Share

Bab 5. Kesalahan Kedua 2

Penulis: Kichi Ang
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 07:47:14

#

Marissa baru saja turun dari mobilnya dan bergegas menuju ke arah gedung kuliah saat kemudian beberapa orang temannya menghampirinya.

"Mar, sudah dengar gosip baru tidak? Romeomu katanya mengizinkan seorang perempuan naik ke mobilnya!" Salah satu dari temannya itu tampak heboh.

Marissa mengerutkan dahinya.

"Kau yakin? Adhi bukan orang yang akan dengan sukarela memberi tumpangan pada perempuan lain," tanyanya. Bahkan dirinya saja hanya kebetulan pernah naik mobil pribadi Adhikara dan itu karena mobilnya mogok.

"Tentu saja yakin. Selain itu, coba tebak siapa perempuan itu?" Temannya kembali bertanya.

Marissa kini menatap temannya kesal.

"Aku saja baru tiba di kampus, bagaimana bisa aku tahu itu siapa?" Nada bicaranya agak sedikit meninggi.

Teman-temannya sontak langsung diam. Mereka tentu saja tidak ingin memprovokasi Marissa. Lebih tepatnya tidak ada yang berani karena ayah Marissa bukan orang sembarangan. Ayahnya adalah pejabat daerah yang cukup berpengaruh.

"Siapa dia?" Marissa akhirnya bertanya saat dia berhasil menguasai dirinya.

Teman-temannya saling berpandangan satu sama lain.

Marissa berdecak kesal. Pantas saja teman-temannya itu selalu harus mengulang mata kuliah beberapa kali. Otak mereka sepertinya berjalan dengan terlalu lambat.

"Maksudku siapa wanita yang berani-beraninya menumpang di mobil Adhi," ucapnya.

"Oh, kau ingat mahasiswi baru yang sempat digosipkan sebagai penggantimu karena dia lebih cantik darimu?" Salah satu dari teman-teman Marissa akhirnya berbicara.

Marissa mengerutkan dahinya mendengar ucapan temannya itu.

"Maksudku kata orang dia lebih cantik darimu tapi tentu saja untuk aku dan bahkan Adhi sendiri, kaulah yang tercantik." Sadar telah salah bicara, temannya mengoreksi saat akhirnya sadar.

"Lyra Renata?" tanya Marissa. Mana mungkin dia tidak tahu tentang gadis itu. Dia sudah tidak menyukai Lyra sejak masa-masa PKKMB.

Lyra sangat vokal saat orientasi mahasiswa baru dan karena Lyra juga, Marissa sempat ditegur dekan dan dosen karena dianggap menyimpang dari aturan orientasi mahasiswa baru resmi yang disetujui kampus

"Oh, ternyata dia. Tidak heran. Dia memang terlihat murahan," ucap Marissa dengan senyum sinis yang menghiasi bibirnya.

#

Kelas baru saja selesai dan Lyra tengah sibuk membereskan buku-bukunya.

Alesa menyikut Lyra.

“Kau sadar tidak kalau beberapa orang terus saja memperhatikanmu sejak tadi?”

Lyra mengernyitan dahi.

“Memperhatikan bagaimana?”

“Seperti itu.” Alesa melirik sekilas ke sekelompok mahasiswa laki-laki.

“Mungkin cuma kebetulan.” Sejujurnya Lyra sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang dia anggap tidak berhubungan langsung dengannya.

“Tidak. Aku serius, mereka memperhatikanmu dengan cara yang tidak menyenangkan. Aku tidak suka,” bantah Alesa.

Lyra menunduk sebentar dan mendesah pelan.

“Aku tidak melakukan apa-apa pada mereka tapi kalau mereka melakukan itu berarti merekalah yang bermasalah,” ucap Lyra tenang.

“Justru itu,” ujar Alesa kesal.

“Kalau kau hanya diam dan menuruti kakak tirimu yang titisan dajjal itu. Kalau kau tidak membela diri, pada akhirnya itu akan menyebabkan masalah kepadamu. Lihat, orang-orang menatapmu seperti itu karena Adhi pasti mengatakan hal-hal buruk tentangmu pada mereka,” lanjutnya.

Lyra tersenyum lelah. Dia juga tahu itu tapi memangnya apa yang bisa dia lakukan? Adhikara adalah pemegang kuasa di rumah setelah nenek Sri Rukmini dan di sini, di kampus, keadaan tidak berbeda jauh karena kenyataannya dia harus selalu menuruti Adhikara.

“Mereka tidak akan berani melakukan hal-hal yang keterlaluan, ini masih di dalam kampus,” ucapnya akhirnya.

“Kampus juga dunia luar, Ly. Gosip dianggap kebenaran kalau kau tidak melawan dan tidak mengonfirmasi kebenarannya,” ucap Alesa lagi.

Lyra terdiam, pikirannya masih terpaku pada ucapan Alesa.

“Ly, kamu melamun lagi,” bisik Alesa.

“Maaf,” ujarnya.

"Aku heran. Kalau memang seberat itu berada di rumah keluarga tirimu, kenapa kau tidak keluar dari sana? Kau bisa bekerja sambilan kalau mau. Aku bisa membantumu. Mama dan Papaku juga bisa membantumu kalau kau mau," ucap Alesa.

Lyra menelan ludah. Tawaran Alesa sungguh menggiurkan untuknya tapi bagaimana dengan ibunya yang saat ini membutuhkan alat bantu di Rumah Sakit hanya untuk terus hidup.

“Terima kasih Alesa tapi aku tidak bisa dan kau tahu kenapa. Untuk saat ini aku hanya ingin lulus, memperoleh pekerjaan yang baik dan membiayai pengobatan Mamaku dari jerih payahku sendiri. Tanpa ijazah, akan sulit bagiku untuk mewujudkannya.” Dia tersenyum sendu.

“Kau serius?” Alesa menatapnya.

“Ya, kalau aku beruntung, Mamaku mungkin sudah sadar saat aku lulus nanti dan kami akan pergi dari rumah keluarga Bramantya.” Impian itu merupakan satu-satunya penyemangat Lyra sampai saat ini.

“Kau akan ke mana setelah keluar dari rumah keluarga Adhi?” Alesa tampak penasaran.

“Ke mana saja yang bukan di sana,” jawabnya mantap.

Alesa tersenyum kecil.

“Kalau begitu, kau butuh rencana.”

“Aku butuh ijazahku dulu.” Lyra bertekad.

“Kamu juga butuh keberanian dan uang juga.” Alesa menambahkan.

Lyra terdiam.

Saat itu mahasiswa perempuan menoleh ke arah mereka dan berbisik pelan.

Lyra menangkap namanya disebut.

“Apa mereka membicarakanku?” tanya Lyra lirih.

Alesa mengangguk jujur.

“Sudah sejak tadi.”

“Tentang apa?” tanya Lyra lagi.

“Hanya rumor bodoh. Katanya kamu dekat dengan asisten dosen. Katanya kamu sok suci. Yah kurasa tidak semua mahasiswa layak disebut mahasiswa kalau gosip murahan seperti ini bisa mereka percayai,” balas Alesa.

Dia kemudian menutup buku yang ada di tangannya.

“Dengar aku baik-baik.”

Lyra menoleh.

“Kalau suatu hari kamu tidak bisa pulang ke rumah itu,” lanjut Alesa, suaranya lebih rendah seakan berbisik.

“Kau bisa datang ke kosanku atau bahkan meminta bantuanku untuk membantumu melarikan diri dari sana. Bahkan keluargaku akan membantumu tanpa ragu.”

Lyra kembali terdiam.

“Kenapa kau sebaik ini padaku?”

“Karena aku sahabatmu.” Alesa menatap Lyra tanpa keraguan.

“Dan karena aku tahu rasanya tinggal di tempat yang membuatmu merasa tidak diinginkan,” lanjut Alesa.

Lyra menunduk. Dadanya terasa sesak.

“Aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Kau tidak pernah merepotkan,” jawab Alesa tegas.

"Baiklah," balas Lyra akhirnya. Tidak apa-apa kalau seluruh dunia membencinya selama dia memiliki seorang sahabat sebaik Alesa.

"Terima kasih banyak Alesa," ujarnya pelan.

Dari kejauhan, Adhikara memperhatikan Lyra yang sedang bersama dengan Alesa.

"Menyedihkan," gumamnya pelan.

Teman-temannya menoleh ke arahnya tanpa bisa memahami apa sebenarnya maksud dari ucapannya kali ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 8. Kesalahan Kedua 5

    #Lyra baru saja menyelesaikan cucian terakhir. Tangannya masih terasa lembap saat ia memeras ujung kaus tipis miliknya, lalu menggantungkannya di tali jemuran belakang. Ini karena para pembantu yang lain tidak akan pernah membiarkannya menggunakan mesin cuci untuknya mencuci bajunya sendiri, jadi Lyra harus mencuci bajunya secara manual seperti sekarang ini."Selesai juga," gumamnya pelan. Napasnya sedikit terengah-engah. Dia bahkan belum sempat mengisi perutnya sejak tadi.Waktu sudah lewat dari yang Lyra perkirakan. Ponselnya bergetar sejak beberapa menit lalu dan panggilan dari dokter yang merawat ibunya di rumah sakit baru sempat dia balas sekarang.Lyra bergegas masuk ke rumah, melewati dapur, lalu menuju kamarnya. Karena terlalu terburu-buru, Lyra hanya mendorong pintu kamarnya setengah hati tanpa memastikan kuncinya benar-benar terpasang.“Aduh semoga aku masih sempat bertemu dokternya,” gumamnya dengan gelisah sambil membuka lemari pakaian.Lyra menanggalkan kemeja dan celan

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 7. Kesalahan Kedua 4

    #Adhikara duduk di salah satu meja kafe dekat kampus bersama beberapa teman satu angkatannya. Tempat itu cukup ramai, dipenuhi suara obrolan mahasiswa dan denting sendok mengenai gelas. Namun, meja mereka justru berada di sudut yang agak terpisah, cukup jauh dari keramaian, seolah menjadi ruang aman untuk percakapan yang lebih lepas.Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan memegang ponsel, sementara tangannya yang lain bertumpu di meja. Sejak tadi ia lebih banyak diam. Tidak ikut tertawa. Tidak ikut menyela. Keberadaannya terasa seperti bayangan yang ikut duduk, bukan bagian dari obrolan teman-temannya.“Ngomong-ngomong,” ucap Rivan sambil menyeruput kopinya.“Kalian sadar tidak sih kalau Lyra itu cantik? Malah menurutku, dia salah satu yang tercantik dari angkatan baru.” Dia tampak bersemangat saat berbicara.Adhikara tidak bereaksi. Matanya masih tertuju ke layar ponsel.Bagas mendengus kecil. “Kau benar. Sayangnya dia sedikit dingin pada orang lain, terutama pada lawan je

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 6. Kesalahan Kedua 3

    #Lyra dan Alesa keluar dari gedung kuliah saat matahari sudah mulai condong ke barat. Lorong kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa berdiri berkelompok, sebagian duduk di tangga, sebagian lagi bersandar sambil menatap ponsel.“Aku tidak suka suasananya,” ucap Alesa pelan.Lyra menoleh sekilas.“Kenapa?”“Orang-orang terlalu sering melihat ke arah kita,” jawab Alesa tanpa ragu.Lyra menarik napas pelan.“Biarkan saja. Kita pulang.”Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir motor dan jalur angkutan umum. Langkah Lyra tetap tenang, meski ia sadar bisikan-bisikan kecil mulai terdengar saat mereka lewat.“Itu dia kan? Yang tadi pagi turun dari mobil Kak Adhi." Suara seorang perempuan terdengar samar.Lyra tidak menoleh.“Aku sumpah, dia sok jual mahal,” suara lain menyusul.Alesa berhenti mendadak.“Lyra.”“Ayo, jangan berhenti,” jawab Lyra cepat. Dia menarik lengan sahabatnya itu.Namun langkah mereka terhenti oleh seseorang yang berdiri tepat di depan jalur

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 5. Kesalahan Kedua 2

    #Marissa baru saja turun dari mobilnya dan bergegas menuju ke arah gedung kuliah saat kemudian beberapa orang temannya menghampirinya."Mar, sudah dengar gosip baru tidak? Romeomu katanya mengizinkan seorang perempuan naik ke mobilnya!" Salah satu dari temannya itu tampak heboh.Marissa mengerutkan dahinya."Kau yakin? Adhi bukan orang yang akan dengan sukarela memberi tumpangan pada perempuan lain," tanyanya. Bahkan dirinya saja hanya kebetulan pernah naik mobil pribadi Adhikara dan itu karena mobilnya mogok."Tentu saja yakin. Selain itu, coba tebak siapa perempuan itu?" Temannya kembali bertanya.Marissa kini menatap temannya kesal."Aku saja baru tiba di kampus, bagaimana bisa aku tahu itu siapa?" Nada bicaranya agak sedikit meninggi.Teman-temannya sontak langsung diam. Mereka tentu saja tidak ingin memprovokasi Marissa. Lebih tepatnya tidak ada yang berani karena ayah Marissa bukan orang sembarangan. Ayahnya adalah pejabat daerah yang cukup berpengaruh."Siapa dia?" Marissa akh

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 4. Kesalahan Kedua 1

    #Lyra menatap Adhikara dengan tatapan kaget bercampur kesal saat mobil berhenti tepat di depan kafetaria."Kak? Ini terlalu ramai," ujarnya. Dia tidak mengerti kenapa Adhikara malah menghentikan mobilnya di tempat seramai ini padahal selama ini Adhikara sendiri yang selalu memperingatkannya agar tidak pernah mengatakan pada siapa pun mengenai hubungan mereka.Selain Alesa, sahabat dekat Lyra, tidak ada satupun orang di kampus yang tahu kalau dirinya dan Adhikara Bramantya adalah saudara tiri."Turun!" Adhikara memberi perintah tanpa sedikit pun menoleh ke arah Lyra.Lyra menarik napas panjang dan akhirnya membuka pintu mobil.Seketika semua mata tertuju kepadanya, bukan karena siapa dia tapi justru karena dia turun dari mobil seorang Adhikara Bramantya."Anggap saja, itu bayaran untuk sikap menyebalkanmu tadi. Seharusnya kau langsung naik kalau kuajak tanpa perlu membuatku kesal," ujar Adhikara. Dia kemudian menyalakan mobilnya lagi dan meninggalkan Lyra begitu saja di tengah hujaman

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 3. Saudara Tiri

    #Lyra tidak langsung bergerak setelah Adhikara meninggalkannya."Kita lihat saja nanti."Kalimat itu berputar di kepalanya, membuatnya merasa tidak nyaman.Lyra akhirnya berbalik menuju dapur, menyalakan keran, membiarkan air mengalir lebih lama dari yang dibutuhkan, sekadar untuk menenangkan pikirannya. Dia mencuci wajahnya dan menatap pantulan wajahnya di permukaan wastafel yang tampak pucat.“Aku tidak boleh lemah. Dia memang senang menggertak dan mengancam seperti seorang pengecut,” gumamnya pelan."Aku harus bertahan di ruman ini demi Mama," lanjutnya. Matanya berkaca-kaca.Di lantai atas, Adhikara berdiri di depan jendela kamarnya. Lampu kamar dibiarkan mati. Bayangan Lyra memenuhi benaknya, wajah kaget Lyra, matanya bulat Lyra yang bergetar, melintas tanpa izin memenuhi kepalanya.“Brengsek,” desisnya.Dia menekan telapak tangan ke kaca jendela. Marah pada dirinya sendiri.#Lyra menaiki tangga membawa segelas air untuk Sri Rukmini. Setiap langkahnya terasa berat, seolah rum

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status