Compartir

Bertemu Husna 1

Autor: Suci Komala
last update Fecha de publicación: 2026-08-05 20:23:42

Saat Rania hendak duduk, seseorang menarik lengannya. Tanpa kata, orang itu langsung duduk dan melahap menu yang tersedia.

"Kurang ajar! Siapa yang menyuruhmu makan?!" Ardi melotot.

Kenan. Pemuda itu tersenyum sinis sambil tetap melahap.

"Ken!" Rania menepuk pelan pundak Kenan. Saat Kenan menoleh, Rania memberi isyarat agar Kenan pergi. Akan tetapi, Kenan tak memedulikannya.

"Aku meminta Rania yang menemaniku makan! Bukan kamu!" tegas Ardi.

Kesal karena merasa tidak dihargai, Ardi berdiri. "Mohon perhatiannya!" serunya.

Suara Ardi yang cukup melengking tentu saja berhasil mencuri perhatian semua pengunjung. Suasana yang tadinya ramai menjadi sunyi dan semua mata tertuju kepada mereka.

"Kita sebagai pelanggan restoran ini, tentu saja ingin mendapatkan pelayanan yang bagus, bukan?"

"Ya, tentu saja!" kata salah seorang pengunjung.

"Lihatlah, masa aku minta ditemani makan oleh pacar sekaligus pemilik restoran ini tidak bisa?!"

Rania tersentak kaget sambil mengepalkan tangan.

Kenan menyimpan sendok, lalu mengusap mulutnya dengan tisu, kemudian berdiri. "Tidak baik sudah beristri mengajak pacar orang makan!"

"Bukan urusanmu!"

"Rania kekasihku. Jadi jelas, ini menjadi urusanku!"

Prang!

Ardi melibas piring di atas meja hingga jatuh ke lantai.

Perbuatan Ardi tentu saja membuat sebagain pengunjung ketakutan, bahkan ada yang berdiri hendak pergi.

Rania kelimpungan. Ia meminta maaf kepada para pengunjung dan meminta mereka untuk melanjutkan makan.

Kenan menatap pecahan piring sambil tersenyum sarkas, lalu melirik seseorang tak jauh darinya.

"Anda akan menanggung malu karena ulah Anda sendiri."

"Oh, ya? Tidak akan ada yang bisa mempermalukanku di sini!"

"Aku cari ternyata Mas di sini?!" Mia datang sambil menggandeng putranya.

Semua orang tertuju ke arah suara.

Ardi berpaling muka.

"Ayolah, Mas ... tidak usah lagi kamu menggangu kehidupan Rania. Sekarang ada aku dan anak kita!" lanjut Mia.

"Huuuuh! Ngakunya belum punya istri, tuh, Mbak."

"Dasar hidung belang! Mimpi jadi pacar Bu Rania rupanya!"

"Nyadar diri oy!"

Kalimat demi kalimat terlontar dari mulut pengunjung lain. Tanpa kata, Ardi pun melenggang pergi. Akan tetapi, secepat kilat tangan Kenan menarik kerah Ardi.

"Kasir di sebelah sana!"

Ardi menatap Kenan sinis, lalu menepis tangan Kenan. Pria yang sedang dirundung malu sekaligus kesal itu pun menuju kasir.

*

Waktu terasa cepat berlalu. Jarum jam di restoran menunjuk pada angka delapan malam itu. Restoran nampak sepi. Rania yang sedang duduk termenung di salah satu kursi dibuat kaget saat cangkir putih ada di hadapannya.

"Katanya cokelat hangat bisa menenangkan."

Rania tersenyum samar. "Terima kasih."

Kedua tangan Rania menangkup cangkir, membiarkan telapak tangannya menyerap kehangatan sebelum ia menyeruput isi cangkir itu.

"Lagi, lagi ... saya berterimakasih sama kamu, Ken." Rania mematap Kenan.

"Untuk?"

Rania tak lekas menjawab. Ia menyeruput cokelat hangat terlebih dahulu. "Untuk tadi siang. Ulah Mas Ardi kali ini keterlaluan."

"Urusanmu jadi urusanku juga."

Rania membelalak mendengar itu, lalu tersenyum lebar. "Bahasamu itu, Ken!"

"Seorang pacar sudah seharusnya melindungi pacar sendiri."

Rania memutar bola mata malas. "Hanya di depan Bundaku, Ken, ingat!"

Ponsel Rania berbunyi pertanda sebuah pesan masuk. Rania lekas membacanya.

"Ya ampun!" Rania menepuk kening, "bagaimana ini?"

Kenan mengernyit.

"Ken, saatnya beraksi!" Rania mengguncang tangan Kenan.

"Bunda, Ken, Bunda ...." lanjutnya.

Melihat Rania yang panik, tak menampik membuat Kenan turut panik. "Ceritakan pelan-pelan. Ada apa?"

Setelah menarik dan membuang napas, Rania menjawab, "Bunda memintamu untuk datang ke rumah. Sekarang."

Kenan menaikkan kedua alisnya sambil menyembunyikan senyumnya. "Ayok!" ajaknya sambil berdiri.

Rania menarik tangan Kenan untuk duduk kembali. "Tunggu, Ken!"

Rania bicara panjang lebar mengatur skenario. Selain membahas waktu pertemuan, lamanya pacaran, wanita itu memberitahu makanan sampai warna favoritnya.

"Jangan lupa, kalau Bunda nanya apakah kita saling mencintai, maka jawab 'iya'. Oke?"

"Oke!"

"Baiklah, ayok!"

Setelah menyerahkan tanggungjawab kepada staf lain, Rania dan Kenan meninggalkan restoran.

Keduanya menaiki motor, karena mobil Rania masih dipakai oleh Reza.

***

Motor Kenan sudah terparkir di halaman rumah Rania. Mereka bergegas turun.

Rania meminta Kenan untuk menunggu di ruang tamu, sedangkan dirinya mencari keberadaan Husna.

"Eh, Bunda ada di sini rupanya," kata Rania saat melihat Husna sedang menata mangkuk di meja makan.

Husna menoleh. "Akhirnya kamu pulang juga. Bawa calon mantu Bunda, kan?"

Rania mengangguk. "Iya. Dia ada di ruang tamu."

"Loh, ajak aja ke sini, Ran."

"Kayaknya lebih baik Bunda yang nyambut."

"Ah, iya, kamu benar!"

Rania dan Husna berjalan berdampingan menuju ruang tamu. Namun, saat Husna hendak menapakkan kaki di ruang tamu, Rania menariknya.

"Bunda, tunggu!"

"Apa lagi, Ran?"

"Tapi, Bunda jangan berharap kalau kami cepat-cepat menikah, ya? Intinya Bunda jangan singgung ke arah sana."

Husna mengernyit. "Loh, kenapa memangnya?"

Rania tampak ragu. "Emm ... itu, Bun, umurnya masih dua puluh empat tahun."

"Apaa?!"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Berondong Kesayanganku   Pasangan Bucin

    Kenan memaksa Rania untuk memeriksakan diri ke rumah sakit, sedangkan Rania menolak keras. Wanita itu memilih untuk duduk beristirahat sejenak."Udah baikkan, kok, Ay. Mungkin tadi aku terlalu takut.""Bukan hanya takut, tapi kamu lari!" sergah dengan nada sedikit meninggi. "Iya, maaf, aku salah." Rania terisak. Kenan mengembuskan napas kasar, lalu memeluk Rania erat. Kecupan di kening pun ia berikan beberapa kali. "Maaf, Sayang, maaf. Aku tidak bermaksud memarahi. Maaf."Kenan melerai pelukan kemudian mengusap bulir bening yang menetes di pipi Rania. "Aku hanya khawatir sama kamu Sayang. Maaf."Rania kembali menghambur ke dalam pelukan Kenan. "Aku yang minta maaf. Aku sudah membuatmu khawatir, aku berlebihan dan aku cengeng."Kenan membalas pelukan itu sambil mengusap penggung Rania. "Kamu tidak salah. Aku yang salah sudah meninggalkanmu tadi, Sayang. Aku minta maaf."Rania mendongak tanpa melepaskan pelukannya. "Jangan jauh lagi dariku."Kenan mengecup kening Rania. "Iya, Sayang

  • Berondong Kesayanganku   Pria Misterius

    Kenan menelan ludah. "Kamu serius mau aku pakai baju warna itu?" tanyanya sambil menatap lekat. "Ya, tentu!"Kenan memejamkan mata sejenak. "Tentu saja tidak, Ay!" lanjut Rania. Spontan Kenan memeluk Rania. "Terima kasih, Sayang."Rania terkekeh-kekeh. "Aku tidak suka warna pink. Jadi, tidak mungkin juga aku minta kamu pake baju itu, Ay."Kenan tersenyum tipis. Seingat dirinya, orang hamil biasanya akan menyukai apa yang sebelumnya ia tidak sukai. Oleh karena itu, Kenan segera menuntun Rania menjauh dari tempat kaos warna pink itu berada. Keputusan Kenan sangat tepat. Karena Rania kepincut kemeja warna hitam yang menurutnya model itu Kenan belum punya. "Gimana, Ay? Cocok, kan?" "Iya, bagus!""Oke! Aku akan belikan untukmu.""Wah, jangan mau diporotin, Nak!" ujar seorang pria yang tak jauh dari mereka. Rania dan Kenan menoleh, kemudian saling memandang. Rania menatap pria itu. "Suka-suka saya, dong, Pak."Pria itu tersenyum sambil menghampiri. "Buka mata dan hatimu, Nak. Masa p

  • Berondong Kesayanganku   Kesabaran Kenan Diuji

    "Uhuk!"Kenan terbatuk, tersedak oleh sambal. "Ay, are you oke?" Rania terlihat panik. Ia memberikan sebotol air mineral dingin. Kenan mengangguk. "Aman!" katanya setelah minum. Pria itu sesekali menyeka keringat sambil terus melahap rujak. Tangan kanannya mengusap sudut mata yang berair. Bahkan mulutnya sedikit menganga dan sesekali mengeluarkan desisan. "Udah, Ay, jangan dipaksakan!"Kenan mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Rania diam. Ia sedang berusaha menghabiskan rujak itu agar Rania tidak kecewa. "Huuh!" Kenan mengembuskan napas kasar sambil menyeka keringat di bawah rahang. "Habis, Sayang."Rania tersenyum. "Makasih.""Harus aku makan lagi?" tanya Kenan seperti menantang. Meskipun mulut dan wajahnya tidak bisa berbohong kalau sebenarnya ia menyerah. "Tidak, ah! Sekarang aku mau es alpukat saja."Tanpa Kenan sadari ia berdiri sambil berkata, "Ah, setuju! Ayo kita cari!"Rania mengulum bibirnya menahan senyum. Sebenarnya ia kasihan kepada suaminya. Namun entah, rasa

  • Berondong Kesayanganku   Nurutin Ibu Hamil

    Rania tertawa tebahak-bahak melihat kebingungan Vino. "Enggak, Dek, Mbak bercanda. Mana bisa apel itu kembali utuh. Dukun manapun kayaknya gak bakal bisa."Vino menghela napas. "Kalau begitu aku pulang, ah. Untung sekarang hari minggu, jadi gak perlu ke bengkel.""Yee, kamu suka marah gitu, ah.""Bukan marah, tapi masih mau tidur, Mbak."Vino menyambar tas ranselnya di sofa. "Tunggu!" cegah Kenan. Pria itu beranjak menuju kamar. Setelah sekian menit, Kenan kembali keluar. "Nih!" Kenan memberikan beberapa lembar uang kepada Vino. "Terima kasih semalam sudah berjuang."Vino tersenyum tipis, lalu menyambar uang itu. "Sama-sama, Pak. Senang bekerja sama dengan Anda."Vino mencium uang itu, kemudian pergi. Kenan tersenyum kecil. Sementara Rania dan Husna hanya menggelengkan kepala. Sementara Maya tertawa. "Kelakuannya persis kayak kamu dulu, Ken," ungkap Maya. Kenan tersenyum samar. *Bakso sudah habis. Pun dengan nasi padang yang ternyata dilahap oleh Rania. Husna dan Maya juga

  • Berondong Kesayanganku   Vino Dibuat Pusing

    Tepat jam enam pagi, mobil Kenan sudah terparkir di basement. Keduanya tidak langsung turun. Sepasang mata mereka melihat buah rambutan muda yang ada di dashboard. Embusan napas kasar keluar dari mulut Kenan. Pria itu tidak percaya jika satu ikat rambutan yang ia pegang hanya tersisa dua biji saja, siasanya hanya ranting. Entah bagaimana ia berlari tadi sampai-sampai rambutan hilang saja ia tidak menyadarinya. "Ppfft!"Vino menahan tawa. Akan tetapi, akhirnya ... "Ahahahaha ...." Tawa itu akhirnya pecah. Tak hanya Vino, Kenan juga. Kedua pria itu merasa konyol. Tanpa mengalihkan pandangan, Kenan berkata, "Paling tidak, ada yang setia sama rantingnya, Vin."Vino mengangguk. "Hem!" gumamnya sambil menatap rambutan itu.Kenan menginstruksi agar mereka turun. Apa pun reaksi Rania, mereka sudah bersiap menghadapi. *Kenan dan Vino sudah memasuki penthouse. Kedua pria itu jalan berdampingan. Mereka mendapati keluarga berkumpul di meja makan, termasuk Rania. Wanita itu dengan lahap

  • Berondong Kesayanganku   Ngidam - Kenan dan Vino Jadi Korban

    Vino memutuskan untuk menginap. Malam itu tepat jam sebelas, Vino masih terjaga. Padahal, bantal dan selimut sudah melekat, sofa empuk pun menjadi penopang tubuhnya. Ruang keluarga yang adem tak membuat matanya mengantuk. Mata elangnya masih menatap layar televisi. Sementara di kamar, Rania terbangun. "Kenapa, Sayang? Mual lagi?" tanya Kenan. Rania mengangguk pelan. "Ayo, aku antar ke kamar mandi." Kenan siap menuntun. Rania menggeleng. "Aku coba menahannya, Ay.""Sayang, jangan dipaksakan nahan. Daripada kamu tersiksa, muntahkan saja."Rania tersenyum. Telapak tangan mulusnya mengusap pipi Kenan. "Masih aman, kok, Ay.""Kalau begitu tidur lagi." Kenan mencium kening Rania. "Gak ngantuk. Kamu saja yang tidur.""Aku bakal temenin kamu.""Oh, iya, Bunda sama Mami jadi nginap?"Kenan mengangguk. "Vino juga."Rania tersenyum. "Anak itu."Rania meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mengernyit saat melihat sebuah pesan dari Kenan yang belum dibacanya. "Ini vidio apa?""

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status