LOGINDi apartemennya Ghina sudah tampil lebih seksi dan cantik dengan dandanan glamornya. Dari atas kepala hingga ujung kakinya dia perhatikan dengan sangat teliti.
Terlihat cantik dari luar tapi siapa yang kira di dalamnya sebenarnya ada sebuah hati yang menangis saat bercermin.
Ghina tidak menyangka hidupnya akan hancur seperti ini, besar di sebuah panti asuhan tanpa tahu siapa kedua orangtuanya dan kemudian dia di adopsi oleh seseorang yang ternyata hanya di peralat dan di jual kepada sugar daddy yang berani membayar mahal kesuciannya beberapa tahun yang lalu. Sudah terlanjur basah akhirnya Ghina berenang dalam kolam penuh dosa ini. Entah sampai kapan dia mau bekerja sebagai wanita malam seperti ini, dia hanya bisa berharap ada seorang pria baik yang mau menerimanya nanti dengan latarbelakang yang kelam.
"Okay cantik, saatnya bekerja mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup kamu sendiri, kalau bukan kamu yang bekerja lalu siapa yang akan menghidupi kamu? Tidak akan mungkin ada tangan yang mau menyuapi kamu makan, jangan harap, Ghina!" ucap Ghina pada pantulan cermin dirinya.
Ghina menghela napas kasar.
Sudah sering dia protes pada Tuhannya, tapi dia merasa dirinya tidak pernah di perhatikan oleh Yang Maha Kuasa. Tuhan saja jijik melihatnya, pikir Ghina.
Dengan anggun dan percaya diri Ghina pergi melangkah keluar dari unit apartemennya.
Dengan mobil mungilnya dia berkendara sendiri malam ini. Tujuannya malam ini adalah sebuah kamar mewah di sebuah hotel megah bintang lima diamond.
***
"Malam ini Tuan Yudha ada janji dengan wanita malam itu, Nyonya," ucap salah satu pria dari luar jendela mobil yang sedikit terbuka, mobil sedan hitam itu terparkir di sebuah hotel bintang lima diamond.
"Apa kamu yakin di sini hotelnya?" Suara lembut dan tegas itu membalas dari dalam mobil.
"Yakin, Nyonya. Saat ini Tuan ada di kamar mewah nomer 8008, tapi wanita itu belum datang, mungkin sebentar lagi."
"Baiklah, kabari saya jika mereka berdua sudah dalam satu kamar, saya akan menangkap basah keduanya. Jangan lupa dengan rencana yang sudah saya berikan. Jangan sampai ada keributan seperti kemarin."
"Baik, Nyonya."
Jendela mobil itu kembali tertutup. Dan pria berjaket kulit itu pun segera pergi kembali masuk ke dalam hotel bersama dua orang temannya yang berpenampilan sama, menunggu di lobby hotel tanpa menimbulkan kecurigaan semua orang.
***
Ghina menghentikan mobilnya tepat di pintu utama, dia keluar dari mobil dan langsung menyerahkan kunci mobilnya pada juru parkir yang tersedia di pintu utama hotel tesebut.
"Terima kasih, Pak," ucap Ghina ramah saat petugas yang menerima kunci mobilnya.
Ghina masuk ke dalam hotel dan langsung menuju lift. Dengan percaya diri yang tinggi dia menekan tombol 8 dimana kamar yang dia tuju ada di lantai 8.
Ting!
Denting lift menggema karena lantai tersebut sangat sepi.
Ghina keluar lift saat pintu itu terbuka lebar. Perlahan dia melihat satu persatu nomer kamar yang ada di lantai itu.
[Lantai 8 kamar nomer 8008.]
Begitu pesan yang Ghina baca di ponselnya.
Tidak lama wanita dengan pakaian hitam dan seksi itu menemukan kamar yang dia tuju, lalu menekan bell pada pintu.
Tidak lama pintu itu terbuka dan seorang pria setengah abad dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya mempersilahkan Ghina masuk.
Tidak menunggu waktu lama Yudha sudah melucuti semua pakaian Ghina. Gairahnya sudah sampai di ubun-ubun saat melihat lekuk tubuh Ghina yang aduhai.
Akan tetapi seketika gairah itu pun padam saat pintu kamarnya terbuka dan beberapa orang masuk kedalam.
"Sial!" gerutu Ghina dalam hatinya. Seketika dia langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh indahnya dan berdiri dari ranjang. Mencoba mengumpulkan pakaiannya yang tercecer.
"Siapa kalian berani mengganggu!" bentak Yudha pada tiga pria berjaket kulit hitam.
Di belakang para pria itu muncul sosok wanita yang Yudha takuti, Anna-istri tercinta yang dia kira sedang berada di luar negeri ternyata kini ada di hadapannya.
"Ma-mama?!" Yudha terbata dengan mata membola.
Kejadian itu dipergunakan Ghina untuk segera berpakaian dengan cepat. Dan saat dia hendak pergi dari kamar itu, tepatnya kabur. Tangannya di cekal oleh wanita paruh baya itu.
"Tidak segampang itu kamu pergi, Jalang!" pekik istri Yudha itu.
Ghina mengeraskan rahangnya, kesal, tapi dia tidak bisa melawan karena jika terjadi keributan nama dia juga akan terbawa nanti.
"Bawa dia, lakukan tugas kalian sebaik mungkin," titahnya pada pria berjaket kulit.
"Ma, mau kamu apakan dia?" teriak Yudha saat Ghina dibawa pergi dari kamar itu.
PLAK! PLAK!
Sebuah tanparan bolak balik di pipi Yudha dari tangan yang biasa mengusapnya lembut.
"Seharusnya kamu mengkhawatirkan diri kamu sendiri dan pernikahan kita, Mas, bukan wanita jalang itu!" sindir sang istri.
*Flashback Off*
Karena terlalu banyak berpikir dan merasa bersalah, kepala Ghina menjadi pusing dan dia meringis.
"Anda kenapa?" tanya Zalman khawatir karena wanita itu meremas rambutnya dengan kuat.
"Kepala saya sakit!" pekiknya tertahan.
"Sebentar biar saya panggilkan dokter."
Tangan Ghina menahan tangan Zalman yang hendak menekan tombol darurat yang ada di dekat brankar. Seketika Zalman terdiam. Zalman merasakan sesuatu yang berbeda dari sentuhan tangan Ghina, entah mengapa seperti ada aliran listrik yang menggetarkan dirinya. Dan seketika jantungnya berdetak tidak karuan.
"Ke-kenapa?" tanyanya terbata.
"Tidak perlu, sakitnya seketika hilang," jawab Ghina.
Secepat itu?
Zalman merasa sangat khawatir, apa yang barusan dialami Ghina tidak normal. Sakit kepala yang teramat sangat lalu hilang seketika.
Pria itu menghela napas panjang.
Menuruti apa yang Ghina ucapkan tapi tidak semata dia terdiam. Niatnya dia akan menanyakan dan meminta dokter memeriksa kepala Ghina lebih detail lagi.
Entah mengapa dia sekhawatir itu dengan wanita yang baru saja dia kenal.
"Saya ngantuk," ucap Ghina.
Pengaruh obat yang dia konsumsi membuat dirinya mengantuk.
"Istirahatlah," sahut Zalman.
Menunggu Ghina tidur, Zalman membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa pekerjaannya. Laporan yang di berikan lewat email dari para bawahannya perlu dia periksa ulang sebelum dia tanda tangani nanti.
***
Zalman selesai dengan pekerjaannya, bersamaan dengan itu Akbar masuk ke dalam ruang rawat VIP itu dengan kedua tangan membawa paperbag.
"Ini pakaian Tuan dan Mba Ghina, Mbok Kayum yang memilihkan pakaian Mba Kila semoga cocok sama Mba Ghina dan ini makanan masakan si Mbok Surti." Akbar menaruh kedua paperbagnya di atas meja.
"Makasih, Bar." Zalman membuka paperbag yang berisi pakaian dan mengambil miliknya, beberapa jam memakai pakaian yang sama membuat tubuh Zalman terasa lengket walau di kamar itu pendingin ruangannya berjalan dengan baik.
Zalman berjalan ke kamar mandi yang ada di ruangan itu.
***
"Bu Ghina sudah sadar?" sapa Akbar lebih dahulu dan mendekati brankar Ghina.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Ghina dengan kening menyernyit.
"Saya Akbar, Bu. Supir pribadi Tuan Zalman, yang semalam membawa Ibu Ghina dan seorang pria ke rumah sakit." Dengan ramah dan sopan Akbar memperkenalkan dirinya.
"Tuan Zalman?" ulang Ghina.
"Itu Tuan Zalman," tunjuk Akbar dengan ibu jarinya ke arah kamar mandi bersamaan dengan keluarnya Zalman yang baru selesai melakukan ritual mandinya.
Setahun kemudian, Bisnis baru Zalman mulai kembali, keluarga Maheer bangkit dari keterpurukan ekonomi mereka secara berkala.Ghina dan Zalman sedang berada di sebuah rumah sakit, dan sedang ada acara di sana.Zalman menggandeng pergelangan tangan istrinya dengan lembut, "Kamu sudah makan?" tanyanya.Pas sekali karena mereka berhenti di meja prasmanan, Zalman menawarkan Ghina mencicipi apa yang tersedia di sana. "Makanannya enak, Sayang. Mau coba bersama?"Ghina tidak membalas, ia hanya melamun sejak tadi."Ada apa, Ghina?""Apa ada yang salah?" Zalman meraih bahu sang istri, membawanya lebih dekat padanya.Matanya memandang penuh kasih, "Kamu merasa tidak enak badan? Wajahmu pucat sekali. Haruskah kita beristirahat dan memeriksakan diri?"Dhanu tersadar akan sesuatu, ia mudah memahami perubahan emosi dari wanita yang menjadi teman hidupnya ini."Ya Tuhan, apa kamu merasa sakit karena bekas operasi itu?" tebak pria itu, "Bagaimana kalau kita pulang saja, ya?"Zalman menggeleng, geraka
Ghina baru saja hendak terlelap.Menjalani rutinitas pengobatan bukankah hal mudah yang harus dirawat yang seseorang.Mereka yang diberikan takdir untuk senantiasa kuat menjalani hal tersebut adalah orang-orang terpilih.Dan istri Zalman itu adalah salah satunya.Baru saja ingin memejamkan mata, niatnya urung kala mendengar suara ketukan pintu, menandakan ada yang datang."Mas Zalman baru saja pergi. Siapa yang menemuiku?"Matanya mengerjap awas, memusatkan kembali fokus. Ia takut kalau-kalau tenaga medis datang, memeriksa kondisinya.Perempuan yang terpasang peralatan medis itu yakin yang menemuinya saat ini bukanlah Zalman, sebab suaminya itu baru saja ijin keluar untuk mencari sesuatu."Lama tidak melihatmu, Ghina!" kata pria bersnelli putih, dengan kacamata yang bertengger di wajahnya, "O-ah, maaf. Apa kamu sedang beristirahat?""Masuk saja, Dokter. Aku tidak jadi tidur."Berjalan tegap menghampiri Ghina. Senyuman sehangat mentari terbit dari sudut wajahnya yang tampan, "Kamu yaki
"Ini terasa sangat aneh," Zalman berceletuk, mengusir hening yang terjalin sejak 1 jam lalu.Ghina yang hanya mendengar separuh dari kalimat itu spontan menengok ke arah suaminya tersebut. "Apanya yang aneh, Mas?"Pandangan itu mengedar ke sekeliling, lalu beralih kembali pada Ghina yang berada di sebelahnya."Tempat ini mulai terasa asing," lanjut pria itu, "Apa karena sudah lama sejak terakhir kali kita mendatanginya?"Pernyataan itu terlalu acak bagi Ghina. Perempuan dengan balutan kerudung berwarna putih itu membalas sekenanya, "Heum, mungkin saja karena itu."Jalanan yang biasa mereka lewati entah sepulang kerja, atau saat ingin mendatangi suatu tempat telah begitu jarang dikunjungi.Hanya saat jadwal pengobatan Ghina berlangsung saja, pasangan itu kembali ke Kota ini. Selebihnya, hidup di tempat baru.Perubahan demi perubahan yang ada di sudut jalan, bangunan yang ditata ulang, fasilitas, membuat desir aneh terasa di diri masing-masing.Kompleks yang semula memiliki begitu banya
"Mas Zalman, dengar dulu —""Apalagi yang harus saya dengar? Pembicaraan kita selesai!" serobot pria itu, menyanggah menggunakan nada bicara yang begitu dingin.Padahal, sebelumnya, Zalman sepakat untuk memperbaiki sikap dan tidak marah-marah kembali pada Ghina.Tetapi, ia tidak bisa menahan diri untuk memberikan sanggahan beserta penolakannya terhadap pemikiran aneh sang istri."Kita sepakat memikirkan jalan keluar bersama, Mas Zalman." Ghina kekeuh, ia bukannya ingin jadi keras kepala pada suaminya."Tapi ini bukan jalan keluar, Ghina." Zalman merendah, suaranya begitu lirih.Diantara banyaknya pilihan, pria itu mengungkit contoh lain. "Yang dinamakan jalan keluar adalah apa yang kita pilih dengan pemikiran terbuka.""Katamu, setiap kali mengalami masalah, kita akan sama-sama cari penyelesaiannya." Ghina menuntut, "Tetapi mengapa kamu justru menolak ide dariku?""Apa kamu berpikir bahwa ini adalah ide yang masuk akal?" Zalman menjawab, wajahnya mulai memerah."Ya!""Ghina, hentikan!
"Apa yang terjadi?" tanya Ghina, melihat kepala putranya tlah terluka, "Ada apa ini, Vin?!"Darah segar mengalir dari pelipis Calvin, lebam biru juga nampak tercetak di tempat yang sama."Kenapa kalian hanya bungkam saat bunda bertanya?""Apa tidak ada yang mau menjelaskan, atau mengatakan yang terjadi pada Bunda atau Papa?!" tuntut Ghina, gemas."Ada apa dengan anak-anakku ini. Kalian nampak sangat kompak ingin menyembunyikan apa yang terjadi!"Perempuan dengan aura keibuan yang membuat siapa saja mampu merasakan kasih sayangnya itu frustasi karena harus mendesak lebih dulu baru ada yang angkat bicara."Tidak apa-apa, Bunda.""Tidak apa-apa bagaimana? Kamu terluka seperti ini!""Ini hanya kecelakaan kecil," jawab putra sulung Zalman itu, merespon setenang yang ia bisa. "Hal yang biasa anak laki-laki terluka seperti ini."Zalman juga terkejut, sebenarnya sama khawatirnya dengan Ghina. Akan tetapi, ia tetap bisa mengontrol diri.Karena bila semua orang merespon sama, panik dan membuat
Zalman kembali dengan setelan baru.Kaos hitam dengan celana pendek warna senada sepatu yang sama seperti yang Ghina kenakan, dan topi agar tidak langsung tersengat sinar matahari."Bagaimana?" celetuknya, bertanya.Pria itu bahkan sengaja berputar, menampilkan sisi lain dan bersikap bagai pria keren. Ini lucu sebab diusianya yang tidak lagi muda, Zalman tau caranya menghibur sang istri.Ghina menunjukkan jempolnya, "Keren!" pujian itu dilontarkan dengan senyuman mengembang sempurna.Zalman mendekat, membuka lebar telapak tangannya. "Tos!"Karena tubuh suaminya yang terlihat cukup tinggi, Ghina harus sedikit berjinjit menggapai tos–an itu."Mas yakin kita bisa? Apa Mas Zalman sudah pernah ikut membantu sebelumnya?" tanya Ghina, melontarkan lebih dari satu kalimat tanya.Wajahnya menunduk dalam, menatap permukaan tanah berkerikil yang ia lewati. "Pekerjaan di ladang tidak akan semudah itu," cicitnya, menambahkan namun dengan suara yang lebih pelan.Zalman menanggapi obrolan Ghina denga







