Home / Romansa / Bersemi di Musim Gugur / Emosi yang Meledak

Share

Emosi yang Meledak

Author: El Nurien
last update publish date: 2026-07-03 11:21:25

“Apa kau juga berpikir bahwa semua laki-laki di dunia ini sama-sama brengsek?” Pertanyaan tiba-tiba dari Gu Chen berhasil menarik Anqi keluar dari lorong waktu masa lalunya.

Anqi menoleh, menatap tajam pria di sampingnya. “Aku tidak ingin berkomentar soal itu. Tapi satu hal pasti yang kutahu, jauh di lubuk hatimu, kau juga sama seperti para pria pada umumnya, yang pada akhirnya juga menginginkan seorang anak laki-laki sebagai penerus. Dan sayangnya, aku tidak bisa memberikan hal itu padamu. Gu Chen, mari kita sudahi semua ini. Kita berpisah secara baik-baik saja.”

“Anqi, bahkan dalam dunia bisnis, pemutusan kontrak kerja secara sepihak saja harus menanggung konsekuensi hukum yang sangat berat. Apalagi ini  pernikahan, sebuah hubungan yang jauh lebih sakral,” protes Gu Chen dengan nada suara yang mulai meninggi, tersulut luapan emosi.

“Hubungan sakral? Heh.” Anqi menyunggingkan senyum sumbang penuh cibiran.

Gu Chen menghela napas panjang untuk meredakan emosinya. Sekali lagi ia merutuki diri sendiri di dalam hati, mengapa ia tidak bisa menahan diri? Anqi bukanlah tipe perempuan lemah yang bisa dihadapi dengan cara membentak atau menaikkan amarah.

Tiba-tiba, ponselnya yang berada di dalam saku mantelnya bergetar hebat. Ia lantas mengeluarkan benda pipih tersebut dan melirik sekilas ke arah layar.

Gu Chen meminta izin dengan gestur tangan isyarat kepada Anqi, lalu  menjauh  sambil merendahkan volume suaranya. Sesaat, rasa penasaran melintas di benak Anqi,  siapa penelpon itu sampai Gu Chen berbicara sepenting dan selembut itu?

Namun Anqi segera menggelengkan kepalanya cepat-cepat untuk mengusir pikiran itu, lalu meneguk sisa kopi di gelasnya yang kini sudah mendingin hingga tandas. Sesaat kemudian, ia meraba dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang, efek dari kafein dosis tinggi yang masuk secara instan ke dalam tubuhnya.

Di saat yang bersamaan, tangan yang lain merogoh isi tasnya begitu mendengar suara notifikasi pesan masuk. Ia membuka pesan tersebut dan mengklik tautan video yang dilampirkan di dalamnya, sebuah kiriman rekaman amatir yang memperlihatkan sebuah tempat keramaian.

Visual yang berputar di layar ponsel itu seketika membuat emosi Anqi meledak, mendekap erat seluruh rongga dadanya. Tanpa pikir panjang, ia bangkit berdiri dan melangkah terburu-buru meninggalkan taman,  mengabaikan efek stimulasi kafein pada sistem sarafnya yang masih mengalir kuat.

Tak berselang lama, Gu Chen kembali ke bangku taman tersebut, namun ia sudah tidak mendapati bayangan Anqi di sana. Pria itu langsung membuka kembali ponselnya dan melakukan panggilan keluar.

Sekali, dua kali, panggilan teleponnya sama sekali tidak dijawab. “Anqi, sebenarnya kau pergi ke mana, hah?” omelnya tertahan dengan rahang yang mengeras penuh kecemasan.

Gu Chen lantas beralih melakukan panggilan cepat ke nomor lain yang berbeda.

“Apa kau melihat  Nyonya?” tanyanya cepat.

“Tuan, Nyonya baru saja terlihat menaiki sebuah taksi. Dan sepertinya sedang tidak baik-baik saja.”

“Cepat kejar dan ikuti ke mana taksi itu pergi!” titah Gu Chen. Ia langsung menutup sambungan telepon, memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel, lalu berlari menyusul keluar area rumah sakit.

Ia segera mencegat taksi pertama yang melintas, sambil terus menjaga sambungan komunikasi jarak jauh dengan sang asisten, Bai Hao.

***

Tidak butuh waktu lama bagi taksi yang ditumpangi Anqi untuk membawanya tiba di sebuah kelab malam mewah yang bising. Begitu turun, ia melangkah cepat menerobos kerumunan. Beberapa kali ia berpapasan dengan pria-pria hidung belang yang mencoba menggodanya. Meskipun ini bukan kali pertama ia mendapatkan perlakuan kurang ajar semacam itu di tempat umum, tetap saja rasa jijik dan mual langsung bergolak hebat di perutnya.

Ia terus menyusuri lorong remang-remang hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu kamar VIP. Di sanalah ia mendapati kakak iparnya, Hao Tian, sedang duduk bersandar santai di sofa, diapit oleh beberapa perempuan berpakaian seksi. Di sudut sofa yang lain, tampak pula beberapa pria sebaya yang ditemani oleh banyak wanita penghibur.

Di atas meja kaca, berserakan botol-botol minuman keras, sebagian besar sudah kosong serta beberapa piring penganan ringan.

Gelak tawa arogan sang kakak ipar sukses membuat darah Anqi mendidih hingga ke ubun-ubun. Bayangan wajah kakaknya yang terbaring lemah dengan wajah lebam di rumah sakit kembali berkelebat jelas, kontras dengan pemandangan di hadapannya di mana si pelaku justru bersenang-senang tanpa sedikitpun rasa bersalah. Dengan langkah penuh amarah, ia mendorong daun pintu hingga terbuka lebar.

“Lin Anqi?” seru salah seorang pria asing di ruangan itu, membuat Hao Tian spontan menoleh ke arah pintu dan membelalakkan mata kaget.

Hao Tian yang melihat kehadiran adik iparnya sempat menunjukkan ekspresi terkejut sesaat. Namun, ekspresi itu dengan cepat berubah menjadi seringai meremehkan. Tidak ada secercah pun rasa bersalah, penyesalan, atau kecemasan tertangkap basah di wajah pria brengsek itu. Kepalan tangan Anqi semakin mengerat kuat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan.

“Wah, wah... adik ipar, kenapa malam-malam ke sini?” tanya Hao Tian sambil bangkit berdiri dari sofanya. Tatapan mata Anqi terus mengawasi gerak-gerik Hao Tian yang berjalan mendekatinya dengan gaya songong.

“Bukannya kau baru saja menikah? Ah, aku ingat, aku sempat dengar gosip kalau Gu Chen itu tidak suka perempuan. Jadi, rumor itu benar, ya? Sudahlah, tidak apa-apa. Sini, duduk bersama kakak, akan kakak ajari bagaimana caranya bersenang-senang.”

Prang...!

Seketika itu juga, suara pecahan kaca yang nyaring memecah kebisingan ruangan, menciptakan kepanikan massal. Para perempuan penghibur sontak menjerit histeris dan berlarian menjauh, sementara para pria di sana terpaku kaget di tempat duduk masing-masing.

Tidak ada yang menyangka, Anqi nekat menghantamkan sebotol minuman keras langsung ke kepala Hao Tian. Seketika itu pula, kepala sang kakak ipar terluka parah, mengeluarkan cairan merah pekat yang bercampur dengan sisa minuman beralkohol berwarna kekuningan.

Hao Tian meringis kesakitan sambil meraba kepalanya yang basah dan berdarah. Saat melihat warna merah di jemarinya, amarah buas pria itu langsung meledak seketika.

“Perempuan sialan, kau cari mati!” bentak Hao Tian murka sambil melayangkan tangannya yang terkepal keras ke arah wajah Anqi. 

Spontan, Anqi hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bersemi di Musim Gugur   Tatapan yang dirindukan

    ​“Nyonya... buang jauh-jauh semua obsesi gila itu. Berdamailah dengan takdir dan masa lalu. Nyonya sudah terlalu tua untuk meneruskan kebencian ini, jangan sampai Nyonya menghabiskan sisa hidup di masa tua dalam kesendirian yang membunuh. Rangkullah anak-anakmu... Semoga semuanya belum terlambat. Putri angkat Gu Chen baru saja berpulang ke pangkuan Tuhan, dan ini satu-satunya kesempatan emas bagi Nyonya untuk merengkuh kembali hati Nona Anqi.”**”​Lonceng kematian baru saja berhenti berdentang, namun duka di dalam dada Anqi masih menganga begitu lebar. Di tengah suasana rumah duka yang hening dan dipenuhi aroma dupa serta taburan bunga kamboja, Anqi sedikit terkejut saat melihat sosok yang paling tidak disangkanya melangkah masuk melewati pintu depan, ibunya, Nyonya Zou.​Seperti para pelayat lainnya, wanita paruh baya itu datang mengenakan setelan pakaian serba hitam, menampakkan ekspresi berduka. Namun, bagi Anqi yang paling mengenal wanita itu, ada garis-garis kelelahan dan kehan

  • Bersemi di Musim Gugur   Obsesi Membunuh

    ​“Iya, Sayang... Mama di sini. Mama ada di sini bersama Tang Tang,” racaunya di sela isak tangis yang begitu memilukan, jemarinya menggenggam erat tangan mungil itu seolah bisa menahan waktu agar tidak berjalan.​Tang Tang tersenyum tipis. Wajah pucat itu mencoba menampilkan seulas senyuman paling tulus, seolah ingin meyakinkan ibunya bahwa ia tidak merasakan sakit lagi.​“Jangan... jangan menangis, Ma... Wajah Mama jadi jelek kalau nangis terus...” ucap Tang Tang yang kini suaranya tak lebih dari sekadar bisikan angin.​Napasnya kian memburu dan pendek, naik-turun dengan ritme yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Ia kemudian mengalihkan tatapannya yang sayu pada Gu Chen yang berdiri terpaku di sisi lain ranjang, sekujur tubuhnya bergetar hebat. Tang Tang tak mampu lagi merangkai kata, hanya genangan air mata di sudut matanya yang mewakili seluruh rasa terima kasihnya.​Gu Chen langsung menjatuhkan lututnya ke lantai dengan lemas, ikut menggenggam tangan kecil Tang Tang yan

  • Bersemi di Musim Gugur   Waktu Pinjaman

    ​Anqi menatap suaminya dalam-dalam, lalu menarik napas panjang. “Satu hal lagi... Aku juga sudah mengajukan pengunduran diri dari perusahaan developer.”​Gu Chen sontak terperanjat kaget. Ia menatap istrinya dengan sorot tak percaya, mengingat bahwa pekerjaan itu batu loncatan awal dan kebanggaan terbesar dalam karir mandiri Anqi. “Kenapa...?”​“Kau tidak suka?” tanya Anqi balik.​“Bukan begitu. Bahkan jika kau ingin di rumah saja sepanjang waktu, aku tidak masalah. Aku masih sanggup memanjakan dan menafkahimu seumur hidup. Tapi... kau sudah bekerja keras mati-matian membangun karier itu sampai ke titik ini.”​“Kau benar. Dan sekarang, seluruh penghasilan dari situ juga ikut habis. Aku seperti terhempas kembali ke titik nol.”​Gu Chen meraih tangan Anqi, menggenggamnya erat dengan tatapan penuh empati.​“Tapi, jika perkebunan itu pada akhirnya benar-benar bisa pulih, aku tidak akan pernah menyesalinya. Lagipula... aku ingin membe

  • Bersemi di Musim Gugur   Tidak Ada yang Tersisa

    ​Anqi menyerahkan dua buah kunci logam ke atas meja kerja.​“Ming Yue, tolong bantu aku mengurus proses penjualan seluruh aset pribadiku. Apartemen lamaku, seluruh koleksi perhiasan berharga yang kumiliki, dan juga mobil yang biasa kupakai sekarang. Jual semuanya dalam waktu secepat mungkin, habiskan tanpa sisa.”​Ming Yue terkesiap kaget luar biasa, matanya membelalak tak percaya menatap kunci-kunci tersebut. “Apa?! Bos... Anda serius mau menjual semua aset pribadi itu? Anda benar-benar yakin dengan keputusan sebesar ini?”​Anqi mengangguk pasti tanpa keraguan. “Sebelum itu, tolong atur juga jadwal meeting secepatnya dengan pihak perwakilan distributor.”​“Baik, Bos...” sahut Ming Yue lemas, lalu bergegas keluar ruangan.​Selepas kepergian asistennya, Anqi terduduk lemas di kursi kerjanya. Sesaat, ia merenung, menghitung kembali seluruh hasil keringat dan kerja keras yang ia bangun selama bertahun-tahun. Yang paling menyesakkan

  • Bersemi di Musim Gugur   Bukan Barang

    ​Ia sempat bertanya-tanya dalam hati, kapan sebenarnya perubahan drastis pada rumah masa kecilnya itu mulai terjadi. Mengingat dulu sang nenek sangat menyukai wanita simpanan ayahnya, mungkin saja perombakan interior itu sudah dilakukan jauh sebelum sang nenek menghembuskan napas terakhir.​“Ada apa memanggilku ke sini?” tanya Anqi tanpa basa-basi, langsung menembak inti tujuan pertemuan itu. Bahkan di dalam hatinya, ia merasa tidak perlu lagi repot-repot memanggil pria renta di hadapannya dengan sebutan 'Papa'.​“Papa... sudah mendengar masalah yang menimpa perkebunanmu,” buka Tuan Lin dengan suara serak.​“Lalu?” desak Anqi dingin.​Tuan Lin menghela napas panjang, mencoba meredam egonya dan bersabar menghadapi sikap putri yang tidak bersopan santun. “Papa ingin menawarkan bantuan.”​“Seberapa banyak?” tanya Anqi tanpa senyum.​“Seberapa pun yang kamu mau. Jika tabungan perusahaan tidak mencukupi, Papa akan membantumu menjembat

  • Bersemi di Musim Gugur   Bertemu dengan Bapak

    ​“Bertiga...” batin Gu Chen berulang-ulang, sementara dadanya mendadak terasa begitu sesak oleh beban yang tak kasat mata.​Pikirannya langsung melompat pada hasil catatan medis terakhir dari dokter spesialis yang menangani Tang Tang. Vonis itu menyatakan bahwa kondisi organ dalam bocah tersebut sebenarnya sudah berada di ambang tahap akhir yang sangat buruk. Tidak ada yang tahu pasti, entah berapa lama lagi waktu pinjaman yang tersisa bagi Tang Tang untuk bisa bertahan di dunia ini.​Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Anqi jika wanita itu tahu kondisi asli Tang Tang di tengah situasi krisis yang sudah menghimpit hidupnya dari berbagai sisi.​Sementara itu, Anqi memejamkan matanya rapat-rapat. Bukan berarti hidupnya tanpa masalah, justru masalahnya tengah menumpuk gunung. Namun, berbaring di dalam pangkuan Gu Chen membuat beban emosional di dadanya terasa sedikit lebih ringan.​“Gu Chen...” panggilnya pelan.​“Hmm?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status