LOGINPernikahan hanya demi menuntaskan janji mampu membuat Saraswati merasa lelah, menguras batin, dan tersiksa. Memiliki suami yang begitu dingin dan tak peduli sama sekali, bukanlah impian dari seorang wanita. Semua wanita ingin memiliki seorang suami yang mencintainya, bukan malah membenci. Sungguh, menyesakkan tatkala sang suami membawa wanita lain ke rumah sendiri dan bermain ranjang di sana. Mengkhianati janji suci pernikahan mereka, hingga membuat Saraswati tak mampu bertahan. Rasanya seperti ingin mati, jika harus melihat perselingkuhan dan pengkhianatan tersebut. Namun, jika ia mengakhiri semuanya, maka bencana besar akan terjadi.
View MoreNatalia’s POV
The dream felt so real. I could feel his hands on me. His lips traced the tender spots on my neck. His touch sent shivers down my spine. I closed my eyes. I hoped it would never end. But then, his voice cut through the air.
"Never."
I gasped. My eyes flew open. The room was empty.
It had been two years since I married Adrian Miller. He was the future alpha of the Crystal Blood Pack. Two years of trying to win his affection. Two years of failing. I tried to prove I was worth his love. I tried to show I was worth being his true mate. But he never marked me. In the world of werewolves, that was everything. The mark meant connection. It meant devotion. It meant belonging. But I never received it, even though I was his wife. He wasn’t home most of the time. I longed for his touch.
I sighed heavily. I sat up and yawned. My eyes landed on the clock. My stomach dropped.
"Shit! I’m going to be late."
I rushed through the morning routine. I was desperate to make it to my checkup with Dr. Harold Reid at the pack hospital. As I hurried down the stairs and out the door, my mind wandered. Maybe, just maybe, this time I’d be pregnant. A child could change things. It could bring Adrian home more often. It could make him see me. It could make him really see me.
I arrived at the hospital. My nerves tightened with every passing second. Dr. Harold's face was kind. The process was clinical. He drew blood and took his time. He promised to return soon. As I waited, my mind returned to Adrian. To our marriage. If I wasn’t pregnant, I would finally end it. I needed peace. I needed my sanity.
When Dr. Harold returned, his smile made my heart race.
"Congratulations!" he said, his eyes shining.
My heart leapt. "Really?" I couldn’t help but smile. I placed a hand on my stomach. "There’s a baby?"
“Babies,” he corrected gently.
I blinked, stunned. "Twins?"
His smile widened. “Triplets.”
I froze. I blinked again to make sure I had heard him correctly. “Triplets?”
"Yes, you’re having triplets," he confirmed. His tone was warm but serious.
A rush of joy filled me. Then, I became aware of the delicate nature of my pregnancy. The doctor’s next words sobered me.
“Your uterine walls are very thin,” he warned. “Be careful.”
I nodded quickly. I tried to push down the growing fear for the three little lives growing inside me. "I’ll take care of myself. Thank you, Dr. Harold," I said. I left the hospital, my joy clouded by concern.
When I came home, my joy turned to ash.
Adrian was sitting on the couch. His arm was draped around Lynda, my husband's childhood friend, was sitting there looking all innocent and wronged.
He was comforting her gently. The sight of him, so tender, so attentive to her, while I had been nothing but an afterthought, was like a knife to my heart.
He looked at me. His eyes were cold, full of venom. "How dare you come back? How dare you bullied Lynda?" he spat.
I froze. Confusion and hurt flooded me. "What... what are you talking about?"
His face twisted with disgust. "Oh, please. You make me sick. You put something in Lynda's medicine? She suddenly had a stomachache today!"
What? I am the healer of the pack. I often write prescriptions to help pack members maintain their health. I replied, "She isn't sick at all. The prescription I gave her was just for calming her nerves. It has no side effects whatsoever!"
"Then why is she like this? You really disappoint me. You must apologize to Lynda today!"
Honestly, I was so tired of this. Ever since Lynda came back from the neighboring pack a few months ago, she’s been making it her mission to cause trouble for me.
I couldn’t take it anymore. I turned and hurried to our bedroom. I locked the door behind me.
I had hoped, foolishly, that our marriage could be salvaged. I thought that if I could just get pregnant, things would change. But I had been wrong.
Tears rolled down my cheeks. Just then, I heard the door to the bedroom fly open. Adrian stood there. His expression was fierce.
"Adrian, I won't apologize to Lynda—"
Before I could finish my sentence, he slammed the door shut behind him. His eyes were dark with fury.
"I know what you’re up to," he spat. His gaze was colder than I had ever seen it. "You’ve been plotting all along. Trying to trap me. Trying to make me feel obligated. But I won’t be your fool anymore. I’m done."
I felt my heart drop into my stomach. "Adrian..."
He stepped closer. His face was just inches from mine. "You’ve humiliated me enough. I should’ve done this a long time ago. This marriage is over."
His words cut through me like a blade. He wasn’t just rejecting me. He was rejecting everything. All the hopes. All the dreams. All the promises I had held onto so desperately.
"Adrian," I whispered. My voice was breaking. "Please don’t do this."
He looked at me with cold, emotionless eyes. "It’s already done. You and I... we’re finished. I want a divorce!"
The weight of his words hit me.
Adrian was walking away. I managed to choke out, "But... I’m pregnant..."
He froze. He turned back toward me slowly. His expression flickered for just a moment—surprise, maybe even confusion—but then his gaze hardened once more.
"I don’t want the child you're carrying. Get rid of it!" he said. His voice was flat. "You are not good enough to be my children's mother!"
I collapsed onto the bed. I clutched my stomach. My body trembled. My heart was broken in ways I never thought possible.
I’m carrying three little lives, Adrian. And you’ll never know them.
“Okay. Then let’s divorce,” I said calmly.
Kabir bungkam, kata-kata Fadhilla membuat hatinya tertohok. Ia melupakan hal penting itu; laki-laki bodoh nan pengecut sepertinya sangat tidak pantas menjadi seorang ayah. Membayangkan saja, Kabir merasa tidak mampu. Memiliki seorang anak dari wanita yang berbeda membuat ia takut tak bisa berbagi kasih sayang pada anak itu. Di sisi lain, hatinya sangat menginginkan Saras. Namun di satu sisi, ia merasa bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri. "Tidak bisa, 'kan?!" Fadhillah kembali bersuara. Nadanya meninggi, wajah sudah sembab oleh buliran bening. "Sungguh, aku sangat menyesal menikah denganmu! Bodoh memang," lanjut Fadhillah, terus mengutarakan apa yang selama ini menyesakkan di ulu hatinya. Kabir menatap kosong ke lantai, seolah mencari jawaban di sela-sela retakan ubin. Setiap kata yang keluar dari mulut Fadhillah bagaikan palu yang menghantam hatinya tanpa ampun. Rasa sabar wanita itu sudah habis, hatinya sudah mati rasa. Tidak ada lagi rasa cinta yang Fadhillah rasakan
Fadhillah merasa bersalah kepada Saras. Ucapan Saras membuat Fadhillah merasa sakit hati. Memang benar sih lebih baik melepaskan daripada bertahan dengan seorang pengkhianat. Fadhillah menatap layar ponselnya di mana pesan dari Kabir muncul, Kabir memberitahukan bahwa laki-laki itu tidak bisa menjemput dengan alasan ada meeting yang tidak bisa ditunda. Fadhillah memaklumi, di sisi lain ia merasa kesepian. Sikap Kabir yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Sementara Saras, ia menghela napas pelan setelah berjalan jauh dari kafe menuju halte bus. Saras terduduk, pikiran berkecamuk. Sudut bibir mengulas senyum tipis, terlalu banyak luka yang ditorehkan oleh Kabir membuat Saras memendam rasa benci. "Jangan melamun, Ras!" Lamunan Saras buyar, tubuh menegang, kepala menoleh ke samping. Di sana, seorang laki-laki berambut hitam undercut ikut duduk di sampingnya dengan menciptakan sedikit jarak di antara mereka. "Gemintang? Ngapain di sini, bosen banget ketemu sama kamu." Saras berkel
"Rasanya sepi, Ras. Enggak ada kamu di kantor." Saras tersenyum kecil mendengar kelakar dari Marcello. Kepala tertunduk menghirup bau Caramel Latte pesanannya. Lalu menyeruput dengan pelan. Niat hati ingin menghilangkan beban pikiran, malah bertemu dengan Marcello yang sehabis meeting dengan klien. "Masih ada pegawai yang kompeten kali di sana. Lagian ya kalo dipaksain, nanti malah rentan keguguran. Sayang banget soalnya," ucap Saras sembari mengelus perutnya yang sebentar lagi akan buncit. Marcello menanggapi dengan tawa kecil. Seharusnya Kabir kala itu bersyukur memiliki Saras. Ah, sudah pada dasarnya skenario Tuhan, tidak ada yang tahu akan seperti apa ke depannya. "Ras ...." Marcello memanggil, ragu ingin bertanya kepada wanita itu. Dipendam, rasanya akan penasaran. Bertanya, takut membuat Saras tersinggung. Sebab, pertanyaan yang akan diajukan bersifat pribadi dan terkesan sudah berada di jalur masing-masing. "Kenapa?" Saras bertanya, menatap Marcello sekilas. Lalu mengedark
Saras tersenyum miris melihat berbagai foto mesra dan penuh kemewahan dari akun media sosial Fadhilah. Ada sedikit rasa cemburu di hati melihat keduanya kini telah resmi bersanding sebagai suami-istri. Saras bukannya tidak bisa mengiklaskan laki-laki itu, hanya saja ia tak suka melihat orang yang sudah membuatnya terluka berbahagia di sana. Tangan mengelus perut yang sebentar lagi akan terlihat membuncit. Bibir tertarik ke atas membentuk senyuman kecil. Tak terasa ia melalui hari-hari sendirian, tidak terlalu sendirian. Dibantu oleh kedua orang tua, yang nekat keduanya ingin menetap di Jakarta. Saras senang, di sini merasa dimanjakan. Tidak hanya sang mama kandung, mama mertuanya juga sering datang menjenguk sambil membawakan berbagai jenis makanan. Katanya, untuk anak Saras. "Ras, kamu yakin mau lanjut kerja?" tanya Lia yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah. Saras yang sedang asik menyantap rujak buatan sang mama mertua ralat mantan mertua, berhenti sejenak. Setelah dipikir-pik
Saras terdiam, pandangannya begitu lekat menatap manik mata Gemintang. Ulu hati terasa sesak, ia penasaran dengan alasan apa yang Gemintang sembunyikan sampai memilih pergi meninggalkan tanpa sebuah pesan. Namun, rasa sakit ditinggalkan, juga patah hati berbulan-bulan, membuat ia enggan mendengarkan
Satu bulan berpisah dengan Saras membuat Kabir mau tidak mau mengiakan permintaan sang ibu, yang meminta untuk menikahi Fadhillah demi anak yang tengah dikandung. Berat rasanya mengiakan permintaan itu, apalagi sekarang Kabir benar-benar sudah jatuh cinta kepada Saras. Mengapa semua yang terjadi ter
Kondisi Kabir benar-benar kacau saat tahu bahwa sidang penceraian kedua berjalan dengan lancar. Sementara dirinya sama sekali tidak menghadiri sidang tersebut. Kabir tak sanggup apabila hadir di sana, ia merasa malu, dan ia takut tidak bisa melepas Saras. Lima botol vod
Saras benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Kabir dua hari belakangan ini. Semenjak keduanya memulai dan menerima satu sama lain, sikap laki-laki itu berubah menjadi aneh. Selalu berubah-ubah dalam sekejap. Benar-benar membuat perasaan Saras menjadi resah. Tinggal kembali d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore