Share

92~BC

Author: Kanietha
last update Last Updated: 2025-10-24 23:09:31

Desty memasuki ruang sidang ditemani oleh Wahyu. Mereka memilih duduk di deretan kursi paling belakang, agar Briana tidak menyadari keberadaannya.

Saat Briana akhirnya masuk, wanita itu terlihat sederhana dengan ekspresi yang tenang. Meski usia Briana tidak lagi muda, tetapi wanita itu masih terlihat cantik.

Desty menatap wanita yang dulu pernah berhubungan dekat dengannya. Ia berusaha memahami, mengapa Briana bisa sampai melakukan hal gila seperti yang dituduhkan.

Desty mengikuti jalannya sidang dengan perasaan yang tidak karuan. Setiap ia mendengar pernyataan saksi dan bukti-bukti yang dikeluarkan, Desty hanya bisa mengelus dada.

Sampai akhirnya, sidang kedua yang memakan waktu cukup lama itu pun selesai. Desty keluar bersama Wahyu dan menunggu sampai tiba gilirannya untuk bertemu Briana.

“Pak!” panggil Yosep menghampiri Wahyu yang duduk di kursi lorong pengadilan bersama Desty. “Bu Briana sudah ditemui. Silakan ikut saya.”

Wahyu mengangguk dan berdiri bersama Desty. Mereka mengi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (31)
goodnovel comment avatar
Supri Yanti
sabda itu di cerpen apa
goodnovel comment avatar
Liz Kusnandar
msh blm up nih, mba beb...
goodnovel comment avatar
kreasiniche.cik
jangan2 pengacara yg handle perjanjian pra nikah pak darwin suaminya bu desty ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bias Cinta   166~BC

    “Ketuk pintu dulu, Cinta,” tegur Altaf saat adiknya nyelonong masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. “Kamu juga gitu, kalau masuk ke ruanganku nggak pake ketuk pintu.”Altaf menarik napas. Tidak mau memperpanjang perdebatan dengan Cinta yang tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.“Kamu sendiri? Cibi mana?” tanya Altaf beranjak dari kursi kerjanya dan menghampiri Cinta yang baru duduk di sofa.“Aku sendiri. Cibi di ruanganku sama mbak Denok.” Cinta menegakkan tubuh. Wajah santainya berubah serius. “Rumah Dinda mau dibayar cash. Aku minta hitungkan berapa sisanya. Dan skenarionya begini, waktu itu Dinda beli lewat aku. Tapi karena aku punya bayi dan nggak bisa carikan rumah, jadinya aku minta tolong sama kamu. Kita samakan cerita, karena ada perasaan yang harus dijaga.”Altaf kembali menarik napas. Kali ini lebih panjang dan diakhiri dengan anggukan. “Oke.”“Sip!” Cinta langsung bangkit karena masalah sudah selesai. “Aku minta totalan secepatnya. Dan nggak usah bahas furni

  • Bias Cinta   165~BC

    “Ikut Onti atau ikut Om?” tanya Dinda mengulurkan kedua tangan pada Cibi. Tidak hanya dirinya, tetapi Felix juga ikut mengulurkan kedua tangannya. Tinggal menunggu Cibi akan mencondongkan tubuh ke arah mana. Cibi mengedipkan mata. Menatap Dinda dan Felix bergantian dengan mata polosnya. Sejurus itu, kedua tangannya tertuju pada Felix dan tubuhnya pun condong ke arah pria itu. Hal tersebut membuat tawa semua orang di sekitar mereka pecah. “Harusnya kamu milih sama Onti Dinda,” ucap Cinta hanya bisa pasrah dan menyerahkan putrinya ke gendongan Felix. “Duh, nggak bisa lihat cowok cakep dia ini,” timpal Dinda dengan kekehannya. “Asal jangan nurun seperti papanya.” Alma langsung melirik pada Bias. “Besar dikit, harus dikasih bodyguard. Biar nggak meleng ke mana-mana.”Tatapan datar Bias langsung tertuju pada mamanya. “Aku lagi yang kena.”Alma tetap cuek dan kembali fokus pada pasangan pengantin baru yang mengunjungi mereka. Ia mengajak suami istri itu masuk ke dalam dan langsung menu

  • Bias Cinta   164~BC

    “Haaah …” Dinda berbaring lelah di tempat tidur. Mendesah panjang sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku dan penat. Meski baru selesai mandi, tetapi sisa lelah di tubuhnya masih saja tersisa. “Sampe Jakarta, aku mau pijat lagi.”Felix tertawa kecil sambil memposisikan dua koper besar yang baru saja mereka beli di sudut kamar. Padahal, di hari kedua mereka di Thailand, Dinda sudah menghabiskan waktu berjam-jam di spa hotel dengan alasan lelah. Dan besok, istrinya itu sepertinya akan kembali menghabiskan waktu untuk memanjakan diri setelah tiba di Jakarta.Lima hari menghabiskan bulan madu berdua ternyata terasa sangat singkat. Jika tidak mengingat tanggung jawabnya di kantor, Felix pasti akan menambah cuti bulan madunya bersama Dinda. “Bagian mana yang pegel?” tanya Felix menghampiri Dinda. Merangkak pelan di atas tubuh sang istri. “Biar aku pijitin sekarang.”Bibir Dinda mengerucut dan menggeleng. “Jangan bikin aku keramas lagi hari ini.”“Oke.” Felix mencuri satu kecupan di bi

  • Bias Cinta   163~BC

    Cinta menuang seluruh isi tas milik Cibi, setelah menumpahkan isi tas miliknya sebelumnya. Namun, benda yang dicarinya tidak kunjung ditemukan. Bahkan, ia juga sudah mencari di dalam koper, tetapi tidak juga menemukan barang tersebut.“Pa! Lihat pil KB …” Cinta menggeleng. Ia berbalik dan segera berjalan ke balkon. Bertolak pinggang pada Bias yang tengah santai memangku Cibi. Tatapannya menyipit, curiga semua ini adalah ulah suaminya. “Papa Bi nyembunyiin pil KB-ku, kan!”Bias menatap Cibi, lalu menggeleng. Bicara tanpa menoleh pada Cinta. “Papa mana mungkin nyembunyiin pil KB mamamu, kan, Sayang? Mamamu itu asal nuduh. Nggak ada bukti.”“Pa!”“Sstt!” Bias mendelik pada Cinta, tetapi nada suaranya tetap santai. “Masa’ suaminya dibentak-bentak di depan anaknya? Ckckck.”“Ini juga!” Cinta mendesah kesal ketika melihat Cibi sudah memegang camilan sepagi ini. “Cibi itu belum sarapan, kenapa dikasih camilan?”“Dia tadi nunjuk camilannya,” jawab Bias tetap santai menanggapi kekesalan istrin

  • Bias Cinta   162~BC

    “Ayolah Mama Ci,” Bias masih bersikukuh membujuk Cinta untuk memberi Cibi seorang adik, “lepas KB juga belum tentu hamil bulan depannya.”“Ehhh … nggak ingat kemarin waktu bikin Cibi bulan depannya langsung hamil?” “Itu, kan, waktu Cibi, bukan adeknya,” ujar Bias menatap putrinya yang ada di gendongannya, “kamu mau adek, kan? Iyak, kan?” tanyanya sambil mengangguk dan Cibi pun langsung mengikuti gerakan kepala Bias sambil mengoceh.“Nah!” Bias langsung menunjuk putrinya. “Cibi ngangguk! Dia mau adek katanya.”Cinta menggulirkan bola matanya lalu mengambil Cibi dari gendongan Bias. “Nggak usah ngarang,” ucapnya sambil merebahkan putrinya di tempat tidur. “Ini sudah waktunya bobok! Tolong matiin lampunya, Pa.”“Habis Cibi tidur–”“Aku sudah minum pil tadi pagi,” sela Cinta berbaring di samping Cibi, bersiap tidur untuk melepas lelah setelah seharian mengikuti prosesi pernikahan Dinda, “jadi–”“Besok pagi nggak usah minum lagi,” putus Bias segera mematikan lampu kamar dan menyisakan sat

  • Bias Cinta   161~BC

    “Dinda … selamat, ya,” ucap Ranu saat bersalaman dengan Dinda. Saling mencium pipi, lalu berakhir dengan satu pelukan hangat. “Mas titip salam, karena masih di Surabaya.”Dinda mengangguk. Ia pun sudah mengetahui hal tersebut dari grup kantor. Raksa masih berada di Surabaya dan tidak bisa menghadiri pernikahan Dinda. “Iya, makasih sudah datang,” balas Dinda setelah mengurai pelukannya dan menatap Altaf dengan senyum semringah. Berusaha menyembunyikan rahasia yang ada di antara mereka perihal rumah, demi menjaga hati pasangan masing-masing.“Selamat, Din,” ucap Altaf setelah menyalami Felix, “kalian berdua ini nggak ada suaranya, tapi tau-tau nikah.”“Di situ seninya, Mas,” sambar Dinda sambil mengalungkan tangan ke lengan Felix dengan mesra, “ayok foto dulu!” “Ayo!” Ranu langsung berdiri sejajar dengan Dinda.Sementara Altaf, langsung sadar diri. Ia bergeser, lalu berdiri di samping Felix. Lampu kilat kamera menyambar beberapa kali, mengabadikan senyum bahagia mereka berempat. Sete

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status