Masuk#
Adhikara duduk di salah satu meja kafe dekat kampus bersama beberapa teman satu angkatannya. Tempat itu cukup ramai, dipenuhi suara obrolan mahasiswa dan denting sendok mengenai gelas. Namun, meja mereka justru berada di sudut yang agak terpisah, cukup jauh dari keramaian, seolah menjadi ruang aman untuk percakapan yang lebih lepas. Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan memegang ponsel, sementara tangannya yang lain bertumpu di meja. Sejak tadi ia lebih banyak diam. Tidak ikut tertawa. Tidak ikut menyela. Keberadaannya terasa seperti bayangan yang ikut duduk, bukan bagian dari obrolan teman-temannya. “Ngomong-ngomong,” ucap Rivan sambil menyeruput kopinya. “Kalian sadar tidak sih kalau Lyra itu cantik? Malah menurutku, dia salah satu yang tercantik dari angkatan baru.” Dia tampak bersemangat saat berbicara. Adhikara tidak bereaksi. Matanya masih tertuju ke layar ponsel. Bagas mendengus kecil. “Kau benar. Sayangnya dia sedikit dingin pada orang lain, terutama pada lawan jenis. Sepertinya dia tipe kutu buku. Padahal dia sebenarnya lebih cantik dibanding Marissa,” ucapnya. “Benar kan?” balas Rivan cepat. “Ternyata aku bukan satu-satunya yang merasa seperti itu. Sebenarnya dia cukup mencolok saat masa orientasi karena wajahnya itu… seperti campuran,” tambahnya. “Campuran apa maksudmu?” tanya Jati. “Entahlah. Struktur wajahnya. Hidungnya. Matanya,” lanjut Rivan. “Seperti bukan wajah orang lokal sepenuhnya. Aku jadi penasaran, mungkin salah satu orang tuanya keturunan asing.” Beberapa dari mereka mengangguk kecil. Nada percakapan masih ringan, nyaris seperti obrolan kosong yang tidak akan berujung apa-apa. Sampai akhirnya Adhikara mengangkat kepalanya. “Ibu kandungnya bisa saja mantan gundik orang asing.” Kalimat itu meluncur datar. Tidak terdengar emosional. Tapi cukup untuk membuat suasana di meja yang mereka tempati berubah drastis. Bahkan mungkin seisi kafe itu. Rivan terdiam. Sendoknya berhenti di udara. Bagas dan Jati saling pandang. “Apa?” tanya Rivan pelan, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar. “Ibunya, mantan gundik orang asing,” ulang Adhikara singkat. Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada ekspresi bersalah. Seolah ia baru saja menyebutkan fakta yang tidak pantas diperdebatkan. “Adhi, kau sadar dengan apa yang kau katakan? Terlebih semua orang sekarang mendengar yang kau katakan,” ujar Jati akhirnya, nadanya menegang. “Aku sadar seratus persen,” jawab Adhikara datar. “Maksudku, meskipun itu benar tapi tidak seharusnya kau mengatakan hal seperti itu di sini,” lanjut Jati. “Itu bukan hal yang bisa diucapkan sembarangan.” Bagas ikut menimpali, lebih hati-hati. Adhikara menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi. Tatapannya bergeser ke arah mereka satu per satu. “Kalian yang memulai pembicaraan, sedangkan aku hanya menambahkan fakta,” katanya. “Meluruskan dengan cara merendahkan? Yang benar saja. Kau sedang berbicara tentang latar belakang keluarga seseorang,” balas Rivan. “Dan apa urusannya denganmu? Kau benar-benar suka pada anak gundik itu?” tanya Adhikara. Rivan mengerutkan kening. “Terlepas aku suka pada Lyra atau tidak, yang kau katakan itu tetap tidak pantas.” Hening mendadak tercipta. Beberapa pengunjung di meja lain mulai melirik ke arah mereka. Rivan menarik napas dalam sebelum melanjutkan, suaranya lebih terkendali seakan dia tidak ingin terseret lebih jauh pada provokasi halus Adhikara. “Apa pun asal-usulnya, faktanya Lyra itu memang cantik,” katanya. “Memang dia tidak semodis Marissa. Tidak memakai barang bermerek. Selera berpakaiannya sederhana. Tapi dia tetap saja terlihat menarik.” Ucapan itu membuat Bagas mengangguk kecil. Di sisi lain, Jati diam memperhatikan reaksi Adhikara. Senyum tipis muncul di sudut bibir Adhikara. Ekspresi wajahnya terlihat sinis. “Jadi benar,” katanya perlahan. “Kau suka pada anak seorang gundik?” Rivan membeku. “Sebenarnya ada apa sih denganmu? Kau terdengar tidak masuk akal.” Nada suaranya mulai naik. “Aku hanya menarik kesimpulan dari ucapanmu,” jawab Adhikara tenang. “Itu bukan berarti aku setuju menjadikan latar belakang keluarganya sebagai bahan hinaan,” balas Rivan tajam. Bagas mengetuk meja pelan. “Cukup. Ini perdebatan yang tidak perlu.” “Kenapa?” tanya Adhikara. “Kalian yang terlalu sensitif hanya karena seorang perempuan cantik.” “Kau yang keterlaluan,” sahut Jati. “Sejak kapan kau menjadi seperti ini?” Adhikara berdiri. Kursinya bergeser, menimbulkan suara gesekan yang cukup keras. “Bukan aku yang bermasalah,” ujarnya. Rivan ikut berdiri, wajahnya terlihat kesal. “Kau bersikap aneh. Sejak kapan kau jadi begitu mudah menghina seseorang?” Adhikara menatapnya dingin. “Jangan berpura-pura bermoral,” ucapnya. Bagas menatap Adhikara lebih lama. “Yang membuatku heran, sejak kapan kau tahu sedetail itu tentang Lyra?” Pertanyaan itu membuat Adhikara terdiam sesaat. “Kau bukan tipe yang memperhatikan hal seperti ini,” lanjut Bagas. Rivan menambahkan. “Iya. Itu aneh. Kau bicara seolah kau benar-benar dekat dan sudah mengenalnya lama. Seberapa banyak yang kau tahu hanya karena kau mengantarnya ke kampus sekali?” Adhikara mengalihkan pandangan. “Itu bukan urusan kalian,” jawabnya. “Bukannya kau yang lebih dulu bersikap aneh dan menyebalkan?” balas Rivan. Adhikara mengambil jaketnya dari sandaran kursi. “Aku tidak perlu menjelaskan apa pun,” ucapnya. “Adhi,” panggil Jati. “Kita tidak perlu bertengkar karena masalah seperti ini.” Adhikara berhenti melangkah sejenak. “Kalau kalian temanku, kalian seharusnya ada di pihakku,” jawabnya tanpa menoleh. “Kau benar-benar tidak masuk akal,” ucap Rivan lirih. Adhikara tertawa kecil. “Terserah kalian.” Ia melangkah pergi, meninggalkan meja dan keheningan yang menggantung di antara mereka. Beberapa detik berlalu sebelum Bagas menghela napas panjang. “Ada yang salah dengannya,” gumamnya. Rivan duduk kembali. Rahangnya mengeras. “Cara dia bicara tentang Lyra itu aneh,” katanya pelan. “Entahlah, kurasa dia memang sedikit berubah,” tambah Jati. Rivan menatap pintu keluar, tempat Adhikara menghilang. "Adhi yang kukenal, tidak seperti itu.” Tidak ada yang membantah. Di luar kafe, Adhikara berjalan cepat menuju ke arah mobilnya diparkir. Langkahnya tegas. Tangannya mengepal di dalam saku jaket. Ucapan Rivan terngiang kembali di kepalanya. Membuatnya menghembuskan napas kasar. “Bodoh,” gumamnya. Entah kepada Lyra. Atau kepada dirinya sendiri.#Lyra baru saja menyelesaikan cucian terakhir. Tangannya masih terasa lembap saat ia memeras ujung kaus tipis miliknya, lalu menggantungkannya di tali jemuran belakang. Ini karena para pembantu yang lain tidak akan pernah membiarkannya menggunakan mesin cuci untuknya mencuci bajunya sendiri, jadi Lyra harus mencuci bajunya secara manual seperti sekarang ini."Selesai juga," gumamnya pelan. Napasnya sedikit terengah-engah. Dia bahkan belum sempat mengisi perutnya sejak tadi.Waktu sudah lewat dari yang Lyra perkirakan. Ponselnya bergetar sejak beberapa menit lalu dan panggilan dari dokter yang merawat ibunya di rumah sakit baru sempat dia balas sekarang.Lyra bergegas masuk ke rumah, melewati dapur, lalu menuju kamarnya. Karena terlalu terburu-buru, Lyra hanya mendorong pintu kamarnya setengah hati tanpa memastikan kuncinya benar-benar terpasang.“Aduh semoga aku masih sempat bertemu dokternya,” gumamnya dengan gelisah sambil membuka lemari pakaian.Lyra menanggalkan kemeja dan celan
#Adhikara duduk di salah satu meja kafe dekat kampus bersama beberapa teman satu angkatannya. Tempat itu cukup ramai, dipenuhi suara obrolan mahasiswa dan denting sendok mengenai gelas. Namun, meja mereka justru berada di sudut yang agak terpisah, cukup jauh dari keramaian, seolah menjadi ruang aman untuk percakapan yang lebih lepas.Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan memegang ponsel, sementara tangannya yang lain bertumpu di meja. Sejak tadi ia lebih banyak diam. Tidak ikut tertawa. Tidak ikut menyela. Keberadaannya terasa seperti bayangan yang ikut duduk, bukan bagian dari obrolan teman-temannya.“Ngomong-ngomong,” ucap Rivan sambil menyeruput kopinya.“Kalian sadar tidak sih kalau Lyra itu cantik? Malah menurutku, dia salah satu yang tercantik dari angkatan baru.” Dia tampak bersemangat saat berbicara.Adhikara tidak bereaksi. Matanya masih tertuju ke layar ponsel.Bagas mendengus kecil. “Kau benar. Sayangnya dia sedikit dingin pada orang lain, terutama pada lawan je
#Lyra dan Alesa keluar dari gedung kuliah saat matahari sudah mulai condong ke barat. Lorong kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa berdiri berkelompok, sebagian duduk di tangga, sebagian lagi bersandar sambil menatap ponsel.“Aku tidak suka suasananya,” ucap Alesa pelan.Lyra menoleh sekilas.“Kenapa?”“Orang-orang terlalu sering melihat ke arah kita,” jawab Alesa tanpa ragu.Lyra menarik napas pelan.“Biarkan saja. Kita pulang.”Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir motor dan jalur angkutan umum. Langkah Lyra tetap tenang, meski ia sadar bisikan-bisikan kecil mulai terdengar saat mereka lewat.“Itu dia kan? Yang tadi pagi turun dari mobil Kak Adhi." Suara seorang perempuan terdengar samar.Lyra tidak menoleh.“Aku sumpah, dia sok jual mahal,” suara lain menyusul.Alesa berhenti mendadak.“Lyra.”“Ayo, jangan berhenti,” jawab Lyra cepat. Dia menarik lengan sahabatnya itu.Namun langkah mereka terhenti oleh seseorang yang berdiri tepat di depan jalur
#Marissa baru saja turun dari mobilnya dan bergegas menuju ke arah gedung kuliah saat kemudian beberapa orang temannya menghampirinya."Mar, sudah dengar gosip baru tidak? Romeomu katanya mengizinkan seorang perempuan naik ke mobilnya!" Salah satu dari temannya itu tampak heboh.Marissa mengerutkan dahinya."Kau yakin? Adhi bukan orang yang akan dengan sukarela memberi tumpangan pada perempuan lain," tanyanya. Bahkan dirinya saja hanya kebetulan pernah naik mobil pribadi Adhikara dan itu karena mobilnya mogok."Tentu saja yakin. Selain itu, coba tebak siapa perempuan itu?" Temannya kembali bertanya.Marissa kini menatap temannya kesal."Aku saja baru tiba di kampus, bagaimana bisa aku tahu itu siapa?" Nada bicaranya agak sedikit meninggi.Teman-temannya sontak langsung diam. Mereka tentu saja tidak ingin memprovokasi Marissa. Lebih tepatnya tidak ada yang berani karena ayah Marissa bukan orang sembarangan. Ayahnya adalah pejabat daerah yang cukup berpengaruh."Siapa dia?" Marissa akh
#Lyra menatap Adhikara dengan tatapan kaget bercampur kesal saat mobil berhenti tepat di depan kafetaria."Kak? Ini terlalu ramai," ujarnya. Dia tidak mengerti kenapa Adhikara malah menghentikan mobilnya di tempat seramai ini padahal selama ini Adhikara sendiri yang selalu memperingatkannya agar tidak pernah mengatakan pada siapa pun mengenai hubungan mereka.Selain Alesa, sahabat dekat Lyra, tidak ada satupun orang di kampus yang tahu kalau dirinya dan Adhikara Bramantya adalah saudara tiri."Turun!" Adhikara memberi perintah tanpa sedikit pun menoleh ke arah Lyra.Lyra menarik napas panjang dan akhirnya membuka pintu mobil.Seketika semua mata tertuju kepadanya, bukan karena siapa dia tapi justru karena dia turun dari mobil seorang Adhikara Bramantya."Anggap saja, itu bayaran untuk sikap menyebalkanmu tadi. Seharusnya kau langsung naik kalau kuajak tanpa perlu membuatku kesal," ujar Adhikara. Dia kemudian menyalakan mobilnya lagi dan meninggalkan Lyra begitu saja di tengah hujaman
#Lyra tidak langsung bergerak setelah Adhikara meninggalkannya."Kita lihat saja nanti."Kalimat itu berputar di kepalanya, membuatnya merasa tidak nyaman.Lyra akhirnya berbalik menuju dapur, menyalakan keran, membiarkan air mengalir lebih lama dari yang dibutuhkan, sekadar untuk menenangkan pikirannya. Dia mencuci wajahnya dan menatap pantulan wajahnya di permukaan wastafel yang tampak pucat.“Aku tidak boleh lemah. Dia memang senang menggertak dan mengancam seperti seorang pengecut,” gumamnya pelan."Aku harus bertahan di ruman ini demi Mama," lanjutnya. Matanya berkaca-kaca.Di lantai atas, Adhikara berdiri di depan jendela kamarnya. Lampu kamar dibiarkan mati. Bayangan Lyra memenuhi benaknya, wajah kaget Lyra, matanya bulat Lyra yang bergetar, melintas tanpa izin memenuhi kepalanya.“Brengsek,” desisnya.Dia menekan telapak tangan ke kaca jendela. Marah pada dirinya sendiri.#Lyra menaiki tangga membawa segelas air untuk Sri Rukmini. Setiap langkahnya terasa berat, seolah rum







