Share

Bab 4. Kesalahan Kedua 1

Penulis: Kichi Ang
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 18:20:55

#

Lyra menatap Adhikara dengan tatapan kaget bercampur kesal saat mobil berhenti tepat di depan kafetaria.

"Kak? Ini terlalu ramai," ujarnya. Dia tidak mengerti kenapa Adhikara malah menghentikan mobilnya di tempat seramai ini padahal selama ini Adhikara sendiri yang selalu memperingatkannya agar tidak pernah mengatakan pada siapa pun mengenai hubungan mereka.

Selain Alesa, sahabat dekat Lyra, tidak ada satupun orang di kampus yang tahu kalau dirinya dan Adhikara Bramantya adalah saudara tiri.

"Turun!" Adhikara memberi perintah tanpa sedikit pun menoleh ke arah Lyra.

Lyra menarik napas panjang dan akhirnya membuka pintu mobil.

Seketika semua mata tertuju kepadanya, bukan karena siapa dia tapi justru karena dia turun dari mobil seorang Adhikara Bramantya.

"Anggap saja, itu bayaran untuk sikap menyebalkanmu tadi. Seharusnya kau langsung naik kalau kuajak tanpa perlu membuatku kesal," ujar Adhikara. Dia kemudian menyalakan mobilnya lagi dan meninggalkan Lyra begitu saja di tengah hujaman tatapan tajam penuh rasa penasaran dari banyak orang.

Adhikara tertawa puas saat mengingat ekspresi yang ditunjukkan Lyra kepadanya ketika ditinggalkan di depan kafetaria.

"Rasakan, dasar anak gundik," gumamnya pelan.

Di sisi lain, Lyra terus melangkah dengan mengabaikan tatapan dan gunjingan orang-orang karena di kampus ini, Adhikara adalah senior yang terkenal.

“Lyra!”

Suara itu membuatnya menoleh.

Alesa berdiri di dekat kantin, melambaikan tangan dengan antusias. Rambutnya dikuncir asal, ekspresinya cerah berbanding terbalik dengan wajah Lyra yang masih pucat.

Dia bergegas mendekati Lyra.

“Kau diantar Kak Adhi? Tumben,” ujar Alesa.

Lyra mengangguk pelan.

"Ya," jawabnya singkat.

Alesa melihat ke sekeliling dan kemudian menatap Lyra lagi.

"Abaikan saja tatapan orang-orang itu, mereka tidak tahu apa-apa. Kalau ada yang mencoba berbuat kurang ajar padamu, bilang padaku," ucap Alesa lagi.

Lyra tersenyum tipis mendengar ucapan Alesa. Dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Alesa.

"Aku tidak apa-apa, ayo cepat ke gedung C. Kalau terlambat, kita tidak akan diperbolehkan masuk." Dia menarik Alesa yang tengah sibuk memelototi setiap orang yang melemparkan tatapan sinis ke arahnya.

“Aku hampir mengira kalau kau tidak masuk hari ini, bukannya kemarin kau tidak enak badan?” tanya Alesa.

“Aku cuma sedikit demam kemarin. Lagipula, tidak mungkin melewatkan mata kuliah penting,” jawab Lyra pelan.

“Ya, kau itu memang punya fisik yang kuat tapi masalahnya, sekuat apa pun dirimu, suatu hari kau akan benar-benar di opname di Rumah Sakit karena kelelahan bekerja di kamp penyiksaan seperti itu,” balas Alesa tanpa ragu.

Lyra tersenyum tipis.

“Itu rumahku, bukan kamp penyiksaan dan aku sendiri yang memilih untuk membantu pekerjaan di rumah itu. Setidaknya aku tidak benar-benar tinggal gratis di sana.” Dia mengoreksi ucapan Alesa.

Alesa memutar matanya.

“Tempat tinggal, bukan rumah. Itu dua tempat yang berbeda,” Alesa bersikeras.

Lyra tidak membantah.

Alesa mengambil sebotol air mineral dari dari dalam tasnya.

“Minum. Kau terlihat lelah seperti orang yang akan jatuh pingsan,” ucap Alesa kemudian.

Lyra menerima botol air mineral itu dan meminumnya.

“Aku tidur kok,” kata Lyra.

“Tidur versimu itu cuma tidur ayam bukan tidur sungguhan. Manusia normal biasanya tidur minimal lima sampai tujuh jam sehari, sedangkan kau paling lama cuma tiga jam sehari. Jangan bilang tadi malam kau begadang lagi untuk belajar?” tebak Alesa.

Lyra menghela napas.

“Sedikit,” balasnya.

Alesa menatap Lyra dengan tatapan menyelidik.

“Terjadi sesuatu lagi kepadamu? Kakak tirimu yang psikopat itu mengganggumu lagi?” desak Alesa.

“Tidak.” Balas Lyra singkat.

“Lyra?” Alesa jelas tidak percaya.

“Aku tidak ingin membahas lagi tentang orang itu. Tolong,” pinta Lyra. Dia sudah cukup muak dengan sikap Adhikara yang menyebalkan sejak kemarin, jangan sampai kehidupan kampusnya juga dirusak oleh nama Adhikara.

Hening sebentar hingga akhirnya mereka tiba di gedung yang mereka tuju.

Alesa menatap sahabatnya prihatin.

“Oke maaf. Aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi saranku masih sama dengan sebelumnya, pertimbangkan untuk keluar dari rumah itu,” ucapnya.

Lyra terdiam. Dia mengambil tempat duduk di sudut ruangan, diikuti oleh Alesa yang memang selalu duduk di sampingnya.

“Aku tidak bisa meskipun aku ingin. Mamaku membutuhkan biaya besar untuk membuatnya tetap hidup.” Tatapan Lyra tampak menerawang lewat jendela yang ada di sampingnya.

“Kau selalu saja bilang begitu,” keluhnya.

Saat itu, Adhikara masuk ke dalam ruangan itu bersama beberapa orang lain tanpa sekalipun menoleh ke arah Lyra dan mengambil tempat duduk di depan. Agak jauh dari tempat Lyra dan Alesa duduk.

Meski begitu, mahasiswa yang masuk bersama Adhikara ke dalam ruangan itu, kini mulai memperhatikan Lyra.

Alesa melemparkan tatapan membunuh pada mereka semua.

"Bicara tentang si iblis berkulit buaya," ucap Alesa sambil menunjuk ke arah Adhikara dan teman-temannya.

"Aku baru sadar kalau dia mengulang mata kuliah ini."

"Abaikan saja," ujar Lyra.

"Hei Adhi, kudengar kau mengizinkan seorang gadis naik ke dalam mobilmu? Orang-orang heboh membicarakan itu." Salah seorang dari teman Adhikara mendadak berbicara.

Adhikara hanya tertawa mendengar itu.

"Cuma kucing yang terlantar di pinggir jalan. Aku memberi tumpangan karena kasihan," balasnya. Kali ini dia melirik ke arah Lyra untuk melihat ekspresinya.

Namun dia segera menyadari kalau Lyra bahkan tidak terpengaruh dengan provokasinya dan mengabaikan dirinya.

"Sayangnya kucing yang aku pungut di pinggir jalan itu tidak tau diri dan tidak tahu terima kasih," lanjutnya.

Teman-teman Adhikara tertawa mendengar itu.

Alesa tidak tahan dan hendak berdiri tapi Lyra menahannya.

"Biarkan saja. Sebentar lagi dosen akan masuk," cegah Lyra.

Alesa berdecak kesal.

Meski begitu dia menuruti ucapan Lyra dan menahan diri untuk melabrak Adhikara dan teman-temannya.

"Cih, keren apanya? Merek cuma segerombol kakak tingkat bodoh yang bahkan harus mengulang mata kuliah dengan kita," ucap Alesa dengan suara yang agak keras hingga membuat teman-teman Adhikara kini menatapnya tajam.

Beruntung saat itu Dosen masuk sehingga membuat teman-teman Adhikara yang tadinya berniat menghampiri Alesa dan Lyra terpaksa duduk lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 8. Kesalahan Kedua 5

    #Lyra baru saja menyelesaikan cucian terakhir. Tangannya masih terasa lembap saat ia memeras ujung kaus tipis miliknya, lalu menggantungkannya di tali jemuran belakang. Ini karena para pembantu yang lain tidak akan pernah membiarkannya menggunakan mesin cuci untuknya mencuci bajunya sendiri, jadi Lyra harus mencuci bajunya secara manual seperti sekarang ini."Selesai juga," gumamnya pelan. Napasnya sedikit terengah-engah. Dia bahkan belum sempat mengisi perutnya sejak tadi.Waktu sudah lewat dari yang Lyra perkirakan. Ponselnya bergetar sejak beberapa menit lalu dan panggilan dari dokter yang merawat ibunya di rumah sakit baru sempat dia balas sekarang.Lyra bergegas masuk ke rumah, melewati dapur, lalu menuju kamarnya. Karena terlalu terburu-buru, Lyra hanya mendorong pintu kamarnya setengah hati tanpa memastikan kuncinya benar-benar terpasang.“Aduh semoga aku masih sempat bertemu dokternya,” gumamnya dengan gelisah sambil membuka lemari pakaian.Lyra menanggalkan kemeja dan celan

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 7. Kesalahan Kedua 4

    #Adhikara duduk di salah satu meja kafe dekat kampus bersama beberapa teman satu angkatannya. Tempat itu cukup ramai, dipenuhi suara obrolan mahasiswa dan denting sendok mengenai gelas. Namun, meja mereka justru berada di sudut yang agak terpisah, cukup jauh dari keramaian, seolah menjadi ruang aman untuk percakapan yang lebih lepas.Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan memegang ponsel, sementara tangannya yang lain bertumpu di meja. Sejak tadi ia lebih banyak diam. Tidak ikut tertawa. Tidak ikut menyela. Keberadaannya terasa seperti bayangan yang ikut duduk, bukan bagian dari obrolan teman-temannya.“Ngomong-ngomong,” ucap Rivan sambil menyeruput kopinya.“Kalian sadar tidak sih kalau Lyra itu cantik? Malah menurutku, dia salah satu yang tercantik dari angkatan baru.” Dia tampak bersemangat saat berbicara.Adhikara tidak bereaksi. Matanya masih tertuju ke layar ponsel.Bagas mendengus kecil. “Kau benar. Sayangnya dia sedikit dingin pada orang lain, terutama pada lawan je

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 6. Kesalahan Kedua 3

    #Lyra dan Alesa keluar dari gedung kuliah saat matahari sudah mulai condong ke barat. Lorong kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa berdiri berkelompok, sebagian duduk di tangga, sebagian lagi bersandar sambil menatap ponsel.“Aku tidak suka suasananya,” ucap Alesa pelan.Lyra menoleh sekilas.“Kenapa?”“Orang-orang terlalu sering melihat ke arah kita,” jawab Alesa tanpa ragu.Lyra menarik napas pelan.“Biarkan saja. Kita pulang.”Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir motor dan jalur angkutan umum. Langkah Lyra tetap tenang, meski ia sadar bisikan-bisikan kecil mulai terdengar saat mereka lewat.“Itu dia kan? Yang tadi pagi turun dari mobil Kak Adhi." Suara seorang perempuan terdengar samar.Lyra tidak menoleh.“Aku sumpah, dia sok jual mahal,” suara lain menyusul.Alesa berhenti mendadak.“Lyra.”“Ayo, jangan berhenti,” jawab Lyra cepat. Dia menarik lengan sahabatnya itu.Namun langkah mereka terhenti oleh seseorang yang berdiri tepat di depan jalur

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 5. Kesalahan Kedua 2

    #Marissa baru saja turun dari mobilnya dan bergegas menuju ke arah gedung kuliah saat kemudian beberapa orang temannya menghampirinya."Mar, sudah dengar gosip baru tidak? Romeomu katanya mengizinkan seorang perempuan naik ke mobilnya!" Salah satu dari temannya itu tampak heboh.Marissa mengerutkan dahinya."Kau yakin? Adhi bukan orang yang akan dengan sukarela memberi tumpangan pada perempuan lain," tanyanya. Bahkan dirinya saja hanya kebetulan pernah naik mobil pribadi Adhikara dan itu karena mobilnya mogok."Tentu saja yakin. Selain itu, coba tebak siapa perempuan itu?" Temannya kembali bertanya.Marissa kini menatap temannya kesal."Aku saja baru tiba di kampus, bagaimana bisa aku tahu itu siapa?" Nada bicaranya agak sedikit meninggi.Teman-temannya sontak langsung diam. Mereka tentu saja tidak ingin memprovokasi Marissa. Lebih tepatnya tidak ada yang berani karena ayah Marissa bukan orang sembarangan. Ayahnya adalah pejabat daerah yang cukup berpengaruh."Siapa dia?" Marissa akh

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 4. Kesalahan Kedua 1

    #Lyra menatap Adhikara dengan tatapan kaget bercampur kesal saat mobil berhenti tepat di depan kafetaria."Kak? Ini terlalu ramai," ujarnya. Dia tidak mengerti kenapa Adhikara malah menghentikan mobilnya di tempat seramai ini padahal selama ini Adhikara sendiri yang selalu memperingatkannya agar tidak pernah mengatakan pada siapa pun mengenai hubungan mereka.Selain Alesa, sahabat dekat Lyra, tidak ada satupun orang di kampus yang tahu kalau dirinya dan Adhikara Bramantya adalah saudara tiri."Turun!" Adhikara memberi perintah tanpa sedikit pun menoleh ke arah Lyra.Lyra menarik napas panjang dan akhirnya membuka pintu mobil.Seketika semua mata tertuju kepadanya, bukan karena siapa dia tapi justru karena dia turun dari mobil seorang Adhikara Bramantya."Anggap saja, itu bayaran untuk sikap menyebalkanmu tadi. Seharusnya kau langsung naik kalau kuajak tanpa perlu membuatku kesal," ujar Adhikara. Dia kemudian menyalakan mobilnya lagi dan meninggalkan Lyra begitu saja di tengah hujaman

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 3. Saudara Tiri

    #Lyra tidak langsung bergerak setelah Adhikara meninggalkannya."Kita lihat saja nanti."Kalimat itu berputar di kepalanya, membuatnya merasa tidak nyaman.Lyra akhirnya berbalik menuju dapur, menyalakan keran, membiarkan air mengalir lebih lama dari yang dibutuhkan, sekadar untuk menenangkan pikirannya. Dia mencuci wajahnya dan menatap pantulan wajahnya di permukaan wastafel yang tampak pucat.“Aku tidak boleh lemah. Dia memang senang menggertak dan mengancam seperti seorang pengecut,” gumamnya pelan."Aku harus bertahan di ruman ini demi Mama," lanjutnya. Matanya berkaca-kaca.Di lantai atas, Adhikara berdiri di depan jendela kamarnya. Lampu kamar dibiarkan mati. Bayangan Lyra memenuhi benaknya, wajah kaget Lyra, matanya bulat Lyra yang bergetar, melintas tanpa izin memenuhi kepalanya.“Brengsek,” desisnya.Dia menekan telapak tangan ke kaca jendela. Marah pada dirinya sendiri.#Lyra menaiki tangga membawa segelas air untuk Sri Rukmini. Setiap langkahnya terasa berat, seolah rum

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status