LOGINMalam itu hotel kecil di pinggiran kota terasa sangat sunyi. Lampu kamar hanya menyala redup, cahaya kuning lembut menerangi dua orang yang saling memeluk di ranjang. Dava dan Aurelia berbaring saling menempel, tubuh mereka masih penuh memar dan luka, tapi pelukan itu adalah satu-satunya tempat mereka merasa aman. Aurelia mengangkat wajahnya dari dada Dava. Matanya masih merah karena menangis, tapi ada tekad yang berbeda di sana. Ia menatap Dava lama, tangannya mengusap pipi Dava yang memar dengan sangat lembut. “Dav…” suaranya pelan, hampir berbisik. “Aku sudah salah. Aku pergi ke Reinhart tanpa bilang kamu. Aku bikin kamu khawatir… bikin kamu terluka lagi. Aku mau menebus kesalahanku malam ini.” Dava menggeleng pelan, tangannya mengusap rambut Aurelia. “Lia, kamu nggak salah. Kamu lakukan itu karena takut kehilangan aku. Aku yang seharusnya lindungin kamu.” Aurelia meletakkan jari di bibir Dava, menghentikan kata-katanya. “Malam ini biarkan aku yang kasih kamu semua yang aku pun
Dava dan Aurelia berdiri di kamar hotel yang sempit, napas mereka tersengal karena ketegangan. Ponsel Aurelia masih hangat di tangan setelah panggilan Reinhart yang mengancam. Waktu yang tersisa hanya sekitar 25 menit sebelum batas akhir yang Reinhart berikan. Dava memandang Aurelia dengan mata penuh tekad meski tubuhnya masih sakit. “Kita nggak boleh menyerah, Lia. Aku punya satu harapan terakhir.” Ia mengambil ponselnya sendiri dan mencari nomor lama di daftar kontak. Nama yang muncul: Budi Santoso — teman lamanya yang sekarang menjadi polisi berpangkat inspektur di kepolisian kota. Dava pernah menolong Budi bertahun-tahun lalu ketika masih bekerja di dunia bawah tanah. Ia berharap hutang itu masih bisa ditagih. Telepon diangkat setelah nada dering ketiga. “Dav? Lama banget lo nggak telepon,” suara Budi terdengar surprise di seberang. “Budi, aku butuh bantuan lo sekarang. Darurat,” kata Dava cepat, suaranya tegang. “Reinhart kembali. Dia ancam bunuh aku dan ambil Aurelia.
Pagi berikutnya datang dengan suasana yang semakin berat. Rumah gang kecil itu terasa seperti sangkar yang semakin menyempit. Dava bangun lebih dulu, tubuhnya masih penuh memar dan sakit, tapi matanya penuh tekad. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi Aurelia yang masih tidur dengan wajah pucat dan memar di lehernya. Pesan Reinhart semalam masih terngiang jelas di kepala Dava. Waktu yang diberikan hanya sampai sore hari ini. Dava tahu mereka tidak bisa menunggu lagi. “Lia…” Dava mengusap pipi Aurelia dengan lembut. “Bangun, sayang. Kita harus bicara.” Aurelia membuka mata perlahan. Begitu melihat wajah Dava yang serius, ia langsung duduk dengan cemas. “Dav… ada apa?” Dava memegang kedua tangan Aurelia erat. “Kita nggak bisa tinggal di sini lagi. Reinhart sudah ancam terlalu jelas. Kalau kamu pergi ke sana sore ini, aku nggak yakin kamu akan kembali dengan selamat. Dan kalau kamu nggak pergi, dia akan datang ke sini untuk membunuh aku. Kita harus kabur. Sekarang.” Aurelia menggelen
Malam itu rumah gang kecil terasa seperti kuburan. Lampu ruang tengah menyala redup, hanya satu bohlam kuning yang masih bertahan. Aurelia duduk di sofa dengan tubuh gemetar, selimut tebal menutupi bahunya. Memar baru di leher, pergelangan tangan, dan pinggulnya terlihat jelas meski sudah ditutup salep. Air matanya sudah kering, tapi matanya masih merah dan kosong. Dava duduk di lantai tepat di depan Aurelia, tangannya memegang kedua tangan Aurelia dengan erat. Wajahnya penuh luka lama dan baru, bibirnya pecah, rusuknya masih sakit setiap kali bernapas. Tapi matanya hanya tertuju pada Aurelia. “Lia… cerita yang sebenarnya,” kata Dava pelan, suaranya serak. “Kamu pergi ke Reinhart pagi tadi… sendirian. Kamu bilang mau urusan sebentar. Tapi pulangnya… seperti ini.” Aurelia menunduk. Air mata jatuh lagi ke punggung tangan Dava. “Aku… aku terpaksa, Dav. Semalam dia kirim pesan. Kalau aku nggak datang sendiri hari ini, dia akan bunuh kamu. Aku takut… aku nggak mau kehilangan kamu.”
Pagi itu Aurelia terbangun lebih awal dari Dava. Cahaya matahari yang menyusup lewat celah tirai masih samar. Tubuhnya masih sakit, memar di leher dan pinggul terasa panas setiap kali bergerak. Ia menatap Dava yang tidur di sampingnya dengan napas pelan. Wajah Dava penuh luka dan memar, bibirnya pecah, rusuknya naik-turun dengan susah payah. Aurelia mengusap pipi Dava dengan sangat lembut, air matanya jatuh pelan. Pesan Reinhart semalam masih terngiang jelas di kepalanya: “Besok sore pukul 17.00, Aurelia harus datang ke tempatku sendiri. Sendirian. Kalau kamu datang dengan Dava… aku akan bunuh dia di depan matamu.” Ia tahu Dava tidak akan pernah mengizinkan. Dava akan melawan, akan mencoba melindunginya, dan itu justru bisa membuatnya mati. Aurelia tidak sanggup kehilangan Dava. Setelah semua yang mereka lewati — kematian Nadia, Reza, dan sekarang Reinhart — ia memutuskan untuk pergi sendiri. Dengan hati-hati agar tidak membangunkan Dava, Aurelia bangkit dari ranjang. Ia menulis p
Pagi itu rumah gang kecil terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk lewat jendela tidak mampu menghangatkan suasana yang berat. Aurelia masih berbaring di ranjang, tubuhnya meringkuk di bawah selimut tipis. Memar di leher, dada, dan pinggulnya terlihat jelas meski sudah diolesi salep. Setiap gerakan kecil membuatnya meringis. Dava duduk di tepi ranjang, tubuhnya sendiri penuh luka dan memar dari pukulan kemarin. Ia memegang kain hangat, membersihkan luka di lengan Aurelia dengan gerakan sangat hati-hati, seolah takut menyentuh terlalu kuat. Mereka hampir tidak bicara. Aurelia sudah menceritakan semuanya tentang Reza semalam — photoshoot, video call, hubungan intim yang dipaksa, dan ancaman pindah. Dava mendengarkan dengan hati hancur, tapi pagi ini mereka tidak lagi membahas Reza. Hari ini, yang mendominasi pikiran mereka adalah Reinhart. Aurelia menatap langit-langit kamar dengan mata kosong. Air matanya sudah kering, tapi wajahnya masih pucat. “Dav… aku m
Aurelia tidak cerita ke Nadia bahwa Reza adalah pacarnya. Nadia hanya tahu Reza sebagai fotografer senior kenalan Aurelia yang profesional dan punya koneksi bagus. Nadia tidak curiga apa-apa. Malam itu, setelah Rian dan ibu tidur, Aurelia duduk bareng Nadia di ruang tamu lantai satu. Lampu redup,
Malam itu studio pribadi Reza terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu kuning lembut dari lampu meja menyinari ranjang besar di tengah ruangan, seprai satin abu-abu gelap masih agak kusut setelah sesi photoshoot boudoir sore tadi. Aurelia duduk di tepi ranjang, masih memakai lingerie hitam tipis ya
Beberapa bulan berlalu sejak Aurelia mulai serius menekuni dunia freelance modeling. Awalnya hanya job kecil-kecilan dari komunitas photography dan kenalan Reza. Tapi setelah beberapa foto hasil edit Reza diunggah ke Instagram pribadinya @lia.model.id, sesuatu yang luar biasa terjadi.Awalnya follo
Pagi itu rumah terasa biasa saja. Nadia sedang menyuapi Rian bubur ayam di meja makan, Dava membantu ibu Nadia mencuci piring sambil bercanda ringan soal rencana libur akhir pekan. Aurelia duduk di sofa ruang tamu dengan ponsel di tangan, wajahnya tampak tenang, tapi jari-jarinya bergerak cepat mem







