เข้าสู่ระบบSaat Rania hendak duduk, seseorang menarik lengannya. Tanpa kata, orang itu langsung duduk dan melahap menu yang tersedia.
"Kurang ajar! Siapa yang menyuruhmu makan?!" Ardi melotot. Kenan. Pemuda itu tersenyum sinis sambil tetap melahap. "Ken!" Rania menepuk pelan pundak Kenan. Saat Kenan menoleh, Rania memberi isyarat agar Kenan pergi. Akan tetapi, Kenan tak memedulikannya. "Aku meminta Rania yang menemaniku makan! Bukan kamu!" tegas Ardi. Kesal karena merasa tidak dihargai, Ardi berdiri. "Mohon perhatiannya!" serunya. Suara Ardi yang cukup melengking tentu saja berhasil mencuri perhatian semua pengunjung. Suasana yang tadinya ramai menjadi sunyi dan semua mata tertuju kepada mereka. "Kita sebagai pelanggan restoran ini, tentu saja ingin mendapatkan pelayanan yang bagus, bukan?" "Ya, tentu saja!" kata salah seorang pengunjung. "Lihatlah, masa aku minta ditemani makan oleh pacar sekaligus pemilik restoran ini tidak bisa?!" Rania tersentak kaget sambil mengepalkan tangan. Kenan menyimpan sendok, lalu mengusap mulutnya dengan tisu, kemudian berdiri. "Tidak baik sudah beristri mengajak pacar orang makan!" "Bukan urusanmu!" "Rania kekasihku. Jadi jelas, ini menjadi urusanku!" Prang! Ardi melibas piring di atas meja hingga jatuh ke lantai. Perbuatan Ardi tentu saja membuat sebagain pengunjung ketakutan, bahkan ada yang berdiri hendak pergi. Rania kelimpungan. Ia meminta maaf kepada para pengunjung dan meminta mereka untuk melanjutkan makan. Kenan menatap pecahan piring sambil tersenyum sarkas, lalu melirik seseorang tak jauh darinya. "Anda akan menanggung malu karena ulah Anda sendiri." "Oh, ya? Tidak akan ada yang bisa mempermalukanku di sini!" "Aku cari ternyata Mas di sini?!" Mia datang sambil menggandeng putranya. Semua orang tertuju ke arah suara. Ardi berpaling muka. "Ayolah, Mas ... tidak usah lagi kamu menggangu kehidupan Rania. Sekarang ada aku dan anak kita!" lanjut Mia. "Huuuuh! Ngakunya belum punya istri, tuh, Mbak." "Dasar hidung belang! Mimpi jadi pacar Bu Rania rupanya!" "Nyadar diri oy!" Kalimat demi kalimat terlontar dari mulut pengunjung lain. Tanpa kata, Ardi pun melenggang pergi. Akan tetapi, secepat kilat tangan Kenan menarik kerah Ardi. "Kasir di sebelah sana!" Ardi menatap Kenan sinis, lalu menepis tangan Kenan. Pria yang sedang dirundung malu sekaligus kesal itu pun menuju kasir. * Waktu terasa cepat berlalu. Jarum jam di restoran menunjuk pada angka delapan malam itu. Restoran nampak sepi. Rania yang sedang duduk termenung di salah satu kursi dibuat kaget saat cangkir putih ada di hadapannya. "Katanya cokelat hangat bisa menenangkan." Rania tersenyum samar. "Terima kasih." Kedua tangan Rania menangkup cangkir, membiarkan telapak tangannya menyerap kehangatan sebelum ia menyeruput isi cangkir itu. "Lagi, lagi ... saya berterimakasih sama kamu, Ken." Rania mematap Kenan. "Untuk?" Rania tak lekas menjawab. Ia menyeruput cokelat hangat terlebih dahulu. "Untuk tadi siang. Ulah Mas Ardi kali ini keterlaluan." "Urusanmu jadi urusanku juga." Rania membelalak mendengar itu, lalu tersenyum lebar. "Bahasamu itu, Ken!" "Seorang pacar sudah seharusnya melindungi pacar sendiri." Rania memutar bola mata malas. "Hanya di depan Bundaku, Ken, ingat!" Ponsel Rania berbunyi pertanda sebuah pesan masuk. Rania lekas membacanya. "Ya ampun!" Rania menepuk kening, "bagaimana ini?" Kenan mengernyit. "Ken, saatnya beraksi!" Rania mengguncang tangan Kenan. "Bunda, Ken, Bunda ...." lanjutnya. Melihat Rania yang panik, tak menampik membuat Kenan turut panik. "Ceritakan pelan-pelan. Ada apa?" Setelah menarik dan membuang napas, Rania menjawab, "Bunda memintamu untuk datang ke rumah. Sekarang." Kenan menaikkan kedua alisnya sambil menyembunyikan senyumnya. "Ayok!" ajaknya sambil berdiri. Rania menarik tangan Kenan untuk duduk kembali. "Tunggu, Ken!" Rania bicara panjang lebar mengatur skenario. Selain membahas waktu pertemuan, lamanya pacaran, wanita itu memberitahu makanan sampai warna favoritnya. "Jangan lupa, kalau Bunda nanya apakah kita saling mencintai, maka jawab 'iya'. Oke?" "Oke!" "Baiklah, ayok!" Setelah menyerahkan tanggungjawab kepada staf lain, Rania dan Kenan meninggalkan restoran. Keduanya menaiki motor, karena mobil Rania masih dipakai oleh Reza. *** Motor Kenan sudah terparkir di halaman rumah Rania. Mereka bergegas turun. Rania meminta Kenan untuk menunggu di ruang tamu, sedangkan dirinya mencari keberadaan Husna. "Eh, Bunda ada di sini rupanya," kata Rania saat melihat Husna sedang menata mangkuk di meja makan. Husna menoleh. "Akhirnya kamu pulang juga. Bawa calon mantu Bunda, kan?" Rania mengangguk. "Iya. Dia ada di ruang tamu." "Loh, ajak aja ke sini, Ran." "Kayaknya lebih baik Bunda yang nyambut." "Ah, iya, kamu benar!" Rania dan Husna berjalan berdampingan menuju ruang tamu. Namun, saat Husna hendak menapakkan kaki di ruang tamu, Rania menariknya. "Bunda, tunggu!" "Apa lagi, Ran?" "Tapi, Bunda jangan berharap kalau kami cepat-cepat menikah, ya? Intinya Bunda jangan singgung ke arah sana." Husna mengernyit. "Loh, kenapa memangnya?" Rania tampak ragu. "Emm ... itu, Bun, umurnya masih dua puluh empat tahun." "Apaa?!"Mendengar nama Ardi sontak saja membuat Kenan terduduk dengan rahang mengeras. "Dia bicara apa sama Bunda?" tanya Rania. "Dia bilang ... sudah melaporkan Vino ke kantor polisi."Vino menegang. Rania dan Kenan saling memandang. Rania menggenggam tangan Husna. "Iya, Bun. Kemarin Mas Ardi datang ke restoran." Rania menceritakan semua apa yang Ardi katakan. "A-aku akan masuk penjara? Iya?!" Vino kalut. Anak remaja itu menggelengkan kepala cepat. "Gak! Vino gak mau masuk penjara!""Dek, tenang dulu!" pinta Rania. Vino histeris. "Kenapa Mba gak balikan aja sama dia?! Vino gak mau masuk penjara, Mbak!""Vin, tenang dulu!" ucap Kenan pelan. Vino menatap tajam Kenan. Rahangnya mengetat, bahkan napasnya memburu. Sambil menunjuk Kenan ia berteriak, "Semua gara-gara elu! Kalo aja lu gak nikah sama Mbak, Mbak pasti balikan lagi sama Mas Ardi!"Rania menepis tangan Vino. "Yang sopan kamu, Dek!""Abangmu bela-belain pulang lagi dari Singapura buat bantuin Mbak, bantuin kamu beresin masalah i
Tepat jam satu malam, ponsel Kenan berbunyi. Kenan terusik. Ia bangkit dan melangkah pelan menuju nakas. Rupanya penggilan dari Lim. Kenan segera menerimanya. Namun, fokusnya terbelah menjadi dua, karena ia tidak menemukan Rania di tempat tidur. Setelah mengakhiri panggilan, Kenan ke luar kamar mencoba mencari keberadaan Rania. Tempat pertama yang ia datangi adalah kamar Vino. Nihil, Rania tidak ada di sana. Pencarian dilanjutkan ke ruang keluarga, sampai dapur. "Cari makanan?" tanya Husna. "Eh, Bunda." Kenan sedikit terkejut oleh kedatangan mertuanya. "Ken cari Rania, Bun. Bunda tahu kemana perginya?"Husna tersenyum melihat aura kepanikan dari raut wajah menantunya. "Rania tidak akan berani pergi malam-malam. Kalau pulang malam dari restoran, sering. Kamu jangan khawatir."Kenan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia merasa greget karena ibu mertuanya terkesan berbelit-belit. "Jadi, Rania ke mana, Bun?"Lagi, Husna tersenyum. "Tempat favoritnya di balkon belakang
"Biar aku saja!" Kenan mengambil alih handuk dari tangan Rania, lalu beranjak pergi. Rania melongo. "Ken, maaf!" serunya. Rania terdiam. Seharusnya yang marah dirinya, tetapi kenapa Kenan? Pikirnya. Rania memilih membersihkan diri. Setelah dua puluh menit berlalu, Rania meninggalkan kamar memakai baju piyama dengan rambut yang ia gulung asal dan menjepitnya dengan jepitan rambut. Rania mencari sosok Husna juga Kenan. Nihil, mereka tidak ada di dapur maupun ruang keluarga. "Rupanya kalian di sini," ucap Rania saat masuk ke kamar Vino. Seketika ia terpaku dengan pemandangan di hadapannya, dimana kedua tangan Husna sibuk mengompres. Tangan kanan mengompres pipi Vino dan tangan kiri mengompres pipi menantu kesayangannya. "Salah satu biar aku saja," tawar Rania sambil mendekat. "Aku!" ucap Kenan dan Vino bersamaan. Husna turun dari ranjang dan memberikan kesempatan kepada Rania. Tidak di sangka, dua pria itu menarik lengan Rania sampai-sampai wanita itu terduduk di antara mereka.
Rania duduk bersandar sambil bersilang dada. Bibirnya melengkungkan senyum penuh arti. "Silakan saja lanjutkan kasus ini. Aku tidak takut! Mungkin Mas lupa, kalau Vino masih enam belas tahun."Sejenak Ardi terdiam, lalu tertawa. "Hahahaha ... maksudmu akan balik melaporkanku? Silakan. Kita bertemu di persidangan!"Ardi beranjak dari duduknya. "Sebelum Vino benar-benar masuk penjara dan kamu menyesal, Mas tetap berbaik hati padamu. Mas beri waktu dua kali dua puluh empat jam untuk berpikir."Ardi melenggang pergi. Rania mengembuskan napas kasar. "Pak Luky dengar semua?" Rania menatap pria itu. Luky mengangguk pelan. "Dengar, Bu.""Kalau begitu jangan katakan hal ini kepada Kenan.""O-oh, baik, Bu."Rania tidak bisa duduk tenang. Ardi sangat licik, jadi Rania harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Oleh karena itu, Rania menyerahkan restoran kepada Luky. Saat itu juga ia harus menemui Vino. Rania memacu mobilnya menuju rumahnya di Menteng. Tidak jauh. Hanya lima belas
Rania menunggu telepon dari nomor itu lagi sampai keesokan harinya. Namun nyatanya, nomor itu tak kunjung menghubunginya lagi. Di bengkel pun Rania sudah mengantongi informasi mengenai perkelahian Vino dan Ardi.Ting!Rania yang sedang duduk termangu di meja makan dikagetkan dengan suara notifikasi sebuah pesan. "Pagi-pagi jangan melamun. Habiskan sarapannya!" Pesan dari Kenan. Rania mengernyit. Dalam hati jadi bertanya-tanya, mengapa Kenan bisa tahu? Lantas mata Rania menyisir ke setiap sudut. Nampak olehnya CCTV di beberapa titik, sedangkan satu CCTV mengarah kepadanya. Rania tersenyum dan menjulurkan lidah ke arah CCTV itu, lalu kembali fokus pada ponselnya. "Banyak masalah di restoran, Ken."Dari pesan, berubah menjadi panggilan vidio. Rania menyandarkan ponselnya pada tempat tisu. Nampak olehnya Kenan masih di tempat tidur. Muka bantalnya sangat kentara. "Aku sudah tahu. Itu biarkan Luky yang tangani. Kamu jangan pikirkan.""Bagaimana aku tidak kepikiran, Ken. Tangihan teta
Rania terus membunyikan klakson karena macet tak kunjung terurai. Ia gelisah sekaligus khawatir saat diberitahu jika Vino masuk rumah sakit. Pikiran Rania benar-benar kacau. Belum lagi masalah di restoran yang menguras emosi. Bagaimana tidak? Barang yang datang tidak sesuai dengan surat jalan. Kualitas barang yang dikirim pun jauh dari kata bagus. "Ya ampun, tahu macet begini mending jalan kaki saja!" gerutu Rania. Setelah tiga puluh menit, akhirnya mobil menembus jalan Sudirman. Rania pun tiba di salah satu rumah sakit di sana. Setelah memastikan mobil terkunci, Rania berlari ke ruang instalasi gawat darurat. Betapa terkejutnya ia mendapati Vino dengan luka lebam di wajah dan sudut bibir dengan luka lecet. "Ya Allah, Dek, apa yang terjadi?" tanya Rania dengan cemas, bahkan tangannya bergetar saat menyentuh pipi Vino. Vino tidak menjawab. "Vino ... tadi berkelahi." Kanaya membantu menjawab. Kedua mata Rania membulat sempurna. "Kamu berkelahi? Di mana? Dengan siapa?"Lagi, Vino







