Masuk#
Lyra menatap Adhikara dengan tatapan kaget bercampur kesal saat mobil berhenti tepat di depan kafetaria. "Kak? Ini terlalu ramai," ujarnya. Dia tidak mengerti kenapa Adhikara malah menghentikan mobilnya di tempat seramai ini padahal selama ini Adhikara sendiri yang selalu memperingatkannya agar tidak pernah mengatakan pada siapa pun mengenai hubungan mereka. Selain Alesa, sahabat dekat Lyra, tidak ada satupun orang di kampus yang tahu kalau dirinya dan Adhikara Bramantya adalah saudara tiri. "Turun!" Adhikara memberi perintah tanpa sedikit pun menoleh ke arah Lyra. Lyra menarik napas panjang dan akhirnya membuka pintu mobil. Seketika semua mata tertuju kepadanya, bukan karena siapa dia tapi justru karena dia turun dari mobil seorang Adhikara Bramantya. "Anggap saja, itu bayaran untuk sikap menyebalkanmu tadi. Seharusnya kau langsung naik kalau kuajak tanpa perlu membuatku kesal," ujar Adhikara. Dia kemudian menyalakan mobilnya lagi dan meninggalkan Lyra begitu saja di tengah hujaman tatapan tajam penuh rasa penasaran dari banyak orang. Adhikara tertawa puas saat mengingat ekspresi yang ditunjukkan Lyra kepadanya ketika ditinggalkan di depan kafetaria. "Rasakan, dasar anak gundik," gumamnya pelan. Di sisi lain, Lyra terus melangkah dengan mengabaikan tatapan dan gunjingan orang-orang karena di kampus ini, Adhikara adalah senior yang terkenal. “Lyra!” Suara itu membuatnya menoleh. Alesa berdiri di dekat kantin, melambaikan tangan dengan antusias. Rambutnya dikuncir asal, ekspresinya cerah berbanding terbalik dengan wajah Lyra yang masih pucat. Dia bergegas mendekati Lyra. “Kau diantar Kak Adhi? Tumben,” ujar Alesa. Lyra mengangguk pelan. "Ya," jawabnya singkat. Alesa melihat ke sekeliling dan kemudian menatap Lyra lagi. "Abaikan saja tatapan orang-orang itu, mereka tidak tahu apa-apa. Kalau ada yang mencoba berbuat kurang ajar padamu, bilang padaku," ucap Alesa lagi. Lyra tersenyum tipis mendengar ucapan Alesa. Dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Alesa. "Aku tidak apa-apa, ayo cepat ke gedung C. Kalau terlambat, kita tidak akan diperbolehkan masuk." Dia menarik Alesa yang tengah sibuk memelototi setiap orang yang melemparkan tatapan sinis ke arahnya. “Aku hampir mengira kalau kau tidak masuk hari ini, bukannya kemarin kau tidak enak badan?” tanya Alesa. “Aku cuma sedikit demam kemarin. Lagipula, tidak mungkin melewatkan mata kuliah penting,” jawab Lyra pelan. “Ya, kau itu memang punya fisik yang kuat tapi masalahnya, sekuat apa pun dirimu, suatu hari kau akan benar-benar di opname di Rumah Sakit karena kelelahan bekerja di kamp penyiksaan seperti itu,” balas Alesa tanpa ragu. Lyra tersenyum tipis. “Itu rumahku, bukan kamp penyiksaan dan aku sendiri yang memilih untuk membantu pekerjaan di rumah itu. Setidaknya aku tidak benar-benar tinggal gratis di sana.” Dia mengoreksi ucapan Alesa. Alesa memutar matanya. “Tempat tinggal, bukan rumah. Itu dua tempat yang berbeda,” Alesa bersikeras. Lyra tidak membantah. Alesa mengambil sebotol air mineral dari dari dalam tasnya. “Minum. Kau terlihat lelah seperti orang yang akan jatuh pingsan,” ucap Alesa kemudian. Lyra menerima botol air mineral itu dan meminumnya. “Aku tidur kok,” kata Lyra. “Tidur versimu itu cuma tidur ayam bukan tidur sungguhan. Manusia normal biasanya tidur minimal lima sampai tujuh jam sehari, sedangkan kau paling lama cuma tiga jam sehari. Jangan bilang tadi malam kau begadang lagi untuk belajar?” tebak Alesa. Lyra menghela napas. “Sedikit,” balasnya. Alesa menatap Lyra dengan tatapan menyelidik. “Terjadi sesuatu lagi kepadamu? Kakak tirimu yang psikopat itu mengganggumu lagi?” desak Alesa. “Tidak.” Balas Lyra singkat. “Lyra?” Alesa jelas tidak percaya. “Aku tidak ingin membahas lagi tentang orang itu. Tolong,” pinta Lyra. Dia sudah cukup muak dengan sikap Adhikara yang menyebalkan sejak kemarin, jangan sampai kehidupan kampusnya juga dirusak oleh nama Adhikara. Hening sebentar hingga akhirnya mereka tiba di gedung yang mereka tuju. Alesa menatap sahabatnya prihatin. “Oke maaf. Aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi saranku masih sama dengan sebelumnya, pertimbangkan untuk keluar dari rumah itu,” ucapnya. Lyra terdiam. Dia mengambil tempat duduk di sudut ruangan, diikuti oleh Alesa yang memang selalu duduk di sampingnya. “Aku tidak bisa meskipun aku ingin. Mamaku membutuhkan biaya besar untuk membuatnya tetap hidup.” Tatapan Lyra tampak menerawang lewat jendela yang ada di sampingnya. “Kau selalu saja bilang begitu,” keluhnya. Saat itu, Adhikara masuk ke dalam ruangan itu bersama beberapa orang lain tanpa sekalipun menoleh ke arah Lyra dan mengambil tempat duduk di depan. Agak jauh dari tempat Lyra dan Alesa duduk. Meski begitu, mahasiswa yang masuk bersama Adhikara ke dalam ruangan itu, kini mulai memperhatikan Lyra. Alesa melemparkan tatapan membunuh pada mereka semua. "Bicara tentang si iblis berkulit buaya," ucap Alesa sambil menunjuk ke arah Adhikara dan teman-temannya. "Aku baru sadar kalau dia mengulang mata kuliah ini." "Abaikan saja," ujar Lyra. "Hei Adhi, kudengar kau mengizinkan seorang gadis naik ke dalam mobilmu? Orang-orang heboh membicarakan itu." Salah seorang dari teman Adhikara mendadak berbicara. Adhikara hanya tertawa mendengar itu. "Cuma kucing yang terlantar di pinggir jalan. Aku memberi tumpangan karena kasihan," balasnya. Kali ini dia melirik ke arah Lyra untuk melihat ekspresinya. Namun dia segera menyadari kalau Lyra bahkan tidak terpengaruh dengan provokasinya dan mengabaikan dirinya. "Sayangnya kucing yang aku pungut di pinggir jalan itu tidak tau diri dan tidak tahu terima kasih," lanjutnya. Teman-teman Adhikara tertawa mendengar itu. Alesa tidak tahan dan hendak berdiri tapi Lyra menahannya. "Biarkan saja. Sebentar lagi dosen akan masuk," cegah Lyra. Alesa berdecak kesal. Meski begitu dia menuruti ucapan Lyra dan menahan diri untuk melabrak Adhikara dan teman-temannya. "Cih, keren apanya? Merek cuma segerombol kakak tingkat bodoh yang bahkan harus mengulang mata kuliah dengan kita," ucap Alesa dengan suara yang agak keras hingga membuat teman-teman Adhikara kini menatapnya tajam. Beruntung saat itu Dosen masuk sehingga membuat teman-teman Adhikara yang tadinya berniat menghampiri Alesa dan Lyra terpaksa duduk lagi.#Malika duduk terdiam di ruang tengah kediaman keluarga Bramantya, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menunjukkan deretan pesan tanpa balasan. Sudah dua hari nomor Lyra tidak aktif. Setiap kali ia mencoba menghubungi, hanya suara operator yang menyambutnya, tanda kalau Lyra tidak mengaktifkan ponselnya. Meski Adhikara berulang kali meyakinkannya bahwa Lyra hanya sedang butuh waktu di rumah seorang teman, insting Malika sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ada sesuatu yang tidak beres, sebuah firasat buruk yang terus membayangi pikirannya."Haruskah aku mencari dan menemuinya di rumah temannya itu?" gumam Malika pelan.Padahal, Malika ingin berbicara langsung dengan Lyra mengenai rencananya. Itulah alasan mengapa Malika rela menginap di rumah keluarga Bramantya di tengah jadwal kerjanya yang sangat padat kali ini."Lyra," gumam Malika pelan, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian ruangan tersebut. Dia sebenarnya hanya tidak ingin Lyra mengalami apa yang dulu suda
#Lampu kamar yang temaram masih menyala, membiaskan cahaya redup yang menyentuh wajah Adhikara. Di sisi tempat tidur, Lyra berdiri mematung. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap, sebuah blus sederhana dengan jaket tipis yang membungkus tubuh ringkihnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah tas kecil yang berisi barang-barang miliknya yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan. Salah satunya foto keluarganya.Lyra menunduk, menatap Adhikara yang masih terlelap dengan napas yang teratur. Selama beberapa saat, matanya beralih pada lantai kamar. Pakaian mereka berserakan di sana, menjadi saksi bisu betapa kacaunya gairah keduanya beberapa jam yang lalu. Aroma percintaan mereka, campuran antara wangi maskulin Adhikara dan aroma tubuhnya sendiri, masih tertinggal pekat di udara, masuk ke dalam paru-parunya dan membuat dada Lyra terasa sesak. Ia menggigit bibirnya pelan. "Ini benar-benar yang terakhir," gumam Lyra, suaranya nyaris tidak terdengar, hilang ditelan kesunyian kama
#Malam itu, ruang tengah apartemen terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara rendah dari tayangan televisi yang sebenarnya tidak benar-benar mereka tonton. Adhikara duduk di sofa besar, merengkuh tubuh Lyra dalam pelukannya. Ini adalah momen langka. Selama hubungan mereka terjalin, ketenangan seperti ini hampir tidak pernah ada. Biasanya hanya ada ketegangan, air mata, atau gairah yang meledak karena amarah. Namun setelah makan malam tadi, suasana mendadak melunak.Adhikara menyisir rambut Lyra yang halus dengan jemarinya, gerakan yang sangat protektif sekaligus posesif. Ia menghirup aroma sampo dari puncak kepala gadis itu, mencoba meresapi kedamaian yang terasa asing ini."Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Adhikara dengan suara rendah, nyaris berbisik.Lyra yang sejak tadi hanya menyandarkan kepalanya di dada Adhikara perlahan mendongak. Matanya terlihat lelah, namun ia memaksakan sebuah lengkungan tipis di bibirnya. "Aku sudah tidak apa-apa, Kak," balasnya sing
#Deru mesin mobil sport Adhikara memecah keheningan jalanan menuju kompleks apartemennya. Dia mencengkeram kemudi dengan buku-jari tangannya yang memutih. Amarah dan ketakutan bercampur aduk di dadanya sejak ia mendengar kabar bahwa neneknya, Sri Rukmini, telah menemui Lyra secara sepihak. Dia mengetahui itu dari sopir yang baru saja mengantar neneknya pulang."Sialan," umpat Adhikara sambil menyalip kendaraan di depannya dengan kasar.Meski petugas apartemen sudah memastikan pada Adhikara kalau Lyra sudah kembali ke apartemen meski sempat terlihat keluar dari gedung itu sebelumnya, dia tetap saja tidak bisa menghapuskan rasa khawatirnya.Matanya melirik sebuah kotak beludru kecil yang tergeletak di dashboard mobilnya. Cincin itu seharusnya baru akan ia berikan setelah peringatan empat puluh hari kematian Ratna Puspita. Ia ingin melamar Lyra setelah masa berduka selesai. Namun, campur tangan neneknya mengubah segalanya. Adhikara merasa terdesak. Ia membutuhkan ikatan yang lebih ku
#Langkah kaki Sri Rukmini terdengar berwibawa saat ia memasuki ruang teh eksklusif di kawasan Senayan tersebut. Aroma teh yang menenangkan dan interior serba putih yang megah menyambutnya, namun suasana hatinya jauh dari kata damai. Tempat ini biasanya menjadi tempatnya berkumpul bersama rekan-rekan yang dia kenal dari kalangan atas. Namun sore ini, ia datang bukan untuk bertemu dengan salah satu teman kalangan atasnya, melainkan dengan Lyra.Sri Rukmini memilih tempat ini karena ini tidak jauh dari kompleks apartemen mewah milik Adhikara.Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang ia cari. Lyra duduk sendirian di sudut yang cukup privat, membelakangi jendela besar yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Anehnya, Sri Rukmini merasa gadis itu terlihat sangat cocok berada di sana. Cara Lyra memegang cangkir porselennya, punggungnya yang tegak, hingga caranya menyesap Earl Grey terlihat begitu elegan, seolah ia memang dibesarkan di lingkungan yang sama eksklusifnya
#Cahaya lampu temaram di kamar apartemen itu terasa asing saat Lyra perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut nyeri seolah ada godam yang menghantam sarafnya. Hal pertama yang ia tangkap adalah sosok Adhikara yang duduk di tepi ranjang, bayangannya jatuh menimpa tubuh Lyra yang tampak semakin ringkih di balik selimut."Kau sudah bangun?" tanya Adhikara pelan. Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Bagaimana perasaanmu? Kau tidur sangat lama, Lyra. Aku sudah membelikan makanan untukmu kalau-kalau kau merasa lapar." Tangannya terulur menyentuh anak rambut yang jatuh di pipi dan dahi Lyra lalu menyelipkannya ke belakang telinga Lyra."Jangan tidur terus," ucap Adhikara lagi.Lyra tidak menjawab. Matanya yang sembab menatap Adhikara dengan binar yang redup, kosong dan menyayat hati, seolah jiwanya telah terkuras habis."Kau sudah kembali?" gumam Lyra lirih.Setelah itu, ia kembali memejamkan mata seakan tidak lagi memiliki keinginan untuk sekadar bangkit atau menapak







