Masuk#
Lyra berhenti di ujung lorong, punggungnya menempel ke dinding. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Tangannya gemetar, saat dia mengusap keringat di wajahnya. "Aku benar-benar bodoh dan ceroboh," ucapnya menyesali tindakannya sendiri. Andai dia tidak masuk ke kamar itu maka dia tidak harus melihat apa yang tidak ingin dia lihat. Setelah berhasil menenangkan dirinya sendiri, barulah Lyra melanjutkan langkahnya menuju ke ruang makan. “Kau kenapa lama sekali?” Nyonya Sri Rukmini langsung menegur Lyra dengan nada dingin dan tidak sabar begitu melihat sosok Lyra. Lyra mengusap wajahnya cepat, memaksa kakinya melangkah. “Maaf Nek,” jawabnya lirih saat tiba di ruang makan. “Kak Adhi… sebentar lagi turun,” lanjutnya. Dia bahkan tidak berani duduk sekarang. “Sebentar lagi? Dia bilang begitu?” Sri Rukmini mengangkat alis. Lyra mengangguk pelan, memilih tidak menatap mata nenek. “Iya,” jawabnya singkat. Kebohongan kecil. Tapi terasa seperti dosa besar. Sri Rukmini menghela napas pendek. “Duduklah, kau tidak bisa makan kalau terus berdiri.” Dia merasa sedikit iba dengan Lyra. Lyra ragu sesaat sebelum menarik kursi. Sendok di tangannya terasa berat, nasi di piringnya seolah tak berwujud. Ia baru menyuap satu sendok ke dalam mulutnya ketika suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Lyra bisa menebak pemilik suara langkah kaki tersebut bahkan meski dia tidak menengok. Adhikara muncul dengan kaos hitam yang sudah diganti, rambutnya sedikit basah, wajahnya kembali tertutup ekspresi datar yang dingin seperti biasanya. Seolah kejadian beberapa menit lalu tidak pernah ada. Ia duduk tenang tanpa melirik Lyra. “Nenek tidak perlu menyuruh Lyra untuk memanggilku. Aku tahu jam makan malam keluarga," ujarnya. “Kau hampir selalu melewatkan makan. Nenek tidak ingin kau jatuh sakit. Kau itu cucu nenek yang paling berharga,” balas Sri Rukmini. “Aku baik-baik saja.” Adhikara mengambil sendoknya. Gerak-geriknya selalu tenang. Sebaliknya, Lyra menjadi gelisah karena Adhikara duduk tepat di seberang meja yang dia tempati. Dia menunduk lebih dalam. “Apa Lyra membuatmu merasa terganggu tadi?” tanya Sri Rukmini tiba-tiba. Sendok Lyra berhenti di udara. Dia menegang. “Tidak,” jawab Adhikara cepat. Nada suaranya tegas. Sri Rukmini menoleh ke arah Lyra. “Kau benar tidak melakukan sesuatu secara sembarangan dan membuat Adhi kesal?” tanyanya. Lyra menelan ludah gugup dan menggeleng cepat. “Tidak, Nek.” Seketika tatapan Adhikara meluncur ke arah Lyra. Sorot matanya tajam. Dia mengunci Lyra dalam pandangannya seolah mengisyaratkan sebuah peringatan terselubung. “Bagus. Kau bahkan bukan anggota keluarga ini kalau saja putraku tidak terlalu bodoh dengan menikahi ibumu bahkan meski aku tidak merestuinya, jadi jangan coba-coba membuat masalah di rumah ini,” ucap Sri Rukmini akhirnya. Kalimat itu jelas ditujukan pada Lyra yang hanya bisa menunduk dalam diam. Makan malam berlangsung dalam keheningan yang mencekik. Setiap detik terasa terlalu panjang untuk Lyra. Begitu selesai, Lyra berdiri lebih dulu. “Kalau sudah tidak diperlukan, aku permisi,” ucapnya sopan. Sri Rukmini mengangguk singkat. Lyra melangkah cepat meninggalkan ruang makan. Dia ingin segera kembali ke kamarnya dan belajar. “Berhenti.” Suara Adhikara mendadak terdengar. Lyra refleks berhenti. Jantungnya berdegup keras. “Nenek, aku ingin bicara sebentar dengan Lyra setelah makan malam. Jadi dia belum boleh pergi.” Adhikara berbicara tanpa menoleh. Sri Rukmini menatap mereka berdua bergantian. Meski begitu dia sama sekali tidak merasa curiga. “Habiskan dulu makananmu dan jangan lama. Lyra sudah membantu di dapur sejak dia pulang dari kampus,” ucap Nenek. "Aku mengerti," balas Adhikara. Dia melanjutkan makan malamnya, membiarkan Lyra berdiri menunggunya. Butuh waktu hampir lima belas menit sebelum Adhikara akhirnya menyelesaikan makan malamnya, begitu juga dengan Sri Rukmini. "Kalian boleh bicara di sini saja. Nenek akan naik ke atas. Lyra, setelah kau dan Adhi selesai berbicara, tolong bawakan air putih ke kamar Nenek sebelum kau kembali ke kamarmu," ucap Sri Rukmini. Lyra kembali mengangguk patuh. "Iya Nek." Tatapan matanya hanya bisa mengikuti bayangan Sri Rukmini hingga menghilang di balik tangga. Adhikara bangkit dan mendekat ke arah Lyra. “Kau tidak berpikir kalau aku sudah lupa dengan kejadian tadi bukan?” tanyanya pelan. Lyra memaku pandangannya ke lantai. “Aku tidak sengaja, Kak Adhi tahu itu,” ujarnya membela diri. “Apa pun alasannya, yang jelas kau sudah melihat hal yang tidak seharusnya kau lihat. Apa kau senang melihatku dalam kondisi yang memalukan seperti itu?” tuduh Adhikara. Lyra terbelalak sambil mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. “Sudah kubilang aku tidak ingin melihat apa pun, memangnya kenapa Kakak begitu sensitif dengan hal biasa?” “Hal biasa katamu?” Adhikara menatap Lyra dengan tatapan menyelidik. Keheningan tercipta di antara keduanya jatuh di antara mereka. Adhikara melangkah semakin dekat, memaksa Lyra untuk mundur. “Kau tahu apa yang paling menyebalkan?” lanjut Adhikara. “Wajahmu itu. Selalu berlagak seperti wanita baik-baik padahal kau mungkin sudah terbiasa melihat hal-hal yang memalukan. Luar biasa, ibu dan anak sama-sama tidak bermartabat,” ujarnya sinis. Lyra mendongak, matanya memerah. “Kak! Silakan menghinaku tapi jangan melibatan Mamaku.” Alis Adhikara terangkat. “Memangnya kenapa? Itu kenyataan kan?” balasnya tajam. . “Apa Kak Adhi tidak pernah bosan menghina Mamaku dan aku?” suara Lyra bergetar. Adhikara tersenyum sinis. “Sama sekali tidak. Kalian pantas mendapatkannya,” jawabnya. Tangannya terulur meraih dagu Lyra, memaksa tatapan mereka bertemu satu sama lain. “Kau seharusnya tahu, aku tidak suka dipermalukan, terlebih oleh orang sepertimu,” lanjutnya. “Aku janji kalau aku tidak akan bicara pada siapa pun,” ucap Lyra. Dia memutuskan untuk mengalah. Adhikara memiringkan kepala. "Aku tidak mempercayai janjimu. Kau sama saja dengan Mamamu, pembohong, parasit," ujarnya. Lyra merasa tenggorokannya kering. “Kau mau apa? Kalau memang itu bisa membuatmu lega, lakukan saja, aku akan menurutinya. Tapi berhentilah mengatai Mamaku terus menerus. Setidaknya untuk masalah ini, Mama tidak tahu apa-apa.” Baginya berurusan dengan Adhikara selalu menguras energinya. Adhikara menatapnya lama, seolah menimbang. Dia kemudian mundur menjauh. "Kita lihat saja nanti," ucapnya sebelum akhirnya berbalik meninggalkan Lyra.#Malika duduk terdiam di ruang tengah kediaman keluarga Bramantya, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menunjukkan deretan pesan tanpa balasan. Sudah dua hari nomor Lyra tidak aktif. Setiap kali ia mencoba menghubungi, hanya suara operator yang menyambutnya, tanda kalau Lyra tidak mengaktifkan ponselnya. Meski Adhikara berulang kali meyakinkannya bahwa Lyra hanya sedang butuh waktu di rumah seorang teman, insting Malika sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ada sesuatu yang tidak beres, sebuah firasat buruk yang terus membayangi pikirannya."Haruskah aku mencari dan menemuinya di rumah temannya itu?" gumam Malika pelan.Padahal, Malika ingin berbicara langsung dengan Lyra mengenai rencananya. Itulah alasan mengapa Malika rela menginap di rumah keluarga Bramantya di tengah jadwal kerjanya yang sangat padat kali ini."Lyra," gumam Malika pelan, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian ruangan tersebut. Dia sebenarnya hanya tidak ingin Lyra mengalami apa yang dulu suda
#Lampu kamar yang temaram masih menyala, membiaskan cahaya redup yang menyentuh wajah Adhikara. Di sisi tempat tidur, Lyra berdiri mematung. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap, sebuah blus sederhana dengan jaket tipis yang membungkus tubuh ringkihnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah tas kecil yang berisi barang-barang miliknya yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan. Salah satunya foto keluarganya.Lyra menunduk, menatap Adhikara yang masih terlelap dengan napas yang teratur. Selama beberapa saat, matanya beralih pada lantai kamar. Pakaian mereka berserakan di sana, menjadi saksi bisu betapa kacaunya gairah keduanya beberapa jam yang lalu. Aroma percintaan mereka, campuran antara wangi maskulin Adhikara dan aroma tubuhnya sendiri, masih tertinggal pekat di udara, masuk ke dalam paru-parunya dan membuat dada Lyra terasa sesak. Ia menggigit bibirnya pelan. "Ini benar-benar yang terakhir," gumam Lyra, suaranya nyaris tidak terdengar, hilang ditelan kesunyian kama
#Malam itu, ruang tengah apartemen terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara rendah dari tayangan televisi yang sebenarnya tidak benar-benar mereka tonton. Adhikara duduk di sofa besar, merengkuh tubuh Lyra dalam pelukannya. Ini adalah momen langka. Selama hubungan mereka terjalin, ketenangan seperti ini hampir tidak pernah ada. Biasanya hanya ada ketegangan, air mata, atau gairah yang meledak karena amarah. Namun setelah makan malam tadi, suasana mendadak melunak.Adhikara menyisir rambut Lyra yang halus dengan jemarinya, gerakan yang sangat protektif sekaligus posesif. Ia menghirup aroma sampo dari puncak kepala gadis itu, mencoba meresapi kedamaian yang terasa asing ini."Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Adhikara dengan suara rendah, nyaris berbisik.Lyra yang sejak tadi hanya menyandarkan kepalanya di dada Adhikara perlahan mendongak. Matanya terlihat lelah, namun ia memaksakan sebuah lengkungan tipis di bibirnya. "Aku sudah tidak apa-apa, Kak," balasnya sing
#Deru mesin mobil sport Adhikara memecah keheningan jalanan menuju kompleks apartemennya. Dia mencengkeram kemudi dengan buku-jari tangannya yang memutih. Amarah dan ketakutan bercampur aduk di dadanya sejak ia mendengar kabar bahwa neneknya, Sri Rukmini, telah menemui Lyra secara sepihak. Dia mengetahui itu dari sopir yang baru saja mengantar neneknya pulang."Sialan," umpat Adhikara sambil menyalip kendaraan di depannya dengan kasar.Meski petugas apartemen sudah memastikan pada Adhikara kalau Lyra sudah kembali ke apartemen meski sempat terlihat keluar dari gedung itu sebelumnya, dia tetap saja tidak bisa menghapuskan rasa khawatirnya.Matanya melirik sebuah kotak beludru kecil yang tergeletak di dashboard mobilnya. Cincin itu seharusnya baru akan ia berikan setelah peringatan empat puluh hari kematian Ratna Puspita. Ia ingin melamar Lyra setelah masa berduka selesai. Namun, campur tangan neneknya mengubah segalanya. Adhikara merasa terdesak. Ia membutuhkan ikatan yang lebih ku
#Langkah kaki Sri Rukmini terdengar berwibawa saat ia memasuki ruang teh eksklusif di kawasan Senayan tersebut. Aroma teh yang menenangkan dan interior serba putih yang megah menyambutnya, namun suasana hatinya jauh dari kata damai. Tempat ini biasanya menjadi tempatnya berkumpul bersama rekan-rekan yang dia kenal dari kalangan atas. Namun sore ini, ia datang bukan untuk bertemu dengan salah satu teman kalangan atasnya, melainkan dengan Lyra.Sri Rukmini memilih tempat ini karena ini tidak jauh dari kompleks apartemen mewah milik Adhikara.Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang ia cari. Lyra duduk sendirian di sudut yang cukup privat, membelakangi jendela besar yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Anehnya, Sri Rukmini merasa gadis itu terlihat sangat cocok berada di sana. Cara Lyra memegang cangkir porselennya, punggungnya yang tegak, hingga caranya menyesap Earl Grey terlihat begitu elegan, seolah ia memang dibesarkan di lingkungan yang sama eksklusifnya
#Cahaya lampu temaram di kamar apartemen itu terasa asing saat Lyra perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut nyeri seolah ada godam yang menghantam sarafnya. Hal pertama yang ia tangkap adalah sosok Adhikara yang duduk di tepi ranjang, bayangannya jatuh menimpa tubuh Lyra yang tampak semakin ringkih di balik selimut."Kau sudah bangun?" tanya Adhikara pelan. Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Bagaimana perasaanmu? Kau tidur sangat lama, Lyra. Aku sudah membelikan makanan untukmu kalau-kalau kau merasa lapar." Tangannya terulur menyentuh anak rambut yang jatuh di pipi dan dahi Lyra lalu menyelipkannya ke belakang telinga Lyra."Jangan tidur terus," ucap Adhikara lagi.Lyra tidak menjawab. Matanya yang sembab menatap Adhikara dengan binar yang redup, kosong dan menyayat hati, seolah jiwanya telah terkuras habis."Kau sudah kembali?" gumam Lyra lirih.Setelah itu, ia kembali memejamkan mata seakan tidak lagi memiliki keinginan untuk sekadar bangkit atau menapak







