FAZER LOGIN"Hasil riasannya sangat sempurna, Mbak Elena. Terima kasih banyak," puji Stella tulus saat memandangi pantulan dirinya di cermin besar.Elena tersenyum bangga seraya merapikan kuas terakhirnya. "Sama-sama, Nyonya Muda. Kecantikan alami Nyonya mempermudah tugas kami. Riasan soft glam ini benar-benar menonjolkan aura keanggunan Nyonya tanpa berlebihan."Stella mengangguk anggun. Ia berdiri dari kursi rias, membiarkan asisten MUA membantunya mengenakan gaun malam hijau zamrud berpotongan A-line yang telah ia siapkan sebelumnya. Bahan sutra berkilau itu melingkupi tubuhnya dengan indah, menyamarkan lekuk perutnya yang mulai berisi tanpa mengorbankan kesan mewah. Gaun itu dipadukan sempurna dengan lengan panjang transparan bermotif sulur emas yang memberikan sentuhan berkelas.Dokter Fiona yang masih berdiri tak jauh dari meja rias menatap Stella tanpa kedip. Ada perasaan campur aduk di dalam dadanya—antara kekaguman pada pesona Stella dan rasa bersalah yang makin dalam menancap di jiwanya
"Wajahmu cerah sekali malam ini, Sean... anakmu di dalam sini pasti akan sangat bangga memiliki ayah setampan kamu," bisik Stella lembut, melangkahkan kakinya mendekati sang suami yang sudah terbalut sempurna dalam setelan tuksedo mewahnya.Sean berbalik, menyunggingkan senyum ketampanan yang begitu memikat. Aura positif dan kebahagiaan terpancar sangat jelas dari wajahnya yang segar usai mandi. Ketampanan pria itu seolah berada di puncaknya malam ini, begitu sempurna tanpa cela hingga Stella sendiri sempat berdecak kagum dalam hatinya.Mendengar pujian manis dari bibir istrinya, binar bahagia di mata Sean makin meluap. Pria itu melangkah maju, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Stella yang masih terbungkus handuk tebal, lalu merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukan hangat yang begitu protektif."Aku juga sangat bangga dan bersyukur bisa menikah denganmu, Stella," balasku Sean tulus, mengecup puncak kepala Stella dengan penuh kasih sayang. "Kamu dan anak kita adalah harta pal
"Ste, tolong aku, Sayang..." bisiknya dengan suara bergetar, jemari tangannya membelai lembut milik Stella yang telah basah. "Punya mu juga udah basah banget, Sayang. Udah siap buat di masukin, bentar aja, ya, Sayang." Desahan napas Sean yang kian memburu memenuhi setiap sudut kamar berpendingin udara itu. Lidahnya menyapu lembut kulit sensitif Stella, memicu getaran halus yang tak bisa dihindari oleh tubuh wanita itu. Sean terbakar gairah yang tak terkendali saat berhadapan dengan sang istri. Dia terus menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya membuat Stella akhirnya menggelinjang dengan desisan pelan."Nghhh....Sean...ka-kamu...""Iya, Sayang. Aku gak kuat, aku masukin ya, sekarang..." desahnya sambil menuntun miliknya. Dengan penuh penekanan dan dominasi. Pria itu menyatukan jemarinya di jemari Stella, menekan lengan istrinya di atas kasur seraya terus memacu ritme dengan napas yang tak teratur."Ste... ahh, kamu selalu bikin aku gila..." bisik Sean serak tepat di depan telinga Stell
"Nyonya Muda, ada kiriman beberapa kotak gaun yang dikirimkan langsung oleh Nyonya Besar," panggil Syahnaz lembut dari balik pintu kamar yang terketuk perlahan.Stella membuka matanya, menyapu lembut sisa embun tipis di sudut matanya. Bisikan doa untuk sang ibu yang telah tiada tersimpan rapi dalam sanubarinya. Ia berbalik, melangkah anggun membukakan pintu kamar utama. Di hadapannya, Syahnaz berdiri bersama dua orang pelayan yang membawakan beberapa kotak besar berbalut pita sutra mewah dari perancang ternama.“Gaun?” Ulang Stella penasaran sambil melirik ke arah kotak yang dibawa Syahnaz.“Iya, Nyonya.”"Taruh saja di atas meja rias, Syahnaz," ucap Stella santai dengan senyuman lembut yang begitu menenangkan."Baik, Nyonya," jawab Syahnaz cekatan. "Nyonya Besar dan Nona Jessica berpesan agar Nyonya memakai gaun merah ini nanti malam. Kata mereka, warna ini cocok untuk tema keluarga Anderson.”“Baiklah, aku pertimbangkan dulu, nanti pakai yang nyaman mana untuk kandunganku. Sampaikan
"Terima kasih ya, Kak... maafin aku yang sempat berpikiran buruk sama Kakak," bisik Clarissa lirih, matanya kian berkaca-kaca menatap ketulusan di dalam manik mata Stella.Stella menyunggingkan senyum hangat yang begitu menenangkan. Ia mengusap pelan air mata yang menggenang di sudut mata Clarissa, lalu menepuk halus bahu gadis muda itu. "Sudah, tidak perlu meminta maaf. Kakak sama sekali tidak pernah menyimpan dendam padamu. Sekarang, fokuslah dengan olahragamu dan bersiap untuk kuliah. Ingat pesan kakak, harus belajar yang rajin dan buat kakak bangga punya adik secantik dan sepintar dirimu.”Dengan keanggunan yang melangkah tenang, Stella memutar tubuhnya dan keluar dari ruang gym. Meninggalkan Clarissa yang masih berdiri terpaku di depan treadmill, memandangi punggung Stella dengan rasa sesal yang membakar relung dadanya. Di dalam hati gadis itu, keyakinan bahwa Stella adalah sosok kakak ipar terbaik yang pernah dimiliki keluarga Anderson kian tertanam kuat.Stella menyusuri tangga
"Ca, kita udah lama gak ngobrol, kakak pengen nge gym bareng kamu," panggil Stella cepat seraya melangkah mendekat dan merengkuh lembut pergelangan tangan Clarissa.Clarissa, yang saat itu baru saja menjejakkan kaki di ambang pintu ruang gym pribadi mansion Anderson, sempat mematung. Adik Sean itu secara refleks hendak berputar balik begitu mendapati keberadaan Stella di dalam ruangan. Namun, sentuhan hangat di tangannya dan nada suara Stella yang begitu tenang menahan niatnya. Clarissa, yang pada dasarnya berhati baik dan hanya sempat terpengaruh oleh insiden terakhir di rumah itu, menghela napas panjang lalu mengurungkan langkahnya untuk pergi."Tumben kamu keluar dari sarangmu? Biasanya kamu dikawal ketat," dengkus Clarissa kesal, berpura-pura dingin walau ia membiarkan Stella menuntunnya masuk lebih dalam ke area tempat latihan."Bersyukurnya kakakmu sudah mulai tenang dan percaya kalau aku bisa menjadi ibu yang baik, jadi dia sudah mulai melepaskan aku," balas Stella santai ser







