LOGINMataku sulit terpejam, bagaimana tidak suara dari sebelah kamar cukup mengusikku. Sesekali terdengar canda tawa mesra, pujian, dan suara ranjang berdecit, berulang-ulang, seirama dengan tawa dan desahan yang tak asing di telinganya. Aku cukup dewasa untuk menebak apa yang mereka lakukan di dalam sana.
Tubuhku menegang, dadaku serasa sesak sulit untuk bernafas. Aku seperti orang asing yang di rumahku sendiri. Membiarkan perbuatan menjijikan itu berlangsung di kamar utama kami. Ironis sekali, tapi aku tidak memiliki kuasa untuk mencegahnya. Tak ada yang bisa aku lakukan di kamar ini selain menangisi kebodohanku dengan menutup telingaku dengan bantal, berharap bisa meredam semua, namun tetap saja suara itu menusuk masuk melukai hatiku. Aku menyesal mengapa dulu setuju di jodohkan dengan Mas Azzam. Aku pikir dari waktu ke waktu diriku dapat meluluhkan hati Mas Azzam. Hingga pria itu dapat mencintaiku tulus. Namun sepertinya harapanku itu tidak akan pernah terwujud selama cinta pertama Mas Azzam selalu saja nempel ke sana kemari. Pernikahan tiga tahun itu tidak ada artinya. Aku sudah berusaha sebisa mungkin menjadi istri yang baik dan mandiri. Meskipun Mas Azzam seorang pengusaha kaya raya, tidak serta merta membuatku silau harta. Aku tahu Mas Azzam tidak pernah mencintaiku. Maka dari itu aku harus mempersiapkan diri jika kelak Mas Azzam menceraikanku. Aku menjadi seorang dosen Bahasa Inggris di universitas terkemuka di kota. Aku tidak mau menghabiskan waktuku seharian di rumah. Karena Mas Azzam juga jarang pulang. Ia sering mampir ke apartemen kekasihnya dan jarang pulang tepat waktu. Aku tidak pernah menuntut dan tetap menjalankan tugasku sebagai seorang istri di tengah kesibukanku sebagai dosen pengajar. Dan aku selalu memasak makanan kesukaan Mas Azzam, menyiapkan keperluannya mulai baju dan hal sekecil apapun. Kecuali ranjang, karena Mas Azzam tidak pernah menginginkannya. Dan aku tidak menuntut. Aku paham betul hati Mas Azzam sudah sepenuhnya milik Lydia. Malam pun tiba, aku keluar dari kamar. Langkah kakiku ringan menuju ke dapur. Hendak memasak buat makan malam buat Mas Azzam. Meski Airin marah karena Mas Azzam berselingkuh di hadapanku. Aku tetap tidak bisa mengabaikan tugasku sebagai istri. Dan sialnya, perempuan perusak rumah tangga itu ternyata belum pulang. Canda tawa mereka terdengar riang di ruang keluarga. Sesekali nada manja Lidya menusuk telingaku, namun aku tidak menoleh sedikit pun. Wajahku datar, mataku fokus pada sayatan pisau di papan talenan. Seolah suara itu hanya riak kecil di tengah lautan kesabaran. Aku tahu diriku sedang dipermainkan, tapi bukan perempuan lemah yang akan menunjukkan luka pada orang yang menikamku. Semua sakit ku simpan rapat-rapat dalam dada. Yang tampak di luar hanya ketegaran seorang wanita yang mampu tersenyum meski hati berdarah. Meja makan akhirnya tersaji lengkap. Aku meletakkan hidangan satu per satu dengan tenang, tanpa banyak bicara. Aroma masakan memenuhi ruangan, namun suasana tetap berat sebelah. Mas Azzam duduk di samping Lidya, menaruh lauk di piringnya dengan penuh perhatian. “Sayang, coba ini. Enak banget pasti,” ucapnya sambil menyendokkan ayam ke piring Lidya. Lidya tersenyum manja, menatap Azzam penuh kemenangan. “Makasih, Mas. Kamu baik banget sih.” “Airin, kamu nggak marah kan? Soalnya Mas Azzam lebih peduli sama aku.” Aku mengangkat wajahku, tersenyum tipis tanpa emosi.“Kenapa harus marah? Aku malas memperebutkan hal yang tidak penting." Mas Azzam sempat tersinggung dengan ucapanku. Tapi ia tidak mau merusak suasana makan Lidya hari ini. Dalam hatinya dia akan membuat perhitungan padaku setelah ini. Aku hanya menunduk sebentar, lalu mulai makan dengan tenang. Gerakan anggun, sendok dan garpu di tanganku tak bergetar sedikit pun. Seakan tak peduli dengan drama di hadapanku. Aku menikmati setiap suapan, meski tenggorokanku terasa tercekat oleh kenyataan pahit. Sekilas, tatapanku menyinggung ke arah Mas Azzam dan Lidya. Namun bukannya cemburu atau marah, hanya ada rasa dingin yang tersimpan rapi. Hening hanya diisi oleh suara sendok garpu. Aku terus makan, menjaga martabatku, sementara Mas Azzam sibuk meladeni Lidya. Makan malam berlanjut dalam hening. Sesekali hanya terdengar suara sendok dan garpu beradu dengan piring. Azzam masih terlihat sesekali menoleh ke arahku, seolah mencari celah untuk melampiaskan kekesalannya. Sementara Lidya sibuk bersandiwara dengan senyum manisnya. Aku menaruh sendok, menyeka bibir dengan tisu, lalu bangkit berdiri dengan anggun. "Silahkan kalian teruskan adegan perselingkuhannya. Aku sudah selesai makan." Tanpa menunggu tanggapan, aku merapikan piringku sendiri dan melangkah pergi menuju kamar. Langkahnya ringan, tegak, seolah tak terbebani sedikit pun oleh kehadiran pasangan itu. Mas Azzam menatap punggungku yang menjauh, rahangnya mengeras. 'Sialan, mulutnya tajam sekali.' Lidya menempelkan tangannya ke lengan Azzam, berusaha menenangkan. "Biarin aja Sayang, lumayan kan dia ada di sini ada yang masak enak buat kita. Biarkan saja dia seperti itu." Namun di dalam hati Mas Azzam justru tersulut. Semakin aku terlihat tenang dan tak tergoyahkan, semakin harga dirinya terasa ditantang. Begitu pintu kamar tertutup, keheningan menyelimuti. Aku bersandar di balik pintu, napasku berat. Wajah tenang yang ku tunjukkan di meja makan tadi perlahan runtuh. Aku berjalan ke arah ranjang, duduk di tepi dengan tubuh yang tiba-tiba terasa lelah. Tanganku menggenggam sprei erat-erat, mencoba menahan air mata yang sudah mendesak keluar. Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Isak kecil akhirnya lolos juga, namun segera ia usap dengan cepat. Ia tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan. Tidak ada yang boleh melihat kelemahanku, bahkan diriku sendiri pun ku paksa untuk tetap kuat. Aku berbaring miring, memeluk bantal erat-erat, menatap kosong ke arah dinding. Ia meratapi nasibnya yang sangat menderita. Pagi pun tiba, tak seperti biasa hari minggu Azzam pagi-pagi ada di rumah. Tapi Airin tak peduli, ada tidaknya dia tak ada pengaruhnya. Airin keluar dari kamar dengan pakaian santai, menenteng cangkir kopi tanpa sedikit pun menoleh ke arah suaminya. Azzam melirik Rin, nanti siang ikut aku, ya.” Aku berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan datar. "Ikut? Ke mana?” Azzam bangkit, mendekatinya, suaranya datar tapi tegas. “Ada pesta temenku. Aku nggak mau datang sendirian. Aku sudah menyiapkan gaunnya." "Harusnya kamu ajak Lidya saja. Lagi pula aku tidak tertarik acara begituan," balasku cuek. Mas Azzam menahan amarah, suaranya merendah namun penuh ancaman. “Airin, jangan bikin aku hilang kesabaran. Ini bukan sekadar pesta. Ada orang penting yang harus kamu temui di sana. Airin menatapnya tajam, berusaha membaca gelagat. Ada sesuatu yang disembunyikan Azzam, tapi aku memilih diam. Aku tahu percuma berdebat dengan lelaki yang keras kepala. “Baik. Tapi ingat, aku nggak suka dipermainkan. Kalau ternyata alasannya bukan seperti yang kamu bilang… kamu akan menyesal sudah menyeret aku ke sana.”Rambut Airin basah, dan banyak bekaa tanda merah di area tubuhnya yang rak terlihat dari luar. Hari ini Fikar s7ngguh ganas, melampiaskan hasratnya menggebu-gebu. Sekarang dirinya berdiri di depan cermin membantu Airin mengeringkan rambutnya pakai hair dryer.Fikar memegang hair dryer, mengarahkan angin hangat ke rambut Airin. Gerakannya hati-hati, telaten, bahkan cenderung pelan seperti takut menyakiti. Wajahnya serius, namun matanya penuh kelembutan.“Biar aku lakukan sendiri, kamu ganti baju dulu," ucap Airin."Kenapa ... kamu takut aku menerkammu lagi," goda Fikar."Bu ... bukan begitu. Hanya saja apa kamu tidak lelah juga," balas Airin malu-malu.Sesekali jemari Fikar menyibakkan rambut Airin yang menutupi wajahnya. Sentuhannya ringan, penuh perhatian.“Apa aku perlu memijitmu? Aku tahu kamu pasti lelah melayaniku,” ucap Fikar sok bersalah.“Tidak usah. Yang ada nanti bukan Mas mijitin aku… tapi mijit yang lain-lain,” jawab Airin dengan pipi memerah.Fikar terkekeh pelan.“Kamu
Azzam berniat menghampiri Airin yang tengah memandangi Fikar tengah berpiday9 di podium. Rasanya dia tidak tenang kalau tidak dengar langsung dari Airin."Mas mau kemana?" tanya Lidya. Azzam tidak menjawab, langkahnya mantap menuju ke arah Airin."Rin ... aku tidak menyangka kamu meninggalkan aku karena gila harta," tuduh Azzam.Airin sempat kaget mendengar tuduhan Azzam. Namun dia tetap berusaha untuk tidak terpancing amarah."Mas ngomong apapun sekarang nggak ngaruh buat aku. Lagian sekarang aku sudah tidak ada urusannya dengan Mas," jawab Airin tegas.Azzam hendak melanjutkan kata-katanya. Tapi tiba-tiba pandangannya beralih pada seorang wanita cantik yang menyerahkan buket bunga segar pada Fikar."Kamu lihat kan, Rin. Fikar itu masih muda, tampan dan kaya raya. Kamu jangan berharap dia hanya milikmu seorang. Bisa jadi, dia juga seperti aku punya wanita lain di belakang layar," sindir Azzam.Airin menatap ke arah panggung. Wanita itu berpenampilan elegan, yang jelas dari kalangan a
Airin touch up lagi make upnya. Setelah melakukan percintaan kilat di ranjang. Fikar membantu Airin merapikan gaunnya."Makasih Sayang, maaf ya kamu harus capek menghadapi kenakalanku hari ini," kata Fikar. "Di leherku tidak ada bekas merahnya kan?" tanya Airin panik."Tidak ada, tapi di dadamu yang bagian dalam penuh tandaku. He ... he ... he," kekeh Fikar."Lain kali jangan pas pesta begini. Aku sedikit takut," ungkap Airin."Malahan menurutku seru Sayang. Dalam rasa panikmu kamu dapat kenikmatan dariku," goda Fikar. Usianya yang masih muda membuat Fikar menggebu-gebu dalam bercinta."Ya sudah kita turun, semua tamu sudah menunggu di bawah." Fikar mengulurkan lengannya. Dan Airin pun merangkul lengan kekar tersebut. Sebelum mereka membuka pintu, Fikar tiba-tiba memeluk perut Airin erat."Aku harap kamu tidak luluh dengan mantan suamimu. Aku tidak sanggup jika kehilanganmu sekali lagi," lirih Fikar. Airin tidak menyangka merasa begitu di cintai oleh Fikar. Ia menjawab perkataan Fik
"Kamu ... bisa-bisanya menggoda istriku," ucap Azzam."Bukan istrimu ... tepatnya mantan istri," balas Fikar. Tangan Azzam mengepal mendengar perkataan Fikar. Ia berusaha menahan diri, karena menyadari situasinya sedang di tempat umum."Rin, aku ingin bicara ..." kata Azzam menatap rindu pada mantan istrinya."Mas, semua sudah jelas. Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi," jawab Airin tegas."Kamu memilih berondong tengil ini. Dia tidak akan bisa menjamin hidupmu. Dia hanya memanfaatkanmu. Numpang hidup sama kamu!" Sinis Azzam.Airin hendak membuka mulut untuk membela Fikar. Namun Fikar memberi isyarat agar Airin membiarkan Azzam berbicara seenaknya."Kamu diam kan, Rin. Berarti benar dugaanku. Kalau bocah ini cuman numpang hidup sama kamu. Mendingan kamu balik sama aku, Rin," ucap Azzam penuh percaya diri. Malam ini penampilan Airin begitu memukau, Azzam tak ingin melepaskannya.Dalam hati Airin berteriak, semua yang di katakan Azzam tidak benar. Bukan Fikar yang numpang tapi dia la
Terlambat menyadari kesalahan yang paling fatal dalam hidupnya. Bercerai dari Airin bukan sepenuhnya jadi keinginannya. Ia merasa tertipu dengan cara Airin menceraikannya.Dan sekarang dinding rumahnya seakan dingin. Menyisakan kenangan tentangnya. Airin tidak pernah protes dan menerima semua sikapnya. Ia sibuk membesarkan Varo sampai-sampai tidak tahu perselingkuhan di belakangnya. Azzam merasa hidupnya paling sempurna. Punya istri yang sangat mencintainya. Dan di kantor maupun di perjalanan luar kota. Ada Lidya yang bersedia jadi teman ranjangnya.Kini hidupnya hampa tanpa Airin. Kalau dia duduk di sofa seperti ini. Biasanya Airin membuatkannya kopi panas. Lalu menawarkan makanan untuknya. Semua hal kecil yang di lakukan Airin memenuhi ingatan Azzam. Dia menyesal mengapa bermain api dengan Lidya. Azzam menatap layar ponselnya lama sekali. Nama Airin tercantum jelas di sana. Istrinya. Perempuan yang dulu selalu sigap datang ketika ia pulang kerja, meski wajahnya tampak lelah.Tanga
"Bu ... ceritanya panjang. Aku tidak bisa cerita hari ini. Tapi semua tidak seperti yang ibu duga. Aku melakukannya karena paksaan Mas Azzam," terang Airin."Rin ... ibu tidak tahu apa yang kamu maksudkan? Mana mungkin seorang suami memaksa istrinya selingkuh. Ini tidak mungkin Rin," kata ibunya."Pokoknya, Airin akan jelasin nanti Bu. Aku takut kalau ada mendengar. Nanti aku jelasin Bu. Pasti Airin jelasin ... tapi jangan sekarang. Aku belum siap," ucap Airin dengan bibir bergetar. Degup jantungnya berdetak lebih cepat.Terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Airin segera mengambil piring buah dari tangan ibunya."Biar aku bawain ya, Bu," jawab Airin gugup."Sayang, kamu ngapain di dapur. Kita mau balik loh sekarang," kata Fikar."Eh, iya Mas. Ini tadi bantuin ibu ambil buah," jawabku gugup.Dahi Fikar mengernyit heran. Ia tahu aa yang di sembunyikan di antara mereka berdua. Tapi entah itu apa. Ia tidak ingin terlalu memikirkan. Karena dia sudah keburu waktu."Nak, makan buah







