Share

Holiday Puncak

Author: Nic Arhsy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-23 19:35:39

Dua hari berlalu sejak malam yang menghempaskan seluruh sisa kehangatan di kamar utama kediaman Anderson. Pagi itu, halaman belakang mansion megah tersebut tampak sibuk. Beberapa pekerja sibuk memasukkan koper-koper ke dalam bagasi dua unit SUV hitam berukuran besar. Acara liburan keluarga yang digagas oleh sang Nenek ke villa peristirahatan pribadi di kawasan pegunungan akhirnya dimulai.

Sean berdiri di dekat pintu mobil, sesekali membetulkan letak jam tangan mewahnya. Wajah pria itu tampak te
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (19)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
bagus stel aku suka aktingmu, bisa menipu siapa saja
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
kamu yang ngga tau chelsea stella membukakan pintu kehancuran bustmu bukan buat dia
goodnovel comment avatar
E❤️‍🩹A
entah siapa yg bdoh Disni Chelsea,kmu atau Stella ...
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Berpapasan

    "Pastikan tidak ada yang melihat kita, Mas," bisik Stella dengan suara bergetar di balik masker hitam dan topi rajut tebal yang menutupi sebagian besar wajahnya.Di dalam gendongan depannya, Liam, bayi tujuh bulan yang baru saja bangun dari tidur panjangnya, menggeliat kecil. Mengenakan jaket musim dingin mungil berkupluk telinga beruang, bayi itu mengedipkan mata bulatnya yang jernih, menatap sekeliling lorong rumah sakit dengan rasa penasaran.Satria, yang berjalan setengah langkah di depan Stella sambil mengenakan jas laboratorium pinjaman, melirik ke kanan dan kiri koridor VVIP Anderson Hospital. “Tenang, Ste. Jadwal pergantian shift perawat baru saja dimulai sepuluh menit lalu. Kita punya waktu beberapa menit sebelum lorong ini kembali ramai. Ikuti aku lewat jalur servis darurat ini."Stella mengangguk patuh. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Setelah berbulan-bulan hidup dalam pelarian di Swiss, ia tidak pernah menyangka akan kembali b

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Tergoda Ranjang

    Malam makin larut ketika mobil sedan mewah hitam yang membawa Sean Anderson meluncur memasuki halaman rumah utama keluarga Anderson. Suasana kediaman megah itu terasa sunyi dan lengang. Setelah berminggu-minggu menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menjaga ayah mertuanya, Sean akhirnya memutuskan pulang sejenak guna membersihkan diri dan mengambil beberapa dokumen penting.Begitu melangkah melewati pintu utama yang menjulang tinggi, Sean disambut oleh sosok wanita berjas medis putih yang berdiri rapi di dekat tangga utama. Dokter Maria, dokter pribadi yang kini di pekerjakan kembali di rumah utama dan sangat dipercayai Sean, tersenyum lembut menyambut kedatangannya."Selamat datang kembali di rumah, Tuan Sean," sapa Maria dengan nada suara yang sengaja diatur begitu hangat dan menenangkan. "Kamar utama di atas sudah saya bersihkan dan rapikan. Saya mengerti betul betapa melelahkannya beberapa hari ini untuk Anda."Sean mengangguk pelan tanpa tenaga. Lingkaran hitam di bawah matanya

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Perpisahan

    Perpisahan di rumah kayu Alpen Swiss pagi itu berlangsung dalam keheningan yang sarat akan kesedihan. Setelah mengemas pakaian dan kebutuhan Liam ke dalam dua koper sederhana, Stella memeluk Sofia untuk terakhir kalinya. Untuk menghindari kecurigaan paman Sofia maupun jaringan pelacak luar, Stella memilih pergi menggunakan kendaraan umum menuju Kota Zurich.Dengan menggendong Liam yang tertidur lelap di dadanya, Stella melangkah menyusuri jalanan kecil menuju stasiun bus terdekat. Bus lokal itu membawanya membelah pedesaan menuju pusat kota.Setibanya di Zurich, Stella menyewa sebuah kamar hotel bintang tiga yang tenang di sudut kota untuk menginap selama dua malam guna mempersiapkan segala hal secara matang. Di dalam kamar hotel yang hangat, Stella membaringkan Liam di atas tempat tidur empuk, lalu mengambil ponsel khusus anti-sadap yang terhubung ke jaringan terenkripsi untuk menghubungi Satria.Hanya butuh dua kali nada panggil hingga suara Satria terdengar di ujung sambungan."Hal

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Keputusan

    Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca rumah panggung Alpen Swiss tidak lagi membawa ketenangan. Kesunyian pedesaan itu pecah seketika oleh suara gedoran pintu utama yang teramat keras, disusul teriakan marah dalam bahasa lokal yang menggelegar dari luar halaman."Sofia! Keluar kamu! Jangan pura-pura tuli!"Stella yang sedang menyuapi Liam di ruang tengah langsung terperanjat. Jantungnya berdegup kencang saat melihat wajah Sofia mendadak pucat pasi. Tanpa sempat bertanya, pintu kayu rumah itu didorong paksa dari luar. Tiga orang kerabat keluarga besar nenek Sofia, yaitu paman dan sepupunya, menerobos masuk dengan raut wajah penuh amarah.Perkelahian mulut yang hebat pun meledak di ruang tamu. Kerabat Sofia melabraknya habis-habisan, menuduh Sofia telah menguasai rumah kayu peninggalan nenek secara sepihak. Mereka mengklaim memiliki hak atas aset tersebut karena merasa ikut menyumbang uang pembangunan di masa lalu."Kamu tidak berhak tinggal di sini sendirian! Apalagi menampung

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Bijaksana

    Monitor medis di dalam ruang ICU VVIP Anderson Hospital berdenyut pelan dalam keheningan malam, menampilkan grafik detak jantung yang mulai berangsur stabil. Di sisi ranjang tempat ayah mertuanya terbaring koma, Sean duduk termenung di atas kursi kulit hitam. Tangannya yang besar menggenggam erat jemari sang mertua yang terasa dingin, sementara sisa-sisa air mata masih mengering di sudut matanya.Bagi Sean, pria paruh baya di hadapannya ini bukan sekadar orang tua dari istri yang sedang pergi meninggalkannya. Ayah Stella adalah sisa kenangan terakhir tentang cinta sejatinya, dan juga tanggung jawab besar yang bersumpah ia jaga dengan nyawanya sendiri.Pintu ruangan bergeser pelan tanpa suara. Samuel melangkah masuk dengan ekspresi tegang, memegang ponsel yang layarnya masih menyala terang. Baru saja Samuel menutup sambungan telepon dari Nenek, yang di ujung sana mengamuk hebat menuntut agar seluruh jajaran dokter rumah sakit diganti akibat kepanikan berita yang beredar, ia harus seger

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Gundah

    Dinginnya ruangan ganti dokter di rumah sakit desa terpencil itu seolah menusuk hingga ke tulang. Stella masih terpaku di atas kursi plastik usang, menatap nanar layar ponselnya yang kini meredup. Rekaman video kemarahan Sean di lobi Anderson Hospital terus berputar di dalam kepalanya, meninggalkan gema suara bentakan yang begitu kontras dengan kelembutan pria itu di masa lalu.Pesan dari Satria tadi bagaikan beban berat yang menghantam pertahanan terakhirnya. Selama ini, Stella berusaha keras membangun dinding kebohongan di dalam hatinya, meyakinkan diri bahwa pelariannya ke desa ini adalah keputusan yang benar untuk menyelamatkan diri dari bayang-bayang keluarga Anderson. Ia mengira Sean dan keluarganya hanya memandang sang ayah sebagai beban atau sekadar alat pelindung status sosial. Namun, video berdurasi singkat itu meruntuhkan segalanya dalam hitungan detik.Ia melihat sendiri bagaimana urat-urat di leher Sean menonjol, bagaimana mata pria itu memerah dan dipenuhi keputusasaan y

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status