Share

Ngantuk

Author: Nic Arhsy
last update publish date: 2026-08-27 20:33:06

"Tuan Sean, supir truk boks itu sudah berhasil diamankan dan dipindahkan ke kantor polisi," bisik pak pengawal pribadi kepercayaan Nenek yang melangkah masuk ke dalam kamar perawatan dengan sangat pelan, menjaga agar suaranya tidak membangunkan Stella yang tertidur pulas. "Kepolisian baru saja memberikan laporan awal dari hasil interogasi sementara."

Sean perlahan melepas genggaman tangannya dari jemari Stella, lalu berdiri dengan tubuh kaku. Pria itu berbalik menatap pengawalnya dengan raut wa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (23)
goodnovel comment avatar
Sri Yati
jangan senang dulu chelsea, mama mertua.. yang jelas proses tetap berjalan.. sean akan mencari siapa dalang yang ingin mencelakai stella
goodnovel comment avatar
Sri Yati
tetap diusut sean .. jangan percaya 100% ucapan sopir itu.. yang salah harus dihukum
goodnovel comment avatar
𝙽𝚊𝚟𝚎𝚍
dengan adanya sang mak Lampir yg seolah" peduli dg Stella serta janinnya bukanlah ini jg mencurigakan Sean? kmu jd laki yg cerdas donk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Deal?

    "Baiklah, kalau kamu memang berniat menemaniku, jangan hanya duduk berpangku tangan di sini," kata Stella bernada menantang, berusaha mengalihkan debaran aneh di dadanya akibat tatapan lekat sang suami. "Di dapur masih ada tumpukan wadah katering yang harus dibersihkan dan beberapa stok bahan baku yang perlu disortir."Sean langsung berdiri dari kursi kayunya tanpa keraguan sedikit pun. Kemeja kasual rapi yang ia kenakan tidak menyurutkan niatnya untuk membuktikan kesungguhan. "Katakan saja apa yang harus kulakukan, Ste. Aku siap membantumu sekarang."Stella mendengkus kecil, setengah tidak percaya melihat kesiapan pria yang dulunya terbiasa dilayani oleh banyak tangan di rumah megah keluarga Anderson. Tanpa banyak bicara, ia berbalik dan melangkah menuju area dapur, sementara Sean mengikutinya tepat di belakang.Suasana dapur kecil itu mendadak terasa jauh lebih sempit dengan kehadiran tubuh jangkung Sean. Mbak Lastri yang sedang sibuk mengiris daun bawang di meja samping langsung me

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Rona Merah

    "Minumlah, setidaknya segelas air hangat ini bisa membantumu melegakan tenggorokan setelah perjalanan panjang dari ibu kota," ucap Stella datar sambil meletakkan cangkir keramik berisi air hangat di atas meja kayu di hadapan Sean.Sean mendongak, menatap wajah istrinya yang masih menyiratkan sisa-sisa ketegangan dan kelelahan. Pria itu meraih cangkir tersebut dengan kedua tangannya, lalu tersenyum tipis. "Terima kasih, Ste. Kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan ini, tapi perhatian kecilmu selalu berhasil membuatku merasa jauh lebih tenang. Aku sangat bersyukur memilikimu sebagai istri, Ste.”Stella memalingkan wajahnya, memilih duduk di kursi seberang dengan jarak yang cukup jauh untuk menjaga batas. "Jangan salah paham, Sean. Ini bukan bentuk perhatian istimewa, aku hanya menghargai tamu yang datang ke rumahku, terlepas dari siapa pun dia. Semua tamu sama di mataku.”Meski sambutan Stella terdengar dingin dan penuh ketus, Sean sama sekali tidak menunjukkan rasa tersinggung. Ia just

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Silahkan

    Stella tertegun di ambang pintu, menatap manik mata suaminya yang memancarkan kesungguhan tanpa sedikit pun keraguan. Napasnya tercekat di tenggorokan, sementara akal sehatnya beradu sengit dengan debaran aneh yang tiba-tiba bergemuruh di dalam dada. Pria di hadapannya saat ini jauh berbeda dari bayangan kebencian yang selama bertahun-tahun ia pelihara di dalam hati."Menjemputku? Atas dasar apa kau berani bicara begitu, Sean? Kau pikir kau punya hak atas diriku setelah sikapmu di masa lalu dan kejahatan keluargamu?" cetus Stella tajam, menatap lurus ke dalam mata pria di hadapannya demi mempertahankan pertahanan dirinya yang mulai goyah.Sean tidak lantas mundur atau menunjukkan emosi tersinggung. Pria itu justru melangkah lebih dekat, menipiskan jarak di antara mereka hingga aroma wangi maskulin bercampur udara pagi pesisir menyapa ke indra penciuman Stella."Aku tahu aku tidak punya hak untuk menuntutmu langsung percaya, Ste," jawab Sean dengan suara berat yang sarat akan ketulusan

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Ketukan

    "Sudahlah, Mas. Jangan terlalu khawatir, aku tahu persis apa yang kulakukan dan bagaimana cara menghadapi situasi ini," ucap Stella dengan nada lembut namun tegas di ujung sambungan telepon, mencoba meredakan kekhawatiran berlebihan dari pria yang sudah lama menjadi tempatnya bersandar itu."Bagaimana aku tidak merasa cemas, Ste? Keluarga Anderson itu punya kekuasaan dan pengaruh besar untuk memutarbalikkan fakta, apalagi mengambil hak asuh Liam darimu," sanggah Satria masih dengan nada suara yang meninggi karena diliputi rasa panik. "Kalau kamu butuh bantuan sekecil apa pun, katakan padaku sekarang juga. Aku bisa langsung meluncur ke pesisir malam ini.""Tidak usah, Mas Satria. Terima kasih banyak atas semua perhatian dan tawarannya, tapi ini adalah masalah rumah tanggaku sendiri dan aku harus menghadapinya secara bijaksana," jawab Stella menolak secara halus namun mutlak. "Kamu baru saja mendarat dari misi yang sangat melelahkan di Afrika. Sebaiknya kamu istirahat total, pulihkan te

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Satria?

    Hari sudah beranjak malam ketika Sean melangkah kembali mendekati ranjang president suite tempat Nyonya Besar beristirahat. Setelah perbincangan singkat lewat sambungan telepon dengan Mbak Lastri sore tadi, keputusan di dalam kepala pria itu sudah bulat. Besok pagi, ia akan meninggalkan ibu kota sejenak demi membawa pulang istri tercintanya kembali ke pelukan keluarga.Clarissa si bungsu Anderson yang baru saja merapikan kotak mainan balok susun milik Liam mendongak menatap kakaknya. Ia menangkap binar tekad yang begitu kuat di mata Sean."Kak Sean sudah memutuskan kapan akan kembali ke pesisir dan jemput kak Stella?" tanya Clarissa pelan, berusaha tidak mengusik ketenangan Nyonya Besar yang masih memejamkan mata di pembaringan.Sean mengangguk tegas. "Besok pagi, Ca. Kondisi Nenek sudah jauh lebih stabil dan membaik. Aku tidak bisa membiarkan Stella sendirian terlalu lama di sana, apalagi perasaannya sedang bimbang antara rindu dan gengsi."Mendengar hal itu, Nyonya Besar yang dik

  • Biar Pernikahan Kita Selesai di Sini   Kerinduan

    "Nanti kalau pesanan katering Mama sudah selesai, Mama pasti akan menyusul kita ke Jakarta, Nenek Buyut!" jawab Liam dengan penuh semangat, mempertahankan argumennya seraya menggenggam erat jemari renta sang buyut.Nyonya Besar terkekeh pelan di sela sisa napasnya yang masih terdengar lemah, merasa takjub dengan kecerdasan dan ketegasan cucu buyutnya itu. “Wah, hebat sekali cucu buyutku ini. Pintar, tegas, dan sangat menghargai kerja keras ibunya," puji Nyonya Besar sambil mengusap lembut pipi mulus Liam, menyalurkan kehangatan yang sudah lama hilang dari keluarga besar tersebut.Sean yang berdiri di sisi ranjang turut tersenyum tipis. Percakapan kecil itu semakin membuka matanya lebar-lebar bahwa Stella telah mendidik Liam dengan luar biasa baik, meskipun di tengah keterbatasan dan beban hidup yang berat selama tiga tahun terakhir.Nyonya Selvie yang duduk di kursi sebelah menyentuh lengan putranya secara perlahan. "Sean, perkataan Liam benar. Setelah kondisi Nenekmu benar-benar st

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status