Share

Bab 8. Kesalahan Kedua 5

Penulis: Kichi Ang
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 17:25:13

#

Lyra baru saja menyelesaikan cucian terakhir. Tangannya masih terasa lembap saat ia memeras ujung kaus tipis miliknya, lalu menggantungkannya di tali jemuran belakang. Ini karena para pembantu yang lain tidak akan pernah membiarkannya menggunakan mesin cuci untuknya mencuci bajunya sendiri, jadi Lyra harus mencuci bajunya secara manual seperti sekarang ini.

"Selesai juga," gumamnya pelan. Napasnya sedikit terengah-engah. Dia bahkan belum sempat mengisi perutnya sejak tadi.

Waktu sudah lewat dari yang Lyra perkirakan. Ponselnya bergetar sejak beberapa menit lalu dan panggilan dari dokter yang merawat ibunya di rumah sakit baru sempat dia balas sekarang.

Lyra bergegas masuk ke rumah, melewati dapur, lalu menuju kamarnya.

Karena terlalu terburu-buru, Lyra hanya mendorong pintu kamarnya setengah hati tanpa memastikan kuncinya benar-benar terpasang.

“Aduh semoga aku masih sempat bertemu dokternya,” gumamnya dengan gelisah sambil membuka lemari pakaian.

Lyra menanggalkan kemeja dan celana jeans yang dia gunakan sejak dari kampus tadi dan menarik kaus bersih dari tumpukan pakaian.

Pikirannya hanya tertuju pada rumah sakit tempat ibunya dirawat.

Dokter yang merawat ibunya tidak pernah menghubunginya tanpa alasan.

Ponselnya kembali bergetar.

“Iya, Dok?” jawabnya cepat.

Gerakannya tertunda sejenak.

Sementara itu, di ruang depan, pintu utama rumah terbuka. Adhikara masuk dengan langkah berat.

Wajahnya lelah, rahangnya mengeras seperti biasa. Ia belum sempat melepas sepatu ketika suara Sri Rukmini menyapanya dari ruang tengah.

“Kamu baru pulang, Adhi?” tanyanya.

“Iya,” jawab Adhikara singkat.

“Nenek mau tanya… Lyra sudah pulang? Nenek akan ke rumah teman Nenek jadi dia tidak perlu menyiapkan makan malam untuk Nenek. Tadi Nenek sudah bilang pada Bik Iyem tapi Lyra sebaiknya tahu juga karena dia...”

"Nek!" Adhikara berseru kesal memotong kalimat Sri Rukmini.

Dia berhenti sejenak. Tangannya masih memegang tas dan menatap Neneknya sendiri dengan ekspresi kesal yang bahkan tidak ia sembunyikan.

“Kenapa Nenek menanyakan itu padaku?”

Sri Rukmini menatap cucunya, tongkatnya berderak pelan di lantai saat ia melangkah mendekati.

“Karena kalian tinggal satu rumah dan kuliah di kampus yang sama,” jawabnya.

“Bukan berarti aku harus tahu segalanya tentang anak gundik itu,” ujar Adhikara sinis.

“Nenek hanya bertanya,” balas Sri Rukmini.

“Mau dia pulang atau tidak, itu bukan urusanku,” ucap Adhikara dengan nada dingin.

Sri Rukmini menghela napas panjang.

“Adhi—”

“Aku lelah, Nek,” ucapnya singkat sebelum melangkah pergi.

Adhikara melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.

Sri Rukmini memandang punggung cucunya yang menjauh, lalu menarik napa panjang.

“Kebencian seperti itu bukan hal yang baik untukmu,” gumamnya lirih.

Dia tahu persis dari mana semua itu berasal. Kematian putranya yang juga ayah dari Adhikara, Dipta Bramantya dan kehadiran wanita lain yang juga ibu kandung Lyra ke dalam keluarga Bramantya adalah pemicu segalanya.

#

Adhikara sudah sampai di lorong yang menuju ke depan kamarnya, namun langkahnya justru terhenti.

Di hadapannya, lorong itu bercabang. Satu menuju kamarnya, satu lagi menuju kamar Lyra.

Ia menoleh dan entah apa yang mendorongnya, tapi langkahnya justru berbelok ke arah yang berlawanan.

“Bodoh,” desisnya pelan.

Adhikara berhenti di depan pintu kamar Lyra. Tangannya terangkat hendak mengetuk tapi kemudian di urungkannya.

“Lyra.” Dia memilih untuk langsung memanggil nama gadis itu.

Tidak ada jawaban.

Adhikara memanggil lagi dengan nada yang sama datarnya.

“Lyra.”

Hening.

Adhikara menarik napas, rahangnya kembali mengeras. Tangannya turun ke handle pintu, hatinya berniat pergi, tapi jari-jarinya sudah terlanjur mencengkeram benda itu.

Pintu itu terbuka.

“Kenapa tidak dikunci…,” gumamnya tanpa sadar.

Di dalam kamar, Lyra sedang berdiri membelakangi pintu, ponsel masih menempel di telinganya sementara tubuhnya sendiri hanya menggunakan pakaian dalam.

“Iya, Dok. Saya bisa datang hari ini,” ucapnya.

Adhikara terpaku oleh pemandangan di depannya.

Lyra menoleh.

Wajahnya langsung berubah.

“Kak Adhi?” suaranya meninggi.

“Kenapa masuk tanpa izin?” Dia memprotes. Tangannya dengan cepat meraih handuk untuk menutupi tubuhnya yang terekspos.

“Aku memanggil,” jawab Adhikara datar.

“Kau yang tidak menjawab.” Matanya memicing seakan menilai penampilan Lyra.

“Itu bukan alasan untuk membuka pintu kamar orang lain!” Lyra terlihat gusar.

Adhikara tersenyum sinis.

“Kalau kau tidak mengunci pintu kamarmu, itu salahmu sendiri,” ucapnya.

“Keluar! Sekarang juga!” katanya tegas.

Namun Adhikara tidak bergerak.

“Berniat ke rumah sakit untuk menjenguk wanita itu?” tanyanya.

“Wanita itu adalah Mamaku! Dan itu bukan urusan Kak Adhi,” balas Lyra geram. Dia tidak nyaman dengan cara Adhikara menatapnya.

“Sejak kapan kau berani bicara seperti itu kepadaku?” tanya Adhikara. Dia maju perlahan.

Lyra terdiam. Untuk sesaat tadi rasa kesal merasukinya dan sekarang dia bisa menilai seberapa besar kemarahan Adhikara yang tertuju ke arahnya.

"Kau berani sekali berteriak seperti itu kepadaku di rumahku sendiri?" Adhikara melangkah satu langkah lagi.

Lyra refleks mundur.

“Jangan mendekat.”

“Kenapa? Takut?” Adhikara tetap maju. Tatapannya lurus tertuju ke arah Lyra.

“Tidak,” jawab Lyra, suaranya bergetar tipis tapi jelas.

“Aku hanya tidak nyaman. Kak Adhi tidak seharusnya ada di kamar anak gundik ini bukan? Jadi tolong keluar,” ujar Lyra lagi, kali ini dengan suara yang lebih halus.

Adhikara menatapnya lama. Tatapannya tajam, penuh sesuatu yang bahkan ia sendiri enggan untuk mengakuinya.

"Apa gundik itu sudah mati?" Dia bertanya dengan kalimat sarkastis.

“Kak! Tolong berhenti menghina Mamaku setidaknya di depanku. Dan juga, aku tidak perlu menjelaskan apa pun pada Kak Adhi.” Kalimat Lyra terdengar seakan memohon dibandingkan memperingatkan.

Adhikara menatap Lyra tanpa berkedip. Sesuatu di tenggorokannya bergerak naik turun.

“Kau seharusnya lebih berhati-hati.”

Adhikara akhirnya mundur selangkah.

“Kunci pintumu lain kali.”

Ia kemudian berbalik dan melangkah keluar.

Lyra berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya mengunci pintu dengan tangan gemetar.

“Tenang,” bisiknya pada diri sendiri.

Dia ragu sejenak untuk keluar dari kamar tapi untungnya saat dia keluar dari kamarnya, Adhikara sudah tidak ada lagi di lorong itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Fitri Handayani
seru banget ceritanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 121. Inikah Yang Terbaik? 3

    #Malika duduk terdiam di ruang tengah kediaman keluarga Bramantya, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menunjukkan deretan pesan tanpa balasan. Sudah dua hari nomor Lyra tidak aktif. Setiap kali ia mencoba menghubungi, hanya suara operator yang menyambutnya, tanda kalau Lyra tidak mengaktifkan ponselnya. Meski Adhikara berulang kali meyakinkannya bahwa Lyra hanya sedang butuh waktu di rumah seorang teman, insting Malika sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ada sesuatu yang tidak beres, sebuah firasat buruk yang terus membayangi pikirannya."Haruskah aku mencari dan menemuinya di rumah temannya itu?" gumam Malika pelan.Padahal, Malika ingin berbicara langsung dengan Lyra mengenai rencananya. Itulah alasan mengapa Malika rela menginap di rumah keluarga Bramantya di tengah jadwal kerjanya yang sangat padat kali ini."Lyra," gumam Malika pelan, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian ruangan tersebut. Dia sebenarnya hanya tidak ingin Lyra mengalami apa yang dulu suda

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 120. Inikah Yang Terbaik? 2

    #Lampu kamar yang temaram masih menyala, membiaskan cahaya redup yang menyentuh wajah Adhikara. Di sisi tempat tidur, Lyra berdiri mematung. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap, sebuah blus sederhana dengan jaket tipis yang membungkus tubuh ringkihnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah tas kecil yang berisi barang-barang miliknya yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan. Salah satunya foto keluarganya.Lyra menunduk, menatap Adhikara yang masih terlelap dengan napas yang teratur. Selama beberapa saat, matanya beralih pada lantai kamar. Pakaian mereka berserakan di sana, menjadi saksi bisu betapa kacaunya gairah keduanya beberapa jam yang lalu. Aroma percintaan mereka, campuran antara wangi maskulin Adhikara dan aroma tubuhnya sendiri, masih tertinggal pekat di udara, masuk ke dalam paru-parunya dan membuat dada Lyra terasa sesak. Ia menggigit bibirnya pelan. "Ini benar-benar yang terakhir," gumam Lyra, suaranya nyaris tidak terdengar, hilang ditelan kesunyian kama

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 119. Inikah Yang Terbaik? 1

    #Malam itu, ruang tengah apartemen terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara rendah dari tayangan televisi yang sebenarnya tidak benar-benar mereka tonton. Adhikara duduk di sofa besar, merengkuh tubuh Lyra dalam pelukannya. Ini adalah momen langka. Selama hubungan mereka terjalin, ketenangan seperti ini hampir tidak pernah ada. Biasanya hanya ada ketegangan, air mata, atau gairah yang meledak karena amarah. Namun setelah makan malam tadi, suasana mendadak melunak.Adhikara menyisir rambut Lyra yang halus dengan jemarinya, gerakan yang sangat protektif sekaligus posesif. Ia menghirup aroma sampo dari puncak kepala gadis itu, mencoba meresapi kedamaian yang terasa asing ini."Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Adhikara dengan suara rendah, nyaris berbisik.Lyra yang sejak tadi hanya menyandarkan kepalanya di dada Adhikara perlahan mendongak. Matanya terlihat lelah, namun ia memaksakan sebuah lengkungan tipis di bibirnya. "Aku sudah tidak apa-apa, Kak," balasnya sing

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 118. Selamat Tinggal 6

    #Deru mesin mobil sport Adhikara memecah keheningan jalanan menuju kompleks apartemennya. Dia mencengkeram kemudi dengan buku-jari tangannya yang memutih. Amarah dan ketakutan bercampur aduk di dadanya sejak ia mendengar kabar bahwa neneknya, Sri Rukmini, telah menemui Lyra secara sepihak. Dia mengetahui itu dari sopir yang baru saja mengantar neneknya pulang."Sialan," umpat Adhikara sambil menyalip kendaraan di depannya dengan kasar.Meski petugas apartemen sudah memastikan pada Adhikara kalau Lyra sudah kembali ke apartemen meski sempat terlihat keluar dari gedung itu sebelumnya, dia tetap saja tidak bisa menghapuskan rasa khawatirnya.Matanya melirik sebuah kotak beludru kecil yang tergeletak di dashboard mobilnya. Cincin itu seharusnya baru akan ia berikan setelah peringatan empat puluh hari kematian Ratna Puspita. Ia ingin melamar Lyra setelah masa berduka selesai. Namun, campur tangan neneknya mengubah segalanya. Adhikara merasa terdesak. Ia membutuhkan ikatan yang lebih ku

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 117. Selamat Tinggal 5

    #Langkah kaki Sri Rukmini terdengar berwibawa saat ia memasuki ruang teh eksklusif di kawasan Senayan tersebut. Aroma teh yang menenangkan dan interior serba putih yang megah menyambutnya, namun suasana hatinya jauh dari kata damai. Tempat ini biasanya menjadi tempatnya berkumpul bersama rekan-rekan yang dia kenal dari kalangan atas. Namun sore ini, ia datang bukan untuk bertemu dengan salah satu teman kalangan atasnya, melainkan dengan Lyra.Sri Rukmini memilih tempat ini karena ini tidak jauh dari kompleks apartemen mewah milik Adhikara.Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang ia cari. Lyra duduk sendirian di sudut yang cukup privat, membelakangi jendela besar yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Anehnya, Sri Rukmini merasa gadis itu terlihat sangat cocok berada di sana. Cara Lyra memegang cangkir porselennya, punggungnya yang tegak, hingga caranya menyesap Earl Grey terlihat begitu elegan, seolah ia memang dibesarkan di lingkungan yang sama eksklusifnya

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 116. Selamat Tinggal 4

    #Cahaya lampu temaram di kamar apartemen itu terasa asing saat Lyra perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut nyeri seolah ada godam yang menghantam sarafnya. Hal pertama yang ia tangkap adalah sosok Adhikara yang duduk di tepi ranjang, bayangannya jatuh menimpa tubuh Lyra yang tampak semakin ringkih di balik selimut."Kau sudah bangun?" tanya Adhikara pelan. Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Bagaimana perasaanmu? Kau tidur sangat lama, Lyra. Aku sudah membelikan makanan untukmu kalau-kalau kau merasa lapar." Tangannya terulur menyentuh anak rambut yang jatuh di pipi dan dahi Lyra lalu menyelipkannya ke belakang telinga Lyra."Jangan tidur terus," ucap Adhikara lagi.Lyra tidak menjawab. Matanya yang sembab menatap Adhikara dengan binar yang redup, kosong dan menyayat hati, seolah jiwanya telah terkuras habis."Kau sudah kembali?" gumam Lyra lirih.Setelah itu, ia kembali memejamkan mata seakan tidak lagi memiliki keinginan untuk sekadar bangkit atau menapak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status