Share

2

Author: Rasyidfatir
last update Last Updated: 2025-09-18 18:30:46

Mataku sulit terpejam, bagaimana tidak suara dari sebelah kamar cukup mengusikku. Sesekali terdengar canda tawa mesra, pujian, dan suara ranjang berdecit, berulang-ulang, seirama dengan tawa dan desahan yang tak asing di telinganya. Aku cukup dewasa untuk menebak apa yang mereka lakukan di dalam sana.

Tubuhku menegang, dadaku serasa sesak sulit untuk bernafas. Aku seperti orang asing yang di rumahku sendiri. Membiarkan perbuatan menjijikan itu berlangsung di kamar utama kami. Ironis sekali, tapi aku tidak memiliki kuasa untuk mencegahnya.

Tak ada yang bisa aku lakukan di kamar ini selain menangisi kebodohanku dengan menutup telingaku dengan bantal, berharap bisa meredam semua, namun tetap saja suara itu menusuk masuk melukai hatiku.

Aku menyesal mengapa dulu setuju di jodohkan dengan Mas Azzam. Aku pikir dari waktu ke waktu diriku dapat meluluhkan hati Mas Azzam. Hingga pria itu dapat mencintaiku tulus. Namun sepertinya harapanku itu tidak akan pernah terwujud selama cinta pertama Mas Azzam selalu saja nempel ke sana kemari. Pernikahan tiga tahun itu tidak ada artinya. Aku sudah berusaha sebisa mungkin menjadi istri yang baik dan mandiri.

Meskipun Mas Azzam seorang pengusaha kaya raya, tidak serta merta membuatku silau harta. Aku tahu Mas Azzam tidak pernah mencintaiku. Maka dari itu aku harus mempersiapkan diri jika kelak Mas Azzam menceraikanku. Aku menjadi seorang dosen Bahasa Inggris di universitas terkemuka di kota. Aku tidak mau menghabiskan waktuku seharian di rumah. Karena Mas Azzam juga jarang pulang. Ia sering mampir ke apartemen kekasihnya dan jarang pulang tepat waktu.

Aku tidak pernah menuntut dan tetap menjalankan tugasku sebagai seorang istri di tengah kesibukanku sebagai dosen pengajar. Dan aku selalu memasak makanan kesukaan Mas Azzam, menyiapkan keperluannya mulai baju dan hal sekecil apapun. Kecuali ranjang, karena Mas Azzam tidak pernah menginginkannya. Dan aku tidak menuntut. Aku paham betul hati Mas Azzam sudah sepenuhnya milik Lydia.

Malam pun tiba, aku keluar dari kamar. Langkah kakiku ringan menuju ke dapur. Hendak memasak buat makan malam buat Mas Azzam. Meski Airin marah karena Mas Azzam berselingkuh di hadapanku. Aku tetap tidak bisa mengabaikan tugasku sebagai istri.

Dan sialnya, perempuan perusak rumah tangga itu ternyata belum pulang. Canda tawa mereka terdengar riang di ruang keluarga. Sesekali nada manja Lidya menusuk telingaku, namun aku tidak menoleh sedikit pun. Wajahku datar, mataku fokus pada sayatan pisau di papan talenan. Seolah suara itu hanya riak kecil di tengah lautan kesabaran.

Aku tahu diriku sedang dipermainkan, tapi bukan perempuan lemah yang akan menunjukkan luka pada orang yang menikamku. Semua sakit ku simpan rapat-rapat dalam dada. Yang tampak di luar hanya ketegaran seorang wanita yang mampu tersenyum meski hati berdarah.

Meja makan akhirnya tersaji lengkap. Aku meletakkan hidangan satu per satu dengan tenang, tanpa banyak bicara. Aroma masakan memenuhi ruangan, namun suasana tetap berat sebelah.

Mas Azzam duduk di samping Lidya, menaruh lauk di piringnya dengan penuh perhatian. “Sayang, coba ini. Enak banget pasti,” ucapnya sambil menyendokkan ayam ke piring Lidya.

Lidya tersenyum manja, menatap Azzam penuh kemenangan. “Makasih, Mas. Kamu baik banget sih.”

“Airin, kamu nggak marah kan? Soalnya Mas Azzam lebih peduli sama aku.”

Aku mengangkat wajahku, tersenyum tipis tanpa emosi.“Kenapa harus marah? Aku malas memperebutkan hal yang tidak penting."

Mas Azzam sempat tersinggung dengan ucapanku. Tapi ia tidak mau merusak suasana makan Lidya hari ini. Dalam hatinya dia akan membuat perhitungan padaku setelah ini.

Aku hanya menunduk sebentar, lalu mulai makan dengan tenang. Gerakan anggun, sendok dan garpu di tanganku tak bergetar sedikit pun. Seakan tak peduli dengan drama di hadapanku. Aku menikmati setiap suapan, meski tenggorokanku terasa tercekat oleh kenyataan pahit.

Sekilas, tatapanku menyinggung ke arah Mas Azzam dan Lidya. Namun bukannya cemburu atau marah, hanya ada rasa dingin yang tersimpan rapi.

Hening hanya diisi oleh suara sendok garpu. Aku terus makan, menjaga martabatku, sementara Mas Azzam sibuk meladeni Lidya.

Makan malam berlanjut dalam hening. Sesekali hanya terdengar suara sendok dan garpu beradu dengan piring. Azzam masih terlihat sesekali menoleh ke arahku, seolah mencari celah untuk melampiaskan kekesalannya. Sementara Lidya sibuk bersandiwara dengan senyum manisnya.

Aku menaruh sendok, menyeka bibir dengan tisu, lalu bangkit berdiri dengan anggun.

"Silahkan kalian teruskan adegan perselingkuhannya. Aku sudah selesai makan."

Tanpa menunggu tanggapan, aku merapikan piringku sendiri dan melangkah pergi menuju kamar. Langkahnya ringan, tegak, seolah tak terbebani sedikit pun oleh kehadiran pasangan itu.

Mas Azzam menatap punggungku yang menjauh, rahangnya mengeras.

'Sialan, mulutnya tajam sekali.'

Lidya menempelkan tangannya ke lengan Azzam, berusaha menenangkan.

"Biarin aja Sayang, lumayan kan dia ada di sini ada yang masak enak buat kita. Biarkan saja dia seperti itu."

Namun di dalam hati Mas Azzam justru tersulut. Semakin aku terlihat tenang dan tak tergoyahkan, semakin harga dirinya terasa ditantang.

Begitu pintu kamar tertutup, keheningan menyelimuti. Aku bersandar di balik pintu, napasku berat. Wajah tenang yang ku tunjukkan di meja makan tadi perlahan runtuh.

Aku berjalan ke arah ranjang, duduk di tepi dengan tubuh yang tiba-tiba terasa lelah. Tanganku menggenggam sprei erat-erat, mencoba menahan air mata yang sudah mendesak keluar.

Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Isak kecil akhirnya lolos juga, namun segera ia usap dengan cepat. Ia tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan. Tidak ada yang boleh melihat kelemahanku, bahkan diriku sendiri pun ku paksa untuk tetap kuat.

Aku berbaring miring, memeluk bantal erat-erat, menatap kosong ke arah dinding. Ia meratapi nasibnya yang sangat menderita.

Pagi pun tiba, tak seperti biasa hari minggu Azzam pagi-pagi ada di rumah. Tapi Airin tak peduli, ada tidaknya dia tak ada pengaruhnya. Airin keluar dari kamar dengan pakaian santai, menenteng cangkir kopi tanpa sedikit pun menoleh ke arah suaminya.

Azzam melirik Rin, nanti siang ikut aku, ya.”

Aku berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan datar.

"Ikut? Ke mana?”

Azzam bangkit, mendekatinya, suaranya datar tapi tegas. “Ada pesta temenku. Aku nggak mau datang sendirian. Aku sudah menyiapkan gaunnya."

"Harusnya kamu ajak Lidya saja. Lagi pula aku tidak tertarik acara begituan," balasku cuek.

Mas Azzam menahan amarah, suaranya merendah namun penuh ancaman.

“Airin, jangan bikin aku hilang kesabaran. Ini bukan sekadar pesta. Ada orang penting yang harus kamu temui di sana.

Airin menatapnya tajam, berusaha membaca gelagat. Ada sesuatu yang disembunyikan Azzam, tapi aku memilih diam. Aku tahu percuma berdebat dengan lelaki yang keras kepala.

“Baik. Tapi ingat, aku nggak suka dipermainkan. Kalau ternyata alasannya bukan seperti yang kamu bilang… kamu akan menyesal sudah menyeret aku ke sana.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   85

    "Maaf Mas, waktu itu aku pikir bisa mempertahankan pernikahanku dengan Mas Azzam. Karena Mas Azzam berjanji menerimaku apa adanya. Dia juga menganggap bayi Varo adalah anaknya. Aku nggak tega ... dan akhirnya aku memilih diam. Tidak mengatakan yang sebenarnya padamu. Karena ku pikir kamu juga sudah punya kehidupan baru dengan wanita lain," terang Airin panjang lebar. Wajahnya tertunduk setelah mengatakannya."Kamu tidak tega dengan Azzam? Sementara kamu tega denganku Rin. Kamu tega memisahkanku dari putra kandungku sendiri. Kamu tidak tahu Rin ... aku hampir gila mencarimu!" Fikar meluapkan amarahnya pada Airin. Andai saja wanita di hadapannya ini waktu itu tegas memilih dirinya mingkin hubungannya dengan Azzam tidak akan berlarut-larut."Maafkan aku Mas ... aku tahu aku salah," mohon Airin. Perempuan cantik itu menangis terisak-isak. Tangis Airin menyadarkan Fikar bahwa semua kemarahan yang di luapkannya hari ini sia-sia. Toh sekarang Tuhan justru memgembalikan Varo lewat tangan Ai

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   84

    "Papa dari luar sebentar tadi ada pesan dari kantor jadi Papa keluar untuk telepon," jawab Fikar.Tak tega rasanya berbohong pada bocah sekecil Varo. Bocah tampan yang ternyata adalah putra kandungnya sendiri. Fikar menghampiri Varo dan tiba-tiba memeluknya erat.Airin merasa sikap Fikar jadi lebih dekat dengan Varo setelah transfusi darah."Maafin Papa ya Nak, katena tidak melindungimu selama ini," ucap Fikar. Tak terasa air matanya turun membasahi pipinya.Airin melihat itu, untuk pertama kalinya Fikar meneteskan air mata. Mungkinkah? Tidak ... Airin berusaha menepis dugaannya.Tiga hari kemudian ... Varo sudah pulih seperti biasa. Namun belum di perbolehkan berangkat sekolah oleh Fikar. Ia ingin putranya sembuh total. Airin juga tidak ngantor dulu guna merawat Varo."Sayang, pingin makan apa lagi. Biar mama masakin," tawar Airin."Varo udah kenyang Ma. Sekarang Varo mau mainan di kamar," jawab Varo."Mama temani ya."Varo mengangguk pelan, kaki kecilnya melangkah ke dalam ruang ka

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   83

    Varo sudah sadar, tapi tubuhnya masih tampak lemas. Wajah kecil itu pucat, matanya terbuka setengah, seolah masih berjuang mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. Selang infus masih menempel di punggung tangannya. Airin berdiri di sisi ranjang, mengusap lembut rambut Varo sambil menahan haru.“Sayang… Mama di sini,” bisiknya.Varo menoleh pelan. Senyum tipis muncul di bibirnya.“Mama… Papa mana?”Airin refleks menoleh ke arah pintu. Di balik kaca, Fikar berdiri terdiam. Tatapannya dalam, sulit terbaca. Beberapa jam sebelumnya, saat proses transfusi berlangsung, ia sempat memanggil perawat ke sudut ruangan.“Kalau boleh… tolong ambil sedikit sampel darah anak itu. Saya ingin tes DNA,” ucapnya lirih.Perawat sempat ragu. “Tes DNA, Pak?”“Ya. Tolong jaga kerahasiaannya. Jangan sampai siapapun tahu… termasuk istriku."Kini, Fikar melangkah masuk. Senyumnya hangat, seperti biasa. Ia tidak ingin ada yang curiga.“Papa…” panggil Varo lirih.Fikar menggenggam tangan kecil itu.“Istirahat dulu

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   82

    “Maaf, Pak… golongan darah Bapak tidak cocok untuk Varo.” Azzam terdiam. “Maksudnya… tidak cocok bagaimana?” nada suaranya berubah. “Tidak bisa menjadi donor langsung, Pak.” Airin ikut diperiksa. Ia mencoba menenangkan diri, berusaha percaya semuanya akan baik-baik saja. Namun saat perawat kembali untuk kedua kalinya… “Maaf, Bu. Golongan darah Ibu juga tidak cocok.” Airin terpaku. Dunia seakan berhenti sesaat. Azzam menoleh… memandang Airin lama. Tatapan itu bukan sekadar kaget. Ada luka. Ada pertanyaan. “Tidak cocok…? Tapi… aku ayah kandungnya,” ucapnya pelan namun tegas. Airin membuka mulut, namun tak ada kata yang keluar. Perawat mencoba menenangkan, “Belum tentu berarti bukan keluarga kandung ya, Pak. Ini bisa dipengaruhi beberapa faktor medis. Tapi—” Azzam seperti tidak mendengar lagi. Pandangannya kosong. Rahangnya mengeras. Airin menunduk semakin dalam. Tangannya bergetar. Ia ingin menjelaskan tapi lidahnya kelu. Di saat suasana semakin kaku

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   81

    Seperti biasa Airin dan Fikar mengantar Varo di sekolah barunya. Sebelum berpamitan Varo sempat cipika cipiki dulu pada papa dan mamanya. Airin tersenyum bahagia sambil mengusap rambut anaknya.“Hati-hati ya, Nak. Jangan lari-lari di halaman sekolah. Dengar kata Bu Guru.”“Iya, Mama.”Lalu Varo beralih pada Fikar. Ia harus sedikit berjinjit untuk mencapai pipi papanya.Fikar menunduk sambil memejam sebentar, menikmati momen kecil yang selalu ia tunggu tiap pagi.“Papa jemput sore ya?” tanya Varo memastikan.“Tentu,” jawab Fikar pelan. “Kalau Papa terlambat sedikit, tunggu di dalam gerbang. Jangan keluar sendirian.”“Siap!” jawab Varo sambil memberi hormat kecil.Airin dan Fikar saling berpandangan senyum hangat merekah di wajah mereka. Ada rasa syukur yang tidak bisa diucapkan kata-kata. Kehadiran Varo membuat rumah mereka selalu terasa hidup.“Varo masuk dulu ya…” ujar anak itu sebelum akhirnya berlari kecil menuju kelasnya.Namun sebelum benar-benar jauh, ia kembali menoleh dan mel

  • Berondong Sewaan Pilihan Suamiku   80

    Rambut Airin basah, dan banyak bekaa tanda merah di area tubuhnya yang rak terlihat dari luar. Hari ini Fikar s7ngguh ganas, melampiaskan hasratnya menggebu-gebu. Sekarang dirinya berdiri di depan cermin membantu Airin mengeringkan rambutnya pakai hair dryer.Fikar memegang hair dryer, mengarahkan angin hangat ke rambut Airin. Gerakannya hati-hati, telaten, bahkan cenderung pelan seperti takut menyakiti. Wajahnya serius, namun matanya penuh kelembutan.“Biar aku lakukan sendiri, kamu ganti baju dulu," ucap Airin."Kenapa ... kamu takut aku menerkammu lagi," goda Fikar."Bu ... bukan begitu. Hanya saja apa kamu tidak lelah juga," balas Airin malu-malu.Sesekali jemari Fikar menyibakkan rambut Airin yang menutupi wajahnya. Sentuhannya ringan, penuh perhatian.“Apa aku perlu memijitmu? Aku tahu kamu pasti lelah melayaniku,” ucap Fikar sok bersalah.“Tidak usah. Yang ada nanti bukan Mas mijitin aku… tapi mijit yang lain-lain,” jawab Airin dengan pipi memerah.Fikar terkekeh pelan.“Kamu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status