ログインRania diam terpaku dengan perhatian Kenan. Bagaimana tidak? Pria itu memintanya turun hanya untuk mengikat rambutnya saja. Entah, sedari tadi sesungguhnya hati menolak semua perlakuan manis darinya. Akan tetapi, entah mengapa bibirnya terasa kelu sekadar untuk berkata 'jangan'.
Motor sport Kenan sudah terparkir di area restoran. Rania turun, lalu membuka helm, bergegas masuk kemudian. Tiba di ruangannya, Rania disambut oleh Reza. "Pagi, Mbak," sindir Reza. Rania tersenyum malu. "Maaf, terlambat. Ada keperluan." "Terus karyawan barumu mana?" "Ekhem!" Kenan datang sambil berdeham memberi isyarat kepada Reza bahwa dirinya datang. Reza menatap Rania curiga. "Keperluan sama karyawan barumu?" Rania terlihat bingung. "Ah, itu ..., "Apa pun dan dengan siapapun, bukan urusan Anda," sambar Kenan. Reza tersenyum miring. "Rania dan aku sudah dekat bahkan akrab, jadi sudah menjadi urusanku untuk tau kemanapun dia pergi." Kenan tersenyum sarkas. "Oh, ya? Kalo begitu tanya saja Rania, dia suka diperlakukan seperti itu olehmu atau tidak?" Kebanyakan duduk di kursinya. Reza manatap Rania meminta jawaban. "E-emm ... begini Reza, benar apa kata Kenan, tidak semua urusan pribadi kamu harus tau." Jawaban Rania membuat Reza terdiam. "Kamu sendiri, kenapa ada di sini?" lanjut Rania, "pelanggan di luar banyak, loh. Chef seharusnya di dapur, kan?" Tanpa bicara Reza meninggalkan ruangan. Rania mengembuskan napas kasar sambil menyimpan tasnya di atas meja. "Kamu juga, Ken, diam saja! Jangan bikin emosi!" "Tingkahnya membuat orang naik pitam," kata Dareen. "Satu lagi, saya sudah bilang, kan, kalo status pacaran kita hanya di depan Bunda saja. Tidak usah kamu bersikap romantis dan peduli seperti tadi kepada saya. Kamu sudah melanggar syarat!" Kenan menatap Rania sambil tersenyum tipis. "Syarat itu tidak pernah saya setujui." "Apa tadi Mbak dengar saya berkata 'oke' atau 'setuju'?" lanjut Kenan sambil menaikkan sebelah alisnya. Rania terlihat mati kutu. "Ya, ya, ya .... Tapi, tolong hargai saya." "Kalau begitu Mbak juga harus hargai perlakuan saya kepada Mbak." "Kamu--" Rania tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia merasa percuma kalaupun bicara. Rania memilih keluar ruangan untuk melihat keadaan restoran. * Hari itu pengunjung restoran lebih ramai dari biasanya. Bahkan Rania dan Kenan turut membantu membawa nampan memberi jamuan kepada pelanggan. "Ken, tolong hubungi supplier, mulai besok semua kebutuhan menu best seller tambah dua kali lipat. Tapi sebelumnya tolong pastikan dulu freezer masih menampung atau tidak." "Kalo tidak cukup?" "Tolong order freezer secepatnya. Jumlah sesuaikan dengan kebutuhan saja. Oke?" Kenan mengacungkan jempolnya, kemudian pergi. Sementara Kenan mengecek, Rania menyambut para pelanggan yang baru saja datang. Sial, salah satu dari mereka ternyata Ardi. "Selamat datang di Restoran Wajan 88," sambut Rania ramah. Ardi celingukan, lalu duduk di kursi kosong yang ada di pojokan. Rania bernapas lega karena Ardi tidak berbuat ulah. Lanjut ia menyapa pelanggan lainnya. "Bu, maaf," kata Atun "untuk pelanggan meja nomor 20 hanya mau dilayani oleh Ibu." Rania menoleh sekilas ke meja yang di maksud. Ya, Ardi ... siapa lagi? Menghela napas dalam Rania lakukan sebelum menjawab. "Baik'lah." Rania mengambil buku pesanan dari tangan Atun. Rania sudah berdiri tepat di hadapan Ardi. Tanpa basa-basi ia bertanya dengan ramah. "Mau pesan apa?" "Dua porsi menu terbaik restoran ini!" "Baik." Rania mencatat. "Minumnya?" lanjut Rania. Ardi tersenyum miring menatap Rania. "Aduh, Rania ... Mas yakin kamu pasti masih ingat minuman kesukaan Mas." Rania membalas senyuman Ardi. "Maaf, Pak. Saya tidak tau." "Jangan pura-pura begitu. Kalau kamu tidak tau, berarti anggap saja kamu tidak tau kesalahan Mas dulu. Bukan begitu? Dan dengan demikian, kita bisa mengulang lagi kisah--" "Baik, menu yang Bapak pesan dua porsi menu terbaik restoran ini, air mineral, dan teh hangat," potong Rania cepat sebelum Ardi bicara lebih jauh, lalu pergi. Ardi tersenyum sarkas, menatap kepergian Rania. Rania memilih kembali ke ruangannya setelah list pesanan ia serahkan kepada karyawannya. "Mbak, setelah di cek ternyata freezer kita tidak mencukupi. Jadi saya sudah pesan dua. Katanya diantar nanti sore," tutur Kenan. "Ya." Hanya itu jawaban Rania. Kenan mengernyit, merasa aneh dengan sikap Rania. Tidak berselang lama, salah seorang karyawan masuk. "Maaf, Bu, meja nomor dua puluh muanya Ibu yang melayani." Rania memejamkan mata seiring dengan embusan napas yang keluar dari mulut. "Baiklah." Rania meninggalkan ruangan. * Rania berjalan sambil membawa nampan menuju meja nomor dua puluh. Dilihatnya Ardi tersenyum puas. "Silakan, ini pesanan Bapak." Rania menyimpan satu demi satu menu serta minuman di atas meja. "Selamat menikmati," lanjutnya, lalu pergi. "Tunggu!" Rania berbalik. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Ardi mengangguk. "Duduk dan temani Mas makan!" Rania mencoba tersenyum. "Maaf, Pak, tidak bisa." Rania hendak berbalik, tetapi ucapan Ardi membuatnya mengurungkan niat. "Duduk! Kalau tidak, Mas akan buat keributan di sini!"Saat Rania hendak duduk, seseorang menarik lengannya. Tanpa kata, orang itu langsung duduk dan melahap menu yang tersedia. "Kurang ajar! Siapa yang menyuruhmu makan?!" Ardi melotot. Kenan. Pemuda itu tersenyum sinis sambil tetap melahap. "Ken!" Rania menepuk pelan pundak Kenan. Saat Kenan menoleh, Rania memberi isyarat agar Kenan pergi. Akan tetapi, Kenan tak memedulikannya. "Aku meminta Rania yang menemaniku makan! Bukan kamu!" tegas Ardi.Kesal karena merasa tidak dihargai, Ardi berdiri. "Mohon perhatiannya!" serunya.Suara Ardi yang cukup melengking tentu saja berhasil mencuri perhatian semua pengunjung. Suasana yang tadinya ramai menjadi sunyi dan semua mata tertuju kepada mereka. "Kita sebagai pelanggan restoran ini, tentu saja ingin mendapatkan pelayanan yang bagus, bukan?""Ya, tentu saja!" kata salah seorang pengunjung. "Lihatlah, masa aku minta ditemani makan oleh pacar sekaligus pemilik restoran ini tidak bisa?!"Rania tersentak kaget sambil mengepalkan tangan. Kenan
Rania diam terpaku dengan perhatian Kenan. Bagaimana tidak? Pria itu memintanya turun hanya untuk mengikat rambutnya saja. Entah, sedari tadi sesungguhnya hati menolak semua perlakuan manis darinya. Akan tetapi, entah mengapa bibirnya terasa kelu sekadar untuk berkata 'jangan'. Motor sport Kenan sudah terparkir di area restoran. Rania turun, lalu membuka helm, bergegas masuk kemudian. Tiba di ruangannya, Rania disambut oleh Reza. "Pagi, Mbak," sindir Reza. Rania tersenyum malu. "Maaf, terlambat. Ada keperluan.""Terus karyawan barumu mana?""Ekhem!"Kenan datang sambil berdeham memberi isyarat kepada Reza bahwa dirinya datang. Reza menatap Rania curiga. "Keperluan sama karyawan barumu?"Rania terlihat bingung. "Ah, itu ...,"Apa pun dan dengan siapapun, bukan urusan Anda," sambar Kenan. Reza tersenyum miring. "Rania dan aku sudah dekat bahkan akrab, jadi sudah menjadi urusanku untuk tau kemanapun dia pergi."Kenan tersenyum sarkas. "Oh, ya? Kalo begitu tanya saja Rania, dia suka
Eh, Bu-Bunda .... A-ada apa, Bun?" Rania tergagap-gagap."Kamu ini kenapa, Ran? Kok, kaya tegang gitu." Husna menelisik. Rania mencoba tersenyum. "Itu, anu, Bun ... tadi aku telepon pacarku. Aku takut Bunda dengar. Kan, malu.""Bunda enggak dengar emangnya?" lanjut Rania hati-hati. Husna menggeleng. "Enggak. Justru Bunda susul kamu ke depan mau tanya, apa kamu gak bawa mobil? Karena Bunda tadi gak lihat kamu pegang kunci mobil."Rania pun menjelaskan tentang mobilnya itu. Husna pun menganggapinya dengan senyum dan tak sabar ingin bertemu dengan Reza lagi. "Tapi, sepertinya gak hari ini, Bun. Soalnya kasian, rumahnya jauh.""Tidak apa-apa. Kamu kabarain Bunda saja nanti. Biar Bunda siapin masakan yang enak."Rania mengangguk. "Iya, Bun."Husna kembali ke dalam untuk membujuk Vino yang sedang merajuk. Rania mengembuskan napas lega sambil mengusap dada. 'Untung Bunda gak denger. Kalo sampe denger, mati'lah aku,' batinnya. Rania segera menghubungi Reza agar langsung datang ke restora
Tepat jam sembilan malam, Restoran tutup. Rasa lelah yang meraja membuat Rania terduduk pasrah bersandar di kursi pelanggan. Matanya menyisir ke setiap sudut restoran. Ia tidak menyangka, Restoran peninggalan ayahnya yang sudah ada sejak lebih dari tiga puluh tahun masih berdiri kokoh. Semula, ada rasa khawatir dalam diri Rania jika restorannya ditinggal pelanggan, karena Restoran yang berada di kawasan Menteng Jakarta Pusat itu sempat tutup beberapa tahun. Nyatanya, restorannya kembali ramai. Ada pelanggan lama, banyak pula pelanggan baru."Mau menginap di sini?" tanya Dareen yang berhasil mengagetkan Rania. "Eh, Ken, kenapa belum pulang?""Baru selesai input data. Dan untuk surat mutasi, saya sudah simpan di atas meja, ya, Mbak.""Iya, Ken." Rania berdiri, "dan untuk besok, tolong pastikan lagi sama supplier barang yang tadi belum sempat kirim."Dareen mengangguk. "Iya.""Kalo misalnya tidak bisa kirim, terpaksa besok pagi saya ke supermarket dulu. Sana duluan pulang, sana nunggu
Pagi menjelang. Suasana di ruang makan pagi itu terasa berbeda. Dimana Rania terlihat tak bersemangat. Bagaimana tidak? Rania tidur menjelang dini hari. Ucapan Husna yang memintanya untuk segera menikah terus saja terngiang-ngiang. "Pagi, Mbak?!" sapa Vino --adik Rania. Rania menoleh sekilas. "Hemm, pagi, Dek.""Bunda mana?""Masih di dapur.""Mbak sakit?"Rania tersenyum samar. "Enggak. Kenapa emangnya?""Vino perhatiin wajah Mbak pucet."Rania menatap Vino. "Mbak sehat, kok. Oh, iya, gimana magangmu, lancar?""Lancar, dong.""Bosmu, baik'kan?""Baik banget. Semalem baru ketemu. Vino pikir bapak-bapak gendut dan sangar. Eh ... ternyata masih muda."Rania tersenyum. "Baguslah. Dan itu artinya kamu harus lebih rajin lagi.""Hemm .... Kalo aja bos Vino seusia Mbak, Vino bakal kenalin dia sama Mbak."Rania mencibir. "Dia anak orang kaya, Mbak. Katanya, sih, anak pemilik perusahaan makanan terbesar di indonesia. Tapi, sayang ... kayaknya dia masih kuliah, deh! Tapi, yang bikin para pe
Jarum jam sudah menunjuk angka tujuh malam itu. Suasana restoran berangsur sepi. Semua karyawan mulai berbenah dan Rania mengecek stok ketersediaan kebutuhan dapur. Rupa-rupanya stok sayuran habis, Rania pun meminta salah satu karyawannya untuk segera menutup restoran. Setelah Restoran rapi dan bersih, semua karyawan diperbolehkan pulang, kecuali Dareen. "Mbak memanggil saya?" tanya Dareen di ambang pintu ruangan Rania. Rania yang sedang berkutat dengan laptopnya menoleh. "Sini, Ken, masuk!"Dareen bergegas menghampiri. "Duduk!"Dareen menarik kursi, lalu duduk."Ada apa, ya, Mbak?" Rania menyodorkan amplop cokelat sambil berkata, "Kamu sudah kerja di sini tiga bulan dan kerjamu bagus."Dareen menyipitkan mata. "Apa ini?""Ambil saja. Anggap saja itu bonus dan ... karena tadi kamu sudah membantu saya."Dareen tersenyum tipis. Tangannya justru menggeser amplop itu tepat ke hadapan Rania. "Tidak usah.""Loh, kenapa?""Sebagai karyawan, kerja bagus itu memang satu keharusan. Dan unt







