Home / Romansa / Bidadari Surga Milik CEO / Bab 4. Pesona Duda Beranak Dua.

Share

Bab 4. Pesona Duda Beranak Dua.

Author: Ucing Ucay
last update Last Updated: 2025-09-06 17:34:23

Ghina baru menyadari yang di maksud Akbar adalah Zalman, pria yang sudah menolongnya semalam. Kenapa seketika dia menjadi lambat dalam berpikir, mungkin ini karena benturan di kepalanya, pikir Ghina.

Ghina terpaku saat melihat penampilan Zalman tampak segar dan lebih santai dengan celana panjang berbahan denim dan kaos berwarna putih, rambut yang masih sedikit basah membuat pesonanya bertambah di mata Ghina.

Seketika Ghina menggeleng cepat dan melempar asal tatapannya saat Kedua matanya bertemu dengan mata Zalman. Pipinya merona seperti tomat karena tertangkap sedang menatap Zalman dengan intens.

"Oh, i-iya. Maaf saya lupa, kepala saya-"

"Sakit ya, Bu? Saya panggilkan dokter ya," potong Akbar cepat yang langsung keluar tanpa mengindahkan penolakan Ghina.

"Kamu sudah bangun?" tanya Zalman, pria itu melangkah ke arah sofa dan memasukan pakaian kotornya ke dalam paperbag yang kosong. Begitu juga dengan handuk yang di pakai untuk mengeringkan kepalanya.

Kepala Ghina mengangguk saja membenarkan pertanyaan Zalman.

Ghina melihat Zalman tanpa berkedip saat pria itu menyisir rambutnya hanya dengan jemari karena Akbar yang lupa membawakan dia sisir rambut.

Pesona pria bertubuh atletis dengan tinggi 178 cm itu sayang jika diabaikan, pikir Ghina. Kepala Ghina menunduk saat dia ketahuan sedang memperhatikan Zalman.

"Kalau Anda mau mengganti pakaian, Anda bisa gunakan ini. Ini pakaian putri saya, tapi masih baru. Dia banyak belanja tapi tidak di pakai semua, saya rasa ukuran tubuh kalian sama." Zalman mendekat dengan paperbag ditangannya dan memberikan pada Ghina.

Bersamaan dengan itu keduanya menoleh ke arah pintu saat Akbar masuk bersama seorang dokter.

Dokter itu kembali memeriksa Ghina karena Akbar yang memanggilnya.

"Saya tidak apa-apa, dok," lapor Ghina.

"Dari luar memang terlihat tidak ada keluhan tapi siapa tahu dalamnya?" timpal Zalman yang gemas dengan Ghina, wanita itu selalu mengatakan tidak apa-apa.

"Suami Anda benar, Bu," sahut dokter muda itu, dia baru saja aplusan dengan dokter sebelumnya dan mengira kalau Zalman dan Ghina adalah sepasang suami istri. Sontak pipi Ghina merona dan Zalman menjadi salah tingkah.

"Mereka bukan suami istri, dok," ungkap Akbar.

"Oh, maaf, maaf, saya kira -" 

"Tapi mereka cocok ya, dok," sela Akbar.

Kepala dokter mengangguk membenarkan ucapan Akbar. Siapapun yang melihat Zalman dan Ghina akan mengira mereka sepasang suami istri padahal mereka baru saja bertemu semalam.

***

Sebelum jam makan siang Zalman meminta ijin keluar sebentar untuk membeli makan siang. Karena tadi pagi Akbar hanya membawa sarapan dan pria itu kini belum kembali ke rumah sakit untuk membawa makan siang sedangkan perut Zalman sudah protes minta di isi.

Kantin rumah sakit termasuk bersih dan lengkap, semua makanan tersedia di sana. Niatnya makan siang di sana Zalman urungkan. Dia membungkus makan siangnya kemudian memesan jus buah beberapa gelas dengan jenis buah yang berbeda. Begitu juga cemilan. Semua itu bukan untuknya sendiri melainkan untuk Ghina. Zalman paham betul kalau makanan rumah sakit walaupun sehat tapi tidak enak di lidah, dia ingin Ghina menikmati makanan yang enak.

"Semuanya berapa?" tanya Zalman pada kasir di salah satu penjual makanan dan minuman.

"Dua ratus lima belas ribu, Pak," jawabnya.

Zalman merogoh kantong celananya dan mengeluarkan dompetnya kemudian membayar semua tagihan pesanan makanan dan minumannya.

Bersamaan dengan itu ponselnya berbunyi. 

"Sebentar, Mas," ucap Zalman. Karena pria itu hendak menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya.

My princess memanggil ...

"Pa, papa dimana sih? Dari kemarin kok gak pulang-pulang? Gak kasih kabar juga ke aku?" suara sang putri sangat nyaring terdengar di telinga Zalman sampai dia menjauhkan ponselnya dari telinga.

"Assalamualaikum," salam Zalman setelah suara di seberang sana terdiam.

"Wa-waalaikumsalam, Pa," balas Kila.

"Nah gitu dong, beri salam dulu baru bicara," nasehat Zalman pada sang putri tersayangnya.

"Maaf, lagian Papa sih!" 

"Papa lagi temani teman di rumah sakit, semalam dia masuk rumah sakit, memangnya Pak Akbar, Mbok Kayum dan Mbok Surti gak ngasih tahu?" 

Kepala Kila menggeleng padahal papanya juga tidak bisa melihat aksinya itu.

"Pasti kamu gak tanya mereka 'kan?" selidik Zalman.

Ayunisa Shakila Maheer putri kesayangan Zalman, anak kedua dari pernikahan Zalman dan mendiang Katrin yang sedang duduk di bangku SMA memang sedikit berbeda, dia jarang sekali berbicara pada pekerja yang ada dirumahnya. Sedikit sombong karena merasa menjadi nona muda di sana di sayang oleh Zalman dan dia menjadi besar kepala. Dia sangat berbeda dari kakak laki-lakinya yang bernama Calvin, Calvin Hafuza Isham Maheer Putra pertama serta anak pertama dari Zalman dan mendiang Katrin yang sedang berkuliah di Jerman dia supel dan ramah pada semua orang. Kila yang selalu cerewet jika ayahnya tidak pulang bahkan telat pulang sedikitpun dia pasti akan selalu mencarinya.

"So, kapan Papa pulang?" 

"Setelah makan siang, ya, Sayang."

"Ya sudah, bel sekolahku sudah berbunyi, aku mau istirahat dulu."

"Kamu telpon Papa di kelas?"

"Jam kosong, Pa. Sudah ya, bye, Pa."

"Ya, Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Papa."

Kila langsung mematikan ponselnya dan memasukannya ke dalam saku kemeja sekolahnya. Gadis itu langsung keluar kelas menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu keluar menuju kantin sekolah.

Setelah selesai dengan telponnya, Zalman mengambil pesanan makanannya yang sudah dia bayar dan mengucap terima kasih pada pelayan di sana.

***

Langkah kaki Zalman terhenti di depan pintu kamar rawat VIP, telinganya mendengar percakapan dua orang wanita di dalam sana. Satu suara yang dia kenal adalah milik Ghina dan satu lagi entah siapa. Bukan maksud menguping tapi percakapan itu cukup kencang karena wanita yang Zalman tidak kenal itu sedikit tinggi intonasinya. 

Zalman langsung berpura-pura duduk di kursi tunggu besi yang ada di luar kamar itu. 

Tamu wanita itu keluar dari kamar rawat VIP Ghina tanpa menyadari kehadiran Zalman yang duduk. Seorang wanita dengan pakaian seksi dan glamor dengan sepatu hak tinggi, rambut berwarna pirang dan membawa tas bermerek mahal jalan berlenggak lenggok meninggalkan ruang VIP itu.

Ghina terkejut saat Zalman masuk ke dalam kamar tidak lama setelah wanita itu keluar dari sana. 

"Kenapa makanannya belum habis?" tanya Zalman saat dia melihat nampan makan siang Ghina belum habis. Jangankan habis, tersentuh saja tidak karena semua masih dalam tertutup plastik tipis.

"Apa menunya tidak Anda suka?" lanjut Zalman karena Ghina masih terdiam.

Zalman menarik meja beroda khusus makan milik rumah sakit mendekat ke brankar, membuka plastik tipisnya dan dia juga membuka bungkusan makan siangnya.

"Kalau menu ini suka?" tanya Zalman menawarkan makan siang yang dia beli di kantin rumah sakit barusan.

"Aku tidak lapar, Tuan," jawab Ghina.

Zalman tertawa lepas, membuat Ghina tertegun dengan lesung pipi pria itu dan gigi putih yang berbaris rapih milik Zalman.

"Kenapa?" tanya Ghina pelan.

Zalman berdeham menetralkan suaranya, "Anda lucu, Mba Ghina."

Ghina langsung mengerucutkan bibirnya, antara kesal dan keran mengapa bisa-bisanya pria itu menilai dirinya lucu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 168. Orang-orang Mengagumkan - Tamat -

    Setahun kemudian, Bisnis baru Zalman mulai kembali, keluarga Maheer bangkit dari keterpurukan ekonomi mereka secara berkala.Ghina dan Zalman sedang berada di sebuah rumah sakit, dan sedang ada acara di sana.Zalman menggandeng pergelangan tangan istrinya dengan lembut, "Kamu sudah makan?" tanyanya.Pas sekali karena mereka berhenti di meja prasmanan, Zalman menawarkan Ghina mencicipi apa yang tersedia di sana. "Makanannya enak, Sayang. Mau coba bersama?"Ghina tidak membalas, ia hanya melamun sejak tadi."Ada apa, Ghina?""Apa ada yang salah?" Zalman meraih bahu sang istri, membawanya lebih dekat padanya.Matanya memandang penuh kasih, "Kamu merasa tidak enak badan? Wajahmu pucat sekali. Haruskah kita beristirahat dan memeriksakan diri?"Dhanu tersadar akan sesuatu, ia mudah memahami perubahan emosi dari wanita yang menjadi teman hidupnya ini."Ya Tuhan, apa kamu merasa sakit karena bekas operasi itu?" tebak pria itu, "Bagaimana kalau kita pulang saja, ya?"Zalman menggeleng, geraka

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 167. Apa Keputusan Ghina?

    Ghina baru saja hendak terlelap.Menjalani rutinitas pengobatan bukankah hal mudah yang harus dirawat yang seseorang.Mereka yang diberikan takdir untuk senantiasa kuat menjalani hal tersebut adalah orang-orang terpilih.Dan istri Zalman itu adalah salah satunya.Baru saja ingin memejamkan mata, niatnya urung kala mendengar suara ketukan pintu, menandakan ada yang datang."Mas Zalman baru saja pergi. Siapa yang menemuiku?"Matanya mengerjap awas, memusatkan kembali fokus. Ia takut kalau-kalau tenaga medis datang, memeriksa kondisinya.Perempuan yang terpasang peralatan medis itu yakin yang menemuinya saat ini bukanlah Zalman, sebab suaminya itu baru saja ijin keluar untuk mencari sesuatu."Lama tidak melihatmu, Ghina!" kata pria bersnelli putih, dengan kacamata yang bertengger di wajahnya, "O-ah, maaf. Apa kamu sedang beristirahat?""Masuk saja, Dokter. Aku tidak jadi tidur."Berjalan tegap menghampiri Ghina. Senyuman sehangat mentari terbit dari sudut wajahnya yang tampan, "Kamu yaki

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 166. Karena Saya Suamimu. 

    "Ini terasa sangat aneh," Zalman berceletuk, mengusir hening yang terjalin sejak 1 jam lalu.Ghina yang hanya mendengar separuh dari kalimat itu spontan menengok ke arah suaminya tersebut. "Apanya yang aneh, Mas?"Pandangan itu mengedar ke sekeliling, lalu beralih kembali pada Ghina yang berada di sebelahnya."Tempat ini mulai terasa asing," lanjut pria itu, "Apa karena sudah lama sejak terakhir kali kita mendatanginya?"Pernyataan itu terlalu acak bagi Ghina. Perempuan dengan balutan kerudung berwarna putih itu membalas sekenanya, "Heum, mungkin saja karena itu."Jalanan yang biasa mereka lewati entah sepulang kerja, atau saat ingin mendatangi suatu tempat telah begitu jarang dikunjungi.Hanya saat jadwal pengobatan Ghina berlangsung saja, pasangan itu kembali ke Kota ini. Selebihnya, hidup di tempat baru.Perubahan demi perubahan yang ada di sudut jalan, bangunan yang ditata ulang, fasilitas, membuat desir aneh terasa di diri masing-masing.Kompleks yang semula memiliki begitu banya

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 165. Ghina Ingin Menyerah. 

    "Mas Zalman, dengar dulu —""Apalagi yang harus saya dengar? Pembicaraan kita selesai!" serobot pria itu, menyanggah menggunakan nada bicara yang begitu dingin.Padahal, sebelumnya, Zalman sepakat untuk memperbaiki sikap dan tidak marah-marah kembali pada Ghina.Tetapi, ia tidak bisa menahan diri untuk memberikan sanggahan beserta penolakannya terhadap pemikiran aneh sang istri."Kita sepakat memikirkan jalan keluar bersama, Mas Zalman." Ghina kekeuh, ia bukannya ingin jadi keras kepala pada suaminya."Tapi ini bukan jalan keluar, Ghina." Zalman merendah, suaranya begitu lirih.Diantara banyaknya pilihan, pria itu mengungkit contoh lain. "Yang dinamakan jalan keluar adalah apa yang kita pilih dengan pemikiran terbuka.""Katamu, setiap kali mengalami masalah, kita akan sama-sama cari penyelesaiannya." Ghina menuntut, "Tetapi mengapa kamu justru menolak ide dariku?""Apa kamu berpikir bahwa ini adalah ide yang masuk akal?" Zalman menjawab, wajahnya mulai memerah."Ya!""Ghina, hentikan!

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 164. Dilema Mencari Jalan Keluar. 

    "Apa yang terjadi?" tanya Ghina, melihat kepala putranya tlah terluka, "Ada apa ini, Vin?!"Darah segar mengalir dari pelipis Calvin, lebam biru juga nampak tercetak di tempat yang sama."Kenapa kalian hanya bungkam saat bunda bertanya?""Apa tidak ada yang mau menjelaskan, atau mengatakan yang terjadi pada Bunda atau Papa?!" tuntut Ghina, gemas."Ada apa dengan anak-anakku ini. Kalian nampak sangat kompak ingin menyembunyikan apa yang terjadi!"Perempuan dengan aura keibuan yang membuat siapa saja mampu merasakan kasih sayangnya itu frustasi karena harus mendesak lebih dulu baru ada yang angkat bicara."Tidak apa-apa, Bunda.""Tidak apa-apa bagaimana? Kamu terluka seperti ini!""Ini hanya kecelakaan kecil," jawab putra sulung Zalman itu, merespon setenang yang ia bisa. "Hal yang biasa anak laki-laki terluka seperti ini."Zalman juga terkejut, sebenarnya sama khawatirnya dengan Ghina. Akan tetapi, ia tetap bisa mengontrol diri.Karena bila semua orang merespon sama, panik dan membuat

  • Bidadari Surga Milik CEO   Bab 163. Berangkat ke Ladang Bersama. 

    Zalman kembali dengan setelan baru.Kaos hitam dengan celana pendek warna senada sepatu yang sama seperti yang Ghina kenakan, dan topi agar tidak langsung tersengat sinar matahari."Bagaimana?" celetuknya, bertanya.Pria itu bahkan sengaja berputar, menampilkan sisi lain dan bersikap bagai pria keren. Ini lucu sebab diusianya yang tidak lagi muda, Zalman tau caranya menghibur sang istri.Ghina menunjukkan jempolnya, "Keren!" pujian itu dilontarkan dengan senyuman mengembang sempurna.Zalman mendekat, membuka lebar telapak tangannya. "Tos!"Karena tubuh suaminya yang terlihat cukup tinggi, Ghina harus sedikit berjinjit menggapai tos–an itu."Mas yakin kita bisa? Apa Mas Zalman sudah pernah ikut membantu sebelumnya?" tanya Ghina, melontarkan lebih dari satu kalimat tanya.Wajahnya menunduk dalam, menatap permukaan tanah berkerikil yang ia lewati. "Pekerjaan di ladang tidak akan semudah itu," cicitnya, menambahkan namun dengan suara yang lebih pelan.Zalman menanggapi obrolan Ghina denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status