ログインAurelia berlari tanpa arah di kegelapan malam, air matanya bercampur keringat dan debu jalanan. Lututnya yang terluka terasa perih setiap kali kakinya menyentuh tanah, tapi ia tidak berhenti. Suara tembakan masih bergema di belakangnya, membuat hatinya semakin hancur. “Dav… tolong selamat…” gumamnya sambil terisak. Ia sampai di pinggir sungai yang airnya mengalir deras. Aurelia bersembunyi di balik semak tebal, napasnya tersengal-sengal. Tak lama kemudian, ia melihat Dava muncul dari gang gelap, tubuhnya tertatih-tatih. Bahu dan pahanya berdarah banyak, tapi ia masih berusaha berjalan. “Dav!” Aurelia langsung keluar dari persembunyian dan memeluknya. Dava hampir pingsan saat jatuh di tepi sungai. “Lari… sendiri… aku tahan mereka…” Tapi sudah terlambat. Budi dan anak buahnya muncul dari kegelapan, pistol teracung. Budi tersenyum sinis. “Romantis sekali. Sayang sekali harus berakhir begini.” Tiba-tiba sirine polisi mendekat dengan cepat. Tim Budi yang masih setia datang. Tembakan
Malam itu terasa seperti pisau yang menggantung di leher mereka. Dava dan Aurelia buru-buru mengemasi tas ransel di apartemen kecil yang kini terasa seperti jebakan. Lampu dimatikan, hanya cahaya ponsel yang menerangi ruangan. “Kita nggak bisa nunggu pagi,” kata Dava sambil memasukkan pistol kecil yang dipinjam dari Budi ke pinggangnya. “Reinhart nggak main-main. Laser tadi bukti dia sudah siap bunuh kita.” Aurelia mengangguk, wajahnya pucat tapi matanya penuh tekad. “Kita ke mana, Dav?” “Budi bilang ada safe house di luar kota. Kita harus sampai sana sebelum subuh.” Mereka keluar apartemen lewat pintu belakang, bergerak diam-diam menyusuri tangga darurat. Udara malam terasa dingin dan berat. Baru beberapa meter dari gedung, Dava mendengar suara langkah di belakang mereka. “Jalan terus, Lia. Jangan berhenti,” bisik Dava sambil menarik tangan Aurelia. Tapi konflik meledak lebih cepat dari yang mereka duga. Tiba-tiba dari balik mobil parkir, dua pria berpakaian hitam muncul. Sala
Malam semakin larut di apartemen kecil yang menjadi persembunyian mereka. Lampu hanya menyala temaram di sudut ruangan, menciptakan suasana yang sekaligus intim sekaligus mencekam. Dava berdiri di depan jendela, tirai tipis hanya ditutup setengah. Matanya menyapu kegelapan jalanan di bawah sana. Aurelia mendekat dari belakang, memeluk pinggangnya erat.“Dav… kamu dari tadi gelisah,” bisik Aurelia, dagunya bertumpu di punggung Dava.“Aku nggak suka suasana ini. Terlalu sepi,” jawab Dava pelan. “Mobil hitam itu tadi sore masih parkir di ujung jalan. Sekarang sudah hilang, tapi aku yakin mereka masih mengawasi.”Aurelia memeluknya lebih erat. Tubuhnya yang hanya memakai kaos oversized Dava terasa hangat. “Kalau gitu… buat aku lupa sebentar. Aku butuh kamu malam ini.”Dava berbalik. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Aurelia yang penuh kerinduan dan ketakutan. Tanpa banyak kata, ia mengangkat dagu Aurelia dan menciumnya dalam-dalam. Ciuman itu penuh desakan — campuran antara cinta, a
Pagi berikutnya menyapa kamar hotel dengan cahaya matahari yang redup menyusup lewat tirai tipis. Dava terbangun lebih dulu, tubuhnya masih terasa pegal karena memar lama dan aktivitas semalam. Aurelia masih tertidur pulas di pelukannya, tubuh telanjangnya menempel hangat di dada Dava, napasnya pelan dan teratur. Dava menatap wajah Aurelia yang damai meski masih ada bekas memar samar di lehernya. Ia mengusap punggung telanjang Aurelia dengan lembut, jarinya menelusuri lekuk pinggulnya. Malam tadi terasa seperti mimpi di tengah badai — penuh gairah, penebusan, dan keputusasaan yang berubah menjadi kehangatan. Aurelia menggeliat pelan, matanya terbuka perlahan. Begitu melihat Dava, ia tersenyum malu-malu, pipinya memerah mengingat betapa liarnya ia semalam. “Pagi, sayang…” bisik Aurelia, suaranya masih serak. Ia mendekat, mencium bibir Dava dengan lembut, tangannya menyusup ke dada Dava. “Pagi, Lia. Kamu… luar biasa semalam,” jawab Dava sambil tersenyum tipis, tangannya meremas p
Malam itu hotel kecil di pinggiran kota terasa sangat sunyi. Lampu kamar hanya menyala redup, cahaya kuning lembut menerangi dua orang yang saling memeluk di ranjang. Dava dan Aurelia berbaring saling menempel, tubuh mereka masih penuh memar dan luka, tapi pelukan itu adalah satu-satunya tempat mereka merasa aman. Aurelia mengangkat wajahnya dari dada Dava. Matanya masih merah karena menangis, tapi ada tekad yang berbeda di sana. Ia menatap Dava lama, tangannya mengusap pipi Dava yang memar dengan sangat lembut. “Dav…” suaranya pelan, hampir berbisik. “Aku sudah salah. Aku pergi ke Reinhart tanpa bilang kamu. Aku bikin kamu khawatir… bikin kamu terluka lagi. Aku mau menebus kesalahanku malam ini.” Dava menggeleng pelan, tangannya mengusap rambut Aurelia. “Lia, kamu nggak salah. Kamu lakukan itu karena takut kehilangan aku. Aku yang seharusnya lindungin kamu.” Aurelia meletakkan jari di bibir Dava, menghentikan kata-katanya. “Malam ini biarkan aku yang kasih kamu semua yang aku pun
Dava dan Aurelia berdiri di kamar hotel yang sempit, napas mereka tersengal karena ketegangan. Ponsel Aurelia masih hangat di tangan setelah panggilan Reinhart yang mengancam. Waktu yang tersisa hanya sekitar 25 menit sebelum batas akhir yang Reinhart berikan. Dava memandang Aurelia dengan mata penuh tekad meski tubuhnya masih sakit. “Kita nggak boleh menyerah, Lia. Aku punya satu harapan terakhir.” Ia mengambil ponselnya sendiri dan mencari nomor lama di daftar kontak. Nama yang muncul: Budi Santoso — teman lamanya yang sekarang menjadi polisi berpangkat inspektur di kepolisian kota. Dava pernah menolong Budi bertahun-tahun lalu ketika masih bekerja di dunia bawah tanah. Ia berharap hutang itu masih bisa ditagih. Telepon diangkat setelah nada dering ketiga. “Dav? Lama banget lo nggak telepon,” suara Budi terdengar surprise di seberang. “Budi, aku butuh bantuan lo sekarang. Darurat,” kata Dava cepat, suaranya tegang. “Reinhart kembali. Dia ancam bunuh aku dan ambil Aurelia.
Pagi di vila Puncak terasa seperti pelukan dingin yang lembut. Kabut tipis masih menyelimuti lembah, udara sejuk menusuk kulit, dan aroma pinus bercampur kopi tubruk yang baru diseduh menguar dari dapur. Jam dinding menunjukkan pukul 07:15. Nadia keluar dari kamar mandi master suite dengan hanya ha
Suite hotel Four Seasons terasa lebih tegang dari biasanya. Nadia duduk di sofa dengan mata sembab, memeluk bantal erat-erat. Dava berdiri di depan jendela menghadap Duomo, tangannya mengepal. Aurelia duduk di sebelah Nadia, memegang tangannya sambil menatap Reza yang sedang membaca balasan email t
Aurelia tidak cerita ke Nadia bahwa Reza adalah pacarnya. Nadia hanya tahu Reza sebagai fotografer senior kenalan Aurelia yang profesional dan punya koneksi bagus. Nadia tidak curiga apa-apa. Malam itu, setelah Rian dan ibu tidur, Aurelia duduk bareng Nadia di ruang tamu lantai satu. Lampu redup,
Malam itu studio pribadi Reza terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu kuning lembut dari lampu meja menyinari ranjang besar di tengah ruangan, seprai satin abu-abu gelap masih agak kusut setelah sesi photoshoot boudoir sore tadi. Aurelia duduk di tepi ranjang, masih memakai lingerie hitam tipis ya







