Beranda / Romansa / Biarkan Aku Membantumu Nyonya / BAB 7: Pertemuan Dua Dunia

Share

BAB 7: Pertemuan Dua Dunia

Penulis: Benduls
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 21:44:16

“A-aku harus pergi ke kampus,” ucap Dava pada Aurelia.

Ketika Dava menoleh, Aurelia tengah tidur dengan napas teratur. Ah, Nyonya sudah tertidur, batin Dava.

Selesai berkemas, Dava memacu mobil operasionalnya dengan kecepatan tinggi menembus kemacetan jalan. Jantungnya berpacu lebih cepat daripada putaran mesin mobil. Kemejanya yang tadi basah kini memang sudah kering, namun sensasi kulit Aurelia yang bersentuhan dengannya di bawah shower pagi tadi masih terasa nyata, seperti bekas luka yang tak terlihat.

​Di dalam kepalanya, suara Aurelia dan pesan-pesan cemas Sita saling beradu. Ia merasa kikuk memikirannya.

​Sesampainya di pelataran kampus, Dava mengerem mendadak. Ia melihat sosok gadis dengan blus cokelat muda berdiri gelisah di depan gedung fakultas. 

Dava keluar mobil dengan terburu-buru.

​"Sita!" panggil Dava sambil berlari menghampirinya.

​Sita menoleh. Ekspresi cemas di wajahnya seketika berubah menjadi campuran antara lega dan marah. Saat Dava sampai di depannya, Sita langsung menyodorkan tanya.

​"Kamu ke mana saja, Dav? Aku telepon puluhan kali, aku cari ke kelas, kamu nggak ada. Aku pikir kamu kecelakaan atau apa!" suara Sita bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.

​"Maaf, Sit. Aku... ada urusan pekerjaan yang sangat mendesak. Ponselku mati," Dava berbohong. Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya.

​Sita menatap Dava lekat-lekat. Matanya yang jernih seolah sedang memindai kebohongan itu. Ia mendekat, tangannya tanpa sadar merapikan kerah kemeja Dava yang sedikit berantakan. Namun, gerakan Sita terhenti.

​"Dav, kamu..." Sita menarik tangannya kembali, wajahnya memucat. "Pakai parfum apa? Dan kenapa rambutmu masih lembap?"

​Dava membeku. Ia lupa bahwa indra penciuman wanita adalah detektif yang paling handal. "Aku... aku tadi mandi terburu-buru di kantor, Sit. Parfum itu mungkin dari ruangan majikanku."

Sebelum Sita sempat bertanya lebih lanjut, sebuah deru mesin mobil mewah yang sangat halus membelah keramaian tempat parkir kampus.

​Sebuah Bentley hitam mengilap berhenti tepat di samping mereka. Kehadiran mobil itu menarik perhatian ratusan mata mahasiswa yang ada di sana. Pintu belakang terbuka, dan seorang wanita keluar dengan keanggunan yang mengintimidasi.

​Aurelia.

​Ia mengenakan terusan gaun merah marun yang pas di badan, kacamata hitam besar menutupi matanya, dan rambutnya yang kini tersanggul rapi. Ia berjalan mendekati Dava dan Sita dengan langkah yang penuh otoritas.

​"Dava," suara Aurelia terdengar dingin namun memiliki nada kepemilikan yang sangat kuat. "Jadwalmu berubah. Kita harus segera ke galeri seni sekarang."

​Sita terpaku. Ia menatap Aurelia dari ujung rambut hingga ujung kaki.

​"Maaf, Anda siapa?" tanya Sita, suaranya berusaha tetap tegar meski bergetar.

​Aurelia melepaskan kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang tajam dan berkilat penuh kemenangan. Ia menatap Sita dengan pandangan meremehkan, seolah Sita adalah debu yang tidak sengaja menempel di sepatunya.

​"Aku adalah atasannya. Dan kau?" Aurelia bertanya balik, suaranya sangat tenang namun menusuk.

​"Aku Sita. Teman... teman lama Dava," jawab Sita.

​Aurelia menyunggingkan senyum tipis yang penuh ejekan. Ia berjalan mendekati Dava, lalu dengan gerakan yang sangat sengaja, ia merapikan dasi Dava yang sebenarnya sudah rapi. 

Ia melakukannya dengan sangat dekat, membiarkan aroma tubuhnya kembali menyelimuti Dava.

​"Teman lama?" Aurelia menoleh kembali pada Sita. "Menarik. Dava tidak pernah bercerita dia punya teman yang begitu... sederhana. Tapi maaf, Sita, Dava sedang dalam jam kerja. Dan jam kerjanya milikku sepenuhnya."

​Sita mengerjap. Ketegangan di antara kedua wanita itu terasa begitu pekat hingga udara di sekitarnya seolah membeku. 

​"Dava punya kehidupan di luar pekerjaannya, Nyonya," balas Sita, suaranya kini lebih berani. "Dia bukan barang yang bisa Anda perintah semau Anda."

​Mata Aurelia menyipit. "Oh, benarkah? Kau mungkin mengenalnya di masa lalu, tapi di masa sekarang, akulah yang tahu setiap inci dari kebutuhannya. Aku yang membayar setiap detik waktunya."

Mendengar itu membuat Dava salah tingkah. Dava merasa jantungnya hampir meledak karena malu dan takut.

​"Sita, lebih baik kamu pulang dulu. Nanti aku hubungi lagi," ucap Dava cepat, mencoba menengahi sebelum situasi semakin hancur.

​Sita menatap Dava dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat bagaimana Dava mendadak tidak berdaya di depan wanita ini. "Kamu berubah, Dava. Aku nggak tahu apa yang wanita ini berikan padamu, tapi ini bukan kamu yang aku kenal."

​Sita berbalik dan berlari pergi.

​Dava hendak mengejar, namun tangan Aurelia mencengkeram lengannya dengan sangat kuat.

​"Biarkan dia pergi, Dava," bisik Aurelia, suaranya kini berubah menjadi peringatan yang tajam. "Ingat siapa yang membayarmu."

​Dava terpaku. Ia menatap punggung Sita yang menjauh, lalu menatap Aurelia yang kini menatapnya dengan obsesi yang mengerikan.

​"Masuk ke mobil," perintah Aurelia.

​Dava masuk ke dalam mobil mewah itu dengan perasaan seperti seorang terpidana mati yang sedang menuju tempat eksekusi. 

Di dalam mobil, Aurelia duduk sangat dekat dengannya, aroma parfumnya kembali menguasai kabin mobil, namun bagi Dava, wangi itu kini tercium seperti bau penjara.

​"Jangan pernah temui dia lagi," ucap Aurelia sambil membelai pipi Dava. "Kau hanya milikku, Dava. Mengerti?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 7: Pertemuan Dua Dunia

    “A-aku harus pergi ke kampus,” ucap Dava pada Aurelia.Ketika Dava menoleh, Aurelia tengah tidur dengan napas teratur. Ah, Nyonya sudah tertidur, batin Dava.Selesai berkemas, Dava memacu mobil operasionalnya dengan kecepatan tinggi menembus kemacetan jalan. Jantungnya berpacu lebih cepat daripada putaran mesin mobil. Kemejanya yang tadi basah kini memang sudah kering, namun sensasi kulit Aurelia yang bersentuhan dengannya di bawah shower pagi tadi masih terasa nyata, seperti bekas luka yang tak terlihat.​Di dalam kepalanya, suara Aurelia dan pesan-pesan cemas Sita saling beradu. Ia merasa kikuk memikirannya.​Sesampainya di pelataran kampus, Dava mengerem mendadak. Ia melihat sosok gadis dengan blus cokelat muda berdiri gelisah di depan gedung fakultas. Dava keluar mobil dengan terburu-buru.​"Sita!" panggil Dava sambil berlari menghampirinya.​Sita menoleh. Ekspresi cemas di wajahnya seketika berubah menjadi campuran antara lega dan marah. Saat Dava sampai di depannya, Sita langsu

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 6: Embun yang Membakar

    Dava pun terbangun dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya. Ingatan tentang lensa kamera tersembunyi yang ia temukan semalam masih menghantui pikirannya. Namun, saat ia menoleh ke samping, tempat tidur itu lagi-lagi sudah kosong.​Hanya ada keharuman vanilla dan jasmine yang tertinggal di bantal, serta suara gemericik air yang jatuh dari balik pintu kaca buram di sudut ruangan. Aurelia sedang mandi.​Dava duduk di tepi ranjang, menatap tangannya yang sedikit gemetar. Pikirannya berperang antara rasa takut pada Reinhart dan daya tarik Aurelia yang tak tertahankan.Seharusnya ia segera pergi, kembali ke paviliunnya sebelum pelayan lain curiga. Namun, bayangan tubuh Aurelia semalam membuat kaki Dava justru melangkah ke arah kamar mandi.​Ia membuka pintu kaca tersebut. Uap panas langsung menyergap wajahnya. Aurelia tersentak, ia berbalik dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian dadanya. Matanya yang jernih membelalak kaget, namun rasa terkejut itu hanya bertahan sedetik se

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 5: Malam Tanpa Mata-Mata

    Layar ponsel di lantai itu akhirnya padam, menyisakan cahaya remang lampu tidur berwarna amber. Keheningan kamar itu mendadak terasa berat.​Di atasnya, Aurelia tidak memberinya ruang sedikit pun untuk berpikir. Wanita itu bergerak dengan keanggunan yang mematikan, jemarinya yang lentik dan gemetar melepaskan kancing kemeja Dava satu per satu. Rasanya harga diri Dava runtuh bersamaan dengan terbukanya kancing-kancing itu.​"Jangan pikirkan hal lain," bisik Aurelia. Suaranya parau. "Malam ini, biarkan aku merasa hidup."​Dava menatap lurus ke dalam mata Aurelia. Dava tahu dia hanyalah pria sewaan. Namun, saat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang kain, insting maskulinnya mengambil alih. Tubuh Dava yang atletis—hasil dari tahun-tahun bekerja kasar sebagai kuli panggul demi menyambung hidup—tampak begitu kontras dengan kelembutan kulit Aurelia yang seputih porselen dan terawat oleh kemewahan.Untuk pertama kalinya sejak ia menerima kontrak Reinhart, Dava tidak merasa seperti asi

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 4: Masa Lalu yang Kembali Menghantui

    Keesokan harinya, kampus pascasarjana Universitas Maju tampak berkabut. Udara segar yang ada sedikit mendinginkan kepala Dava yang terasa mendidih setelah rentetan kejadian gila beberapa hari terakhir. Ia berdiri di depan gedung fakultas dengan ransel yang terasa lebih berat, bukan karena buku-buku tebal di dalamnya, melainkan karena rahasia yang ia pikul.​Dava menarik napas dalam. Tadi ia baru menjalankan kelas pertama.Hari ini adalah hari pertamanya kuliah S2. Gelar yang ia impikan sejak kecil, tiket yang seharusnya ia dapatkan dengan keringat kejujuran, kini ia beli dengan harga dirinya sendiri.​"Dava? Dava Atmajaya?"​Suara feminin yang lembut itu membuat Dava tersentak. Ia menoleh dan seketika itu juga seluruh tubuhnya membeku. Berdiri beberapa meter darinya, seorang gadis dengan blus cokelat muda dan rambut dikuncir kuda menatapnya dengan mata yang berbinar tak percaya.​"Sita?" suara Dava tercekat.​Sita adalah masa lalunya. Gadis yang pernah mengisi hari-harinya di masa S

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 3: Sandiwara di Balik Sutra

    Ia menunduk, menangkap bibir merah Aurelia dengan ciuman yang penuh tekanan—campuran antara rasa frustrasi, nafsu yang tertahan, dan amarah pada keadaan. Aurelia membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya merayap ke rambut Dava, menariknya semakin dalam ke dalam pusaran gairah.Dava membawa tangan kekarnya ke atas kaki jenjang Aurelia, naik ke pahanya. “Ahh,” Aurelia mengerang atas sentuhan Dava.Dava dengan cepat membuka pakaian yang membungkus tubuh Aurelia. Ia seakan lupa dengan tanggungan harga dirinya. Persetan! Dalam benak Dava, uang miliaran itu menjadi pegangannya sekarang.Maka Dava terus mencumbu, ia biarkan Aurelia menikmati permainannya. “Aurelia…”Aurelia ikut mengerang di bawah Dava, membuat wajah Dava semakin memanas. Hatinya tak karuan sekarang.Sekarang, tanpa sehelai pakaian pun mereka bercumbu. Tangan Dava mulai nakal dan menyentuh area terlarang.“Teruskan.. Dava… ah!” pinta Aurelia.Dava lantas mabuk dalam permainan malam ini. Bohong jika dibilang ia t

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 2: Gerbang Neraka yang Indah

    Tangan Dava gemetar saat ujung pulpen itu menyentuh permukaan kertas kontrak yang dingin. Di ruangan itu, kesunyian terasa begitu menekan, hanya detak jam dinding mewah dan deru napasnya sendiri yang terdengar.Di hadapannya, Reinhart berdiri dengan tangan bersedekap, sementara Aurelia menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja—posisi yang nampak sengaja menonjolkan lekuk tubuhnya yang mustahil untuk diabaikan.​Satu miliar.​Angka itu terus berputar di kepala Dava. Itu adalah nyawa ayahnya. Itu adalah tiketnya menuju universitas ternama. Namun itu juga harga dari kehormatan yang selama ini ia berusaha jaga dengan susah payah.​"Aku tidak punya banyak waktu, Dava," suara Reinhart memecah kesunyian, tajam dan tidak sabar.​Dava memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah lelah ibunya di koridor rumah sakit, wajah ayahnya yang terbaring lemah.Lalu dengan satu tarikan napas panjang, ia membubuhkan tanda tangannya. Rasanya ia menggores harga dirinya sendiri.​"Pilihan yang cerdas," uja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status