Share

48~BC

Author: Kanietha
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-26 14:20:51

Cinta mengunyah makanannya dengan wajah kesal. Tubuhnya tetap terbalut selimut, menutupi lekuk yang jelas terlihat di balik slip dress tipis yang ia kenakan. Sendoknya beberapa kali beradu dengan piring, menimbulkan suara nyaring yang jelas-jelas ia sengaja.

Bias yang duduk di depan Cinta hanya menahan tawa. Memasang wajah serius, sambil terus menyantap sarapan paginya.

“Awas, nanti piringnya pecah,” kata Bias memperingatkan.

Cinta tidak membalas, hanya memberi tatapan tajam. Saat ini, ia sedan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (34)
goodnovel comment avatar
Suherni 123
cinta ngeri ngeri sedep deh Chanel nya...
goodnovel comment avatar
Rheda
gol jugaaaaa
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
gimana cin, enak tapi anu ya yaudah nikmati aja, nanti cinta juga bisa datang salah satunya ya dr sana
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Bias Cinta   BonChap~End

    “Kalau bukan karena Bita, kita semua nggak mungkin bisa ngumpul di sini,” ujar Cinta sambil tersenyum menatap putrinya yang sibuk menyantap lobster bersama Cibi. “Betul itu!” sahut Dinda terkekeh pelan. “Biasanya kita liburan sama keluarga sendiri-sendiri.”“Kalau rame-rame kan, seru, Mi,” timpal Bita.“Tapi Oma, Opa, sama Om Ahan nggak bisa ikut,” ujar Cibi menyayangkan. “Nggak papa,” balas Dinda memberi senyuman manis pada Cibi. “Nanti, lain kali, liburannya siapin dari jauh hari, biar yang lain bisa ngatur jadwal.”“Siap, Mami!” jawab Bita antusias. “Nanti aku pikirin! Aku bikinin absen!”Tawa di meja makan, malam itu pecah seketika. “Tapi kalau liburan tahun depan, anggotanya nambah satu,” ujar Dinda melirik pada Noah. “Karena Mas Nono bentar lagi mau nikah.”“Oh ya?” celetuk Altaf langsung menatap Noah. Ia memang tidak terlalu akrab dan tidak pernah bertemu lagi dengan anak sulung Felix itu. Jadi, wajar jika ia tidak mengetahui hal apa pun tentang Noah. Berbeda dengan keluar

  • Bias Cinta   BonChap~19

    “Pulang sekarang, atau mau nunggu dulu?” bisik Bias ketika seluruh prosesi pemakaman telah selesai. Cinta mengalihkan pandangannya ke gundukan tanah merah yang masih basah. Di sanalah seluruh perjalanan hidup Kiano berakhir, bersama semua kisah yang pernah melukai hatinya. Kemudian, tatapannya beralih sebentar pada Cia dan Briana yang masih berjongkok di samping batu nisan. Sementara Farhan, sudah tidak terlihat di sekitar makam. Entah ke mana perginya adiknya itu, karena beberapa waktu lalu Farhan masih terlihat dalam jangkauannya. Setelah sekian lama, akhirnya Cinta kembali bertemu dengan dua wanita yang pernah membuat hidupnya berantakan. Namun, kali ini ia memilih untuk mengabaikan keberadaan mereka, karena kedua orang itu tidak lagi memiliki tempat di dalam hidupnya. Mereka hanya bagian dari masa lalu dan Cinta tidak akan lagi memberi ruang untuk itu.“Kita pulang,” ucap Cinta lalu membuang napas pelan. Tanpa berpamitan pada Altaf yang masih berdiri di samping nisan, Cinta pe

  • Bias Cinta   BonChap~18

    “Cibi! Ayo main catur!”Cibi langsung menatap tajam pada pemuda yang merangkulnya tiba-tiba itu. Namun, sejurus itu ia tersenyum manis lalu berteriak, “Om Wahyu, Mas Putra tangannya nggak sopan!”Putra membeku seketika. Tidak pernah menduga jika gadis itu langsung mengadu dengan lantang, seolah-olah telah menjadi korban kenakalannya. Karena hal tersebut, para orang tua yang tengah asyik bercengkrama di taman belakang, sontak menoleh bersamaan. Tidak hanya mereka, tetapi para adik yang sedang asyik bermain ikut menatap Putra dan Cibi yang berada di samping meja buffet yang penuh dengan aneka makanan.“Mas Putra.” Wahyu langsung menatap tegas dan menunjuk tangan Putra yang masih menggantung di bahu Cibi. “Lepas.”Putra langsung mengangkat kedua tangannya ke atas. “Aku nggak ngapa-ngapain,” ujarnya lalu menunjuk Cibi. “Dianya aja yang lebay.”Cibi menoleh pada Putra dan langsung menjulurkan lidahnya. Setelah itu, ia kembali fokus pada makanan yang ada di meja. Memenuhi piring kecilnya

  • Bias Cinta   BonChap~17

    “Waaah! Dunia ini ternyata beneran sempit.” Dinda memangku wajah dengan satu tangan, sambil mengaduk es cappucino di hadapan dengan sedotan. “Septy, Farhan, Noah. Ckckck!”Setelah mendengar penuturan Cinta, akhirnya Dinda mengerti, mengapa ekspresi Cibi berubah ketika bertemu Septy. “Tapi tau nggak.” Dinda meringis dan tertawa kecil. “Tadinya aku sempat ngira Cibi itu cemburu sama Septy. Biasalah, lagi cinta monyet ke Mas Nononya.”Cinta langsung melepas tawa yang sama. “Ya nggak salah juga. Soalnya umur-umur segitu emang masuk masa puber. Apalagi anak sekarang, dewasanya cepet banget.”“Hm.” Dinda menyeruput minumannya sebentar. “Nggak usah ngomongin Cibi, lihat aja Niel sama Bita. Kemarin-kemarin Niel sudah pesan, pokoknya nanti kalau SMP, sekolahnya mau sama Bita.”Tawa keduanya kembali pecah. Membahas perihal anak-anak, memang tidak akan pernah ada habisnya. “Eh, lanjut ngomongin Noah sama Septy bentar,” ujar Cinta kembali ke topik pembicaraan awal. “Mereka berdua itu, pacaranny

  • Bias Cinta   BonChap~16

    “Nggak usah bicara,” larang Cinta ketika melihat tangan Kiano baru saja terangkat. Ia menduga, pria itu hendak melepas masker oksigen yang terpasang di wajahnya. Setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, Cinta menyadari banyak perubahan pada Kiano. Rambut yang dulu hitam kini telah memutih. Sementara guratan keriput di wajahnya, menjadi saksi bisu atas waktu yang terenggut oleh dinginnya dinding penjara.“Cukup dengarkan,” lanjut Cinta yang duduk di samping ranjang pasien. “Aku datang ke sini, cuma untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang anak. Bagaimanapun juga, Bapak tetap papa kandungku dan aku nggak bisa hapus kenyataan itu sampai kapan pun.”Cinta menarik napas panjang sebentar. “Selama ini, aku benar-benar belajar untuk ikhlas dan memaafkan,” lanjutnya dengan dada yang mulai terasa sesak. “Tapi, itu bukan berarti aku sudah melupakan semua luka yang pernah terjadi, karena semua masih ada di sini.”Cinta menyentuh dadanya sendiri. Ada jeda panjang yang menyesakkan ketika bayang masa

  • Bias Cinta   BonChap~15

    “Karena pagi ini kita ketambahan Mas Nono, Bu Denok, sama Pak Aspi, jadi kita bagi dua,” ujar Dinda sambil menunjuk sebuah mobil sedan dan MPV yang sudah siap membawa mereka ke Car Free Day.Setelah merayu Cinta dan Alma tadi malam, akhirnya ketiga bocah dari keluarga Manggala diperbolehkan menginap di kediaman Aryan. Rumah yang biasanya hanya diramaikan oleh ocehan Nia dan pertengkaran kecilnya dengan Niel, semalam berubah menjadi lebih riuh. “Bita sama aku,” ujar Niel cepat sambil menarik tangan Bita.“Aku sama Mas Niel!” timpal Nia langsung berdiri di samping sang kakak dan memeluk lengannya. “Ian sama Kak Cibi!” serunya sambil memeluk sang kakak yang sedang menguap. Terlihat jelas jika Cibi masih mengantuk, karena masih terlihat malas. “Bian sama Mami, ya,” ujar Noah langsung berbisik pelan di belakang Dinda, “Bisa sakit kepalaku kalau dengar dia ngoceh sepanjang jalan. Batrenya nggak habis-habis.”Dinda langsung berbalik dan geleng-geleng. “Itung-itung latihan punya anak. Mung

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status