Share

Bab 2

Author: Karlinanovi
last update publish date: 2026-09-18 17:46:13

Bab 2

"Jahat."

Senandung menutup mulutnya dengan tangannya. Air mata sudah membasahi pipinya, bahunya bergetar hebat karena ia menahan tangisnya.

Sementara itu, Adrian mengedarkan pandangannya mencari penyebab pecahnya vas bunga yang ada di dekat kamar. Adrian menundukkan tubuhnya, menatap pecahan vas bunga itu.

Vas bunga yang berisikan bunga kesukaan Senandung. Allora yang masih terbaring di atas ranjang yang ada di kamar Senandung pun beranjak, lalu memeluk tubuhnya dengan selimut tebal yang ada tepat di atas ranjang itu.

Ia berjalan menghampiri Adrian yang masih berdiri mematung di pintu kamar. "Siapa, Sayang?"

Adrian menoleh, lalu tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Allora. Senandung melihat semua perlakuan lembut Adrian pada Allora.

Perlakuan Adrian tentu membuat Senandung semakin sakit hati.

"Bahkan kamu sangat lembut memperlakukannya," ucap Senandung tersenyum miris.

"Aku tidak tahu siapa yang datang," ucap Adrian.

Allora tersenyum nakal, lalu melepaskan selimut yang melilit tubuhnya dan dengan sengaja kembali menggoda Adrian. Allora mengalungkan kedua tangannya tepat di leher Adrian, lalu ia berjinjit mengecup lembut bibirnya.

"Mungkin saja, vas itu terjatuh sendiri, Sayang. Tidak usah kamu khawatirkan, lebih baik kita ke kamar dan kembali mengulang percintaan kita," ucap Allora manja.

Merasa di goda, tentu Adrian suka. Inilah yang ia suka dari Allora, perempuan itu tahu persis apa kemauannya. Berbeda dengan Senandung yang selalu menolaknya ketika ia meminta berhubungan badan dengan dalih Senandung akan memberikannya setelah mereka resmi menikah.

Resmi menjadi sepasang suami istri, hal itu pun di manfaatkan oleh Allora. Ia menggunakan tubuhnya, menggoda dan menjebak Adrian supaya lelaki itu jatuh dalam pelukannya.

Tanpa menunggu lama, Adrian langsung menggendong Allora dan membawanya kembali ke dalam kamar. Adrian menutup pintu itu menggunakan kakinya. Setelah memastikan kedua manusia tidak tahu diri itu masuk, Senandung pun keluar dari dalam persembunyiannya.

Gadis itu berjalan lunglai, berdiri menatap kosong pintu yang tertutup rapat itu. Suara desahan kembali terdengar, Senandung mengepalkan kedua tangannya lalu memilih pergi dari rumahnya.

"Aku tidak menyangka kamu akan melakukan hal sehina ini, Allora. Padahal kamu adalah sahabatku, namun dengan teganya kamu merebut calon suamiku. Kamu sendiri, kenapa juga tega berbuat hal seperti itu? Apa karena aku tidak mau kamu ajak berhubungan badan?" lirih Senandung di sela langkah kakinya.

Hujan turun membasahi bumi, Senandung membawa langkah kakinya tanpa tujuan. Bahkan air matanya pun tersamarkan oleh air hujan yang turun dari langit.

Perlahan satu persatu kenangan yang sudah mereka lalui bertiga, menari-nari di dalam ingatan Senandung. Gadis itu terkekeh kecil, seharusnya ia sudah menyadari sejak lama soal perselingkuhan Adrian dan juga Allora.

Bahkan terkadang mereka tak segan memamerkan kemesraannya. Senandung pikir karena mereka bersahabat, dan ia sama sekali tidak memiliki pikiran yang jelek.

"Ya Tuhan, sakit sekali rasanya," gumam Senandung seraya menepuk-nepuk dadanya.

Rasa sesak akibat di khianati oleh dua orang yang paling ia cintai di dalam hidupnya membuat Senandung hancur. Ia yang hidup hanya sebatang kara, tidak menyangka jika orang yang paling penting di dalam hidupnya itu justru tempat pemberi luka yang paling besar.

Senandung menyeringai. Tubuhnya sudah basah oleh air hujan.

"Kau bisa mengkhianatiku, Adrian. Maka jangan salahkan aku, jika aku membalas perbuatanmu. Kau akan merasakan apa yang aku rasakan hari ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Billionare Wife   Bab 12

    Bab 12 Suara tamparan itu menggema di dalam ruangan sempit itu. Ujung bibir Senandung robek dan mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Senandung menyeringai, lalu mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya. Senandung terkekeh kecil. "Kamu mau apalagi dariku, Allora? Apa tidak cukup kau merebut Adrian? Sekarang kau mau apalagi dariku, hmm?" Suara Senandung terdengar datar dan dingin. Allora menatap Senandung, ia dapat melihat kilatan kemarahan di dalam binar mata Senandung. Di belakang wanita itu terlihat ada ember yang berisikan air. Allora menyeringai, lalu ia meraih ember itu dan menyiramkannya pada tubuh Senandung. Byur Tubuh Senandung seketika basah oleh air bekas pel an. Senandung tersenyum miris, ia benar-benar tidak menyangka jika sifat dan sikap asli Allora begitu buruk. "Hah, aku baru sadar ternyata selama ini kamu hanya memakai topengmu saja. Dan ini lah sifat aslimu, Allora," ucap Senandung pelan dan dalam.

  • Billionare Wife   Bab 11

    Bab 11 Zayden meremat berkas yang ada di tangannya, rahangnya mengeras, sorot matanya menggelap. Alvino yang berada tepat di depan Zayden dan ia tentu saja dapat melihat kemarahan pria itu. "Bagaimana bisa ada orang sejahat mereka," desis Zayden. Alvino mengedikkan bahunya cuek. "Aku rasa pria bernama Adrian ini memang hanya memanfaatkan kebaikan Senandung. Begitu juga dengan sahabatnya, Allora." Zayden terdiam mendengar perkataan Alvino. "Aku lihat dia berkerja di berbagai tempat hanya untuk memenuhi kebutuhan pria itu, dan juga aku dengar dia bisa masuk kemari pun karena ada campur tangan Senandung. Meski ya mungkin perempuan bernama Allora itu pun ikut andil dalam membantu pria sialan itu," ujar Alvino datar. Zayden mengepalkan kedua tangannya, jangan tanyakan keadaan berkas yang berada di tangannya. Sudah remuk. "Awasi terus Senandung, aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Apalagi semalam kami sudah melakukannya, aku

  • Billionare Wife   Bab 10

    Bab 10 Zayden terdiam beberapa saat. Tatapannya masih tertuju pada wajah Senandung yang terlihat begitu polos. Ada sesuatu dari perempuan itu yang membuat hatinya sulit untuk bersikap dingin. "Jadi, kau benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi semalam?" tanyanya pelan. Senandung mengangngguk cepat. "Aku ingat aku sangat marah karena dengan mata kepalaku sendiri dan di kamarku serta di rumahku aku melihat dia bercinta. Setelah itu aku pun pergi, dan ternyata di luar hujan. Aku tidak sadar, terus berjalan sampai akhirnya aku berada denganmu," lirih Senandung. Zayden menghela napas. Tangannya yang semula berada di pipi Senandung perlahan turun. Ia kemudian mundur selangkah, memberikan jarak di antara mereka. "Kalau begitu, apa kamu ingat apa yang sudah kita lakukan semalam?" tanya Zayden serius. Senandung mengangkat wajahnya. Ia menatap Zayden dengan wajah polosnya yang kemerahan, membuat Zayden gemas. "Tapi aku takut Tuan marah."

  • Billionare Wife   Bab 9

    Bab 9 Adrian meradang, dia hendak menyusul Senandung yang sudah di tarik oleh Zayden. Tapi, langkahnya terhenti oleh Alvino. Lelaki tampan itu menatap datar pada Adrian. "Mau apa kau?!" tanya Alvino datar menatap Adrian. Adrian langsung terdiam, ia tentu saja tahu siapa lelaki yang ada di hadapannya itu. Adrian memaksakan senyumnya, namun hanya di balas dengan ekspresi datar dan dingin. "Ah, maafkan saya Tuan Alvino. Saya hanya ingin mengejar kekasih saya," ujar Adrian. Alvino menyeringai. "Benarkah perempuan itu adalah kekasihmu? Bukankah kekasihmu adalah perempuan yang berada tepat di belakangmu?" Glek Adrian menelan salivanya kasar. "Bu-kan, Tuan. Kekasih saya adalah perempuan yang di tarik oleh tuan CEO barusan." Alvino terkekeh, sementara Allora meradang. Ia menepuk keras punggung Adrian, membuat lelaki itu terbatuk. "Apa maksudmu?!" ucapnya marah. Alvino menggelengkan kepalanya, lalu memilih pe

  • Billionare Wife   Bab 8

    Bab 8 Hari ini, adalah hari pertama Senandung bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah perusahaan. Karena telat bangun, Senandung pun harus cepat sampai ke perusahaan. "Oh Tuhan, padahal baru hari pertama tapi aku sudah telat datang," gerutu Senandung di sepanjang jalan. Senandung turun dari bis ia berjalan dengan cepat. Peluh sudah membasahi pelipisnya, namun tidak mengurangi kecantikannya. Beruntung halte bus tak jauh dari perusahaan sehingga Senandung tidak perlu berjalan jauh. Tak jauh dari Senandung, sebuah mobil mewah datang. Pria yang berada di dalam mobil tersenyum kala melihat Senandung berjalan dengan cepat. Tentu saja ia sudah tahu siapa perempuan itu, karena sosoknya sudah terukir abadi di ingatan Zayden. "Dia," gumam Zayden tersenyum tipis. "Al, bagaimana kau sudah mendapatkan informasi mengenai perempuan tadi malam?" Alvino yang tengah fokus dengan kemudinya pun sedikit menoleh. "Baru sebagian." Zayden menganggukkan kep

  • Billionare Wife   Bab 7

    Bab 7 Perlahan kedua mata Senandung terbuka, ia merasakan tubuhnya sangat sakit. Senandung hendak menggerakkan tubuhnya, namun terhenti karena sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Senandung langsung terdiam. Nafasnya tercekat, ia bisa merasakan pelukan Zayden di belakang tubuhnya. "Siapa dia?" gumamnya. Perlahan Senandung bergerak pelan sangat pelan, lalu ia menyingkirkan tangan milik Zayden. Perempuan itu turun dari atas ranjang hotel dengan gerakan slow motion. Ia sedikit mengaduh, kala merasakan tubuhnya yang remuk. "Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?" Senandung mendadak lupa ingata. Ia berbalik, lalu menatap wajah tampan Zayden yang tenang di dalam tidurnya. "Tampan, Adrian pun kalah," lirih Senandung. Perempuan itu berjalan pelan dan tertatih. Merasakan nyeri di sekitar area kewanitaannya. "Ssh, sakit sekali," lirihnya. "Gila, seberapa hebat dia, sampai berjalan pun aku kesusahan seperti ini." Senandu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status