INICIAR SESIÓN“Apa kau juga berpikir bahwa semua laki-laki di dunia ini sama-sama brengsek?” Pertanyaan tiba-tiba dari Gu Chen berhasil menarik Anqi keluar dari lorong waktu masa lalunya.
Anqi menoleh, menatap tajam pria di sampingnya. “Aku tidak ingin berkomentar soal itu. Tapi satu hal pasti yang kutahu, jauh di lubuk hatimu, kau juga sama seperti para pria pada umumnya, yang pada akhirnya juga menginginkan seorang anak laki-laki sebagai penerus. Dan sayangnya, aku tidak bisa memberikan hal itu padamu. Gu Chen, mari kita sudahi semua ini. Kita berpisah secara baik-baik saja.” “Anqi, bahkan dalam dunia bisnis, pemutusan kontrak kerja secara sepihak saja harus menanggung konsekuensi hukum yang sangat berat. Apalagi ini pernikahan, sebuah hubungan yang jauh lebih sakral,” protes Gu Chen dengan nada suara yang mulai meninggi, tersulut luapan emosi. “Hubungan sakral? Heh.” Anqi menyunggingkan senyum sumbang penuh cibiran. Gu Chen menghela napas panjang untuk meredakan emosinya. Sekali lagi ia merutuki diri sendiri di dalam hati, mengapa ia tidak bisa menahan diri? Anqi bukanlah tipe perempuan lemah yang bisa dihadapi dengan cara membentak atau menaikkan amarah. Tiba-tiba, ponselnya yang berada di dalam saku mantelnya bergetar hebat. Ia lantas mengeluarkan benda pipih tersebut dan melirik sekilas ke arah layar. Gu Chen meminta izin dengan gestur tangan isyarat kepada Anqi, lalu menjauh sambil merendahkan volume suaranya. Sesaat, rasa penasaran melintas di benak Anqi, siapa penelpon itu sampai Gu Chen berbicara sepenting dan selembut itu? Namun Anqi segera menggelengkan kepalanya cepat-cepat untuk mengusir pikiran itu, lalu meneguk sisa kopi di gelasnya yang kini sudah mendingin hingga tandas. Sesaat kemudian, ia meraba dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang, efek dari kafein dosis tinggi yang masuk secara instan ke dalam tubuhnya. Di saat yang bersamaan, tangan yang lain merogoh isi tasnya begitu mendengar suara notifikasi pesan masuk. Ia membuka pesan tersebut dan mengklik tautan video yang dilampirkan di dalamnya, sebuah kiriman rekaman amatir yang memperlihatkan sebuah tempat keramaian. Visual yang berputar di layar ponsel itu seketika membuat emosi Anqi meledak, mendekap erat seluruh rongga dadanya. Tanpa pikir panjang, ia bangkit berdiri dan melangkah terburu-buru meninggalkan taman, mengabaikan efek stimulasi kafein pada sistem sarafnya yang masih mengalir kuat. Tak berselang lama, Gu Chen kembali ke bangku taman tersebut, namun ia sudah tidak mendapati bayangan Anqi di sana. Pria itu langsung membuka kembali ponselnya dan melakukan panggilan keluar. Sekali, dua kali, panggilan teleponnya sama sekali tidak dijawab. “Anqi, sebenarnya kau pergi ke mana, hah?” omelnya tertahan dengan rahang yang mengeras penuh kecemasan. Gu Chen lantas beralih melakukan panggilan cepat ke nomor lain yang berbeda. “Apa kau melihat Nyonya?” tanyanya cepat. “Tuan, Nyonya baru saja terlihat menaiki sebuah taksi. Dan sepertinya sedang tidak baik-baik saja.” “Cepat kejar dan ikuti ke mana taksi itu pergi!” titah Gu Chen. Ia langsung menutup sambungan telepon, memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel, lalu berlari menyusul keluar area rumah sakit. Ia segera mencegat taksi pertama yang melintas, sambil terus menjaga sambungan komunikasi jarak jauh dengan sang asisten, Bai Hao. *** Tidak butuh waktu lama bagi taksi yang ditumpangi Anqi untuk membawanya tiba di sebuah kelab malam mewah yang bising. Begitu turun, ia melangkah cepat menerobos kerumunan. Beberapa kali ia berpapasan dengan pria-pria hidung belang yang mencoba menggodanya. Meskipun ini bukan kali pertama ia mendapatkan perlakuan kurang ajar semacam itu di tempat umum, tetap saja rasa jijik dan mual langsung bergolak hebat di perutnya. Ia terus menyusuri lorong remang-remang hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu kamar VIP. Di sanalah ia mendapati kakak iparnya, Hao Tian, sedang duduk bersandar santai di sofa, diapit oleh beberapa perempuan berpakaian seksi. Di sudut sofa yang lain, tampak pula beberapa pria sebaya yang ditemani oleh banyak wanita penghibur. Di atas meja kaca, berserakan botol-botol minuman keras, sebagian besar sudah kosong serta beberapa piring penganan ringan. Gelak tawa arogan sang kakak ipar sukses membuat darah Anqi mendidih hingga ke ubun-ubun. Bayangan wajah kakaknya yang terbaring lemah dengan wajah lebam di rumah sakit kembali berkelebat jelas, kontras dengan pemandangan di hadapannya di mana si pelaku justru bersenang-senang tanpa sedikitpun rasa bersalah. Dengan langkah penuh amarah, ia mendorong daun pintu hingga terbuka lebar. “Lin Anqi?” seru salah seorang pria asing di ruangan itu, membuat Hao Tian spontan menoleh ke arah pintu dan membelalakkan mata kaget. Hao Tian yang melihat kehadiran adik iparnya sempat menunjukkan ekspresi terkejut sesaat. Namun, ekspresi itu dengan cepat berubah menjadi seringai meremehkan. Tidak ada secercah pun rasa bersalah, penyesalan, atau kecemasan tertangkap basah di wajah pria brengsek itu. Kepalan tangan Anqi semakin mengerat kuat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. “Wah, wah... adik ipar, kenapa malam-malam ke sini?” tanya Hao Tian sambil bangkit berdiri dari sofanya. Tatapan mata Anqi terus mengawasi gerak-gerik Hao Tian yang berjalan mendekatinya dengan gaya songong. “Bukannya kau baru saja menikah? Ah, aku ingat, aku sempat dengar gosip kalau Gu Chen itu tidak suka perempuan. Jadi, rumor itu benar, ya? Sudahlah, tidak apa-apa. Sini, duduk bersama kakak, akan kakak ajari bagaimana caranya bersenang-senang.” Prang...! Seketika itu juga, suara pecahan kaca yang nyaring memecah kebisingan ruangan, menciptakan kepanikan massal. Para perempuan penghibur sontak menjerit histeris dan berlarian menjauh, sementara para pria di sana terpaku kaget di tempat duduk masing-masing. Tidak ada yang menyangka, Anqi nekat menghantamkan sebotol minuman keras langsung ke kepala Hao Tian. Seketika itu pula, kepala sang kakak ipar terluka parah, mengeluarkan cairan merah pekat yang bercampur dengan sisa minuman beralkohol berwarna kekuningan. Hao Tian meringis kesakitan sambil meraba kepalanya yang basah dan berdarah. Saat melihat warna merah di jemarinya, amarah buas pria itu langsung meledak seketika. “Perempuan sialan, kau cari mati!” bentak Hao Tian murka sambil melayangkan tangannya yang terkepal keras ke arah wajah Anqi. Spontan, Anqi hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat.“Apa kau... juga sering melakukan hal seperti ini pada Tang Tang?” tanyanya pelan, memecah keheningan yang menyelimuti kamar tersebut.Gerakan tangan Gu Chen terhenti sesaat. Ia lantas mematikan hairdryer di tangannya. “Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” Gu Chen balik bertanya dengan sorot mata menyelidik.“Cuma penasaran saja,” jawab Anqi asal, berusaha menepis gugup.Gu Chen bergeser duduk di hadapannya, lalu menyentuh helaian rambut Anqi yang kini sudah kering. “Anqi, aku memang berusaha berbuat yang terbaik untukmu, untuk Ibu, juga untuk Tang Tang. Tapi jangan pernah bandingkan posisimu dengan mereka. Kalian semua orang-orang terpenting dalam hidupku, tetapi kalian tidak berada dalam satu tempat yang sama.”Anqi mengerutkan keningnya cukup tajam, bingung dengan arah pembicaraan pria itu.“Kalian masing-masing memiliki tempat khusus di hatiku. Hatiku bukan ruang yang dibagi tiga, melainkan memiliki porsi dan ruan
“Apakah sebaiknya kita bercerai saja?” batinnya mulai menimbang-nimbang keputusan itu dengan getir.Jika ia mengakhiri semuanya di sini, ia tidak perlu lagi pusing memikirkan rahasia kekayaan Gu Chen yang berlapis-lapis. Ia tidak perlu lagi menuntut sebuah transparansi dan kepercayaan yang mahal harganya. Dan yang paling penting, perasaannya tidak perlu lagi terombang-ambing di dalam ketidakpastian yang menyiksa ini.***Anqi tertidur lelap dalam posisi setengah duduk sambil memeluk Tang Tang di atas ranjang pasien ketika Gu Chen tiba-tiba mendorong pintu ruang rawat itu larut malam. Bibi Wang, yang sejak tadi berjaga di sofa, sontak terbangun dari tidur ayamnya dan langsung mengusap kedua matanya karena kaget.“Tuan Gu…” sapa Bibi Wang setengah berbisik.“Dari pagi tadi Nyonya tetap di sini, Bi?” tanya Gu Chen dengan suara pelan, berusaha agar tidak membangunkan kedua orang di atas ranjang.Bibi Wang mengangguk pelan. “Say
Tang Tang melepaskan pelukan itu, menatap sang ayah, lalu mengangguk mantap. “Tang Tang janji! Nanti Tang Tang akan berjuang supaya sembuh total... biar nanti Tang Tang juga bisa melihat adik bayi.”Seketika, gerakan Gu Chen dan Anqi membeku kaku di tempat. Keduanya saling berpandangan dengan mata terbelalak kaget.***“Katakanlah!” ucap Anqi lembut, setelah beberapa saat melihat Tang Tang menoleh ke arahnya dengan ragu-ragu di dalam mobil.“Aku mau cake. Boleh tidak, Ma?”“Boleh.”“Boleh kalau kita mampir sebentar ke toko kue Cahaya Pagi? Aku ingin membeli cake strawberry di sana,” pinta Tang Tang bersemangat.“Cahaya Pagi?” ulang Anqi.“Iya, yang letaknya dekat rumah sakit, di lantai dasar gedung hotel itu.”“Ah, iya! Mama baru ingat. Maaf ya, Mama sempat lupa,” ralat Anqi tersenyum tipis.Tang Tang hanya mengangguk patuh, kemudian kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela, men
“Anqi, kesuksesanku itu karena kamu. Aku mencintaimu lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Tidakkah ini bisa membuatmu terharu dan makin mencintaiku?”Sesaat, Anqi menatap kedua mata Gu Chen lekat-lekat. “Gu Chen, perjuanganmu pasti berat sekali, dan jujur... aku sangat terharu mendengarnya.”Ia dapat melihat binar terang yang langsung terpancar di kedua mata pria itu.“Mencintaiku itu memang hakmu, tapi….”Tiba-tiba, binar terang di mata Gu Chen memudar, bercampur dengan kilat kecemasan yang mendalam.“Aku tidak memiliki kewajiban untuk membalas cintamu.”Seketika, sepasang mata yang tadinya berbinar penuh harap itu berubah menjadi begitu sendu.“Sudah larut malam. Istirahatlah,” ucap Anqi sambil beranjak berdiri, menuju satu sisi ranjang.Gu Chen buru-buru meraih pergelangan tangannya. “Bagaimana bisa kau memberiku kalimat sekejam ini?”Anqi tertawa kecil hambar. “Kejam? Tuan Gu, Anda sudah s
“Anak laki-laki itu... kamu?” tanya Anqi dengan napas tertahan.Gu Chen mengangguk pelan. “Beberapa hari setelah kejadian itu, aku sempat melihatmu menang lomba menggambar antar-sekolah. Aku sempat melihatmu, tapi tiba-tiba kau hilang di tengah kerumunan. Aku mencarimu di tempat itu, tapi tidak ketemu. Dan setelah hari itu, aku juga tidak pernah lagi melihatmu.”Anqi menahan napasnya dalam-dalam. Ia merasa cerita itu sangat familier di ingatannya, tetapi di mana? Kepalanya tiba-tiba terasa sedikit pusing karena memorinya dipaksa berputar jauh ke masa lalu.“Gadis itu kamu, Anqi.”Anqi tersentak kaget. “Aku?” tanyanya sambil menunjuk diri sendiri tak percaya.Gu Chen mengangguk pasti. “Apa kau benar-benar melupakanku? Coba ingat-ingat lagi,” pintanya menatap lekat.Anqi menggeleng pelan. “Bukannya melupakan... hanya saja, aku memang bukan siapa-siapa waktu itu,” lirih Gu Chen dengan wajah sendu.“Bukan begitu maksudku,” elak Anqi cepat. “Tidak banyak hal yang kuingat dari ma
Ia menangis tersedu-sedu, tubuhnya bergetar hebat. Rasa sakit yang menghantam dadanya kali ini bukan lagi sekadar sisa luka masa lalu, melainkan rasa sakit yang luar biasa karena ia baru saja dipertemukan kembali dengan bagian dari dirinya yang selama ini hilang.Gu Chen sejak tadi berdiri senyap di balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia memilih untuk tidak masuk, sebab ia tahu persis, ini adalah perang batin yang harus diselesaikan sendiri oleh Anqi. Namun, ketika isak tangis itu berubah menjadi ratapan pilu yang menyayat hati, ia tidak sanggup lagi menahannya. Ia melangkah masuk, lalu mengusap rambut Anqi dengan jemari yang begitu berhati-hati, seolah takut jika ia menyentuhnya sedikit saja terlalu keras, pujaan hatinya itu akan hancur berkeping-keping.Wajah Anqi perlahan terangkat. Gu Chen lantas merengkuh kepala wanita itu ke dalam dekapannya.Namun anehnya, begitu berada di dalam rengkuhan itu, tangis Anqi justru mereda.“Menangislah sepuasmu. Malam ini, buanglah semua l







