MasukLangkah kaki suamiku terdengar berat ketika menggiringku masuk ke dalam sebuah kamar hotel. Pintu ditutup rapat, udara dinginnya AC langsung menyambut. Mataku membulat sempurna begitu melihat pemandangan di depannya. Seorang penghulu duduk dengan kitab di pangkuannya, dan di sampingnya ada seorang pemuda tampan, masih sangat muda nyaris seperti anak kuliahan. Akupun spontan mundur setapak.Pemuda itupun terkejut.
"Siapa dia?!” tanyaku. Suamiku menyeringai, wajahnya penuh kepuasan licik. “Duduk, Rin. Hari ini kamu akan membuat anak dengan dia.” Akupun menatap Mas Azzam tak percaya, lalu beralih ke arah pemuda itu yang tampak diam mematung. “Kamu gila, Mas?! Aku masih jadi istrimu, kenapa kamu suruh aku buat anak dengan orang lain?!” Azzam melangkah mendekat, nada suaranya dingin, penuh rencana. “Kamu nggak perlu pura-pura bodoh. Kamu tahu aku butuh anak untuk dapat warisan dari Kakek. Lidya nggak mau hamil, dia nggak mau merusak tubuhnya. Jadi… satu-satunya cara, kamu yang harus melahirkan anak itu!” Aku pun membeku, tubuhnya gemetar menahan amarah. Otakku masih berjalan lambat belum bisa mencerna sepenuhnya ucapan Mas Azzam. “Anak… untukmu? Lalu Aku? Posisi aku sebagai istrimu di anggap apa?! Dan Mas menyuruhku berhubungan dengan lelaki ini yang jelas bukan suamiku! Otak Mas sudah nggak waras!" protesku. Suamiku mendengus, menatapku dengan tatapan meremehkan. "Sudahlah, jangan sok suci. Aku tahu kamu sangat ingin di sentuh olehku. Sayangnya, aku tidak mencintaimu. Jadi, sebagai suami yang baik dan pengertian aku sewa pemuda tampan untuk memuaskan istriku tersayang," ucap Mas Azzam sedikit meremehkan. "Dan ingat, begitu anak itu lahir, kita bercerai. Aku bebas menikahi Lidya. Kau berikan anak itu untukku. Aku tidak akan mengusik kehidupanmu lagi," imbuh suamiku tersenyum puas. Akupun menatap pemuda muda itu, perfect. Sangat tampan, tubuhnya bagus dan gadis manapun pasti akan tergila-gila padanya. Tapi aku masih waras, mana mungkin aku tidur dengan pria lain sementara aku masih bersuami. Ini gila, dan Mas Azzam sudah menyeret ide gilanya bersamaku. Aku kembali menatap Mas Azzam dengan mata berkaca-kaca, namun suaranya tetap tegas. “Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat, Mas. Menjadikan aku alat, menjadikan bayi yang bahkan belum ada sebagai senjata. Ini… gila!” Mas Azzam meraih lenganku dengan kasar, mencengkeramnya erat. “Kamu nggak punya pilihan, Rin. Kalau kamu melawan, hidup keluargamu aku buat semakin hancur!” Aku berusaha melepaskan lengannya, tapi cengkeraman Mas Azzam terlalu kuat. Nafasnya memburu, jantungnya berdentum keras menahan marah dan takut sekaligus. Akupun beralih menatap tajam pada suamiku.“Dengar, aku tidak akan tidur dengan siapapun, Mas. Aku ini istrimu, bukan boneka yang bisa kamu atur-atur seenaknya!” Mas Azzam mendekat, suaranya rendah tapi beracun. “Kalau kamu berani melawan… jangan salahkan aku kalau keluarga kamu yang jadi korban. Kamu tahu kan, aku bisa bikin usaha Ayahmu bangkrut? Aku bisa bikin adik-adikmu susah cari kerja. Sekali aku gerakkan jari, mereka semua hancur!” Ia kembali menekanku. Nafasku tercekat, wajahku pucat. Ancaman itu menusuk tepat di titik lemahku. Mas Azzam tahu betul, keluargaku adalah segalanya. Aku pun gemetar, tapi tetap berusaha tegar .“Kenapa kamu begitu tega, Mas? Aku sudah berusaha jadi istri yang baik, tapi kamu balas dengan penghinaan seperti ini.” Mas Azzam menyeringai, semakin menekannya. “Karena kamu cuma alat, Rin. Kamu dipelihara hanya untuk satu tujuan yaitu melahirkan anak buatku. Setelah itu, kamu bebas. Mau pergi ke mana pun, terserah. Tapi ingat, kalau sekarang kamu menolak… keluargamu yang akan menanggung akibatnya," peringat Mas Azzam kembali. Pemuda muda terlihat gelisah. Bahkan ia tak menyangka suami Airin begitu tega. Awalnya, ia cuma butuh pekerjaan. Azzam menawarkan bayaran besar. Fikar nama pemuda itu. Ia tertarik karena ia butuh uang banyak untuk pengobatan ibu angkatnya. Aku kembali mengangkat wajahku menatap Mas Azzam lurus dengan air mata yang sudah menggenang. Kemudian air mataku menetes perlahan-lahan di pipi. Rasanya sesak sekali, suami sendiri memaksaku tidur dengan pria lain. Akhirnya aku pun menyerah, tak ada alasan bagiku menolak. Karena nasib keluargaku di pertaruhkan. Saat ini aku tidak punya kekuatan apapun. Aku tengah di posisi lemah. Mas Azzam yang memiliki kuasa. Uang dan segalanya. “Kalau aku menurut, itu bukan karena aku rela. Tapi karena aku tidak mau keluargaku jadi korban keserakahanmu. Ingat baik-baik, Mas… semua yang kamu lakukan hari ini akan berbalik menyakitimu suatu saat nanti.” Mas Azzam tidak mempedulikan perkataanku. Ia hanya memperhatikan istrinya mulai duduk di sofa berdampingan dengan pemuda itu. Azzam berdiri di samping, wajahnya puas. Ia seolah tengah menikmati setiap detik penderitaan istrinya. "Sekarang, nikmati hari kalian. Dan kamu Airin ... jangan coba-coba menentang keputusanku! Paham!" Kata itu menghantam dadaku seperti palu godam. Tubuhku gemetar, napasku tercekat. Aku pun menunduk, menyeka air mataku dengan punggung tangan, namun tangisku tak bisa sepenuhnya ku sembunyikan. Mas Azzam menepuk bahuku pelan, suaranya dingin. “Bagus. Sekarang jalani peranmu. Ingat, semua ini untuk kebaikan kita. Jangan coba macam-macam.” Aku menoleh sesaat, menatap Azzam dengan mata sembab tapi menyala oleh bara yang kusimpan dalam hati. “Kamu pikir aku lemah hanya karena aku diam? Kamu salah besar, Mas. Diamku hari ini… adalah awal dari luka yang akan berbalik melukai kamu," ucapku lirih namun tegas. Mas Azzam hanya mendengus, tak menganggap serius. Sementara aku menunduk lagi, air mataku masih jatuh tanpa bisa ditahan. Hatiku hancur berkeping-keping. "Alaah, tidak usah mendoakan yang jelek-jelek untukku. Kurang baik apa coba aku ini. Membiarkan istriku bercinta dengan pria lain. Bahkan aku memiliki selera bagus mencarikan selingkuhan yang tampan. Kamu harus berterima kasih padaku," ucap Mas Azzam menarik daguku lalu menghempaskannya. "Ingat, kamu hanya bertugas sampai kamu hamil. Setelah itu, kalian tak ada hubungan lagi. Paham!" ucap Mas Azzam beralih kepada pemuda di samping Airin. "Mengerti Pak," sahut pemuda itu patuh. "Bagus, ini kartu untuk belanja dan ini tiket jalan-jalan kalian. Selamat bersenang-senang." Mas Azzam menepuk bahu pemuda itu. Lalu dirinya keluar dan tertawa penuh kemenangan. Pintu tertutup. Sunyi. Aku dan pemuda muda itu terjebak dalam ruangan yang sama. Pemuda itu tampak canggung, duduk di tepi sofa, tak berani menatap Airin. Sementara Airin hanya menatap kosong ke lantai, pikirannya berkecamuk. Dalam hati ia berteriak. 'Mas Azzam, kamu pikir aku akan selamanya terperangkap di permainanmu? Tidak. Aku akan mencari jalan keluar, meski harus merangkak dengan luka. Suatu hari nanti, semua yang kamu lakukan ini akan kembali menghancurkanmu,' batin Airin. Suasana kamar hotel itu terasa sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas. Pemuda muda itu duduk di kursi, menunduk, tangannya meremas celana panjangnya sendiri. Airin masih di sisi ranjang, menatap kosong ke arah jendela yang tirainya tertutup rapat. Beberapa menit berlalu dalam diam. Akhirnya, pemuda itu memberanikan diri bicara. “Kak… saya minta maaf. Karena saya kakak jadi terpaksa melakukan sesuatu yang tidak kakak sukai. Maaf saya terpaksa menerima tawaran Pak Azzam," kata pemuda tersebut. Aku pun menoleh perlahan, mataku masih sembab tapi tatapanku tetap saja dingin. “Terpaksa?” Pemuda itu mengangguk cepat. "Awalnya, aku butuh uang untuk pengobatan keluargaku. Karena aku cuma anak kuliahan yang pekerjaan sampinganku tidak bisa menutup biaya operasi ibu angkatku. Terpaksa aku menerima tawaran Pak Azzam. Maafkan aku Kak," ucapnya polos. Aku menarik napas dalam, lalu menunduk, menahan air matanya yang hampir jatuh lagi. “Jadi kita sama. Sama-sama korban.” Pemuda itu menggigit bibir, rasa bersalah jelas tergambar di wajahnya. “Saya nggak akan macam-macam. Tenang aja. Saya… akan tetap jaga Kak Airin sebisa saya. Walaupun keadaan kita begini, saya janji nggak akan memaksa menyentuh Kakak kalau Kakak belum siap." Aku menatapnya lekat-lekat, mencoba membaca ketulusan di mata pemuda itu. Ada keraguan, ada juga rasa takut, tapi juga ada kejujuran di sana. Aku tidak tahu apa yang harus di lakukan sekarang. Semua terjadi begitu cepat. Dan ini semua gara-gara suaminya. Ia berjanji tidak akan pernah memaafkannya.Saat Airin pamit ke toilet dia tidak tahu letak toiletnya. Monika pura-pura baik mengantarkan Airin ke toilet. Namun begitu mereka berhenti tepat di depan pintu toilet, langkah Monika mendadak terhenti. Senyum di wajahnya memudar, digantikan sorot mata dingin yang tak lagi berusaha disembunyikan."Kamu pikir dengan punya anak dari Fikar kamu bisa jadi Nyonya di sini!" sindir Monika.Monika melangkah lebih dekat, suaranya direndahkan namun justru semakin menusuk.“Jangan bermimpi terlalu tinggi. Kamu cuma perempuan yang datang membawa masa lalu. Istana ini bukan tempatmu.”Airin menelan ludah. Ia menatap Monika dengan tajam. "Kupikir kau nenjadi istri Tuan Ghani itu tulus. Nyatanya yang kau ributkan hanya posisimu. Aku jadi sanksi apakah kamu mencintai Tuan Ghani atau tidak."Monika tidak menyangka Airin berani menjawabnya dengan perkataan yang pedas. Airin orang baru, tapi berani mengatainya.Amarah Monika bergejolak. Rahangnya mengeras, matanya menyipit penuh kebencian.“Berani sekal
"Kita mau kemana Ma?" tanya Varo yang sudah berpakaian rapi."Mama juga tidak tahu Sayang. Kata Papa ini kejutan," ucap Airin melirik suaminya di samping. Sementara sopir pribadinya fokus menyetir.Varo terpesona ketika mobilnya memasuki halaman yang luas dan taman indah.Matanya langsung disuguhi hamparan taman indah dengan pepohonan rindang dan bunga-bunga berwarna cerah yang tertata rapi. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya."Rumah ini seperti istana. Memangnya ini rumah siapa Pa?" tanya Varo.Fikar tersenyum tipis. "Rumah ini rumah kakeknya Varo. Dulu Papa besar di sini."Airin terkesiap mendengar pernyataan Fikar. Berarti Fikar sudah jadi anak orang kaya sejak dulu. Lalu kenapa dia memilih hidup di luar sebagai mahasiswa biasa waktu itu? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.Fikar menggenggam tangan Airin. Pelan tapi cukup membuyarkan lamunannya. "Bersiaplah, kita sudah sampai," ucap Fikar.Airin bingung, Fikar tidak mengatakan dari awal kalau ak
Kejadian yang menimpa Airin membuat Fikar gerah. Kalau di biarkan berlanjut terus-terusan Airin yang akan jadi korban gosip. Fikar tidak mau terkena musibah lagi."Umumkan semua divisi berkumpul di ruang utama!" perintah Fikar."Baik Pak."Tak lama kemudian, sebuah pengumuman mendadak tersebar ke seluruh divisi. Seluruh karyawan diminta berkumpul di aula utama. Suasana kantor yang biasanya sibuk berubah tegang dan penuh tanda tanya.Fikar berdiri di depan, wajahnya dingin dan berwibawa. Airin berdiri di sampingnya, sedikit menunduk, tangannya masih dibalut kompres dingin.“Saya minta perhatian semuanya,” ucap Fikar tegas, suaranya menggema di ruangan. “Hari ini saya perlu meluruskan satu hal penting.”Ia menoleh sekilas ke arah Airin, lalu kembali menatap para karyawan.“Airin bukan hanya karyawan di perusahaan ini. Dia adalah istri saya.”Ruangan langsung riuh. Bisik-bisik terdengar dari berbagai sudut. Wajah-wajah terkejut saling berpandangan, sebagian menoleh ke arah Airin dengan e
"Mas, pintunya belum di tutup, gimana kalau ada orang lewat?" ucap Airin merengsek turun dari pangkuan suaminya. “Tenang saja, Sayang. Ini masih jam istirahat. Lagipula siapa juga yang berani masuk tanpa mengetuk,” ujarnya santai. Airin menghela napas, tetap menarik tangannya hingga lepas. Ia merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut, wajahnya memerah. “Aku cuma nggak mau jadi bahan omongan orang kantor,” katanya lirih. Mereka tidak tahu kalau ada satu orang karyawan yang tadinya mau masuk, tidak jadi karena melihat adegan ciuman. "Tidak ku sangka Airin yang kelihatannya polos dan baik itu berani menggoda Pak Fikar," ucap Hilda geleng-geleng kepala dan berbalik pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa. Ia sudah membayangkan cerita apa yang akan beredar di kantor nantinya. Sekilas ia tersenyum licik. Sementara di dalam ruangan, Fikar berdiri dan menutup pintu rapat-rapat. Ia menatap Airin dengan sorot mata lembut. “Kamu terlalu memikirkan orang lain, Rin. Yang penti
"Bukan begitu ...," kata Airin segera merapatkan kimononya. Lalu dia melipat mukenanya dan menaruhnya di tempatnya. "Tapi aku sudah terlanjur tergoda," kata Fikar menarik Airin di atas pangkuannya. "Mas, jangan begini ... gimana kalau tiba-tiba ada Varo." Pipi Airin memerah, karena tangan Fikar tidak berhenti bergerilya. "Kalau ada Varo aku tinggal bilang lagi usaha buatin adek baru untuknya," jawab Fikar asal. "Ah, Mas ini," kata Airin malu-malu. Ia membiarkan Fikar mengambil jatah susu paginya. Untung saha Varo sudah di sapih. Kalau tidak mungkin bisa rebutan sama anaknya. "Mas ... udah belum. Geli ... tau. Aku mau ke dapur juga buat sarapan," kata Airin Airin sambil berusaha menepis tangan Fikar yang sedari tadi tak mau diam. Fikar terkekeh pelan. “Sebentar. Ini terakhir, sumpah. Rasanya jauh lebih nikmat kalau tiap pagi begini." "Iya, tapi kalau kalamaan keburu Varo bangun tidur, Mas," jawab Airin. Padahal sebenarnya seluruh tubuh Airin merinding merasakannya.
"Maaf Mas, waktu itu aku pikir bisa mempertahankan pernikahanku dengan Mas Azzam. Karena Mas Azzam berjanji menerimaku apa adanya. Dia juga menganggap bayi Varo adalah anaknya. Aku nggak tega ... dan akhirnya aku memilih diam. Tidak mengatakan yang sebenarnya padamu. Karena ku pikir kamu juga sudah punya kehidupan baru dengan wanita lain," terang Airin panjang lebar. Wajahnya tertunduk setelah mengatakannya."Kamu tidak tega dengan Azzam? Sementara kamu tega denganku Rin. Kamu tega memisahkanku dari putra kandungku sendiri. Kamu tidak tahu Rin ... aku hampir gila mencarimu!" Fikar meluapkan amarahnya pada Airin. Andai saja wanita di hadapannya ini waktu itu tegas memilih dirinya mingkin hubungannya dengan Azzam tidak akan berlarut-larut."Maafkan aku Mas ... aku tahu aku salah," mohon Airin. Perempuan cantik itu menangis terisak-isak. Tangis Airin menyadarkan Fikar bahwa semua kemarahan yang di luapkannya hari ini sia-sia. Toh sekarang Tuhan justru memgembalikan Varo lewat tangan Ai







