Home / Romansa / Biarkan Aku Membantumu Nyonya / BAB 6: Embun yang Membakar

Share

BAB 6: Embun yang Membakar

Author: Benduls
last update Last Updated: 2025-12-25 22:21:20

Dava pun terbangun dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya. 

Ingatan tentang lensa kamera tersembunyi yang ia temukan semalam masih menghantui pikirannya. Namun, saat ia menoleh ke samping, tempat tidur itu lagi-lagi sudah kosong.

​Hanya ada keharuman vanilla dan jasmine yang tertinggal di bantal, serta suara gemericik air yang jatuh dari balik pintu kaca buram di sudut ruangan. Aurelia sedang mandi.

​Dava duduk di tepi ranjang, menatap tangannya yang sedikit gemetar. Pikirannya berperang antara rasa takut pada Reinhart dan daya tarik Aurelia yang tak tertahankan.

Seharusnya ia segera pergi, kembali ke paviliunnya sebelum pelayan lain curiga. Namun, bayangan tubuh Aurelia semalam membuat kaki Dava justru melangkah ke arah kamar mandi.

​Ia membuka pintu kaca tersebut. Uap panas langsung menyergap wajahnya. Aurelia tersentak, ia berbalik dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian dadanya. Matanya yang jernih membelalak kaget, namun rasa terkejut itu hanya bertahan sedetik sebelum digantikan oleh binar yang dalam dan menantang.

​"Dava..." bisiknya di antara suara air. "Kau belum kembali ke paviliun?"

​Dava tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam area shower yang luas, membiarkan air hangat membasahi kemeja yang masih ia kenakan hingga melekat ketat pada otot-otot dadanya. Ia mendekati Aurelia hingga jarak di antara mereka hilang.

​"Aku tidak bisa pergi," suara Dava rendah, serak karena gairah yang kembali tersulut. 

​Aurelia menyunggingkan senyum yang berani. Ia mengalungkan lengannya yang basah ke leher Dava, menarik pria itu masuk ke dalam guyuran air bersama-sama. 

Di bawah kucuran air yang hangat, mereka bercinta dengan intensitas yang lebih liar daripada semalam. Aroma sabun mewah dan kulit basah Aurelia menciptakan sensasi yang memabukkan. 

​Namun, gairah itu tidak berhenti di sana. 

Seolah belum cukup meluapkan emosi yang tertahan, Dava mengangkat tubuh Aurelia yang masih basah kuyup keluar dari kamar mandi. Air menetes di sepanjang lantai menuju karpet tebal di samping tempat tidur.

​Dava merebahkan Aurelia di atas seprai satin yang dingin, namun suhu tubuh mereka justru semakin memanas. 

Di bawah cahaya pagi yang semakin terang, kecantikan Aurelia tampak begitu nyata. Lekuk tubuh hourglass-nya, dadanya yang kencang dengan butiran air yang masih tertinggal, serta tatapan matanya yang penuh obsesi membuat Dava lupa akan segalanya.

​Mereka kembali tenggelam dalam pergulatan gairah yang lebih dalam di atas ranjang. Kali ini tidak ada rasa terburu-buru. Dava menjelajahi setiap inci tubuh Aurelia seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya. 

Aurelia membalas setiap sentuhan dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan, mendesah keras menyebut nama Dava, mengabaikan fakta bahwa lensa kamera rahasia milik suaminya mungkin sedang menangkap setiap detil gerakan mereka.

​Mereka terjebak dalam pusaran kenikmatan yang membuat mereka benar-benar lupa waktu. Jam dinding di sudut kamar terus berdetak menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun bagi mereka, dunia seolah berhenti berputar. 

Pagi itu bukan lagi tentang tugas untuk menghasilkan ahli waris bagi Dava. Ia seolah melupakan itu sejenak. 

​Waktu seolah melambat ketika Dava akhirnya berbaring terlentang di samping Aurelia dengan napas yang masih memburu. 

Keringat dan sisa air mandi menyatu di kulit mereka. Aurelia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Dava, tangannya mengusap dada pria itu yang masih naik-turun.

​"Kita sudah melewatkan banyak hal pagi ini," bisik Aurelia dengan suara serak yang seksi.

​Dava menoleh, mencium kening Aurelia, namun matanya tak sengaja melirik ke arah jam. Ia tersentak. "Aku sudah sangat terlambat untuk kelasku di kampus."

​Dava segera bangkit dan meraih ponselnya yang tergeletak di lantai sejak semalam. Saat layar menyala, rentetan notifikasi membanjiri perangkatnya.

​15 Panggilan Tak Terjawab dari Nomor Tak Dikenal

20 Pesan W******p dari Sita

​Dava membuka pesan dari Sita dengan tangan gemetar.

​Sita: "Dav, kamu di mana? Aku nunggu di depan kelas tapi kamu nggak ada. Tolong angkat telponku!"

Sita, 15 menit yang lalu: "Aku khawatir banget, Dav. Aku akan coba tanya ke bagian administrasi, mungkin mereka punya alamat rumah atau nomormu yang lain. Aku akan mencarimu."

​Darah Dava seolah berhenti mengalir. 

Ia belum menceritakan pada Sita di mana ia tinggal sekarang, apalagi tentang pekerjaannya di mansion ini. Namun, kegigihan Sita adalah sesuatu yang sangat ia kenal. 

Jika Sita mulai menggali dan entah bagaimana berhasil menemukan alamat mansion mewah milik salah satu orang paling berpengaruh di negeri ini, itu akan menjadi bencana.

​Di saat yang sama, sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang ia kenali sebagai jalur privat sekretaris Reinhart:

​"Tuan Reinhart meminta laporan harian pagi ini. Mengapa sinyal kamera di kamar utama sempat mengalami gangguan teknis selama dua jam terakhir? Pastikan Nyonya Aurelia dalam kondisi prima saat Tuan mendarat lusa."

​Dava menatap Aurelia yang masih berbaring dengan wajah yang merona puas.

Sementara itu, ponselnya kembali bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Sita.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 7: Pertemuan Dua Dunia

    “A-aku harus pergi ke kampus,” ucap Dava pada Aurelia.Ketika Dava menoleh, Aurelia tengah tidur dengan napas teratur. Ah, Nyonya sudah tertidur, batin Dava.Selesai berkemas, Dava memacu mobil operasionalnya dengan kecepatan tinggi menembus kemacetan jalan. Jantungnya berpacu lebih cepat daripada putaran mesin mobil. Kemejanya yang tadi basah kini memang sudah kering, namun sensasi kulit Aurelia yang bersentuhan dengannya di bawah shower pagi tadi masih terasa nyata, seperti bekas luka yang tak terlihat.​Di dalam kepalanya, suara Aurelia dan pesan-pesan cemas Sita saling beradu. Ia merasa kikuk memikirannya.​Sesampainya di pelataran kampus, Dava mengerem mendadak. Ia melihat sosok gadis dengan blus cokelat muda berdiri gelisah di depan gedung fakultas. Dava keluar mobil dengan terburu-buru.​"Sita!" panggil Dava sambil berlari menghampirinya.​Sita menoleh. Ekspresi cemas di wajahnya seketika berubah menjadi campuran antara lega dan marah. Saat Dava sampai di depannya, Sita langsu

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 6: Embun yang Membakar

    Dava pun terbangun dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya. Ingatan tentang lensa kamera tersembunyi yang ia temukan semalam masih menghantui pikirannya. Namun, saat ia menoleh ke samping, tempat tidur itu lagi-lagi sudah kosong.​Hanya ada keharuman vanilla dan jasmine yang tertinggal di bantal, serta suara gemericik air yang jatuh dari balik pintu kaca buram di sudut ruangan. Aurelia sedang mandi.​Dava duduk di tepi ranjang, menatap tangannya yang sedikit gemetar. Pikirannya berperang antara rasa takut pada Reinhart dan daya tarik Aurelia yang tak tertahankan.Seharusnya ia segera pergi, kembali ke paviliunnya sebelum pelayan lain curiga. Namun, bayangan tubuh Aurelia semalam membuat kaki Dava justru melangkah ke arah kamar mandi.​Ia membuka pintu kaca tersebut. Uap panas langsung menyergap wajahnya. Aurelia tersentak, ia berbalik dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian dadanya. Matanya yang jernih membelalak kaget, namun rasa terkejut itu hanya bertahan sedetik se

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 5: Malam Tanpa Mata-Mata

    Layar ponsel di lantai itu akhirnya padam, menyisakan cahaya remang lampu tidur berwarna amber. Keheningan kamar itu mendadak terasa berat.​Di atasnya, Aurelia tidak memberinya ruang sedikit pun untuk berpikir. Wanita itu bergerak dengan keanggunan yang mematikan, jemarinya yang lentik dan gemetar melepaskan kancing kemeja Dava satu per satu. Rasanya harga diri Dava runtuh bersamaan dengan terbukanya kancing-kancing itu.​"Jangan pikirkan hal lain," bisik Aurelia. Suaranya parau. "Malam ini, biarkan aku merasa hidup."​Dava menatap lurus ke dalam mata Aurelia. Dava tahu dia hanyalah pria sewaan. Namun, saat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang kain, insting maskulinnya mengambil alih. Tubuh Dava yang atletis—hasil dari tahun-tahun bekerja kasar sebagai kuli panggul demi menyambung hidup—tampak begitu kontras dengan kelembutan kulit Aurelia yang seputih porselen dan terawat oleh kemewahan.Untuk pertama kalinya sejak ia menerima kontrak Reinhart, Dava tidak merasa seperti asi

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 4: Masa Lalu yang Kembali Menghantui

    Keesokan harinya, kampus pascasarjana Universitas Maju tampak berkabut. Udara segar yang ada sedikit mendinginkan kepala Dava yang terasa mendidih setelah rentetan kejadian gila beberapa hari terakhir. Ia berdiri di depan gedung fakultas dengan ransel yang terasa lebih berat, bukan karena buku-buku tebal di dalamnya, melainkan karena rahasia yang ia pikul.​Dava menarik napas dalam. Tadi ia baru menjalankan kelas pertama.Hari ini adalah hari pertamanya kuliah S2. Gelar yang ia impikan sejak kecil, tiket yang seharusnya ia dapatkan dengan keringat kejujuran, kini ia beli dengan harga dirinya sendiri.​"Dava? Dava Atmajaya?"​Suara feminin yang lembut itu membuat Dava tersentak. Ia menoleh dan seketika itu juga seluruh tubuhnya membeku. Berdiri beberapa meter darinya, seorang gadis dengan blus cokelat muda dan rambut dikuncir kuda menatapnya dengan mata yang berbinar tak percaya.​"Sita?" suara Dava tercekat.​Sita adalah masa lalunya. Gadis yang pernah mengisi hari-harinya di masa S

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 3: Sandiwara di Balik Sutra

    Ia menunduk, menangkap bibir merah Aurelia dengan ciuman yang penuh tekanan—campuran antara rasa frustrasi, nafsu yang tertahan, dan amarah pada keadaan. Aurelia membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya merayap ke rambut Dava, menariknya semakin dalam ke dalam pusaran gairah.Dava membawa tangan kekarnya ke atas kaki jenjang Aurelia, naik ke pahanya. “Ahh,” Aurelia mengerang atas sentuhan Dava.Dava dengan cepat membuka pakaian yang membungkus tubuh Aurelia. Ia seakan lupa dengan tanggungan harga dirinya. Persetan! Dalam benak Dava, uang miliaran itu menjadi pegangannya sekarang.Maka Dava terus mencumbu, ia biarkan Aurelia menikmati permainannya. “Aurelia…”Aurelia ikut mengerang di bawah Dava, membuat wajah Dava semakin memanas. Hatinya tak karuan sekarang.Sekarang, tanpa sehelai pakaian pun mereka bercumbu. Tangan Dava mulai nakal dan menyentuh area terlarang.“Teruskan.. Dava… ah!” pinta Aurelia.Dava lantas mabuk dalam permainan malam ini. Bohong jika dibilang ia t

  • Biarkan Aku Membantumu Nyonya   BAB 2: Gerbang Neraka yang Indah

    Tangan Dava gemetar saat ujung pulpen itu menyentuh permukaan kertas kontrak yang dingin. Di ruangan itu, kesunyian terasa begitu menekan, hanya detak jam dinding mewah dan deru napasnya sendiri yang terdengar.Di hadapannya, Reinhart berdiri dengan tangan bersedekap, sementara Aurelia menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja—posisi yang nampak sengaja menonjolkan lekuk tubuhnya yang mustahil untuk diabaikan.​Satu miliar.​Angka itu terus berputar di kepala Dava. Itu adalah nyawa ayahnya. Itu adalah tiketnya menuju universitas ternama. Namun itu juga harga dari kehormatan yang selama ini ia berusaha jaga dengan susah payah.​"Aku tidak punya banyak waktu, Dava," suara Reinhart memecah kesunyian, tajam dan tidak sabar.​Dava memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah lelah ibunya di koridor rumah sakit, wajah ayahnya yang terbaring lemah.Lalu dengan satu tarikan napas panjang, ia membubuhkan tanda tangannya. Rasanya ia menggores harga dirinya sendiri.​"Pilihan yang cerdas," uja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status