” suara lain menyusul.Alesa berhenti mendadak.“Lyra.”“Ayo, jangan berhenti,” jawab Lyra cepat. Dia menarik lengan sahabatnya itu.Namun langkah mereka terhenti oleh seseorang yang berdiri tepat di depan jalur

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 5. Kesalahan Kedua 2

    #Marissa baru saja turun dari mobilnya dan bergegas menuju ke arah gedung kuliah saat kemudian beberapa orang temannya menghampirinya."Mar, sudah dengar gosip baru tidak? Romeomu katanya mengizinkan seorang perempuan naik ke mobilnya!" Salah satu dari temannya itu tampak heboh.Marissa mengerutkan dahinya."Kau yakin? Adhi bukan orang yang akan dengan sukarela memberi tumpangan pada perempuan lain," tanyanya. Bahkan dirinya saja hanya kebetulan pernah naik mobil pribadi Adhikara dan itu karena mobilnya mogok."Tentu saja yakin. Selain itu, coba tebak siapa perempuan itu?" Temannya kembali bertanya.Marissa kini menatap temannya kesal."Aku saja baru tiba di kampus, bagaimana bisa aku tahu itu siapa?" Nada bicaranya agak sedikit meninggi.Teman-temannya sontak langsung diam. Mereka tentu saja tidak ingin memprovokasi Marissa. Lebih tepatnya tidak ada yang berani karena ayah Marissa bukan orang sembarangan. Ayahnya adalah pejabat daerah yang cukup berpengaruh."Siapa dia?" Marissa akh

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 4. Kesalahan Kedua 1

    #Lyra menatap Adhikara dengan tatapan kaget bercampur kesal saat mobil berhenti tepat di depan kafetaria."Kak? Ini terlalu ramai," ujarnya. Dia tidak mengerti kenapa Adhikara malah menghentikan mobilnya di tempat seramai ini padahal selama ini Adhikara sendiri yang selalu memperingatkannya agar tidak pernah mengatakan pada siapa pun mengenai hubungan mereka.Selain Alesa, sahabat dekat Lyra, tidak ada satupun orang di kampus yang tahu kalau dirinya dan Adhikara Bramantya adalah saudara tiri."Turun!" Adhikara memberi perintah tanpa sedikit pun menoleh ke arah Lyra.Lyra menarik napas panjang dan akhirnya membuka pintu mobil.Seketika semua mata tertuju kepadanya, bukan karena siapa dia tapi justru karena dia turun dari mobil seorang Adhikara Bramantya."Anggap saja, itu bayaran untuk sikap menyebalkanmu tadi. Seharusnya kau langsung naik kalau kuajak tanpa perlu membuatku kesal," ujar Adhikara. Dia kemudian menyalakan mobilnya lagi dan meninggalkan Lyra begitu saja di tengah hujaman

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 3. Saudara Tiri

    #Lyra tidak langsung bergerak setelah Adhikara meninggalkannya."Kita lihat saja nanti."Kalimat itu berputar di kepalanya, membuatnya merasa tidak nyaman.Lyra akhirnya berbalik menuju dapur, menyalakan keran, membiarkan air mengalir lebih lama dari yang dibutuhkan, sekadar untuk menenangkan pikirannya. Dia mencuci wajahnya dan menatap pantulan wajahnya di permukaan wastafel yang tampak pucat.“Aku tidak boleh lemah. Dia memang senang menggertak dan mengancam seperti seorang pengecut,” gumamnya pelan."Aku harus bertahan di ruman ini demi Mama," lanjutnya. Matanya berkaca-kaca.Di lantai atas, Adhikara berdiri di depan jendela kamarnya. Lampu kamar dibiarkan mati. Bayangan Lyra memenuhi benaknya, wajah kaget Lyra, matanya bulat Lyra yang bergetar, melintas tanpa izin memenuhi kepalanya.“Brengsek,” desisnya.Dia menekan telapak tangan ke kaca jendela. Marah pada dirinya sendiri.#Lyra menaiki tangga membawa segelas air untuk Sri Rukmini. Setiap langkahnya terasa berat, seolah rum

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status