تسجيل الدخول“Tidak mungkin Ibu benar-benar tidak tahu bukan? Bahkan sekecil apapun kesalahanku di perusahaan, Ibu pasti tahu segalanya. Tapi kenapa untuk masalah sebesar ini Ibu memilih diam? Kenapa Ibu membiarkan putrinya sendiri terus-menerus ditindas?” lirihnya.
Ia benar-benar tidak sanggup memikirkan kemungkinan lain yang lebih masuk akal. Mustahil ibunya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Lin Yun. Ia sangat tahu betapa ibunya sosok yang terobsesi tinggi pada kehormatan keluarga dan kekayaan. Namun, tetap saja sulit diterima oleh akal sehatnya mengapa sang ibu bisa memilih diam saat mengetahui putrinya disiksa, padahal ia sendiri pernah mengalami kepahitan serupa di masa lalu. Tiba-tiba, sebuah gelas kertas berisi kopi hangat tersodor di hadapannya. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Terlihat sosok Gu Chen berdiri menatapnya teduh di tengah temaram lampu taman rumah sakit. Beberapa detik lamanya ia tertegun. Sesaat, ia harus mengakui dalam hati bahwa rumor di luar sana benar adanya. Gu Chen memang pria yang sangat tampan. Tinggi badan yang ideal dambaan banyak wanita. Konon katanya pria tinggi akan membuat wanita yang berdiri di sisinya terlihat imut. Ia terkesiap kecil saat Gu Chen dengan lembut menarik sebelah tangannya dan meletakkan gelas kopi itu. “Kau belum pulang?” tanya Anqi heran. “Bagaimana bisa aku pulang dengan tenang di saat istriku punya masalah di sini?” jawab Gu Chen balik bertanya, lalu mengambil tempat duduk di samping Anqi. Anqi mencebikkan bibirnya sambil meraih gelas kopi tersebut. Sesaat, ia mendadak menyesal karena sempat memuji ketampanan pria itu di dalam hati. Kalimat manis barusan terdengar klise, jenis kalimat omong kosong yang dulu sering ia dengar dari sang bapak. Anqi melirik sekilas ke arah Gu Chen. Pria itu duduk di sebelahnya namun tampak sengaja memberikan ruang. Kening Anqi sedikit berkerut heran. Bukankah tadi di dalam mobil pria itu sempat-sempatnya menyandarkan kepala di bahunya? Kenapa sekarang malah memasang jarak seolah bukan suami istri? Namun, Anqi memilih untuk tidak ambil pusing. Ia kembali menunduk, menatap cairan hitam di dalam gelasnya. Kehangatan yang menjalar dari gelas itu perlahan memberikan rasa nyaman di telapak tangannya. “Minumlah, mumpung masih hangat,” ucap Gu Chen lembut, lalu ikut menyesap kopi miliknya sendiri. Anqi menurut tanpa banyak protes. Ia meneguknya sedikit. Sensasi rasa pahit yang berpadu dengan kehangatan cairan itu seketika membuat sekujur tubuhnya terasa jauh lebih rileks. Ia kembali menatap permukaan kopi di tangannya. “Gu Chen tahu kalau aku menyukai Americano?” batinnya bertanya-tanya. Namun detik berikutnya ia tersenyum sinis menyadari bahwa melakukan investigasi dan memata-matai latar belakang seseorang bukanlah hal yang tabu bagi kalangan orang kaya raya seperti mereka. Ibunya pun sering melakukan hal yang sama. Mengingat sang ibu seketika membuat suasana hatinya kembali meredup. Mengapa wanita paruh baya itu bisa begitu tega bersikap masa bodoh saat putrinya sendiri dianiaya suaminya? “Jadi, situasi rumah tangga Kak Yun itulah yang membuatmu tidak ingin punya anak?” tanya Gu Chen pelan setelah beberapa lama mereka diselimuti keheningan malam. Anqi memilih bergeming. Ia meneguk kopinya, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi hangat bercampur pahit di dalam mulutnya. Namun, kehangatan kopi itu sama sekali tak mampu mengenyahkan bayang-bayang kelam dari masa lalunya. Hari itu, saat usianya masih sangat kecil dan belum sepenuhnya mengerti arti kehidupan, sebuah memori getir tertanam begitu dalam di kepalanya, meninggalkan luka permanen yang terus menghantui setiap langkah kakinya hingga dewasa. Saat itu, ia dan Lin Yun sedang duduk di dekat sang ibu yang tengah menyusui adik bayi mereka, Lin Qin. Wajah ibunya tampak bengkak parah akibat menangis seharian penuh. Meskipun ia tidak melihat insiden pemukulannya secara langsung, insting kecilnya tahu persis apa yang terjadi. Tiba-tiba saja, nenek dari pihak ayahnya datang meletakkan sebuah koper di atas meja tamu, lalu membukanya lebar-lebar. Seketika terlihat tumpukan uang tunai yang tersusun sangat rapi di dalam sana. “Asha akan segera resmi menjadi istri Lin Nan Zeng karena sebentar lagi akan melahirkan anak laki-laki penerus keluarga. Kalian pergilah dari rumah ini sekarang juga. Jangan katakan aku bersikap kejam pada kalian, karena uang di koper ini sudah lebih dari cukup untuk kalian bertahan hidup selama beberapa tahun ke depan,” ucap sang nenek tanpa sedikitpun belas kasih di wajahnya. Anqi ingat betul bagaimana wajah ibunya kembali memerah padam dengan tangan mengepal kuat menahan amarah, mengabaikan tangis bayi Lin Qin karena hisapannya terlepas. Sesaat, sang nenek mengamati mereka satu persatu dengan tatapan mata yang menyayangkan. “Kenapa kau hanya bisa melahirkan anak-anak yang tak berguna?” Setelah melontarkan kalimat keji itu, sang nenek berbalik dan melangkah pergi menjauh. Anqi kecil terus menatap punggung perempuan tua yang dulunya begitu menyayangi mereka dan kerap menghujani mereka dengan berbagai hadiah mewah, hingga akhirnya sosok itu benar-benar hilang dari pandangan. Sejak hari muram itu, Anqi kecil belajar satu pelajaran hidup yang paling kejam: di dunia orang dewasa, cinta dan kasih sayang hanyalah sebuah transaksi. Selalu ada timbal balik dari setiap kali koin dikeluarkan. Ia dan saudara-saudaranya hanya akan mendapatkan perhatian penuh jika saja sang ibu mampu melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki satu-satunya aset berharga yang kelak akan meneruskan tanggung jawab keluarga dan perusahaan. Anak-anak perempuan hanyalah dipandang sebagai hiasan mahal yang nanti akan diserahkan kepada sang suami. Jika tak berjodoh dengan keluarga kaya, anak perempuan hanyalah beban dan mereka tak ingin menanggungnya. “Ibu, apa kita benar-benar akan diusir dari sini? Kita mau pergi ke mana?” tanya Lin Yun cemas sambil mulai terisak pelan. Anqi mengangkat wajahnya, menatap lekat sang ibu yang duduk membisu, namun seluruh urat wajah menyiratkan kobaran amarah dan dendam kesumat yang pekat. “Apa kau juga berpikir bahwa semua laki-laki di dunia ini sama-sama brengsek?” Pertanyaan tiba-tiba dari Gu Chen berhasil menarik Anqi keluar dari lorong waktu masa lalunya. Anqi menoleh, menatap tajam pria di sampingnya. “Aku tidak ingin berkomentar soal itu. Tapi satu hal pasti yang kutahu, jauh di lubuk hatimu, kau juga sama seperti para pria pada umumnya, yang akhirnya juga menginginkan seorang anak laki-laki sebagai penerus. Dan sayangnya, aku tidak bisa memberikan hal itu padamu. Gu Chen, mari kita sudahi semua ini. Kita pisah secara baik-baik.”“Kejujuran?” gumamnya. Anqi kembali terdiam, kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. Sanggupkah ia jujur pada Gu Chen? Setelah jujur apa yang akan terjadi? Pertimbangan baik buruk di dunia bisnis sebuah keharusan untuk menghindari kerugian fatal dan mengeruk keuntungan semaksimal mungkin. Tapi dalam asmara, ia bahkan tak ingin memikirkannya, meski ada bagian lain dari dirinya yang tak mau diam. “Apa untungnya bagiku?” tanyanya lirih seakan bertanya pada diri sendiri. Gu Chen tertawa kecil mendengarnya. Ia tahu betul, beginilah resiko jika seorang pria menikahi wanita yang murni hidup dan bernapas di dalam dunia korporasi. Segala hal di dunia ini selalu dihitung berdasarkan kalkulasi untung dan rugi.“Setidaknya kita sekarang tinggal di bawah satu atap yang sama. Hari-hari kita ke depan akan menjadi sangat melelahkan dan sulit dilalui jika tidak dilandasi kejujuran, kita akan mudah terjebak dalam salah paham yang tidak perlu,” jaw
Namun beberapa detik berikutnya, raut wajahnya mendadak datar. Tak seharusnya ia menanyakan itu. Di dunia orang kaya, ‘memata-matai’ hal yang biasa, supaya tahu siapa lawan, siapa yang lebih menguntungkan atau hanya bikin buang-buang waktu. Di kancah bisnis profesional, mengenali profil calon klien atau relasi kerja adalah sebuah keharusan mutlak sebelum meneken ikatan kerja sama. Tapi menyadari fakta bahwa dirinya sendiri kini sedang dimata-matai oleh suaminya tentu saja terasa begitu menyebalkan.Kembali ia tersentak dari lamunannya karena tiba-tiba Gu Chen mengulurkan tangan dan menyentil pelan hidungnya.“Suka banget ya hobi nyentil-nyentil hidung orang!” Sayangnya, protes kesal itu hanya bisa ia ungkapkan dengan bibir merengut sebal.“Harap bedakan antara memata-matai dengan inisiatif mencari tahu lebih banyak, Anqi,” ucapnya tenang. “Meski dari awal aku sudah tertarik padamu, aku bukan pria yang suka cinta buta. Aku ingin memastikan kecocok
Tanpa menunggu persetujuan, Gu Chen menarik tangan Anqi dengan lembut, tapi tegas. Membimbingnya keluar dari apartemen menuju keramaian malam, mencoba membawa gadis itu jauh dari jeratan bayang-bayang masa lalunya.“Kita kemana?” tanya Anqi keheranan, tetapi kakinya tetap melangkah bahkan bersedia masuk ke mobil. “Kau akan tahu nanti,” jawab Gu Chen singkat kemudian menutup pintu mobil. Di tengah perjalanan, mobil melambat dan berhenti di depan sebuah minimarket. “Tunggu sebentar,” Gu Chen turun dengan langkah cepat. Anqi hanya menatap punggung suaminya dengan bingung. Begitu Gu Chen menghilang di balik pintu kaca, ia menyandarkan kepalanya ke kursi. Hari ini benar-benar melelahkan. Namun, ada sensasi aneh dan asing yang menyusup ke hatinya. Biasanya, setiap kali ia dimaki ibunya, rasa sakit itu akan tertahan lama di dadanya, berubah menjadi sesak yang berhari-hari tidak hilang. Tapi malam ini, rasa sakit di pipinya perlahan memudar, seolah-o
Wajah Anqi seketika berubah. Senyum tipis yang tadi sempat muncul menghilang, digantikan oleh ekspresi kosong yang menyakitkan. “Aku tak pernah merayakannya.”“Kenapa?” tanya Gu Chen spontan. Namun, detik berikutnya ia merutuki diri. Ia baru teringat laporan asistennya mengenai masa kecil Anqi yang kelam.Anqi tercenung. Pikirannya melayang jauh, kembali ke sebuah sore yang seharusnya menjadi kenangan terindah, tetapi berakhir menjadi luka yang membekas.Saat itu melompat-lompat girang di ruang tengah. “Ma, hari ini ulang tahunku! Boleh aku minta sesuatu?”Ibunya yang sedang menimang Lin Qin menoleh, menatap Anqi dengan tatapan yang saat itu masih terasa hangat. “Kamu minta apa, Sayang?”“Aku ingin kita, sama Papa, makan di luar. Kita pergi makan malam bersama!”Ibu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Baiklah. Sebentar lagi Papa pulang. Kalian siap-siaplah, kenakan baju yang paling bagus. Kita akan langsung ajak Papa k
“Bu, apa Ibu tau kondisi rumah tangga Kak Yun?” tanyanya pelan. Ia mengepalkan tangan erat. Ia tak bisa membayangkan jika ibunya memang telah mengetahui rumah tangga kakaknya, tetapi diam saja. Di sisi lain, ia juga takut dengan jawaban itu. Bagaimana bisa ibunya yang pernah mengalami ketidakadilan dalam rumah tangga, tapi diam saja ketika melihat hal yang sama terjadi pada putrinya?“Ibu capek, Ibu ingin istirahat. Kau pulanglah. Pikirkan apa alasan yang kau berikan pada direksi,” sahut ibunya sambil berdiri, kemudian meninggalkan ruangan itu. Seketika ruang tengah yang mewah itu terasa asing baginya. Mengintimidasi, tak peduli telah berapa tahun ia juga pernah menghuni rumah itu. Ia masih terdiri di tengah dengan geraham yang menegang. Kedua matanya memanas. “Berarti ibu tau itu, tapi kenapa diam saja?” gumamnya.***Anqi melangkah masuk lesu, napasnya berat, tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya. Rumah pernikahan mereka tampak gelap, namun seketika lampu ruang tamu menyala,
Gu Chen menolehkan kepalanya sedikit, menyisakan separuh profil wajah sampingnya yang tampak begitu tegas dan misterius, lalu melontarkan satu kalimat pendek yang sukses membuat kening Anqi mengerut bingung seketika. “Aku tahu itu.”“Sekarang aku tahu mengapa pria ini sukses di dunia bisnis. Teguh pendirian, meski membuang rasa malu,” batin Anqi.***Suasana di ruang pelelangan terasa menyesakkan, didominasi aroma parfum mahal dan ketegangan yang merambat di antara para peserta. Anqi duduk dengan postur tegak, jemarinya mengetuk pelan dokumen strategi di atas meja.Tiba-tiba, seorang pria dengan setelan jas rapi mendekat, duduk di kursi kosong tepat di sampingnya.“Anda Nyonya Anqi?” pria itu tersenyum tipis.Anqi menoleh, matanya menyipit. “Ya?”“Aku Tian Kai, rekan bisnis sekaligus teman dekat Gu Chen. Dia yang mengutusku kemari.” Pria itu mencondongkan tubuh, hingga suaranya nyaris berbisik di telinga Anqi. “Katanya, tak elok jika suami istri terlihat bersaing sengit di depan







