LOGIN
Bab 1
"Ahh." Suara desahan menggema di sebuah ruangan. Seorang pria bergerak liar di atas tubuh seorang perempuan. Tubuh mereka bergerak seirama, peluh membasahi keduanya. Sesekali teriakan kenikmatan terdengar keluar dari mulut perempuan itu. Lelaki itu menundukkan kepalanya lalu meraup habis bibir sexy si perempuan. "Sayang, lebih dalam lagi," jerit perempuan itu tertahan. "Sesuai maumu, sayang," jawabnya. Keduanya terus saling memompa tubuh mereka masing-masing sampai mereka mencapai kenikmatan. Di sisi lain, seorang gadis berjalan dengan semangat dan ceria. Ia membawa beberapa kantong makanan. "Adrian pasti sudah sangat lapar, kasian dia," gumamnya di sela langkah kakinya. Sesekali gadis itu bersenandung lirih, ia menyapa setiap orang yang ia temui. Senyum tak lepas dari bibir mungilnya. Tak berselang lama, ia pun sampai di rumah yang ia kontrakan untuk Adrian. Ya, kekasihnya itu bisa tinggal di rumah itu, karena sang pacar yang menyewakannya. Ia hendak mengambil kunci untuk membuka pintu. "Tidak di kunci," lirihnya lalu perlahan membuka handle pintu. Langkah kakinya perlahan masuk, hening, Senandung mengedarkan pandangannya mencari sang kekasih. "Dimana dia?" gumamnya. Senandung bergerak menuju dapur, menyimpan barang belanjaannya. "Apa Adrian sedang di kamar ya?" gumamnya bertanya-tanya. Senandung pun bergerak perlahan menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Satu persatu tangga ia naiki, begitu sampai di lantai atas ia pun tertegun. "Celana dalam?" gumamnya kala melihat celana dalam wanita yang berwarna merah terang tergeletak begitu saja. Senandung menunduk, mengambil celana itu. Melihatnya. "Bukan milikku," gumamnya. Senandung terdiam, pikirannya langsung kosong. Samar, Senandung mendengar suara desahan. Pintu kamar terbuka sedikit, gadis itu mematung. Perlahan ia berjalan, menuju kamar tersebut . "Ahh, ahh." Suara desahan itu menggema di dalam kamar. Kamar yang seharusnya akan menjadi tempat malam pertamanya kelak ketika ia menikah dengan sang kekasih. Dengan tangan bergetar, ia perlahan membuka pintu kamarnya. Senandung membeku kala ia melihat dua siluet tubuh berada di atas ranjangnya. Nafasnya tercekat, kedua matanya berkaca-kaca. Ia begitu mengenali siapa pemilik tubuh itu. "Adrian," gumamnya dengan suara bergetar menahan tangis. Kedua tangannya menutup mulutnya, ia benar-benar tidak menyangka jika hari ini ia akan melihat perselingkuhan pria paling ia cintai. Tubuhnya bergetar menahan tangis, sementara kedua orang itu masih asyik bergelut. "Ahh, Allora tubuhmu candu sekali." Deg "A-llora?" Dunia Senandung terasa begitu hancur. Allora, perempuan itu adalah sahabatnya, bagaimana bisa ia melakukan hal sehina itu. "Kapan kamu akan memutuskan Senandung? Aku bisa memberikan apa yang tidak bisa perempuan itu berikan," ucap Allora yang masih berada tepat di bawah tubuh besar Adrian. Lelaki itu menyeringai, mengusap peluh yang ada di kening Allora. "Aku tidak bisa, Sayang. Kau tahu sendiri jika Senandung adalah mesin uangku. Aku masih sangat membutuhkannya, jika kerjasamaku dengan perusahaan Zaderta lolos maka aku akan segera meninggalkan dirinya untukmu." Senandung memundurkan langkah kakinya, ia benar-benar tidak menyangka jika ia akan mengetahui fakta yang begitu sangat menyakitkan hatinya. Prang Karena ia tak melihat langkah kakinya, Senandung tak sadar jika ia menabrak meja di belakangnya. Vas bunga tersebut terjatuh membuat Adrian dan Allora seketika terkesiap kaget. Adrian langsung berdiri, dan memakai celana pendeknya. Senandung langsung bersembunyi, menyembunyikan tubuh mungilnya di balik lemari. Senandung menutup mulutnya, menahan isak tangisnya. "Jahat."Bab 12 Suara tamparan itu menggema di dalam ruangan sempit itu. Ujung bibir Senandung robek dan mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Senandung menyeringai, lalu mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya. Senandung terkekeh kecil. "Kamu mau apalagi dariku, Allora? Apa tidak cukup kau merebut Adrian? Sekarang kau mau apalagi dariku, hmm?" Suara Senandung terdengar datar dan dingin. Allora menatap Senandung, ia dapat melihat kilatan kemarahan di dalam binar mata Senandung. Di belakang wanita itu terlihat ada ember yang berisikan air. Allora menyeringai, lalu ia meraih ember itu dan menyiramkannya pada tubuh Senandung. Byur Tubuh Senandung seketika basah oleh air bekas pel an. Senandung tersenyum miris, ia benar-benar tidak menyangka jika sifat dan sikap asli Allora begitu buruk. "Hah, aku baru sadar ternyata selama ini kamu hanya memakai topengmu saja. Dan ini lah sifat aslimu, Allora," ucap Senandung pelan dan dalam.
Bab 11 Zayden meremat berkas yang ada di tangannya, rahangnya mengeras, sorot matanya menggelap. Alvino yang berada tepat di depan Zayden dan ia tentu saja dapat melihat kemarahan pria itu. "Bagaimana bisa ada orang sejahat mereka," desis Zayden. Alvino mengedikkan bahunya cuek. "Aku rasa pria bernama Adrian ini memang hanya memanfaatkan kebaikan Senandung. Begitu juga dengan sahabatnya, Allora." Zayden terdiam mendengar perkataan Alvino. "Aku lihat dia berkerja di berbagai tempat hanya untuk memenuhi kebutuhan pria itu, dan juga aku dengar dia bisa masuk kemari pun karena ada campur tangan Senandung. Meski ya mungkin perempuan bernama Allora itu pun ikut andil dalam membantu pria sialan itu," ujar Alvino datar. Zayden mengepalkan kedua tangannya, jangan tanyakan keadaan berkas yang berada di tangannya. Sudah remuk. "Awasi terus Senandung, aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Apalagi semalam kami sudah melakukannya, aku
Bab 10 Zayden terdiam beberapa saat. Tatapannya masih tertuju pada wajah Senandung yang terlihat begitu polos. Ada sesuatu dari perempuan itu yang membuat hatinya sulit untuk bersikap dingin. "Jadi, kau benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi semalam?" tanyanya pelan. Senandung mengangngguk cepat. "Aku ingat aku sangat marah karena dengan mata kepalaku sendiri dan di kamarku serta di rumahku aku melihat dia bercinta. Setelah itu aku pun pergi, dan ternyata di luar hujan. Aku tidak sadar, terus berjalan sampai akhirnya aku berada denganmu," lirih Senandung. Zayden menghela napas. Tangannya yang semula berada di pipi Senandung perlahan turun. Ia kemudian mundur selangkah, memberikan jarak di antara mereka. "Kalau begitu, apa kamu ingat apa yang sudah kita lakukan semalam?" tanya Zayden serius. Senandung mengangkat wajahnya. Ia menatap Zayden dengan wajah polosnya yang kemerahan, membuat Zayden gemas. "Tapi aku takut Tuan marah."
Bab 9 Adrian meradang, dia hendak menyusul Senandung yang sudah di tarik oleh Zayden. Tapi, langkahnya terhenti oleh Alvino. Lelaki tampan itu menatap datar pada Adrian. "Mau apa kau?!" tanya Alvino datar menatap Adrian. Adrian langsung terdiam, ia tentu saja tahu siapa lelaki yang ada di hadapannya itu. Adrian memaksakan senyumnya, namun hanya di balas dengan ekspresi datar dan dingin. "Ah, maafkan saya Tuan Alvino. Saya hanya ingin mengejar kekasih saya," ujar Adrian. Alvino menyeringai. "Benarkah perempuan itu adalah kekasihmu? Bukankah kekasihmu adalah perempuan yang berada tepat di belakangmu?" Glek Adrian menelan salivanya kasar. "Bu-kan, Tuan. Kekasih saya adalah perempuan yang di tarik oleh tuan CEO barusan." Alvino terkekeh, sementara Allora meradang. Ia menepuk keras punggung Adrian, membuat lelaki itu terbatuk. "Apa maksudmu?!" ucapnya marah. Alvino menggelengkan kepalanya, lalu memilih pe
Bab 8 Hari ini, adalah hari pertama Senandung bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah perusahaan. Karena telat bangun, Senandung pun harus cepat sampai ke perusahaan. "Oh Tuhan, padahal baru hari pertama tapi aku sudah telat datang," gerutu Senandung di sepanjang jalan. Senandung turun dari bis ia berjalan dengan cepat. Peluh sudah membasahi pelipisnya, namun tidak mengurangi kecantikannya. Beruntung halte bus tak jauh dari perusahaan sehingga Senandung tidak perlu berjalan jauh. Tak jauh dari Senandung, sebuah mobil mewah datang. Pria yang berada di dalam mobil tersenyum kala melihat Senandung berjalan dengan cepat. Tentu saja ia sudah tahu siapa perempuan itu, karena sosoknya sudah terukir abadi di ingatan Zayden. "Dia," gumam Zayden tersenyum tipis. "Al, bagaimana kau sudah mendapatkan informasi mengenai perempuan tadi malam?" Alvino yang tengah fokus dengan kemudinya pun sedikit menoleh. "Baru sebagian." Zayden menganggukkan kep
Bab 7 Perlahan kedua mata Senandung terbuka, ia merasakan tubuhnya sangat sakit. Senandung hendak menggerakkan tubuhnya, namun terhenti karena sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Senandung langsung terdiam. Nafasnya tercekat, ia bisa merasakan pelukan Zayden di belakang tubuhnya. "Siapa dia?" gumamnya. Perlahan Senandung bergerak pelan sangat pelan, lalu ia menyingkirkan tangan milik Zayden. Perempuan itu turun dari atas ranjang hotel dengan gerakan slow motion. Ia sedikit mengaduh, kala merasakan tubuhnya yang remuk. "Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?" Senandung mendadak lupa ingata. Ia berbalik, lalu menatap wajah tampan Zayden yang tenang di dalam tidurnya. "Tampan, Adrian pun kalah," lirih Senandung. Perempuan itu berjalan pelan dan tertatih. Merasakan nyeri di sekitar area kewanitaannya. "Ssh, sakit sekali," lirihnya. "Gila, seberapa hebat dia, sampai berjalan pun aku kesusahan seperti ini." Senandu







