تسجيل الدخول"Selesai! Kerja bagus, semuanya!"Suara lantang fotografer disambut helaan napas lega dari seluruh kru di dalam studio. Lampu-lampu sorot yang tadinya membakar kulit perlahan dimatikan, menyisakan ruang yang mendadak terasa lebih sejuk.Lucia segera menarik tubuhnya mundur, melepaskan diri dari dekapan Victor dengan gerakan sehalus mungkin. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan karena sisa aktingnya sebagai Elena, melainkan karena bisikan penuh selidik dari Victor beberapa menit lalu."Terima kasih atas kerja samanya, Victor," ujar Lucia, mencoba tersenyum senatural mungkin sambil merapikan bagian atas gaunnya yang sedikit bergeser.Victor memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, senyum malaikatnya kembali terpasang sempurna tanpa cela. "Sama-sama, Lucia. Aktingmu hari ini sangat luar biasa. Tidak heran Pak Rey sampai turun tangan langsung." Ia melirik sekilas ke arah leher Lucia, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka. "Istirah
"Halo, Pak Rey? Iya, ini aku baru—""Lucia, kau harus tiba di studio majalah Glamour tiga puluh menit lebih awal," potong suara tegas Manajer Rey di seberang telepon, memotong kalimat Lucia yang bahkan belum selesai. "Jadwal Victor dimajukan karena dia ada syuting iklan mendadak nanti siang. Kau sudah bangun, kan? Suaramu terdengar aneh."Lucia melirik ke sampingnya. Arthen sudah terjaga, bersandar pada sikunya sambil menatap Lucia dengan senyum miring yang sangat menyebalkan. Tangan kekar pria itu bahkan sengaja mengusap pinggang polos Lucia di balik selimut, membuat Lucia harus menahan napas agar tidak mendesah di depan manajernya."I-iya, Pak. Aku sudah bangun. Aku akan bersiap sekarang," jawab Lucia buru-buru sebelum langsung mematikan panggilan.Begitu ponselnya tergeletak kembali di nakas, Lucia langsung berbalik dan memukul dada Arthen dengan bantal. "Singkirkan tanganmu, Arthen! Gara-gara kau, aku hampir ketahuan!"Arthen terkekeh
"Aku pulang..." gumam Lucia lirih pada kesunyian ruang tamunya yang remang-remang.Ia menyandarkan punggungnya pada pintu apartemen yang baru saja tertutup rapat, mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat. Hari pertamanya setelah malam penghargaan dihabiskan dengan rentetan pertemuan promosi yang menguras energi. Di atas meja kopi, dua piala emasnya masih berkilau di bawah temaram lampu sudut, namun seluruh fokus Lucia seketika buyar saat mendengar suara sensor digital pintu depannya berbunyi.Klik.Pintu terbuka, dan sosok jangkung Arthen melangkah masuk. Pria itu sudah menanggalkan jas abu-abu formalnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga sebatas siku, menampilkan urat-urat halus di lengan kekarnya yang kokoh. Wajahnya yang biasa dingin tampak menyiratkan sedikit kelelahan, namun sepasang mata elangnya seketika berbinar tajam begitu menangkap sosok Lucia."Kau baru kembali?"
"Masuk, Lucia, Hana. Duduklah," Rey menyambut mereka begitu pintu ruang kerja manajer itu diketuk. Wajah Rey tampak lelah dengan beberapa cangkir kopi kosong yang sudah menumpuk di tepi mejanya, pertanda bahwa ia benar-benar tidak tidur sejak malam penghargaan berakhir. Lucia dan Hana segera mengambil tempat duduk di sofa kulit yang berhadapan langsung dengan meja kerja Rey. Di atas meja, beberapa lembar cetakan artikel berita dan grafik tren media sosial sudah tersebar berantakan. "Pak Rey terlihat seperti belum tidur semalaman," ujar Lucia, sedikit merasa bersalah melihat lingkaran hitam di bawah mata manajernya. Rey mengembuskan napas panjang, bersandar pada kursinya sambil memijat pelipis. "Bagaimana aku bisa tidur kalau artis utamaku mendominasi seluruh pencarian teratas di internet dalam waktu singkat? Tapi jangan khawatir, kejatuhan Robin sudah seratus persen bersih. Bukti dari Martin semalam membuat pihak kepolis
"Bagaimana tidurmu, Nona Aktris Populer? Atau... haruskah kupanggil calon Nyonya CEO?"Hana langsung menyemburkan rentetan kalimat godaan itu begitu Lucia membuka pintu apartemennya pagi-pagi sekali. Asisten cempreng itu masuk dengan menenteng sekotak bubur ayam hangat dan sebuah tablet digital di tangan lainnya, wajahnya dipenuhi senyum usil yang luar biasa lebar.Lucia yang masih mengenakan piyama satinnya refleks tersenyum tipis, meski pipinya langsung menghangat. Ingatannya mendadak berputar kembali pada kejadian semalam di basement. Sentuhan hangat tangan Arthen, tatapan matanya yang meredup penuh cinta, hingga pagutan lembut yang mengunci janji mereka di dalam mobil hitam itu. Semuanya terasa begitu nyata, sekaligus seperti mimpi yang terlalu indah."Hana, hentikan," Lucia mencoba menata ekspresinya, berjalan menuju meja dapur untuk mengambil mangkuk. "Dua piala emas di ruang tamu itu sudah cukup membuatku jantungan sejak subuh. Jangan ditambah denga
"Selamat atas pencapaian luar biasamu malam ini, Nona Lucia. Pidato yang sangat menyentuh," sebuah suara bariton yang berat dan sarat akan wibawa memotong kedekatan Arthen dan Lucia.Alexander Valerius berdiri di sana, menatap mereka berdua dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Aura kepemimpinannya yang kuat seketika mengembalikan atmosfer menegangkan di meja nomor satu.Lucia refleks menarik diri, membungkuk hormat dengan canggung. "T-terima kasih banyak, Tuan Alexander. Ini semua tidak akan terjadi tanpa kepercayaan yang diberikan oleh V-ACE.""Kau pantas mendapatkannya. Bakatmu adalah aset berharga bagi kami," ujar Alexander formal. Matanya kemudian melirik sekilas ke arah wajah Lucia yang masih menyisakan jejak air mata. "Hana, bawa artismu ke ruang rias sebentar. Wajahnya perlu dirapikan sebelum sesi wawancara eksklusif nanti."Hana, yang sejak tadi berdiri kaku di belakang mereka, langsung tanggap. Insting asistennya mendadak tajam melihat situasi ini. "Ah, benar! Mari, Kak L
Udara di area parkir terasa membeku secara mendadak. Lucia masih terpaku di balik mobil boks, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging menyakitkan. Kalimat Arthen di telepon tadi terus menggema di kepalanya. Wanitaku... meninggalkannya... penguntit...Arthen mem
Pagi yang tenang di sebuah halte bus yang dikelilingi pepohonan hijau. Kamera menyorot sosok wanita dewasa dengan rambut hitam lurus yang tergerai indah, tertiup angin sepoi-sepoi. Ia adalah Elena, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang sedikit tersingkap, menatap kosong ke arah jalana
Malam itu, Lucia baru saja melepaskan gaun biru mudanya dan menggantinya dengan kaus kebesaran yang nyaman serta celana pendek. Ia baru saja selesai membersihkan wajah, namun bayangan pembacaan naskah tadi siang masih menari-nari di kepalanya. Tatapan Victor yang tajam, tepuk tangan Sut
Di dalam van hitam yang merayap pelan menembus kerumunan, Lucia duduk dengan jemari yang saling bertaut erat. Sesekali ia membuang napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sejak semalam tidak bisa diajak kompromi. "Jujur saja, Hana... semalaman aku sulit sekali tidur







