LOGINSambil mendorong troli berisi 3 koper besar, Giselle berusaha menyusul langkah Erick yang lebih dulu meninggalkannya bersama Hana. Ia sedikit kewalahan. Namun akhirnya, wanita itu bisa menjangkau kedua insan tersebut di lobi bandara.
Seorang pria paruh baya tiba untuk menjemput mereka. Namun saat hendak masuk ke dalam mobil, Erick menahan sang istri. "Kau cari taksi yang lain. Yang ini untukku dan Hana," ujar Erick. Giselle hendak melayangkan protes. Namun, pria itu sudah mengangkat tangan dan mengisyaratkannya untuk diam. "Kalau kau ingin uang dariku, kau harus bisa bekerja sama." Sial! Pada akhirnya, Giselle hanya pasrah ketika taksi meninggalkan dirinya beserta koper miliknya di sana. Saat menoleh ke belakang, secara kebetulan sebuah mobil lain berhenti. Tidak terlihat seperti taksi. Namun, Giselle yakin jika itu mobil angkutan seperti taksi pada umumnya. Dengan penuh percaya diri, Giselle ikut mendekat ketika sang sopir membuka bagasi mobil. Ia mendorong kopernya hingga menyentuh kaki sopir itu. "Eh?" Pria tersebut terkejut atas kedatangan sang wanita. "Tolong masukkan koperku, Pak," ucap Giselle dengan sopan. "Tap–" "Hei, Nona! Jangan menyerobot mobil orang!" tegur pria lain dari arah belakang. Giselle lantas menoleh. Ia terperanjat saat mengetahui jika pria itu adalah pria yang duduk bersebelahan dengannya selama di pesawat tadi. "Ya Tuhan! Apa ini taksimu?" "Taksi?" "Ah! Bagaimana jika kita menaiki taksi ini bersama? Aku yang akan membayar tarifnya untukmu juga. Sebagai tanda permintaan maaf dariku karena kejadian di pesawat tadi," kata Giselle dengan bersungguh-sungguh. Pria itu lantas melepaskan kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di hidung mancungnya. "Memangnya, kau mau ke mana?" "Hotel Grand Orchid." Pria itu melirik sang sopir sejenak, sebelum akhirnya mengenakan kacamatanya kembali. "Ya sudah. Kau boleh naik juga. Kebetulan, tujuan kita sama." *** Tiba di pelataran depan lobi hotel, Giselle bisa melihat banyak karyawan yang berdiri berbaris dengan karpet merah terbentang di sepanjang jalan menuju lobi. "Wah .... Hotel ini benar-benar berkelas. Mereka memiliki sistem penyambutan tamu yang baik," komentar wanita itu. Sementara, pria di sampingnya hanya melirik dalam diam. "Oh iya! Pak Sopir, berapa tarifnya? Biar aku yang membayarnya." Giselle mulai membuka dompetnya. Pria yang dipanggil sopir itu menoleh ke belakang dan menatap sejenak pria yang lebih muda darinya tersebut, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Giselle, "Seratus ribu, Nona." "Ini." Giselle menyerahkan selembar uang kepada sang sopir, lalu bersiap untuk turun. "Kau tidak turun?" tanyanya kepada pria di sampingnya itu. "Kau duluan." "Ya sudah." Giselle segera keluar dari mobil. Ia juga harus mengeluarkan sendiri kopernya dari bagasi, sebab sopir taksi itu tidak keluar membantunya. "Selamat datang– eh?" Para karyawan hotel tampak terkejut saat seorang wanita asing melangkah melewati karpet merah yang mereka bentangkan sebelumnya. Giselle tersenyum atas sambutan istimewa ini. Ia merasa seperti seorang putri kerajaan saat ini. "Kita salah orang, ya?" Bisik-bisik para pegawai hotel. Giselle tidak menggubrisnya. Ia memilih untuk memasuki lobi. Di sana, dirinya melihat Erick dan juga Hana yang sudah tiba terlebih dahulu. Wanita itu langsung menghampiri. "Ini kuncinya. Kamar 307 di lantai 9. Kamarmu ada di sana," kata Erick tanpa basa-basi sambil menyerahkan kartu akses kepada Giselle. Wanita itu pun bertanya, "Lalu, kamarmu–" "Untuk apa bertanya? Bukan urusanmu, 'kan? Jangan berpikir untuk menyusul kami di kamar kami!" potong Hana cepat. Giselle mendengus geli. "Kenapa kau berbicara seakan-akan kau dan Erick adalah pasangan yang sah?" "Kau!" Hana kembali tersulut emosi. Namun, Erick langsung berusaha menenangkan kekasihnya. "Sudahlah. Jangan menanggapi wanita ini," kata sang pria. "Lebih baik kita langsung ke kamar kita. Kamu pasti lelah, Honey." "Eumm ...." Hana langsung bergelayut menja di lengan kekar Erick. Sengaja untuk memanasi Giselle yang masih ada di sana. "Ayo, Honey. Kita bisa menghabiskan waktu berdua di kamar sampai malam nanti." "Erick!" panggil Giselle, ketika kedua insan itu hendak pergi meninggalkannya. Erick menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Jangan lupakan janjimu," peringat wanita itu. "Jam delapan malam, Giselle. Kau tunggu saja." Lalu, Erick pun segera melenggang pergi bersama Hana. *** Waktu rasanya berlalu dengan begitu lama. Padahal, hanya berselang 2 jam sejak mereka tiba di hotel untuk menuju pukul 8 malam. Giselle duduk di depan cermin meja rias. Menyapukan kuas make up dan memoles wajahnya tipis-tipis dengan peralatan make up yang ia bawa dari rumah. Sisa kemarin, saat dirinya didandani oleh para pelayan sebelum bertemu Tuan Warsana. Wanita itu tersenyum selesai berdandan. Memperhatikan wajahnya yang kini tampak berkali-kali lipat lebih cantik baginya. Ia juga sudah mengenakan sebuah gaun malam berwarna hitam yang sudah pasti akan membangkitkan gairah suaminya. Baju itu Giselle dapatkan dari Tuan Warsana. Bingkisan tersebut diterimanya pagi tadi saat perjalanan menuju bandara, dan baru sempat dibukanya tadi begitu tiba di kamar. Cklek! Pintu kamar terbuka. Giselle berdebar rasanya saat mengetahui orang yang ditunggunya sejak tadi tiba. Walau Erick masih bersikap dingin, tetapi dirinya yakin bila pria itu akan jatuh cinta padanya setelah malam ini. Saat menoleh, harapan Giselle pun pupus. Erick tampak memapah seorang pria yang terlihat mabuk dan sempoyongan. "Dia siapa, Erick?" tanya wanita itu. "Dia?" Erick menjatuhkan pria mabuk yang dibawanya itu ke atas ranjang, lalu membuang napas kasar sembari berkacak pinggang. "Dia pria yang akan membuatmu hamil." Bak disambar petir di siang bolong. Giselle merasa terperanjat mendengar ucapan suaminya. Apa pria itu ingin agar dirinya tidur dengan pria lain? "Erick! Apa kamu tidak salah? Kamu menjualku?" Wanita itu menatap nanar sang suami yang tampak menyeringai. "Aku tidak menjualmu. Dijual pun, kau tidak akan laku. Kau itu tidak ada harganya." Giselle meremas gaun malamnya di bagian samping sebagai upaya untuk meredam emosi yang bergejolak. Kali ini, dirinya benar-benar marah, kecewa, dan terluka sekaligus. Rasanya, ingin sekali ia membabi-buta saat ini. "Kalau memang kamu tidak mau menyentuhku, tidak perlu memintaku untuk tidur dengan pria lain!" sergah Giselle dengan suara yang sedikit bergemetar menahan tangis. "Lalu? Kau berharap apa? Inseminasi? Hah! Aku tidak sudi. Bahkan hanya untuk membuahkan spermaku dengan sel telurmu, aku tidak sudi!" tekan Erick dengan nada tajam. "Aku tidak ingin memiliki anak darimu. Jika bukan karena Kakek, aku pun tidak sudi menikah denganmu." Giselle menggigit bibir bawahnya yang bergemetar. Kini, air mata mulai menyeruak keluar dari kelopak matanya. Dinding pertahanannya runtuh. Seluruh tubuhnya bergemetar lantaran tangis. "Apa aku serendah itu di matamu?" "Ya. Kau sangat-sangat rendah di mataku." "Keluar!" usir Giselle yang sudah frustrasi dan mulai kehilangan kesabaran. "Aku akan keluar. Tapi, ingat kata-kataku. Waktu kita hanya 3 bulan di sini. Jika kau tidak hamil sampai batas waktu kita pulang ke rumah, kau akan habis di tanganku. Bukan hanya mengembalikanmu ke jalanan, tetapi aku akan menjualmu ke tempat persekusi, lalu menjadikanmu–" "Cukup!" sergah Giselle yang sudah tidak kuat lagi mendengar ucapan tak berperikemanusiaan dari suaminya sendiri. "Aku akan hamil, Erick. Aku janji padamu. Tapi, biarkan aku sendiri yang memilih dengan siapa aku akan melakukannya." Erick hanya mendengus sinis. "Terserah kau saja." "Dengan satu syarat," tambah Giselle. "Jika nanti aku hamil dan melahirkan anak itu, tolong ceraikan aku sesegera mungkin." "Hmph! Tentu saja, Giselle," kata Erick tanpa beban. "Tanpa kau minta pun, aku sudah berniat untuk menceraikanmu." Pria itu berbalik, kemudian keluar dari kamar sang wanita. Meninggalkan kesunyian yang kemudian diiringi isak tangis dari wanita tersebut. Tubuh Giselle merosot dan berjongkok memeluk lutut. Isakan kecil, kini berubah menjadi raungan memilukan.Gabriel dan Giselle berpisah di lobi, setelah mereka berdua memutuskan untuk kembali ke hotel dengan sebuah taksi.Hari sudah siang, bahkan menjelang sore. Meskipun Giselle yakin bahwa Erick belum pulang, tetapi dirinya harus cepat-cepat kembali, sebelum pria itu tiba.Di sepanjang langkahnya menuju kamar, wanita itu merasa gelisah memikirkan foto yang dikirim di ponselnya tadi saat bersama Gabriel. Ia mulai was-was. Dirinya yakin, seseorang yang tak dikenali mengikutinya dan Gabriel tadi. Tapi, siapa?"Tidak. Tidak." Giselle menggeleng atas pemikirannya sendiri. "Tidak mungkin Erick. Jika Erick melihatku, dia tidak akan memotretku diam-diam dan mengirimkan foto itu dengan nomor asing. Erick itu 'kan ....""Aku kenapa?"Wanita itu terperanjat bukan main saat mendengar sahutan seorang pria dari hadapannya. Tanpa sadar, rupanya ia sudah tiba di depan pintu kamar. Dan kini, terlihat suaminya tengah berdiri di ambang pintu yang terbuka itu."Erick? Kamu sudah pulang?" tanya Giselle basa-b
Pagi itu, Hana menelepon Erick dan merengek agar pria itu menemuinya di hotel tempatnya dipindahkan. Kata gadis itu, ia merasa kurang enak badan. Dan Erick .... Tentu saja pria itu langsung melesat pergi menemui sang kekasih gelap tanpa berpikir panjang. Sehingga ketika Tuan Warsana datang untuk mengajak sarapan bersama, Giselle terpaksa harus putar otak memikirkan alasan yang logis atas kepergian suaminya untuk disampaikan kepada pria tua tersebut. "Erick ini! Kakek mengirim kalian untuk berbulan madu, tapi dia justru sibuk menemui teman-temannya!" decak Tuan Warsana yang duduk tepat di hadapan Giselle di sebuah meja di restoran hotel. Wanita muda tadi tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Kakek. Biarkan Erick bertemu teman lamanya. Aku tidak keberatan. Lagi pula, aku juga tidak ingin suamiku merasa jenuh bila harus seharian terus-menerus berada di hotel untuk menemaniku." Bibir Tuan Warsana mencebik samar. "Seharusnya dia menjagamu!" Kata-kata itu hanya dibalas senyuman tipis oleh G
Baru saja hendak mengambil sebungkus pembalut di rak supermarket, Giselle langsung dikejutkan dengan sebuah tangan yang muncul dari belakang kepalanya. Mengambil sebungkus pembalut yang semula hendak ia ambil.Wanita itu terperanjat dan refleks berbalik. Sontak saja tubuhnya kini berhadapan dengan tubuh pria jangkung itu, dengan dirinya yang terhimpit oleh rak supermarket dengan tubuh tersebut."Jadi, ini yang membuatmu bersikap tidak biasa seharian ini?" tanya pria itu sambil bergantian menatap antara wajah Giselle dengan bungkusan produk kewanitaan di tangannya.Giselle melotot mendengar pertanyaan tersebut. Ia pun langsung merebut pembalut itu dari tangan sang pria. "Berikan padaku! Dasar tidak sopan?""Tidak sopan?" Gabriel melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan jika di sana cukup sepi. Kemudian, ia ulurkan tangan kanannya bertumpu pada baris rak di belakang kepala wanita itu. Tangan kirinya lekas terangkat meraih dagu sang wanita.Giselle langsung memalingkan wajah hingga
"Jangan gunakan hatimu saat bersamaku, Gabriel. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah bisa membalas perasaanmu."Hanya sebaris kalimat itu yang terus terngiang di kepala Gabriel. Berputar-putar tiada henti, bagaikan kaset yang rusak.Kalimat sederhana itu, nyatanya meninggalkan bekas luka yang menganga lebar di dada Gabriel. Ia tidak bisa percaya ini. Cintanya ditolak oleh Giselle.Baiklah. Mungkin, Gabriel memang salah karena kurangnya persiapan dalam usaha menyatakan cinta. Mungkin, waktunya kurang tepat. Dan mungkin juga, dirinya terlalu cepat memutuskan."Ck! Fuck!" umpat pria itu sambil menendang lantai lantaran frustrasi."Tuan?" Dave yang baru tiba itu cukup terkejut melihat tuannya tampak dalam kondisi emosi yang tidak stabil.Saat menyadari bahwa sang asisten masuk, Gabriel langsung menoleh. "Carikan aku sesuatu yang menyegarkan, Dave! Aku ingin minum.""Cola, Tuan?" tanya Dave spontan.Gabriel tercenung. "Apa maksudmu dengan cola?! Kau pikir aku kehausan?!"Dave lan
Giselle merasa gelisah sendiri memikirkan kejadian di lift tadi. Benaknya dipenuhi tanda tanya akan siapa sosok wanita yang dibawa oleh Gabriel tadi. Mungkinkah jika wanita paruh baya itu adalah pelanggan sang pria?"Huh! Semua pria sama saja," gerutu Giselle dengan wajah muram. Ia berkali-kali memeriksa ponselnya. Tetapi, pemberitahuan yang dinantinya sejak kemarin tak kunjung muncul.Ya. Pemberitahuan pesan atau panggilan dari Gabriel yang sejak kemarin ditunggu oleh Giselle. Memang siapa lagi?Wanita itu membuang napas kasar sambil meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia benar-benar suntuk. Perasaannya tak menentu memikirkan apa yang kira-kira Gabriel lakukan bersama wanita itu di kamar sang pria. Mungkinkah ...."Akh! Shh .... Kenapa aku memikirkan hal seperti itu?" gumam Giselle sambil menggelengkan kepala. Berusaha menghapus pikiran buruknya yang terasa menghantui."Apa?! Baiklah, aku segera ke sana!"Mendengar suara Erick yang seperti terkejut, Giselle pun refleks menoleh ke arah
"Tuan terlihat gelisah," celetuk seorang pria yang baru saja menuangkan wine ke dalam gelas milik pria lain yang ia panggil Tuan itu."Oh ya?" sahut sang tuan acuh tak acuh."Ada masalah, Tuan? Barangkali saya bisa bantu."Pria muda itu menoleh. Wajahnya terlihat lesu. "Kau punya kekasih, Dave?"Dave tertegun mendengar pertanyaan tuannya. Bertahun-tahun ia bekerja bersama sang tuan, baru kali ini tuannya itu menanyakan sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya. "Itu .... Apa Tuan Muda sedang memikirkan seorang gadis?""Hmm .... Istri orang, lebih tepatnya."Dave melotot terkejut mendengar pengakuan tuannya. "Tuan!"Gabriel. Pria 23 tahun itu tersenyum masam, sebelum akhirnya menenggak minuman di gelasnya hingga tandas."Aku akan pergi tidur," pamit pria muda itu, yang kemudian bergegas meninggalkan Dave di tempat tadi.***Keesokan paginya, Giselle melakukan sarapan bersama dengan Erick dan Tuan Warsana di restoran hotel. Mereka tampak berbincang hangat bak keluarga







