LOGINDava pun terbangun dengan rasa pening yang menghantam pelipisnya.
Ingatan tentang lensa kamera tersembunyi yang ia temukan semalam masih menghantui pikirannya. Namun, saat ia menoleh ke samping, tempat tidur itu lagi-lagi sudah kosong.
Hanya ada keharuman vanilla dan jasmine yang tertinggal di bantal, serta suara gemericik air yang jatuh dari balik pintu kaca buram di sudut ruangan. Aurelia sedang mandi.
Dava duduk di tepi ranjang, menatap tangannya yang sedikit gemetar. Pikirannya berperang antara rasa takut pada Reinhart dan daya tarik Aurelia yang tak tertahankan.
Seharusnya ia segera pergi, kembali ke paviliunnya sebelum pelayan lain curiga. Namun, bayangan tubuh Aurelia semalam membuat kaki Dava justru melangkah ke arah kamar mandi.
Ia membuka pintu kaca tersebut. Uap panas langsung menyergap wajahnya. Aurelia tersentak, ia berbalik dengan rambut yang basah kuyup menutupi sebagian dadanya. Matanya yang jernih membelalak kaget, namun rasa terkejut itu hanya bertahan sedetik sebelum digantikan oleh binar yang dalam dan menantang.
"Dava..." bisiknya di antara suara air. "Kau belum kembali ke paviliun?"
Dava tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam area shower yang luas, membiarkan air hangat membasahi kemeja yang masih ia kenakan hingga melekat ketat pada otot-otot dadanya. Ia mendekati Aurelia hingga jarak di antara mereka hilang.
"Aku tidak bisa pergi," suara Dava rendah, serak karena gairah yang kembali tersulut.
Aurelia menyunggingkan senyum yang berani. Ia mengalungkan lengannya yang basah ke leher Dava, menarik pria itu masuk ke dalam guyuran air bersama-sama.
Di bawah kucuran air yang hangat, mereka bercinta dengan intensitas yang lebih liar daripada semalam. Aroma sabun mewah dan kulit basah Aurelia menciptakan sensasi yang memabukkan.
Namun, gairah itu tidak berhenti di sana.
Seolah belum cukup meluapkan emosi yang tertahan, Dava mengangkat tubuh Aurelia yang masih basah kuyup keluar dari kamar mandi. Air menetes di sepanjang lantai menuju karpet tebal di samping tempat tidur.
Dava merebahkan Aurelia di atas seprai satin yang dingin, namun suhu tubuh mereka justru semakin memanas.
Di bawah cahaya pagi yang semakin terang, kecantikan Aurelia tampak begitu nyata. Lekuk tubuh hourglass-nya, dadanya yang kencang dengan butiran air yang masih tertinggal, serta tatapan matanya yang penuh obsesi membuat Dava lupa akan segalanya.
Mereka kembali tenggelam dalam pergulatan gairah yang lebih dalam di atas ranjang. Kali ini tidak ada rasa terburu-buru. Dava menjelajahi setiap inci tubuh Aurelia seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Aurelia membalas setiap sentuhan dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan, mendesah keras menyebut nama Dava, mengabaikan fakta bahwa lensa kamera rahasia milik suaminya mungkin sedang menangkap setiap detil gerakan mereka.
Mereka terjebak dalam pusaran kenikmatan yang membuat mereka benar-benar lupa waktu. Jam dinding di sudut kamar terus berdetak menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun bagi mereka, dunia seolah berhenti berputar.
Pagi itu bukan lagi tentang tugas untuk menghasilkan ahli waris bagi Dava. Ia seolah melupakan itu sejenak.
Waktu seolah melambat ketika Dava akhirnya berbaring terlentang di samping Aurelia dengan napas yang masih memburu.
Keringat dan sisa air mandi menyatu di kulit mereka. Aurelia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Dava, tangannya mengusap dada pria itu yang masih naik-turun.
"Kita sudah melewatkan banyak hal pagi ini," bisik Aurelia dengan suara serak yang seksi.
Dava menoleh, mencium kening Aurelia, namun matanya tak sengaja melirik ke arah jam. Ia tersentak. "Aku sudah sangat terlambat untuk kelasku di kampus."
Dava segera bangkit dan meraih ponselnya yang tergeletak di lantai sejak semalam. Saat layar menyala, rentetan notifikasi membanjiri perangkatnya.
15 Panggilan Tak Terjawab dari Nomor Tak Dikenal
20 Pesan W******p dari Sita
Dava membuka pesan dari Sita dengan tangan gemetar.
Sita: "Dav, kamu di mana? Aku nunggu di depan kelas tapi kamu nggak ada. Tolong angkat telponku!"
Sita, 15 menit yang lalu: "Aku khawatir banget, Dav. Aku akan coba tanya ke bagian administrasi, mungkin mereka punya alamat rumah atau nomormu yang lain. Aku akan mencarimu."
Darah Dava seolah berhenti mengalir.
Ia belum menceritakan pada Sita di mana ia tinggal sekarang, apalagi tentang pekerjaannya di mansion ini. Namun, kegigihan Sita adalah sesuatu yang sangat ia kenal.
Jika Sita mulai menggali dan entah bagaimana berhasil menemukan alamat mansion mewah milik salah satu orang paling berpengaruh di negeri ini, itu akan menjadi bencana.
Di saat yang sama, sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang ia kenali sebagai jalur privat sekretaris Reinhart:
"Tuan Reinhart meminta laporan harian pagi ini. Mengapa sinyal kamera di kamar utama sempat mengalami gangguan teknis selama dua jam terakhir? Pastikan Nyonya Aurelia dalam kondisi prima saat Tuan mendarat lusa."
Dava menatap Aurelia yang masih berbaring dengan wajah yang merona puas.
Sementara itu, ponselnya kembali bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Sita.
Rumah mewah Reinhart terasa lebih gelap dan dingin dari biasanya. Lampu-lampu taman hanya menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding marmer. Olivia melangkah masuk dengan langkah percaya diri, high heels hitamnya berbunyi pelan di lantai. Dress merah ketat yang ia pakai tadi malam sudah diganti dengan setelan hitam sederhana tapi tetap menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna — payudara montok, pinggang ramping, pinggul lebar. Rambut hitam panjangnya tergerai, mata cokelatnya tajam dan penuh kepuasan. Penjaga membukakan pintu ruang kerja pribadi tanpa sepatah kata. Reinhart sudah duduk di balik meja mahoni besar, segelas whiskey di tangan kanan, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia menatap Olivia dari atas ke bawah seperti sedang menilai barang berharga yang baru saja dikembalikan. “Duduk,” kata Reinhart, suaranya rendah dan tenang. Olivia duduk di kursi depan meja, kakinya disilangkan dengan anggun. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, meletakkannya di
Dava melaju sendirian ke rumah mewah Reinhart di pinggiran kota. Jalan tol sepi, lampu-lampu jalan berkedip seperti mata yang mengawasi. Dava memakai jas hitam yang sama, rambut undercut rapi, aroma parfum mahal yang sudah menjadi ciri khasnya. Ia tahu pertemuan malam ini bukan pertemuan biasa. Reinhart memanggilnya langsung melalui pesan singkat sore tadi: “Malam ini jam 21.00. Datang sendirian. Kita perlu bicara soal kemajuanmu.” Dava tahu Reinhart puas. Clara Wijaya sudah jatuh lebih dalam dari yang ia prediksi. Pengakuan cinta Clara kemarin malam, akses penuh ke data Luna Group, dan hubungan intim yang semakin sering — semuanya berjalan sesuai rencana. Tapi Dava juga tahu, Reinhart bukan orang yang mudah puas. Ada sesuatu yang lebih besar di balik panggilan ini. Ia tiba tepat waktu. Penjaga membukakan gerbang tanpa sepatah kata. Dava masuk ke ruang kerja pribadi Reinhart di lantai dua — ruangan yang sama seperti pertemuan pertama, meja kayu mahoni besar, kursi kulit hitam, rak
Pagi itu Dava bangun dengan kepala berat dan dada sesak. Cahaya matahari kota yang sudah terik menyusup lewat celah gorden kamar Nadia, tapi rumah gang terasa dingin dan kosong. Nadia masih di apartemen Tebet bersama Aurelia. Dava sendirian, hanya ditemani rasa bersalah yang semakin tebal setiap hari. Ia duduk di tepi ranjang, memandang foto Nadia di meja samping. Senyum polos Nadia, mata hijau besarnya yang penuh cinta — foto itu diambil sebelum liburan, sebelum semuanya menjadi neraka. Dava mengusap foto itu pelan, lalu berdiri. Hari ini adalah hari pertama ia benar-benar memulai langkah kedua: meracuni kepercayaan Clara Wijaya dari dalam. Langkah pertama sudah selesai. Clara sudah jatuh cinta. Ia sudah menyatakan perasaannya, sudah tidur dengannya dua kali, sudah percaya bahwa Dava adalah pria yang berbeda, yang bisa diandalkan. Sekarang saatnya langkah kedua: membuat Clara membuka diri sepenuhnya, memberikan akses ke rahasia bisnisnya, ke data sensitif Luna Group, ke kelemahan-k
Malam itu langit Jakarta sudah gelap sepenuhnya, hanya diterangi lampu-lampu kota yang berkedip-kedip seperti bintang palsu. Dava duduk di teras belakang rumah gang, menatap langit tanpa bintang. Ponselnya bergetar pelan di saku jaket. Pesan dari Aurelia. “Dav… aku butuh bicara sama kamu. Hanya berdua. Malam ini. Ada sesuatu yang harus aku katakan. Tolong datang ke rooftop kafe biasa. Jam 22:00. Aku tunggu.” Dava menatap pesan itu lama. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tahu Aurelia sedang menahan sesuatu sejak kemarin — rasa cemburu yang ia dengar di suaranya saat telepon dengan Nadia, diamnya saat ia mendengar desahan dari kamar. Ia tahu ini tidak akan mudah. Ia mengetik balasan singkat: “Oke. Aku datang. Tunggu aku.” Dava berdiri, mengambil kunci mobil. Ia tidak memberi tahu siapa pun. Ia hanya mengambil jaket hitam dan pergi. Sepanjang jalan ke Kemang, pikirannya berputar. Ia sedang menghancurkan Clara Wijaya demi Nadia. Ia sedang berbohong pada semua orang. Dan sekarang,
Pagi itu rumah kecil di gang masih diselimuti keheningan. Matahari baru saja muncul, sinarnya menyelinap pelan lewat jendela dapur yang kotor. Dava duduk di meja makan sendirian, gelas kopi hitam di depannya sudah setengah kosong. Ia belum tidur semalaman. Pikirannya penuh dengan rencana menghancurkan Clara Wijaya, dengan desahan Nadia dari malam sebelumnya, dengan rasa cemburu Aurelia yang ia rasakan di telepon, dan dengan ancaman Reinhart yang terus mengintai. Jam dinding menunjukkan pukul 07:15. Ponsel Dava bergetar di atas meja. Nomor Clara. Dava mengangkat dengan tangan yang sedikit gemetar. “Dav… pagi,” suara Clara terdengar lembut, tapi ada nada manja yang membuat Dava merinding. “Aku baru bangun. Kamu sudah di mana?” Dava menelan ludah. “Di rumah. Pagi, Clara.” Clara tertawa kecil. “Aku kangen kamu sejak tadi malam. Malam kemarin… luar biasa. Aku masih merasakan kamu di dalam aku.” Dava diam sebentar. Ia membayangkan tubuh Clara yang telanjang di ranjang mewahnya, desa
Hari berikutnya, Dava melaju ke gedung PT. Luna Group dengan perasaan campur aduk. Jam menunjukkan pukul 16:30 sore. Langit kota sudah mulai jingga, tapi pikiran Dava gelap. Reinhart masih menunggu bukti kemajuan. Tapi setiap langkah Dava terasa seperti menginjak ranjau — satu kesalahan, semuanya bisa meledak. Ia memakai jas hitam custom yang sudah menjadi seragam barunya, rambut undercut rapi, aura yang Reinhart ciptakan membuatnya terlihat lebih tajam dan menarik. Clara sudah mengatur pertemuan sore ini di ruang kerjanya — bukan ruang meeting umum, tapi ruang pribadi Clara di lantai 18. “Kita bisa bicara lebih bebas,” kata Clara kemarin di telepon, suaranya hangat dan sedikit menggoda. Dava tiba di lantai 18. Sekretaris Clara menyambutnya dengan senyum profesional. “Bu Clara sudah menunggu di dalam, Pak Dava.” Dava masuk. Ruang kerja Clara luas, modern, dengan jendela kaca besar yang menghadap kota yang mulai menyala lampu. Clara berdiri di dekat meja, gaun hitam pendek membalut







