Masuk"Arumi, sudah?" Leonard datang menghampiri. "Kita udah keliling loh dari tadi, kamu belum ketemu yang cocok juga?" Arumi tersenyum tipis, "Maaf Mas, bajunya enggak ada yang cocok. Kita pulang aja ya?" "Ya sudah." Terdengar helaan napas Leonard yang mulai kesal. **** Angin berhembus kencang, menerpa rambut panjang Arumi yang sengaja ia gerai begitu saja. Ia duduk di teras belakang rumah, ditemani oleh Abel. "Mana sih?" Indah tampak tak sabar. "Gue mau lihat yang namanya Indah, apa kita datang langsung ke rumahnya?" "Ide buruk Bel, ngapain coba ke sana?" Arumi tertawa kecil, "lihat saja, bentar lagi dia keluar." Tak lama kemudian, benar saja yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga. Indah keluar dari pintu belakangnya, hendak menjemur pakaian. "Pagi, Ndah." Sapa Arumi lebih dahulu, ia sengaja. Indah mengangguk, "Pagi juga, Arumi." Terlihat dengan jelas, sepertinya ia salah tingkah sendiri. Tak kuasa untuk melihat Arumi, bukan apa-apa, melainkan karena ia takut. Bel
Senyum sumringah tergambar jelas di wajah Arumi, sudah lama rasanya ia tak tersenyum seperti ini. Ia terus memperhatikan wajahnya dari pantulan kaca. Riasan tipis itu membuat wajahnya terlihat semakin cantik, dengan warna lipstik tak terlalu merah.Cella menarik-narik roknya, mulutnya berceloteh tak terlalu jelas. "Mam-a..""Sayang!" Arumi menggendongnya, ia mencium pipinya. "Harum banget ya anak pintar ini!"Arumi berjalan ke depan, terlihat Leonard sudah menunggunya. Hari ini Leonard mengajak Arumi untuk dinner. Benar-benar hal yang menyenangkan untuk Arumi.Sekilas Arumi dapat melihat Indah, perempuan itu mengintip dari balik jendela. Tak ingin merusak suasana kali ini, Arumi memutuskan untuk segera masuk ke dalam mobil."Mas..""Kenapa, sayang?" Arumi terdiam, rasanya ingin menangis. Sudah lama kalimat itu tak keluar dari mulut Leonard, ia benar-benar merindukan. Rindu Leonard yang dulu, waktu mereka berpacaran. Rindu saat rumah tangganya baik-baik saja tanpa kehadiran orang keti
"Jadi, langkah kamu selanjutnya apa?"Arumi terdiam saat pertanyaan itu keluar dari mulut Abel. Matanya menatap lantai kafe yang terasa dingin, seolah jawaban itu terlalu berat untuk diucapkan dengan suara. Jari-jarinya saling mengait, gemetar tipis."Arumi," Abel menghela napas pelan. "Coba pikirin baik-baik. Kalau kamu mau mengakhiri semuanya, gimana nasib Cella? Dia masih kecil, dia butuh sosok ayah. Tapi kalau kamu milih buat tetap bertahan, kamu juga harus yakin… kamu kuat atau nggak. Kita nggak bisa maksa diri sendiri cuma demi kelihatan utuh."Kata-kata itu menusuk, bukan karena kasar, tapi karena terlalu jujur. Arumi menelan ludah. Bayangan Cella yang tertawa setiap Leonard pulang kerja tiba-tiba muncul di kepalanya. Bagaimana anak itu memanggil "ayah" dengan suara paling ceria, seakan dunia tak pernah menyakitinya."Kalau menurut kamu gimana?" suara Arumi nyaris bergetar saat akhirnya bertanya.Abel terdiam sejenak, menatap Arumi dengan sorot yang lembut tapi penuh kehati-hat
Tubuh Arumi terasa lemas, seakan seluruh tenaganya terkuras habis. Ia duduk terdiam di ruang tunggu rumah sakit, punggungnya bersandar pada kursi dingin berwarna abu-abu. Langkahnya sejak tadi berhenti di sana—belum juga berani masuk untuk menjenguk sang ibu. Dadanya terasa sesak, pikirannya berantakan, seolah semua beban hidup menumpuk di satu titik yang sama. Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam, berusaha menahan getar yang merambat hingga ke ujung tubuhnya. Arumi tak tahu harus bagaimana sekarang. Terlalu banyak hal yang datang bersamaan, terlalu berat untuk ditanggung sendirian. "Loh, Mbak? Kok di sini?" Suara itu membuat Arumi tersentak. Ia mendongak dan mendapati Gina, adiknya, berdiri di hadapannya dengan raut wajah heran. Arumi buru-buru menghapus sisa air mata yang masih menggantung di sudut matanya. Ia memaksakan senyum kecil, setipis kesabarannya. "Eh, nggak kok," ujarnya pelan. "Mbak cuma capek aja, Dek. Oh iya, Cella mana?" "Di ruangan sama ayah." Gina sempa
Dada Arumi terasa sesak, matanya panas hingga perih. Ia tak lagi mampu menahan air mata yang luruh begitu saja. Dunianya hancur hari ini, detik ini, pada waktu yang bahkan tak sempat ia siapkan. Semua yang selama ini ia pertahankan runtuh dalam satu kenyataan pahit yang menghantam tanpa ampun. Dua insan itu masih belum menyadari kehadiran Arumi. Mereka bercumbu mesra, seolah tak ada batas, seolah tak ada dosa yang sedang mereka lakukan. Tanpa memikirkan dengan siapa mereka berbuat, dan tanpa peduli akibat yang akan mereka tinggalkan. Tangan Arumi bergetar hebat. Ia menutup mulutnya dengan sekuat tenaga, menahan isak yang hampir lolos dari bibirnya. Tangan itu, yang dulu mengusap lembut air mata Arumi kini mengusap perempuan lain. Tawa itu, yang selama ini akrab di telinga Arumi kini menjadi milik orang lain. Semua itu seharusnya milik Arumi. Hanya miliknya. "MAS LEONARD!" Dengan langkah penuh amarah, Arumi maju sambil menggenggam segelas air di tangannya. Byurr! Air itu
Arumi buru-buru mencari kontak dengan nama "Tetangga" ia membuka semua pesan-pesannya. Dada Arumi bergemuruh, emosinya naik-turun. Napasnya tersengal-sengal, ia tak tahan lagi menahan ini semua. Pesan yang Arumi baca membuatnya tak bisa menahan tangis, ternyata dugaannya benar. Leo berselingkuh dengan Indah. Arumi buru-buru meletakkan handphone Leonard kembali, setelah itu ia kembali tidur. Tak mau ia ketahuan jika sedang membuka handphonenya. "Arumi, bisa kamu masakan aku sup ayam?" Sapu lantai yang dipegang Arumi hampir lepas dari genggamannya, setelah sekian lama akhirnya Leonard kembali meminta menu makanan. "Eh, sup ayam?" Leonard mengangguk, "Iya sup ayam, tapi buatkan yang sama persis seperti masakan Indah ya." Hampir saja Arumi senang, kini ia kembali merasa kesal. "Memangnya harus banget Mas, kan beda orang beda rasa. Walau resepnya sama." "Makanya itu kamu belajar sama Indah, buat sup ayam yang enak!" seru Leonard. Arumi terdiam, ia sebenarnya ingin membantah suaminy







