Beranda / Romansa / Bersemi di Musim Gugur / Cinta Hanyalah Transaksi

Share

Cinta Hanyalah Transaksi

Penulis: El Nurien
last update Tanggal publikasi: 2026-07-03 11:06:41

“Tidak mungkin Ibu benar-benar tidak tahu bukan? Bahkan  sekecil apapun kesalahanku di perusahaan, Ibu pasti tahu segalanya. Tapi kenapa untuk masalah sebesar ini Ibu memilih diam? Kenapa Ibu membiarkan putrinya sendiri terus-menerus ditindas?” lirihnya.

Ia benar-benar tidak sanggup memikirkan kemungkinan lain yang lebih masuk akal. Mustahil ibunya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Lin Yun. Ia sangat tahu betapa ibunya sosok yang terobsesi tinggi pada kehormatan keluarga dan kekayaan. Namun, tetap saja sulit diterima oleh akal sehatnya mengapa sang ibu bisa memilih diam saat mengetahui putrinya disiksa, padahal ia sendiri pernah mengalami kepahitan serupa di masa lalu.

Tiba-tiba, sebuah gelas kertas berisi kopi hangat tersodor di hadapannya. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Terlihat sosok Gu Chen berdiri menatapnya teduh di tengah temaram lampu taman rumah sakit.

Beberapa detik lamanya ia tertegun. Sesaat, ia harus mengakui dalam hati bahwa rumor di luar sana benar adanya. Gu Chen memang pria yang sangat tampan. Tinggi badan yang ideal dambaan banyak wanita. Konon katanya pria tinggi akan membuat wanita yang berdiri di sisinya terlihat imut. 

Ia terkesiap kecil saat Gu Chen dengan lembut menarik sebelah tangannya dan meletakkan gelas kopi itu. 

“Kau belum pulang?” tanya Anqi heran. 

“Bagaimana bisa aku pulang dengan tenang di saat istriku punya masalah di sini?” jawab Gu Chen balik bertanya, lalu mengambil tempat duduk di samping Anqi.

Anqi mencebikkan bibirnya sambil meraih gelas kopi tersebut. Sesaat, ia mendadak menyesal karena sempat memuji ketampanan pria itu di dalam hati. Kalimat manis barusan terdengar klise, jenis kalimat omong kosong yang dulu sering ia dengar dari sang bapak.

Anqi melirik sekilas ke arah Gu Chen. Pria itu duduk di sebelahnya namun tampak sengaja memberikan ruang. Kening Anqi sedikit berkerut heran. Bukankah tadi di dalam mobil pria itu sempat-sempatnya menyandarkan kepala di bahunya? Kenapa sekarang malah memasang jarak seolah bukan suami istri? 

Namun, Anqi memilih untuk tidak ambil pusing. Ia kembali menunduk, menatap cairan hitam di dalam gelasnya. Kehangatan yang menjalar dari gelas itu perlahan memberikan rasa nyaman di telapak tangannya.

“Minumlah, mumpung masih hangat,” ucap Gu Chen lembut, lalu ikut menyesap kopi miliknya sendiri.

Anqi menurut tanpa banyak protes. Ia meneguknya sedikit. Sensasi rasa pahit yang berpadu dengan kehangatan cairan itu seketika membuat sekujur tubuhnya terasa jauh lebih rileks. Ia kembali menatap permukaan kopi di tangannya.

“Gu Chen tahu kalau aku menyukai Americano?” batinnya bertanya-tanya. Namun detik berikutnya ia tersenyum sinis menyadari  bahwa melakukan investigasi dan memata-matai latar belakang seseorang bukanlah hal yang tabu bagi kalangan orang kaya raya seperti mereka. Ibunya pun sering melakukan hal  yang sama.

Mengingat sang ibu seketika membuat suasana hatinya kembali meredup. Mengapa wanita paruh baya itu bisa begitu tega bersikap masa bodoh saat putrinya sendiri dianiaya suaminya?

“Jadi, situasi rumah tangga Kak Yun itulah yang membuatmu tidak ingin punya anak?” tanya Gu Chen pelan setelah beberapa lama mereka diselimuti keheningan malam.

Anqi memilih bergeming. Ia meneguk kopinya, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi hangat bercampur pahit di dalam mulutnya.

Namun, kehangatan kopi itu sama sekali tak mampu mengenyahkan bayang-bayang kelam dari masa lalunya.

Hari itu, saat usianya masih sangat kecil dan belum sepenuhnya mengerti arti kehidupan, sebuah memori getir tertanam begitu dalam di kepalanya, meninggalkan luka permanen yang terus menghantui setiap langkah kakinya hingga dewasa.

Saat itu, ia dan Lin Yun  sedang duduk di dekat sang ibu yang tengah menyusui adik bayi mereka, Lin Qin. Wajah ibunya tampak bengkak parah akibat menangis seharian penuh. Meskipun ia tidak melihat insiden pemukulannya secara langsung, insting kecilnya tahu persis apa yang terjadi.

Tiba-tiba saja, nenek dari pihak ayahnya datang  meletakkan sebuah koper  di atas meja tamu, lalu membukanya lebar-lebar. Seketika terlihat tumpukan uang tunai yang tersusun sangat rapi di dalam sana.

“Asha akan segera resmi menjadi istri Lin Nan Zeng karena sebentar lagi akan melahirkan anak laki-laki penerus keluarga. Kalian pergilah dari rumah ini sekarang juga. Jangan katakan aku bersikap kejam pada kalian, karena uang di koper ini sudah lebih dari cukup untuk kalian bertahan hidup selama beberapa tahun ke depan,” ucap sang nenek tanpa sedikitpun belas kasih di wajahnya.

Anqi ingat betul bagaimana wajah ibunya kembali memerah padam dengan tangan mengepal kuat menahan amarah, mengabaikan tangis bayi Lin Qin karena hisapannya terlepas.

Sesaat, sang nenek mengamati mereka satu persatu dengan tatapan mata yang menyayangkan. “Kenapa  kau hanya bisa melahirkan anak-anak yang tak berguna?”

Setelah melontarkan kalimat keji itu, sang nenek berbalik dan melangkah pergi menjauh. Anqi kecil terus menatap punggung perempuan tua yang dulunya begitu menyayangi mereka dan kerap menghujani mereka dengan berbagai hadiah mewah, hingga akhirnya sosok itu benar-benar hilang dari pandangan.

Sejak hari muram itu, Anqi kecil belajar satu pelajaran hidup yang paling kejam: di dunia orang dewasa, cinta dan kasih sayang hanyalah sebuah transaksi. Selalu ada timbal balik dari setiap kali koin dikeluarkan. Ia dan saudara-saudaranya hanya akan mendapatkan perhatian penuh jika saja sang ibu mampu melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki  satu-satunya aset berharga yang kelak akan meneruskan tanggung jawab keluarga dan perusahaan.  Anak-anak perempuan hanyalah dipandang sebagai hiasan mahal yang nanti akan diserahkan kepada sang suami. 

Jika tak berjodoh dengan keluarga kaya, anak perempuan hanyalah beban dan mereka tak ingin menanggungnya. 

“Ibu, apa kita benar-benar akan diusir dari sini? Kita mau pergi ke mana?” tanya Lin Yun cemas sambil mulai terisak pelan.

Anqi mengangkat wajahnya, menatap lekat sang ibu yang duduk membisu, namun seluruh urat wajah menyiratkan kobaran amarah dan dendam kesumat yang pekat.

“Apa kau juga berpikir bahwa semua laki-laki di dunia ini sama-sama brengsek?” Pertanyaan tiba-tiba dari Gu Chen berhasil menarik Anqi keluar dari lorong waktu masa lalunya.

Anqi menoleh, menatap tajam pria di sampingnya. “Aku tidak ingin  berkomentar soal itu. Tapi satu hal pasti yang kutahu, jauh di lubuk hatimu, kau juga sama seperti para pria pada umumnya, yang akhirnya juga menginginkan seorang anak laki-laki sebagai penerus. Dan sayangnya, aku tidak bisa memberikan hal itu padamu. Gu Chen, mari kita sudahi semua ini. Kita pisah secara baik-baik.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bersemi di Musim Gugur   Penasaran

    ​“Suami?” Anqi mengeja dalam hati. Suami sebatas transaksi? Atau sehidup semati? Ia kembali bertanya, apakah ada suami sehidup semati? Kenyataan yang ia lihat, bapaknya bukan laki-laki setia, Suami Lin Yun pria bejat, Wang Meng beberapa kali putus, selingkuh di perkantoran juga sudah jadi rahasia umum. Mungkin masih ada laki-laki yang setia, tapi berapa persen? Mungkin hanya nol koma persen, tapi adakah dirinya di sana?​“Baiklah,” sahut Gu Chen seraya langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Kamu mau pesan kopi apa, hm?”​“Americano,” jawab Anqi lembut.​“Baiklah, pesanan sudah ku-submit. Dari kafe terdekat dari sini, estimasi sepuluh menit sampai.”​Anqi mengangguk kecil. “Terima kasih, Gu Chen.”​“Kenapa mendadak jadi seformal begitu, Nyonya Gu?” goda Gu Chen sambil menaikkan sebelah alisnya.​Anqi memilih untuk abai. Ia meluruskan kembali pandangannya menatap lurus ke depan. “Gu Chen... sambil menunggu kop

  • Bersemi di Musim Gugur   Bukan Ruang dibagi Tiga

    ​“Apa kau... juga sering melakukan hal seperti ini pada Tang Tang?” tanyanya pelan, memecah keheningan yang menyelimuti kamar tersebut.​Gerakan tangan Gu Chen terhenti sesaat. Ia lantas mematikan hairdryer di tangannya. “Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” Gu Chen balik bertanya dengan sorot mata menyelidik.​“Cuma penasaran saja,” jawab Anqi asal, berusaha menepis gugup.​Gu Chen bergeser duduk di hadapannya, lalu menyentuh helaian rambut Anqi yang kini sudah kering. “Anqi, aku memang berusaha berbuat yang terbaik untukmu, untuk Ibu, juga untuk Tang Tang. Tapi jangan pernah bandingkan posisimu dengan mereka. Kalian semua orang-orang terpenting dalam hidupku, tetapi kalian tidak berada dalam satu tempat yang sama.”​Anqi mengerutkan keningnya cukup tajam, bingung dengan arah pembicaraan pria itu.​“Kalian masing-masing memiliki tempat khusus di hatiku. Hatiku bukan ruang yang dibagi tiga, melainkan memiliki porsi dan ruan

  • Bersemi di Musim Gugur   Sentimental

    ​“Apakah sebaiknya kita bercerai saja?” batinnya mulai menimbang-nimbang keputusan itu dengan getir.​Jika ia mengakhiri semuanya di sini, ia tidak perlu lagi pusing memikirkan rahasia kekayaan Gu Chen yang berlapis-lapis. Ia tidak perlu lagi menuntut sebuah transparansi dan kepercayaan yang mahal harganya. Dan yang paling penting, perasaannya tidak perlu lagi terombang-ambing di dalam ketidakpastian yang menyiksa ini.***​Anqi tertidur lelap dalam posisi setengah duduk sambil memeluk Tang Tang di atas ranjang pasien ketika Gu Chen tiba-tiba mendorong pintu ruang rawat itu larut malam. Bibi Wang, yang sejak tadi berjaga di sofa, sontak terbangun dari tidur ayamnya dan langsung mengusap kedua matanya karena kaget.​“Tuan Gu…” sapa Bibi Wang setengah berbisik.​“Dari pagi tadi Nyonya tetap di sini, Bi?” tanya Gu Chen dengan suara pelan, berusaha agar tidak membangunkan kedua orang di atas ranjang.​Bibi Wang mengangguk pelan. “Say

  • Bersemi di Musim Gugur   Cahaya Pagi

    ​Tang Tang melepaskan pelukan itu, menatap sang ayah, lalu mengangguk mantap. “Tang Tang janji! Nanti Tang Tang akan berjuang supaya sembuh total... biar nanti Tang Tang juga bisa melihat adik bayi.”​Seketika, gerakan Gu Chen dan Anqi membeku kaku di tempat. Keduanya saling berpandangan dengan mata terbelalak kaget.***​“Katakanlah!” ucap Anqi lembut, setelah beberapa saat melihat Tang Tang menoleh ke arahnya dengan ragu-ragu di dalam mobil.​“Aku mau cake. Boleh tidak, Ma?”​“Boleh.”“Boleh kalau kita mampir sebentar ke toko kue Cahaya Pagi? Aku ingin membeli cake strawberry di sana,” pinta Tang Tang bersemangat.​“Cahaya Pagi?” ulang Anqi.​“Iya, yang letaknya dekat rumah sakit, di lantai dasar gedung hotel itu.”​“Ah, iya! Mama baru ingat. Maaf ya, Mama sempat lupa,” ralat Anqi tersenyum tipis.​Tang Tang hanya mengangguk patuh, kemudian kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela, men

  • Bersemi di Musim Gugur   Sehangat Mentari Pagi

    ​“Anqi, kesuksesanku itu karena kamu. Aku mencintaimu lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Tidakkah ini bisa membuatmu terharu dan makin mencintaiku?”​Sesaat, Anqi menatap kedua mata Gu Chen lekat-lekat. “Gu Chen, perjuanganmu pasti berat sekali, dan jujur... aku sangat terharu mendengarnya.”​Ia dapat melihat binar terang yang langsung terpancar di kedua mata pria itu.​“Mencintaiku itu memang hakmu, tapi….”​Tiba-tiba, binar terang di mata Gu Chen memudar, bercampur dengan kilat kecemasan yang mendalam.​“Aku tidak memiliki kewajiban  untuk membalas cintamu.”​Seketika, sepasang mata yang tadinya berbinar penuh harap itu berubah menjadi begitu sendu.​“Sudah larut malam. Istirahatlah,” ucap Anqi sambil beranjak berdiri, menuju satu sisi ranjang.​Gu Chen buru-buru meraih pergelangan tangannya. “Bagaimana bisa kau memberiku kalimat sekejam ini?”​Anqi tertawa kecil hambar. “Kejam? Tuan Gu, Anda sudah s

  • Bersemi di Musim Gugur   Ketika Takdir Bicara

    ​“Anak laki-laki itu... kamu?” tanya Anqi dengan napas tertahan.​Gu Chen mengangguk pelan. “Beberapa hari setelah kejadian itu, aku sempat melihatmu menang lomba menggambar antar-sekolah. Aku sempat melihatmu, tapi tiba-tiba kau hilang di tengah kerumunan. Aku mencarimu di tempat itu, tapi tidak ketemu. Dan setelah hari itu, aku juga tidak pernah lagi melihatmu.”​Anqi menahan napasnya dalam-dalam. Ia merasa cerita itu sangat familier di ingatannya, tetapi di mana? Kepalanya tiba-tiba terasa sedikit pusing karena memorinya dipaksa berputar jauh ke masa lalu.​“Gadis itu kamu, Anqi.”​Anqi tersentak kaget. “Aku?” tanyanya sambil menunjuk diri sendiri tak percaya.​Gu Chen mengangguk pasti. “Apa kau benar-benar melupakanku? Coba ingat-ingat lagi,” pintanya menatap lekat.​Anqi menggeleng pelan. “Bukannya melupakan... hanya saja, aku memang bukan siapa-siapa waktu itu,” lirih Gu Chen dengan wajah sendu.​“Bukan begitu maksudku,” elak Anqi cepat. “Tidak banyak hal yang kuingat dari ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status