Beranda / Romansa / Bidadari Surga Milik CEO / Bab 2. Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama. 

Share

Bab 2. Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama. 

Penulis: Ucing Ucay
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-06 17:33:53

Zalman menatap lekat wajah manis wanita yang baru saja di tolongnya.

Wajahnya baru dapat dia lihat setelah bersih, tadinya wajah Ghina berlumur darah karena kepalanya terbentur kaca mobil dan tergores hingga dia harus di jahit sedikit di bagian keningnya. Beruntung tidak ada cidera lainnya, patut di syukuri apapun itu bukan?

"Tuan Zalman mau pulang? Biar saya yang jaga Mba Ghina," tanya Akbar yang tidak tega melihat majikannya yang terlihat lelah.

"Kamu saja yang kembali pulang, Bar, istirahat dan nanti kembali ke sini bawakan pakaian ganti, untuk saya dan wanita ini, sepertinya pakaian Kila pas untuknya," titah Zalman.

Supir pribadi itu pun menurut, dia pamit untuk pulang dan berjanji akan kembali besok pagi dengan membawa pesanan atasannya.

***

Ghina meringis saat membuka mata, kepalanya terasa sakit terlebih pada bagian kening yang terbalut perban.

"Sshhhttt!" rintihnya. 

Suara Ghina berhasil membangunkan Zalman yang tertidur di sofa. Kelas rawat inap VIP yang Zalman berikan untuk Ghina bukan semata-mata untuk wanita itu saja, tapi dia mempertimbangkan kenyaman dirinya. Ada sofa panjang dan fasilitas televisi serta jaringan internet memudahkan Zalman dalam bekerja semalam sambil menunggu Ghina sadar. Tapi ternyata dirinya malah tertidur di sofa itu.

"Anda sudah sadar? Biar saya panggilkan dokter," ucap Zalman. Pria itu langsung menekan tombol darurat yang ada di dekat ranjang pasien.

Dan tidak berselang lama, petugas medis pun datang. Seorang dokter jaga dan suster langsung memeriksa kondisi Ghina.

"Apa yang Anda rasakan saat ini, Bu? Pusing? Mual?" tanya dokter itu sambil memeriksa kedua mata Ghina dengan santer kecilnya. 

"Sedikit pusing, dok. Dan sakit di sini." Ghina memegang keningnya. Tapi dengan sigap suster menarik tangan Ghina agar tidak menyentuk area itu.

"Kecelakaan semalam membuat cidera kepala Anda, kami harus menjahit sedikit kening Anda karena sobek terkena pecahan kaca mobil. Setelah ini akan saya jadwalkan pemeriksaan MRI, CT-scan juga untuk memeriksa dalam kepala Anda," tutur dokter pria yang bernama Iqbal.

"Saya rasa semua itu tidak perlu, dok," tolak Ghina karena dia memikirkan biayanya. Pemeriksaan yang dokter infokan barusan pasti tidak murah. 

"Saya sudah sembuh dan mau pulang," lanjut Ghina tapi saat dia hendak turun dari brankar itu tubuhnya oleng. Beruntung Zalman sigap dan menangkapnya.

Ghina terdiam saat Zalman menangkapnya dan membuat Ghina masuk dalam pelukannya. Tatapan Zalman dan aroma maskulin dari tubuh Zalman membuat wanita itu terpaku.

"Anda belum sembuh Mba Ghina," ucap Zalman, membantu Ghina naik kembali ke brankarnya.

"Tapi-"

"Pak Zalman benar, Bu Ghina. Anda masih harus di rawat beberapa hari lagi di sini," timpal dokter Iqbal.

Ghina menghela napas panjang, pasrah. Bagaimanapun dia memang butuh istirahat dan perlindungan. Rumah sakit adalah tempat yang tepat pikir Ghina saat ini.

***

Setelah dokter dan suster itu pergi, keheningan menyelimuti kamar inap VIP itu.

"Ehem!" Zalman berdeham memecah keheningan.

"Kita belum berkenalan bukan? Saya Alaric Zalman Maheer, Anda bisa panggil saya Zalman saja," lanjutnya.

"Saya Ghina, Ghina Ulya Syarifa," balas Ghina.

"Bagaimana bisa Anda kecelakaan? Dan pria yang meninggal itu apa ada hubungannya dengan Anda, Mba Ghina?" tanya Zalman.

Sontak kedua mata Ghina membola tidak percaya dengan yang barusan didengarnya.

"Supir itu meninggal?" ulangnya.

'Oh jadi pria yang bersama wanita itu adalah supirnya,' bathin Zalman.

"Pria itu supir taxi online yang saya pesan untuk mengantar pulang ke apartemen," ucap Ghina dalam isak tangisnya. Walupun baru kenal saat itu tapi Ghina merasa bersalah.

"Tengah malam naik taxi online?" selidik Zalman.

"Sa-saya ... saya pulang kerja dan memesan taxi online lalu karena lelah saya tertidur di dalam, saya tahu kalau mobil sempat oleng dan naik ke atas trotoar, setelah itu tidak ingat lagi, dan tiba-tiba terbangun di sini," terang Ghina, ada sedikit jeda dalam kalimatnya. Dia tidak mau menceritakan apa yang sebelumnya terjadi pada dirinya.

"Saat Anda tertidur di dalam mobil, supir itu terkena serangan jantung dan mobilnya menabrak tiang listrik. Pria itu meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit." Zalman menjelaskan pada Ghina.

Ghina menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"A-apa dia memiliki keluarga?" Ghina khawatir dan merasa bersalah pada keluarga supir tersebut.

"Pria itu memiliki seorang istri dan anak satu yang masih sekolah, polisi sudah mengurus dan jenazahnya sudah di bawa oleh keluarganya." Itu yang Zalman ketahui dari Polisi yang bernama Andri itu lewat pesan yang dibacanya sebelum Zalman tertidur.

***

Ghina merutuki dirinya karena ulahnya, membuat supir taxi Online itu meninggal dunia.

Benaknya kembali berputar sehari sebelum kejadian naas ini terjadi.

*Flashback On*

Ghina masuk ke dalam ruang kerja yang terlihat sangat glamor, dengan anggunnya dia berjalan dan duduk manis di salah satu sofa yang ada di tengah ruangan itu. Menunggu seorang wanita yang dia panggil dengan sebutan mami, sedang berbincang melalui ponselnya. 

Hanya dengan tatapan mata sang mami, Ghina bisa paham kalau dia di minta menunggu sebentar. Sesekali wanita itu menghisap rokok elektriknya dan menelan asapnya kemudian mengeluarkannya melalui rongga hidung.

Aroma strawberry dan mint terhirup begitu pekat di penciuman Ghina. Wanita itu merasa terpanggil untuk melakukan hal yang sama dengan sang mami.

Wanita berpakaian seksi itu mengeluarkan rokok elektriknya dan mulai menghisapnya setelah alat itu dinyalakan. Ghina lebih menyukai aroma apel yang lebih segar menurutnya.

Setelah selesai dengan telponnya, sang mami berdiri dan menghampiri Ghina lalu dia duduk di sofa spesialnya. Dengan kaki satunya menopang di atas yang satunya.

"Malam ini, kamu ke alamat yang sudah mami kirim ke ponsel kamu. Layani dia dengan maksimal karena dia salah satu klien royal yang kita punya," ucap Lira-mucikari yang menaungi beberapa wanita malam dan mengatur jadwal mereka semua.

"Mr.Yudha itu?" tanya Ghina memastikan.

Kepala Lira mengangguk pelan, "Yup, kenapa? Ada masalah? Apa kamu takut dengan rumor yang simpang siyur itu?" cecar Lira, menghisap kembali rokok elektriknya dengan elegan lalu membuang asapnya ke arah Ghina.

Ghina kesulitan menelan saliva-nya. Kemudian dia menghempas napas panjang, pasrah. Pekerjaannya menuntutnya untuk berani, bukan hanya berani melayani semua pria hidung belang itu tapi berani menghadapi jika istri mereka yang memergoki dan melabrak wanita malam yang berkencan dengan suami mereka.

"Mr.Yudha sudah mengkonfirmasi barusan kalau istrinya sedang berada di luar negri. Apa yang menjadi berita tempo hari agar diabaikan," terangnya. 

"Baiklah kalau begitu, Mami, saya akan ke sana malam ini." Ghina berdiri kemudian menghampiri Lira dan mencium pipi kiri dan kanan mucikari itu sebagai tanda pamit.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 168. Orang-orang Mengagumkan - Tamat -

    Setahun kemudian, Bisnis baru Zalman mulai kembali, keluarga Maheer bangkit dari keterpurukan ekonomi mereka secara berkala.Ghina dan Zalman sedang berada di sebuah rumah sakit, dan sedang ada acara di sana.Zalman menggandeng pergelangan tangan istrinya dengan lembut, "Kamu sudah makan?" tanyanya.Pas sekali karena mereka berhenti di meja prasmanan, Zalman menawarkan Ghina mencicipi apa yang tersedia di sana. "Makanannya enak, Sayang. Mau coba bersama?"Ghina tidak membalas, ia hanya melamun sejak tadi."Ada apa, Ghina?""Apa ada yang salah?" Zalman meraih bahu sang istri, membawanya lebih dekat padanya.Matanya memandang penuh kasih, "Kamu merasa tidak enak badan? Wajahmu pucat sekali. Haruskah kita beristirahat dan memeriksakan diri?"Dhanu tersadar akan sesuatu, ia mudah memahami perubahan emosi dari wanita yang menjadi teman hidupnya ini."Ya Tuhan, apa kamu merasa sakit karena bekas operasi itu?" tebak pria itu, "Bagaimana kalau kita pulang saja, ya?"Zalman menggeleng, geraka

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 167. Apa Keputusan Ghina?

    Ghina baru saja hendak terlelap.Menjalani rutinitas pengobatan bukankah hal mudah yang harus dirawat yang seseorang.Mereka yang diberikan takdir untuk senantiasa kuat menjalani hal tersebut adalah orang-orang terpilih.Dan istri Zalman itu adalah salah satunya.Baru saja ingin memejamkan mata, niatnya urung kala mendengar suara ketukan pintu, menandakan ada yang datang."Mas Zalman baru saja pergi. Siapa yang menemuiku?"Matanya mengerjap awas, memusatkan kembali fokus. Ia takut kalau-kalau tenaga medis datang, memeriksa kondisinya.Perempuan yang terpasang peralatan medis itu yakin yang menemuinya saat ini bukanlah Zalman, sebab suaminya itu baru saja ijin keluar untuk mencari sesuatu."Lama tidak melihatmu, Ghina!" kata pria bersnelli putih, dengan kacamata yang bertengger di wajahnya, "O-ah, maaf. Apa kamu sedang beristirahat?""Masuk saja, Dokter. Aku tidak jadi tidur."Berjalan tegap menghampiri Ghina. Senyuman sehangat mentari terbit dari sudut wajahnya yang tampan, "Kamu yaki

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 166. Karena Saya Suamimu. 

    "Ini terasa sangat aneh," Zalman berceletuk, mengusir hening yang terjalin sejak 1 jam lalu.Ghina yang hanya mendengar separuh dari kalimat itu spontan menengok ke arah suaminya tersebut. "Apanya yang aneh, Mas?"Pandangan itu mengedar ke sekeliling, lalu beralih kembali pada Ghina yang berada di sebelahnya."Tempat ini mulai terasa asing," lanjut pria itu, "Apa karena sudah lama sejak terakhir kali kita mendatanginya?"Pernyataan itu terlalu acak bagi Ghina. Perempuan dengan balutan kerudung berwarna putih itu membalas sekenanya, "Heum, mungkin saja karena itu."Jalanan yang biasa mereka lewati entah sepulang kerja, atau saat ingin mendatangi suatu tempat telah begitu jarang dikunjungi.Hanya saat jadwal pengobatan Ghina berlangsung saja, pasangan itu kembali ke Kota ini. Selebihnya, hidup di tempat baru.Perubahan demi perubahan yang ada di sudut jalan, bangunan yang ditata ulang, fasilitas, membuat desir aneh terasa di diri masing-masing.Kompleks yang semula memiliki begitu banya

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 165. Ghina Ingin Menyerah. 

    "Mas Zalman, dengar dulu —""Apalagi yang harus saya dengar? Pembicaraan kita selesai!" serobot pria itu, menyanggah menggunakan nada bicara yang begitu dingin.Padahal, sebelumnya, Zalman sepakat untuk memperbaiki sikap dan tidak marah-marah kembali pada Ghina.Tetapi, ia tidak bisa menahan diri untuk memberikan sanggahan beserta penolakannya terhadap pemikiran aneh sang istri."Kita sepakat memikirkan jalan keluar bersama, Mas Zalman." Ghina kekeuh, ia bukannya ingin jadi keras kepala pada suaminya."Tapi ini bukan jalan keluar, Ghina." Zalman merendah, suaranya begitu lirih.Diantara banyaknya pilihan, pria itu mengungkit contoh lain. "Yang dinamakan jalan keluar adalah apa yang kita pilih dengan pemikiran terbuka.""Katamu, setiap kali mengalami masalah, kita akan sama-sama cari penyelesaiannya." Ghina menuntut, "Tetapi mengapa kamu justru menolak ide dariku?""Apa kamu berpikir bahwa ini adalah ide yang masuk akal?" Zalman menjawab, wajahnya mulai memerah."Ya!""Ghina, hentikan!

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 164. Dilema Mencari Jalan Keluar. 

    "Apa yang terjadi?" tanya Ghina, melihat kepala putranya tlah terluka, "Ada apa ini, Vin?!"Darah segar mengalir dari pelipis Calvin, lebam biru juga nampak tercetak di tempat yang sama."Kenapa kalian hanya bungkam saat bunda bertanya?""Apa tidak ada yang mau menjelaskan, atau mengatakan yang terjadi pada Bunda atau Papa?!" tuntut Ghina, gemas."Ada apa dengan anak-anakku ini. Kalian nampak sangat kompak ingin menyembunyikan apa yang terjadi!"Perempuan dengan aura keibuan yang membuat siapa saja mampu merasakan kasih sayangnya itu frustasi karena harus mendesak lebih dulu baru ada yang angkat bicara."Tidak apa-apa, Bunda.""Tidak apa-apa bagaimana? Kamu terluka seperti ini!""Ini hanya kecelakaan kecil," jawab putra sulung Zalman itu, merespon setenang yang ia bisa. "Hal yang biasa anak laki-laki terluka seperti ini."Zalman juga terkejut, sebenarnya sama khawatirnya dengan Ghina. Akan tetapi, ia tetap bisa mengontrol diri.Karena bila semua orang merespon sama, panik dan membuat

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 163. Berangkat ke Ladang Bersama. 

    Zalman kembali dengan setelan baru.Kaos hitam dengan celana pendek warna senada sepatu yang sama seperti yang Ghina kenakan, dan topi agar tidak langsung tersengat sinar matahari."Bagaimana?" celetuknya, bertanya.Pria itu bahkan sengaja berputar, menampilkan sisi lain dan bersikap bagai pria keren. Ini lucu sebab diusianya yang tidak lagi muda, Zalman tau caranya menghibur sang istri.Ghina menunjukkan jempolnya, "Keren!" pujian itu dilontarkan dengan senyuman mengembang sempurna.Zalman mendekat, membuka lebar telapak tangannya. "Tos!"Karena tubuh suaminya yang terlihat cukup tinggi, Ghina harus sedikit berjinjit menggapai tos–an itu."Mas yakin kita bisa? Apa Mas Zalman sudah pernah ikut membantu sebelumnya?" tanya Ghina, melontarkan lebih dari satu kalimat tanya.Wajahnya menunduk dalam, menatap permukaan tanah berkerikil yang ia lewati. "Pekerjaan di ladang tidak akan semudah itu," cicitnya, menambahkan namun dengan suara yang lebih pelan.Zalman menanggapi obrolan Ghina denga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status