Beranda / Romansa / Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri! / Bab 2. Kesalahan Pertama 2

Share

Bab 2. Kesalahan Pertama 2

Penulis: Kichi Ang
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 16:42:30

#

Lyra berhenti di ujung lorong, punggungnya menempel ke dinding. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Tangannya gemetar, saat dia mengusap keringat di wajahnya.

"Aku benar-benar bodoh dan ceroboh," ucapnya menyesali tindakannya sendiri. Andai dia tidak masuk ke kamar itu maka dia tidak harus melihat apa yang tidak ingin dia lihat.

Setelah berhasil menenangkan dirinya sendiri, barulah Lyra melanjutkan langkahnya menuju ke ruang makan.

“Kau kenapa lama sekali?” Nyonya Sri Rukmini langsung menegur Lyra dengan nada dingin dan tidak sabar begitu melihat sosok Lyra.

Lyra mengusap wajahnya cepat, memaksa kakinya melangkah.

“Maaf Nek,” jawabnya lirih saat tiba di ruang makan.

“Kak Adhi… sebentar lagi turun,” lanjutnya. Dia bahkan tidak berani duduk sekarang.

“Sebentar lagi? Dia bilang begitu?” Sri Rukmini mengangkat alis.

Lyra mengangguk pelan, memilih tidak menatap mata nenek.

“Iya,” jawabnya singkat.

Kebohongan kecil. Tapi terasa seperti dosa besar.

Sri Rukmini menghela napas pendek.

“Duduklah, kau tidak bisa makan kalau terus berdiri.” Dia merasa sedikit iba dengan Lyra.

Lyra ragu sesaat sebelum menarik kursi. Sendok di tangannya terasa berat, nasi di piringnya seolah tak berwujud. Ia baru menyuap satu sendok ke dalam mulutnya ketika suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Lyra bisa menebak pemilik suara langkah kaki tersebut bahkan meski dia tidak menengok.

Adhikara muncul dengan kaos hitam yang sudah diganti, rambutnya sedikit basah, wajahnya kembali tertutup ekspresi datar yang dingin seperti biasanya. Seolah kejadian beberapa menit lalu tidak pernah ada.

Ia duduk tenang tanpa melirik Lyra.

“Nenek tidak perlu menyuruh Lyra untuk memanggilku. Aku tahu jam makan malam keluarga," ujarnya.

“Kau hampir selalu melewatkan makan. Nenek tidak ingin kau jatuh sakit. Kau itu cucu nenek yang paling berharga,” balas Sri Rukmini.

“Aku baik-baik saja.” Adhikara mengambil sendoknya. Gerak-geriknya selalu tenang.

Sebaliknya, Lyra menjadi gelisah karena Adhikara duduk tepat di seberang meja yang dia tempati. Dia menunduk lebih dalam.

“Apa Lyra membuatmu merasa terganggu tadi?” tanya Sri Rukmini tiba-tiba.

Sendok Lyra berhenti di udara. Dia menegang.

“Tidak,” jawab Adhikara cepat. Nada suaranya tegas.

Sri Rukmini menoleh ke arah Lyra.

“Kau benar tidak melakukan sesuatu secara sembarangan dan membuat Adhi kesal?” tanyanya.

Lyra menelan ludah gugup dan menggeleng cepat.

“Tidak, Nek.”

Seketika tatapan Adhikara meluncur ke arah Lyra. Sorot matanya tajam. Dia mengunci Lyra dalam pandangannya seolah mengisyaratkan sebuah peringatan terselubung.

“Bagus. Kau bahkan bukan anggota keluarga ini kalau saja putraku tidak terlalu bodoh dengan menikahi ibumu bahkan meski aku tidak merestuinya, jadi jangan coba-coba membuat masalah di rumah ini,” ucap Sri Rukmini akhirnya.

Kalimat itu jelas ditujukan pada Lyra yang hanya bisa menunduk dalam diam.

Makan malam berlangsung dalam keheningan yang mencekik. Setiap detik terasa terlalu panjang untuk Lyra.

Begitu selesai, Lyra berdiri lebih dulu.

“Kalau sudah tidak diperlukan, aku permisi,” ucapnya sopan.

Sri Rukmini mengangguk singkat.

Lyra melangkah cepat meninggalkan ruang makan. Dia ingin segera kembali ke kamarnya dan belajar.

“Berhenti.”

Suara Adhikara mendadak terdengar.

Lyra refleks berhenti. Jantungnya berdegup keras.

“Nenek, aku ingin bicara sebentar dengan Lyra setelah makan malam. Jadi dia belum boleh pergi.” Adhikara berbicara tanpa menoleh.

Sri Rukmini menatap mereka berdua bergantian. Meski begitu dia sama sekali tidak merasa curiga.

“Habiskan dulu makananmu dan jangan lama. Lyra sudah membantu di dapur sejak dia pulang dari kampus,” ucap Nenek.

"Aku mengerti," balas Adhikara. Dia melanjutkan makan malamnya, membiarkan Lyra berdiri menunggunya.

Butuh waktu hampir lima belas menit sebelum Adhikara akhirnya menyelesaikan makan malamnya, begitu juga dengan Sri Rukmini.

"Kalian boleh bicara di sini saja. Nenek akan naik ke atas. Lyra, setelah kau dan Adhi selesai berbicara, tolong bawakan air putih ke kamar Nenek sebelum kau kembali ke kamarmu," ucap Sri Rukmini.

Lyra kembali mengangguk patuh.

"Iya Nek." Tatapan matanya hanya bisa mengikuti bayangan Sri Rukmini hingga menghilang di balik tangga.

Adhikara bangkit dan mendekat ke arah Lyra.

“Kau tidak berpikir kalau aku sudah lupa dengan kejadian tadi bukan?” tanyanya pelan.

Lyra memaku pandangannya ke lantai.

“Aku tidak sengaja, Kak Adhi tahu itu,” ujarnya membela diri.

“Apa pun alasannya, yang jelas kau sudah melihat hal yang tidak seharusnya kau lihat. Apa kau senang melihatku dalam kondisi yang memalukan seperti itu?” tuduh Adhikara.

Lyra terbelalak sambil mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.

“Sudah kubilang aku tidak ingin melihat apa pun, memangnya kenapa Kakak begitu sensitif dengan hal biasa?”

“Hal biasa katamu?” Adhikara menatap Lyra dengan tatapan menyelidik.

Keheningan tercipta di antara keduanya jatuh di antara mereka.

Adhikara melangkah semakin dekat, memaksa Lyra untuk mundur.

“Kau tahu apa yang paling menyebalkan?” lanjut Adhikara.

“Wajahmu itu. Selalu berlagak seperti wanita baik-baik padahal kau mungkin sudah terbiasa melihat hal-hal yang memalukan. Luar biasa, ibu dan anak sama-sama tidak bermartabat,” ujarnya sinis.

Lyra mendongak, matanya memerah.

“Kak! Silakan menghinaku tapi jangan melibatan Mamaku.”

Alis Adhikara terangkat.

“Memangnya kenapa? Itu kenyataan kan?” balasnya tajam.

.

“Apa Kak Adhi tidak pernah bosan menghina Mamaku dan aku?” suara Lyra bergetar.

Adhikara tersenyum sinis.

“Sama sekali tidak. Kalian pantas mendapatkannya,” jawabnya.

Tangannya terulur meraih dagu Lyra, memaksa tatapan mereka bertemu satu sama lain.

“Kau seharusnya tahu, aku tidak suka dipermalukan, terlebih oleh orang sepertimu,” lanjutnya.

“Aku janji kalau aku tidak akan bicara pada siapa pun,” ucap Lyra. Dia memutuskan untuk mengalah.

Adhikara memiringkan kepala.

"Aku tidak mempercayai janjimu. Kau sama saja dengan Mamamu, pembohong, parasit," ujarnya.

Lyra merasa tenggorokannya kering.

“Kau mau apa? Kalau memang itu bisa membuatmu lega, lakukan saja, aku akan menurutinya. Tapi berhentilah mengatai Mamaku terus menerus. Setidaknya untuk masalah ini, Mama tidak tahu apa-apa.” Baginya berurusan dengan Adhikara selalu menguras energinya.

Adhikara menatapnya lama, seolah menimbang. Dia kemudian mundur menjauh.

"Kita lihat saja nanti," ucapnya sebelum akhirnya berbalik meninggalkan Lyra.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 8. Kesalahan Kedua 5

    #Lyra baru saja menyelesaikan cucian terakhir. Tangannya masih terasa lembap saat ia memeras ujung kaus tipis miliknya, lalu menggantungkannya di tali jemuran belakang. Ini karena para pembantu yang lain tidak akan pernah membiarkannya menggunakan mesin cuci untuknya mencuci bajunya sendiri, jadi Lyra harus mencuci bajunya secara manual seperti sekarang ini."Selesai juga," gumamnya pelan. Napasnya sedikit terengah-engah. Dia bahkan belum sempat mengisi perutnya sejak tadi.Waktu sudah lewat dari yang Lyra perkirakan. Ponselnya bergetar sejak beberapa menit lalu dan panggilan dari dokter yang merawat ibunya di rumah sakit baru sempat dia balas sekarang.Lyra bergegas masuk ke rumah, melewati dapur, lalu menuju kamarnya. Karena terlalu terburu-buru, Lyra hanya mendorong pintu kamarnya setengah hati tanpa memastikan kuncinya benar-benar terpasang.“Aduh semoga aku masih sempat bertemu dokternya,” gumamnya dengan gelisah sambil membuka lemari pakaian.Lyra menanggalkan kemeja dan celan

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 7. Kesalahan Kedua 4

    #Adhikara duduk di salah satu meja kafe dekat kampus bersama beberapa teman satu angkatannya. Tempat itu cukup ramai, dipenuhi suara obrolan mahasiswa dan denting sendok mengenai gelas. Namun, meja mereka justru berada di sudut yang agak terpisah, cukup jauh dari keramaian, seolah menjadi ruang aman untuk percakapan yang lebih lepas.Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan memegang ponsel, sementara tangannya yang lain bertumpu di meja. Sejak tadi ia lebih banyak diam. Tidak ikut tertawa. Tidak ikut menyela. Keberadaannya terasa seperti bayangan yang ikut duduk, bukan bagian dari obrolan teman-temannya.“Ngomong-ngomong,” ucap Rivan sambil menyeruput kopinya.“Kalian sadar tidak sih kalau Lyra itu cantik? Malah menurutku, dia salah satu yang tercantik dari angkatan baru.” Dia tampak bersemangat saat berbicara.Adhikara tidak bereaksi. Matanya masih tertuju ke layar ponsel.Bagas mendengus kecil. “Kau benar. Sayangnya dia sedikit dingin pada orang lain, terutama pada lawan je

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 6. Kesalahan Kedua 3

    #Lyra dan Alesa keluar dari gedung kuliah saat matahari sudah mulai condong ke barat. Lorong kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa berdiri berkelompok, sebagian duduk di tangga, sebagian lagi bersandar sambil menatap ponsel.“Aku tidak suka suasananya,” ucap Alesa pelan.Lyra menoleh sekilas.“Kenapa?”“Orang-orang terlalu sering melihat ke arah kita,” jawab Alesa tanpa ragu.Lyra menarik napas pelan.“Biarkan saja. Kita pulang.”Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir motor dan jalur angkutan umum. Langkah Lyra tetap tenang, meski ia sadar bisikan-bisikan kecil mulai terdengar saat mereka lewat.“Itu dia kan? Yang tadi pagi turun dari mobil Kak Adhi." Suara seorang perempuan terdengar samar.Lyra tidak menoleh.“Aku sumpah, dia sok jual mahal,” suara lain menyusul.Alesa berhenti mendadak.“Lyra.”“Ayo, jangan berhenti,” jawab Lyra cepat. Dia menarik lengan sahabatnya itu.Namun langkah mereka terhenti oleh seseorang yang berdiri tepat di depan jalur

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 5. Kesalahan Kedua 2

    #Marissa baru saja turun dari mobilnya dan bergegas menuju ke arah gedung kuliah saat kemudian beberapa orang temannya menghampirinya."Mar, sudah dengar gosip baru tidak? Romeomu katanya mengizinkan seorang perempuan naik ke mobilnya!" Salah satu dari temannya itu tampak heboh.Marissa mengerutkan dahinya."Kau yakin? Adhi bukan orang yang akan dengan sukarela memberi tumpangan pada perempuan lain," tanyanya. Bahkan dirinya saja hanya kebetulan pernah naik mobil pribadi Adhikara dan itu karena mobilnya mogok."Tentu saja yakin. Selain itu, coba tebak siapa perempuan itu?" Temannya kembali bertanya.Marissa kini menatap temannya kesal."Aku saja baru tiba di kampus, bagaimana bisa aku tahu itu siapa?" Nada bicaranya agak sedikit meninggi.Teman-temannya sontak langsung diam. Mereka tentu saja tidak ingin memprovokasi Marissa. Lebih tepatnya tidak ada yang berani karena ayah Marissa bukan orang sembarangan. Ayahnya adalah pejabat daerah yang cukup berpengaruh."Siapa dia?" Marissa akh

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 4. Kesalahan Kedua 1

    #Lyra menatap Adhikara dengan tatapan kaget bercampur kesal saat mobil berhenti tepat di depan kafetaria."Kak? Ini terlalu ramai," ujarnya. Dia tidak mengerti kenapa Adhikara malah menghentikan mobilnya di tempat seramai ini padahal selama ini Adhikara sendiri yang selalu memperingatkannya agar tidak pernah mengatakan pada siapa pun mengenai hubungan mereka.Selain Alesa, sahabat dekat Lyra, tidak ada satupun orang di kampus yang tahu kalau dirinya dan Adhikara Bramantya adalah saudara tiri."Turun!" Adhikara memberi perintah tanpa sedikit pun menoleh ke arah Lyra.Lyra menarik napas panjang dan akhirnya membuka pintu mobil.Seketika semua mata tertuju kepadanya, bukan karena siapa dia tapi justru karena dia turun dari mobil seorang Adhikara Bramantya."Anggap saja, itu bayaran untuk sikap menyebalkanmu tadi. Seharusnya kau langsung naik kalau kuajak tanpa perlu membuatku kesal," ujar Adhikara. Dia kemudian menyalakan mobilnya lagi dan meninggalkan Lyra begitu saja di tengah hujaman

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 3. Saudara Tiri

    #Lyra tidak langsung bergerak setelah Adhikara meninggalkannya."Kita lihat saja nanti."Kalimat itu berputar di kepalanya, membuatnya merasa tidak nyaman.Lyra akhirnya berbalik menuju dapur, menyalakan keran, membiarkan air mengalir lebih lama dari yang dibutuhkan, sekadar untuk menenangkan pikirannya. Dia mencuci wajahnya dan menatap pantulan wajahnya di permukaan wastafel yang tampak pucat.“Aku tidak boleh lemah. Dia memang senang menggertak dan mengancam seperti seorang pengecut,” gumamnya pelan."Aku harus bertahan di ruman ini demi Mama," lanjutnya. Matanya berkaca-kaca.Di lantai atas, Adhikara berdiri di depan jendela kamarnya. Lampu kamar dibiarkan mati. Bayangan Lyra memenuhi benaknya, wajah kaget Lyra, matanya bulat Lyra yang bergetar, melintas tanpa izin memenuhi kepalanya.“Brengsek,” desisnya.Dia menekan telapak tangan ke kaca jendela. Marah pada dirinya sendiri.#Lyra menaiki tangga membawa segelas air untuk Sri Rukmini. Setiap langkahnya terasa berat, seolah rum

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status