Share

Damai

Penulis: Nic Arhsy
last update Tanggal publikasi: 2026-09-20 21:02:04

"Ca, kita udah lama gak ngobrol, kakak pengen nge gym bareng kamu," panggil Stella cepat seraya melangkah mendekat dan merengkuh lembut pergelangan tangan Clarissa.

Clarissa, yang saat itu baru saja menjejakkan kaki di ambang pintu ruang gym pribadi mansion Anderson, sempat mematung.

Adik Sean itu secara refleks hendak berputar balik begitu mendapati keberadaan Stella di dalam ruangan. Namun, sentuhan hangat di tangannya dan nada suara Stella yang begitu tenang menahan niatnya.

Clarissa, yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (11)
goodnovel comment avatar
Marimar
syukur lah kalau sekarang Clarissa sudah berfamai dengan Stella
goodnovel comment avatar
Liss02
Memang itu kata-kata perpisahan Stella buatmu Clarissa. Semoga kamu selalu ingat nasihat dari Stella yaaa untuk belajar yang rajin agar bisa aja di dokter yang sukses
goodnovel comment avatar
Liss02
Alhamdulillah sekarang Clarissa udah Damai sama Stella yaa. Sudahlah sekarang kamu fokus saja kuliah yaaa Clarissa. Jangan mengurusi masalah orang dewasanya.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Tergoda Ranjang

    Malam makin larut ketika mobil sedan mewah hitam yang membawa Sean Anderson meluncur memasuki halaman rumah utama keluarga Anderson. Suasana kediaman megah itu terasa sunyi dan lengang. Setelah berminggu-minggu menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menjaga ayah mertuanya, Sean akhirnya memutuskan pulang sejenak guna membersihkan diri dan mengambil beberapa dokumen penting.Begitu melangkah melewati pintu utama yang menjulang tinggi, Sean disambut oleh sosok wanita berjas medis putih yang berdiri rapi di dekat tangga utama. Dokter Maria, dokter pribadi yang kini di pekerjakan kembali di rumah utama dan sangat dipercayai Sean, tersenyum lembut menyambut kedatangannya."Selamat datang kembali di rumah, Tuan Sean," sapa Maria dengan nada suara yang sengaja diatur begitu hangat dan menenangkan. "Kamar utama di atas sudah saya bersihkan dan rapikan. Saya mengerti betul betapa melelahkannya beberapa hari ini untuk Anda."Sean mengangguk pelan tanpa tenaga. Lingkaran hitam di bawah matanya

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Perpisahan

    Perpisahan di rumah kayu Alpen Swiss pagi itu berlangsung dalam keheningan yang sarat akan kesedihan. Setelah mengemas pakaian dan kebutuhan Liam ke dalam dua koper sederhana, Stella memeluk Sofia untuk terakhir kalinya. Untuk menghindari kecurigaan paman Sofia maupun jaringan pelacak luar, Stella memilih pergi menggunakan kendaraan umum menuju Kota Zurich.Dengan menggendong Liam yang tertidur lelap di dadanya, Stella melangkah menyusuri jalanan kecil menuju stasiun bus terdekat. Bus lokal itu membawanya membelah pedesaan menuju pusat kota.Setibanya di Zurich, Stella menyewa sebuah kamar hotel bintang tiga yang tenang di sudut kota untuk menginap selama dua malam guna mempersiapkan segala hal secara matang. Di dalam kamar hotel yang hangat, Stella membaringkan Liam di atas tempat tidur empuk, lalu mengambil ponsel khusus anti-sadap yang terhubung ke jaringan terenkripsi untuk menghubungi Satria.Hanya butuh dua kali nada panggil hingga suara Satria terdengar di ujung sambungan."Hal

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Keputusan

    Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca rumah panggung Alpen Swiss tidak lagi membawa ketenangan. Kesunyian pedesaan itu pecah seketika oleh suara gedoran pintu utama yang teramat keras, disusul teriakan marah dalam bahasa lokal yang menggelegar dari luar halaman."Sofia! Keluar kamu! Jangan pura-pura tuli!"Stella yang sedang menyuapi Liam di ruang tengah langsung terperanjat. Jantungnya berdegup kencang saat melihat wajah Sofia mendadak pucat pasi. Tanpa sempat bertanya, pintu kayu rumah itu didorong paksa dari luar. Tiga orang kerabat keluarga besar nenek Sofia, yaitu paman dan sepupunya, menerobos masuk dengan raut wajah penuh amarah.Perkelahian mulut yang hebat pun meledak di ruang tamu. Kerabat Sofia melabraknya habis-habisan, menuduh Sofia telah menguasai rumah kayu peninggalan nenek secara sepihak. Mereka mengklaim memiliki hak atas aset tersebut karena merasa ikut menyumbang uang pembangunan di masa lalu."Kamu tidak berhak tinggal di sini sendirian! Apalagi menampung

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Bijaksana

    Monitor medis di dalam ruang ICU VVIP Anderson Hospital berdenyut pelan dalam keheningan malam, menampilkan grafik detak jantung yang mulai berangsur stabil. Di sisi ranjang tempat ayah mertuanya terbaring koma, Sean duduk termenung di atas kursi kulit hitam. Tangannya yang besar menggenggam erat jemari sang mertua yang terasa dingin, sementara sisa-sisa air mata masih mengering di sudut matanya.Bagi Sean, pria paruh baya di hadapannya ini bukan sekadar orang tua dari istri yang sedang pergi meninggalkannya. Ayah Stella adalah sisa kenangan terakhir tentang cinta sejatinya, dan juga tanggung jawab besar yang bersumpah ia jaga dengan nyawanya sendiri.Pintu ruangan bergeser pelan tanpa suara. Samuel melangkah masuk dengan ekspresi tegang, memegang ponsel yang layarnya masih menyala terang. Baru saja Samuel menutup sambungan telepon dari Nenek, yang di ujung sana mengamuk hebat menuntut agar seluruh jajaran dokter rumah sakit diganti akibat kepanikan berita yang beredar, ia harus seger

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Gundah

    Dinginnya ruangan ganti dokter di rumah sakit desa terpencil itu seolah menusuk hingga ke tulang. Stella masih terpaku di atas kursi plastik usang, menatap nanar layar ponselnya yang kini meredup. Rekaman video kemarahan Sean di lobi Anderson Hospital terus berputar di dalam kepalanya, meninggalkan gema suara bentakan yang begitu kontras dengan kelembutan pria itu di masa lalu.Pesan dari Satria tadi bagaikan beban berat yang menghantam pertahanan terakhirnya. Selama ini, Stella berusaha keras membangun dinding kebohongan di dalam hatinya, meyakinkan diri bahwa pelariannya ke desa ini adalah keputusan yang benar untuk menyelamatkan diri dari bayang-bayang keluarga Anderson. Ia mengira Sean dan keluarganya hanya memandang sang ayah sebagai beban atau sekadar alat pelindung status sosial. Namun, video berdurasi singkat itu meruntuhkan segalanya dalam hitungan detik.Ia melihat sendiri bagaimana urat-urat di leher Sean menonjol, bagaimana mata pria itu memerah dan dipenuhi keputusasaan y

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Berita

    Ruang ganti dokter di rumah sakit kecil desa itu terasa sangat menyesakkan. Ponsel di tangan Stella masih menyala, menampilkan pesan teks dan video rekaman amatir yang baru saja dikirimkan oleh Satria. Pesan itu seketika meruntuhkan sisa-sisa pertahanan yang telah ia bangun.Pesan dari Satria terpampang jelas di layar."Ste, aku harus ngabarin ini. Cuma aku emang udah kesulitan buat cari kabar perkembangan karna Sean udah mengganti semua petugas medis dan dia mengambil dokter luar yang benar-benar tak bisa di suap. Lihat berita yang aku kirim sepertinya papanu kesehatan lagi drop. Aku kirim berita yang aku rekam layar. Kau bisa melihatnya sendiri atau cari berita di sosmed. Tapi, sepertinya sudah tertangangi karena suasana rumah sakit sudah kembali tenang. Aku sudah meminta orangku ke rumah sakit tapi belum ada perkembangan."Bersamaan dengan pesan itu, Satria melampirkan rekaman video berita televisi nasional yang sedang booming. Di layar kecil tersebut, suasana pelataran Anderson H

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status