MasukKeheningan di dalam kamar utama villa terasa bagaikan benang tipis yang siap putus kapan saja. Cahaya lampu gantung bernuansa hangat memantulkan bayangan dua insan yang terjebak dalam ruang tertutup. Sean berdiri kaku di dekat meja rias, kedua tangannya terbenam di dalam saku celana. Pria itu tampak gelisah, sesekali melirik Stella melalui cermin seraya mencerna tumpukan emosi, rasa malu, dan keputusasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.Sementara itu, Stella duduk sangat tenang di tepi peraduan. Raut wajahnya halus tanpa ekspresi, seolah pertengkaran hebat dan ketegangan berdarah di ruang keluarga tadi hanyalah angin lalu yang menyejukkan. Jemarinya dengan anggun merapikan lipatan gaun gadingnya, sama sekali tidak memperlihatkan keterikatan emosional pada pria yang kini berdiri beberapa langkah darinya.Setelah cukup lama dibungkus diam-diaman yang menyiksa dan menekan dada, Sean akhirnya menghela napas berat. Pria itu melangkah ragu mendekati ranjang, menatap istrinya dengan sorot
"Kamu memercayai tuduhan gila wanita ini, Sean?!" jerit Chelsea melengking. Wajah cantiknya memerah padam, disusul histeris yang dibuat-buat. "Aku cuma berniat baik! Aku membuatkan teh itu dengan penuh rasa peduli, dan dia malah membuangnya lalu memfitnahku memasukkan obat berbahaya! Kamu tega membiarkan dia menginjak-injak niat baikku?!"Sean menatap Chelsea dengan sorot mata yang makin mengeras, penuh kebingungan yang berkecamuk. Ia melangkah satu tapak mendekati genangan teh yang menggenang di atas marmer hitam. Bau kimia pekat yang asing bertolak belakang dengan aroma teh herbal biasa makin tercium menyengat di hidungnya."Aroma ini memang bukan teh biasa, Chelsea," ucap Sean dengan suara berat yang menahan ketegangan. "Jawab jujur, apa yang sebenarnya kamu masukkan ke dalam cangkir ini?"Sebelum Chelsea sempat menjawab, mama Sean yang berdiri di sudut ruangan mendadak melangkah maju dengan tergesa-gesa. Wajah wanita paruh baya itu tampak panik, sengaja menyela sebelum skandal in
"Sedikit teh hangat untuk menyegarkan napasmu di udara dingin ini, Stella," ucap Chelsea seraya mengulurkan cangkir porselen berisi cairan bening keemasan yang masih berasap tipis.Chelsea tersenyum begitu manis, memamerkan raut wajah tulus yang dirancang sempurna untuk mengelabui siapa pun yang melihatnya. Di dalam hatinya, darah Chelsea berdesir hebat oleh antisipasi yang membakar. Di dasar cangkir porselen itu, beberapa tetes cairan racikan obat pembersih rahim dosis tinggi telah menyatu sempurna tanpa rasa maupun aroma. Dalam beberapa jam ke depan, ia membayangkan Stella akan mengerang kesakitan, terbaring di atas genangan darahnya sendiri, dan kehilangan janin yang selama ini menjadi tameng utamanya di keluarga Anderson.Stella yang sedang duduk santai di sudut ruang keluarga villa memandangi cangkir itu. Matanya lalu beralih menatap wajah Chelsea, kemudian bergeser pada Sean yang berdiri tak jauh dari mereka seraya memperhatikan interaksi itu dengan binar lega."Terima kasih, Ch
Dua hari berlalu sejak malam yang menghempaskan seluruh sisa kehangatan di kamar utama kediaman Anderson. Pagi itu, halaman belakang mansion megah tersebut tampak sibuk. Beberapa pekerja sibuk memasukkan koper-koper ke dalam bagasi dua unit SUV hitam berukuran besar. Acara liburan keluarga yang digagas oleh sang Nenek ke villa peristirahatan pribadi di kawasan pegunungan akhirnya dimulai.Sean berdiri di dekat pintu mobil, sesekali membetulkan letak jam tangan mewahnya. Wajah pria itu tampak tegang, menyembunyikan kecemasan yang terus membayangi pikirannya sejak peristiwa malam itu. Setiap kali pandangannya berbenturan dengan Stella, ada rasa bersalah yang menggelitik ulu hatinya. Namun, Stella bersikap sangat sempurna—terlalu sempurna. Ia tampil anggun dengan gaun terusan longgar berwarna krem, tersenyum sopan pada sang Nenek, dan sama sekali tidak menunjukkan sikap dingin atau penolakan saat berada di depan umum."Stella, Pastikan kamu tidak kelelahan selama perjalanan," ucap Nenek
Cahaya keemasan mentari pagi merayap pelan menerobos celah gorden kamar utama, menyinari serakan pakaian yang berhamburan di atas karpet bulu. Suasana ruangan yang semalam dipenuhi gelombang gairah liar kini berubah menjadi keheningan yang mencekam.Sean terbangun dengan kepala yang terasa dihantam beban berat. Efek obat perangsang dosis tinggi yang semalam membakar seluruh sarafnya telah menguap sepenuhnya, menyisakan rasa pening yang menggigit di pelipis dan rasa kebas di sekujur tubuh. Pria itu mengusap wajahnya kasar, perlahan membuka mata yang memerah.Di sampingnya, Stella terbaring miring membelakanginya, terbungkus selimut marun hingga sebatas dada. Bahunya yang polos memperlihatkan jejak-jejak kemerahan—bukti nyata dari perlakuan brutal Sean sepanjang malam.Kenangan semalam mendadak berputar hebat di dalam otak Sean bagaikan kilatan film. Mulai dari rengekan Chelsea di lobi, tegukan jus bermasalah di penthouse, usahanya melarikan diri dengan kesadaran yang terkoyak, hingga b
“Ahhh! Akhirnya aku keluar, Stella…” erang Sean sambil memeluk istrinya erat. Dia terkapar lemas di atas tubuh sang istri tak berdaya. Sampai beberapa saat kemudian dia berguling lemas di sampingnya.Gelombang panas dari racikan obat perangsang dosis tinggi yang dicekoki Chelsea ternyata belum surut sepenuhnya. Efek racun kimiawi itu masih membakar aliran darah Sean, memompa jantungnya tanpa henti dan mengunci nalurinya dalam pusaran gairah yang brutal. Pria itu tidak terpuaskan hanya dengan satu kali pelepasan. Bagi Sean malam ini, kehangatan dan kepasrahan fisik Stella adalah satu-satunya penawar yang sanggup meredakan gejolak membara di dalam dadanya.“Stella, aku masih belum puas, milikku berdiri lagi…” Tanpa membiarkan Stella menghela napas lega, Sean kembali menarik tubuh istrinya yang masih terkulai lemas di atas ranjang. Dengan gerakan yang penuh dominasi dan tenaga yang tak berkurang sedikit pun, Sean mengangkat tubuh Stella, membawanya turun dari pembaringan menuju dinding







