Dava duduk kaku di kursi belakang Bentley yang mewah itu, jantungnya berdegup kencang seperti drum perang. Aroma parfum Aurelia—campuran vanilla dan jasmine yang memabukkan—mengisi seluruh kabin, membuatnya sulit bernapas. Tangan Aurelia masih mencengkeram lengannya, bukan dengan kekerasan, tapi dengan kepemilikan yang tak terbantahkan. "Kau hanya milikku, Dava. Mengerti?" kata-katanya tadi masih bergema di telinganya, seperti mantra yang mengikat jiwanya.Mobil melaju mulus di jalan tol menuju mansion. Sopir pribadi Aurelia, seorang pria tua yang selalu diam seribu bahasa, seolah tak mendengar apa pun. Dava menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi Jakarta yang melintas buram. Pikirannya melayang ke Sita—wajahnya yang polos, mata yang penuh kepedulian, dan bagaimana Aurelia baru saja menghancurkan momen itu dengan satu gerakan. "Kamu berubah, Dava," kata Sita tadi. Ya, dia memang berubah. Dari pemuda miskin yang penuh mimpi menjadi boneka di tangan wanita ini.Aurelia meng
Last Updated : 2026-02-03 Read more