Home / Romansa / Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri! / Bab 7. Kesalahan Kedua 4

Share

Bab 7. Kesalahan Kedua 4

Author: Kichi Ang
last update Last Updated: 2026-01-03 16:58:28

#

Adhikara duduk di salah satu meja kafe dekat kampus bersama beberapa teman satu angkatannya.

Tempat itu cukup ramai, dipenuhi suara obrolan mahasiswa dan denting sendok mengenai gelas. Namun, meja mereka justru berada di sudut yang agak terpisah, cukup jauh dari keramaian, seolah menjadi ruang aman untuk percakapan yang lebih lepas.

Ia menyandarkan punggung ke kursi, satu tangan memegang ponsel, sementara tangannya yang lain bertumpu di meja. Sejak tadi ia lebih banyak diam. Tidak ikut tertawa. Tidak ikut menyela. Keberadaannya terasa seperti bayangan yang ikut duduk, bukan bagian dari obrolan teman-temannya.

“Ngomong-ngomong,” ucap Rivan sambil menyeruput kopinya.

“Kalian sadar tidak sih kalau Lyra itu cantik? Malah menurutku, dia salah satu yang tercantik dari angkatan baru.” Dia tampak bersemangat saat berbicara.

Adhikara tidak bereaksi. Matanya masih tertuju ke layar ponsel.

Bagas mendengus kecil.

“Kau benar. Sayangnya dia sedikit dingin pada orang lain, terutama pada lawan jenis. Sepertinya dia tipe kutu buku. Padahal dia sebenarnya lebih cantik dibanding Marissa,” ucapnya.

“Benar kan?” balas Rivan cepat.

“Ternyata aku bukan satu-satunya yang merasa seperti itu. Sebenarnya dia cukup mencolok saat masa orientasi karena wajahnya itu… seperti campuran,” tambahnya.

“Campuran apa maksudmu?” tanya Jati.

“Entahlah. Struktur wajahnya. Hidungnya. Matanya,” lanjut Rivan.

“Seperti bukan wajah orang lokal sepenuhnya. Aku jadi penasaran, mungkin salah satu orang tuanya keturunan asing.”

Beberapa dari mereka mengangguk kecil. Nada percakapan masih ringan, nyaris seperti obrolan kosong yang tidak akan berujung apa-apa.

Sampai akhirnya Adhikara mengangkat kepalanya.

“Ibu kandungnya bisa saja mantan gundik orang asing.”

Kalimat itu meluncur datar. Tidak terdengar emosional. Tapi cukup untuk membuat suasana di meja yang mereka tempati berubah drastis. Bahkan mungkin seisi kafe itu.

Rivan terdiam. Sendoknya berhenti di udara. Bagas dan Jati saling pandang.

“Apa?” tanya Rivan pelan, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.

“Ibunya, mantan gundik orang asing,” ulang Adhikara singkat.

Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada ekspresi bersalah. Seolah ia baru saja menyebutkan fakta yang tidak pantas diperdebatkan.

“Adhi, kau sadar dengan apa yang kau katakan? Terlebih semua orang sekarang mendengar yang kau katakan,” ujar Jati akhirnya, nadanya menegang.

“Aku sadar seratus persen,” jawab Adhikara datar.

“Maksudku, meskipun itu benar tapi tidak seharusnya kau mengatakan hal seperti itu di sini,” lanjut Jati.

“Itu bukan hal yang bisa diucapkan sembarangan.” Bagas ikut menimpali, lebih hati-hati.

Adhikara menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi. Tatapannya bergeser ke arah mereka satu per satu.

“Kalian yang memulai pembicaraan, sedangkan aku hanya menambahkan fakta,” katanya.

“Meluruskan dengan cara merendahkan? Yang benar saja. Kau sedang berbicara tentang latar belakang keluarga seseorang,” balas Rivan.

“Dan apa urusannya denganmu? Kau benar-benar suka pada anak gundik itu?” tanya Adhikara.

Rivan mengerutkan kening.

“Terlepas aku suka pada Lyra atau tidak, yang kau katakan itu tetap tidak pantas.”

Hening mendadak tercipta. Beberapa pengunjung di meja lain mulai melirik ke arah mereka.

Rivan menarik napas dalam sebelum melanjutkan, suaranya lebih terkendali seakan dia tidak ingin terseret lebih jauh pada provokasi halus Adhikara.

“Apa pun asal-usulnya, faktanya Lyra itu memang cantik,” katanya.

“Memang dia tidak semodis Marissa. Tidak memakai barang bermerek. Selera berpakaiannya sederhana. Tapi dia tetap saja terlihat menarik.”

Ucapan itu membuat Bagas mengangguk kecil.

Di sisi lain, Jati diam memperhatikan reaksi Adhikara.

Senyum tipis muncul di sudut bibir Adhikara. Ekspresi wajahnya terlihat sinis.

“Jadi benar,” katanya perlahan.

“Kau suka pada anak seorang gundik?”

Rivan membeku.

“Sebenarnya ada apa sih denganmu? Kau terdengar tidak masuk akal.” Nada suaranya mulai naik.

“Aku hanya menarik kesimpulan dari ucapanmu,” jawab Adhikara tenang.

“Itu bukan berarti aku setuju menjadikan latar belakang keluarganya sebagai bahan hinaan,” balas Rivan tajam.

Bagas mengetuk meja pelan.

“Cukup. Ini perdebatan yang tidak perlu.”

“Kenapa?” tanya Adhikara.

“Kalian yang terlalu sensitif hanya karena seorang perempuan cantik.”

“Kau yang keterlaluan,” sahut Jati.

“Sejak kapan kau menjadi seperti ini?”

Adhikara berdiri. Kursinya bergeser, menimbulkan suara gesekan yang cukup keras.

“Bukan aku yang bermasalah,” ujarnya.

Rivan ikut berdiri, wajahnya terlihat kesal.

“Kau bersikap aneh. Sejak kapan kau jadi begitu mudah menghina seseorang?”

Adhikara menatapnya dingin.

“Jangan berpura-pura bermoral,” ucapnya.

Bagas menatap Adhikara lebih lama.

“Yang membuatku heran, sejak kapan kau tahu sedetail itu tentang Lyra?”

Pertanyaan itu membuat Adhikara terdiam sesaat.

“Kau bukan tipe yang memperhatikan hal seperti ini,” lanjut Bagas.

Rivan menambahkan.

“Iya. Itu aneh. Kau bicara seolah kau benar-benar dekat dan sudah mengenalnya lama. Seberapa banyak yang kau tahu hanya karena kau mengantarnya ke kampus sekali?”

Adhikara mengalihkan pandangan.

“Itu bukan urusan kalian,” jawabnya.

“Bukannya kau yang lebih dulu bersikap aneh dan menyebalkan?” balas Rivan.

Adhikara mengambil jaketnya dari sandaran kursi.

“Aku tidak perlu menjelaskan apa pun,” ucapnya.

“Adhi,” panggil Jati.

“Kita tidak perlu bertengkar karena masalah seperti ini.”

Adhikara berhenti melangkah sejenak.

“Kalau kalian temanku, kalian seharusnya ada di pihakku,” jawabnya tanpa menoleh.

“Kau benar-benar tidak masuk akal,” ucap Rivan lirih.

Adhikara tertawa kecil.

“Terserah kalian.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan meja dan keheningan yang menggantung di antara mereka.

Beberapa detik berlalu sebelum Bagas menghela napas panjang.

“Ada yang salah dengannya,” gumamnya.

Rivan duduk kembali. Rahangnya mengeras.

“Cara dia bicara tentang Lyra itu aneh,” katanya pelan.

“Entahlah, kurasa dia memang sedikit berubah,” tambah Jati.

Rivan menatap pintu keluar, tempat Adhikara menghilang.

"Adhi yang kukenal, tidak seperti itu.”

Tidak ada yang membantah.

Di luar kafe, Adhikara berjalan cepat menuju ke arah mobilnya diparkir.

Langkahnya tegas. Tangannya mengepal di dalam saku jaket.

Ucapan Rivan terngiang kembali di kepalanya.

Membuatnya menghembuskan napas kasar.

“Bodoh,” gumamnya.

Entah kepada Lyra.

Atau kepada dirinya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 121. Inikah Yang Terbaik? 3

    #Malika duduk terdiam di ruang tengah kediaman keluarga Bramantya, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menunjukkan deretan pesan tanpa balasan. Sudah dua hari nomor Lyra tidak aktif. Setiap kali ia mencoba menghubungi, hanya suara operator yang menyambutnya, tanda kalau Lyra tidak mengaktifkan ponselnya. Meski Adhikara berulang kali meyakinkannya bahwa Lyra hanya sedang butuh waktu di rumah seorang teman, insting Malika sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ada sesuatu yang tidak beres, sebuah firasat buruk yang terus membayangi pikirannya."Haruskah aku mencari dan menemuinya di rumah temannya itu?" gumam Malika pelan.Padahal, Malika ingin berbicara langsung dengan Lyra mengenai rencananya. Itulah alasan mengapa Malika rela menginap di rumah keluarga Bramantya di tengah jadwal kerjanya yang sangat padat kali ini."Lyra," gumam Malika pelan, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian ruangan tersebut. Dia sebenarnya hanya tidak ingin Lyra mengalami apa yang dulu suda

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 120. Inikah Yang Terbaik? 2

    #Lampu kamar yang temaram masih menyala, membiaskan cahaya redup yang menyentuh wajah Adhikara. Di sisi tempat tidur, Lyra berdiri mematung. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap, sebuah blus sederhana dengan jaket tipis yang membungkus tubuh ringkihnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat sebuah tas kecil yang berisi barang-barang miliknya yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan. Salah satunya foto keluarganya.Lyra menunduk, menatap Adhikara yang masih terlelap dengan napas yang teratur. Selama beberapa saat, matanya beralih pada lantai kamar. Pakaian mereka berserakan di sana, menjadi saksi bisu betapa kacaunya gairah keduanya beberapa jam yang lalu. Aroma percintaan mereka, campuran antara wangi maskulin Adhikara dan aroma tubuhnya sendiri, masih tertinggal pekat di udara, masuk ke dalam paru-parunya dan membuat dada Lyra terasa sesak. Ia menggigit bibirnya pelan. "Ini benar-benar yang terakhir," gumam Lyra, suaranya nyaris tidak terdengar, hilang ditelan kesunyian kama

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 119. Inikah Yang Terbaik? 1

    #Malam itu, ruang tengah apartemen terasa begitu sunyi, hanya diisi oleh suara rendah dari tayangan televisi yang sebenarnya tidak benar-benar mereka tonton. Adhikara duduk di sofa besar, merengkuh tubuh Lyra dalam pelukannya. Ini adalah momen langka. Selama hubungan mereka terjalin, ketenangan seperti ini hampir tidak pernah ada. Biasanya hanya ada ketegangan, air mata, atau gairah yang meledak karena amarah. Namun setelah makan malam tadi, suasana mendadak melunak.Adhikara menyisir rambut Lyra yang halus dengan jemarinya, gerakan yang sangat protektif sekaligus posesif. Ia menghirup aroma sampo dari puncak kepala gadis itu, mencoba meresapi kedamaian yang terasa asing ini."Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Adhikara dengan suara rendah, nyaris berbisik.Lyra yang sejak tadi hanya menyandarkan kepalanya di dada Adhikara perlahan mendongak. Matanya terlihat lelah, namun ia memaksakan sebuah lengkungan tipis di bibirnya. "Aku sudah tidak apa-apa, Kak," balasnya sing

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 118. Selamat Tinggal 6

    #Deru mesin mobil sport Adhikara memecah keheningan jalanan menuju kompleks apartemennya. Dia mencengkeram kemudi dengan buku-jari tangannya yang memutih. Amarah dan ketakutan bercampur aduk di dadanya sejak ia mendengar kabar bahwa neneknya, Sri Rukmini, telah menemui Lyra secara sepihak. Dia mengetahui itu dari sopir yang baru saja mengantar neneknya pulang."Sialan," umpat Adhikara sambil menyalip kendaraan di depannya dengan kasar.Meski petugas apartemen sudah memastikan pada Adhikara kalau Lyra sudah kembali ke apartemen meski sempat terlihat keluar dari gedung itu sebelumnya, dia tetap saja tidak bisa menghapuskan rasa khawatirnya.Matanya melirik sebuah kotak beludru kecil yang tergeletak di dashboard mobilnya. Cincin itu seharusnya baru akan ia berikan setelah peringatan empat puluh hari kematian Ratna Puspita. Ia ingin melamar Lyra setelah masa berduka selesai. Namun, campur tangan neneknya mengubah segalanya. Adhikara merasa terdesak. Ia membutuhkan ikatan yang lebih ku

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 117. Selamat Tinggal 5

    #Langkah kaki Sri Rukmini terdengar berwibawa saat ia memasuki ruang teh eksklusif di kawasan Senayan tersebut. Aroma teh yang menenangkan dan interior serba putih yang megah menyambutnya, namun suasana hatinya jauh dari kata damai. Tempat ini biasanya menjadi tempatnya berkumpul bersama rekan-rekan yang dia kenal dari kalangan atas. Namun sore ini, ia datang bukan untuk bertemu dengan salah satu teman kalangan atasnya, melainkan dengan Lyra.Sri Rukmini memilih tempat ini karena ini tidak jauh dari kompleks apartemen mewah milik Adhikara.Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang ia cari. Lyra duduk sendirian di sudut yang cukup privat, membelakangi jendela besar yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Anehnya, Sri Rukmini merasa gadis itu terlihat sangat cocok berada di sana. Cara Lyra memegang cangkir porselennya, punggungnya yang tegak, hingga caranya menyesap Earl Grey terlihat begitu elegan, seolah ia memang dibesarkan di lingkungan yang sama eksklusifnya

  • Berhenti Menggodaku, Kakak Tiri!   Bab 116. Selamat Tinggal 4

    #Cahaya lampu temaram di kamar apartemen itu terasa asing saat Lyra perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, kepalanya berdenyut nyeri seolah ada godam yang menghantam sarafnya. Hal pertama yang ia tangkap adalah sosok Adhikara yang duduk di tepi ranjang, bayangannya jatuh menimpa tubuh Lyra yang tampak semakin ringkih di balik selimut."Kau sudah bangun?" tanya Adhikara pelan. Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Bagaimana perasaanmu? Kau tidur sangat lama, Lyra. Aku sudah membelikan makanan untukmu kalau-kalau kau merasa lapar." Tangannya terulur menyentuh anak rambut yang jatuh di pipi dan dahi Lyra lalu menyelipkannya ke belakang telinga Lyra."Jangan tidur terus," ucap Adhikara lagi.Lyra tidak menjawab. Matanya yang sembab menatap Adhikara dengan binar yang redup, kosong dan menyayat hati, seolah jiwanya telah terkuras habis."Kau sudah kembali?" gumam Lyra lirih.Setelah itu, ia kembali memejamkan mata seakan tidak lagi memiliki keinginan untuk sekadar bangkit atau menapak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status