Share

Ramen

Penulis: NaoMiura
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 20:00:42

Naomi hanya bisa mengangguk pelan, pasrah pada keputusan pria di sampingnya. Ia merasa tenaganya telah terkuras habis karena rentetan ketegangan emosional yang menyelimuti selama gathering.

Dia tidak bisa marah pada Mareeq yang melakukan segalanya untuk dirinya. Saat Mareeq baru saja mematikan mesin dan bergerak hendak membuka pintu untuk keluar, Naomi secara refleks menjulurkan tangannya. Ia menahan lengan Mareeq, menghentikan gerakan pria itu dalam sebuah sentuhan lembut yang ragu-ragu.

Mareeq tertegun sejenak. Ia tidak langsung melepaskan tangan Naomi, melainkan perlahan memutar tubuhnya dan menatapnya dalam diam. Tatapan matanya memberikan perhatian penuh yang terasa sangat menenangkan. Tanpa perlu banyak kata, sorot mata Mareeq seolah berbicara 'Ya, aku di sini'.

"Terima kasih," ucap Naomi pelan, nyaris berbisik.

Tangan Naomi masih bertengger di lengan Mareeq, dan pria itu membiarkannya. Mareeq tidak menjawab dengan kata-kata puitis, ia hanya mengang

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bilur Bulir Bertaut   Gelang

    Lampu-lampu kota menyala seperti bintang yang turun ke bumi ketika Mareeq berhenti di depan kantor. Mobilnya tenang, berkilau tipis, seolah menyimpan rahasia malam itu di balik kaca gelap. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh lewat sedikit, seharusnya ini sudah waktunya Naomi keluar.Naomi keluar dari pintu lobi beberapa detik kemudian. Masih menggunakan pakaian kantor tadi siang, tapi wajahnya jauh lebih cerah tanpa rasa lelah. Sangat terlihat dia memperbaharui riasan. Dia terlihat melambaikan tangan pada teman-temannya sebelum berpisah.Naomi melangkah menuju area parkir. Langkahnya tenang dan teratur seperti hari-hari sebelumnya. Di sana, di sudut yang sama, dua mobil itu biasanya bersandingan, berdampingan dalam kebiasaan yang nyaris tak pernah dipertanyakan.Lampu-lampu parkir memantulkan cahaya pucat di aspal, menciptakan bayang-bayang panjang yang bergerak pelan mengikuti langkahnya. Ia hampir mencapai barisan itu ketika sesuatu membuatnya

  • Bilur Bulir Bertaut   Oleh-oleh

    Jumat siang yang terik itu terasa berbeda bagi Naomi. Saat ia berjalan menuju area parkir kantor untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil, langkahnya mendadak terkunci. Di sana, di sebelah mobilnya, seharusnya itu tempat kosong. Tapi, dia melihat sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali. Mobil Mareeq.Tiiinn! Mareeq menekan klakson singkat yang membuat Naomi tersentak terkejut. Naomi berjalan mendekat dengan perasaan campur aduk antara senang dan bingung. Ia mengetuk kaca jendela mobil yang gelap itu perlahan. Begitu kaca diturunkan, Mareeq sudah menyambutnya dengan senyum lebar yang selama ini Naomi rindukan di kantor."Kamu sudah pulang? Bukannya seharusnya masih di luar negeri sampai akhir pekan? Dan ini kan masih hari liburmu, kenapa malah ke kantor?" berondong Naomi dengan rentetan pertanyaan.Mareeq tertawa kecil melihat ekspresi panik sekaligus lega yang terpancar di wajah Naomi. Mareeq tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menep

  • Bilur Bulir Bertaut   Mengapa kamu tidak menyukaiku?

    Suasana di ruang rapat terasa dingin, meskipun pendingin ruangan sudah disetel ke suhu normal. Di ujung meja, Rahaal duduk dengan wibawa yang tak tergoyahkan, sementara kursi di sampingnya, yang seharusnya ditempati Mareeq, kosong melompong karena yang bersangkutan masih berada di luar negeri.Agenda hari ini menentukan project untuk semester depan. Di layar proyektor, terpampang dua proposal besar. Project "Authentic Roots" ide dari Mareeq dan Project "Glacier Chill" dari Rahaal."Ide Authentic Roots terlalu berisiko," buka Rahaal sambil mengetukkan pena di meja. "Pasar herbal sudah jenuh. Kita butuh inovasi teknis seperti Glacier Chill untuk memimpin pasar."Naomi, yang sejak tadi hanya diam, merasa dadanya sesak. Ia tahu betul berapa lama Mareeq meriset bahan-bahan herbal itu. Ia juga tahu bahwa ide Mareeq jauh lebih ramah lingkungan."Saya tidak setuju, Pak," potong Naomi, membuat beberapa rekan kerja di sana menahan napas. Rahaal menoleh perlah

  • Bilur Bulir Bertaut   Menghindar

    Setelah pertemuan yang memalukan di ruangan itu, Naomi sebisa mungkin menarik diri. Selama Mareeq masih cuti dan tidak ada di kantor, Naomi seolah memiliki misi rahasia: menghindari Rahaal. Ia selalu mencari jalan memutar jika melihat sosok Rahaal dari kejauhan, melewatkan jam makan siang yang biasa, dan hanya berkomunikasi melalui email atau pesan singkat untuk urusan pekerjaan yang benar-benar darurat.Namun, persembunyian itu berakhir ketika sebuah pesan masuk ke Slack. Rahaal memintanya datang ke ruangan. Naomi masuk dengan langkah ragu. Ia berdiri cukup jauh dari meja Rahaal, bersikap seformal mungkin. Rahaal tidak membahas soal konfrontasi mereka yang lalu, ia langsung pada intinya."Aku sedang meninjau target ekspansi kita untuk kuartal depan," ujar Rahaal tanpa basa-basi sambil membolak-balik berkas. "Kita butuh akses ke perusahaan Gigantic. Aku dengar persaingan untuk masuk ke sana sangat ketat."Rahaal mendongak, menatap Naomi dengan intensita

  • Bilur Bulir Bertaut   Melabrak Rahaal

    Sebuah kabar sampai ke telinga Naomi seperti bisikan beracun. Seorang teman setim Leon menghampirinya. Dia mengatakan bahwa Leon baru saja didepak secara sepihak dari proyek yang dipimpin oleh Rahaal.Sepanjang jalan pulang, pikiran Naomi berkecamuk. Ia tahu ada ketegangan dingin antara Rahaal dan Leon. Naomi selalu berpikir bahwa Rahaal tidak menyukai Leon sejak mereka berpacaran.Begitu sampai di apartemen, Naomi menemukan Leon sedang duduk di sofa ruang tamu, menatap layar televisi yang menayangkan program sepak bola. Bahunya tampak merosot, menciptakan siluet pria yang sedang dihancurkan oleh keadaan."Leon," panggil Naomi lirih. Ia meletakkan tasnya dan duduk di samping pria itu. "Aku dengar kamu dikeluarkan dari project yang dipimpin Rahaal. Apa itu benar?"Leon menghela napas panjang, sebuah suara berat yang penuh dengan beban. Ia menoleh perlahan, menatap Naomi dengan mata yang tampak sayu. "Ya, itu benar," jawab Leon pelan. "Aku keluar dari tim R

  • Bilur Bulir Bertaut   Killa

    "Aku pikir Rahaal hanya berusaha melindungi rumah tangga saudaranya. Dia tidak sedang menjahatimu, dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan." ucap Killa, suaranya tenang namun tajam.Kata-kata Killa menghujam tepat di titik yang selama ini Naomi coba abaikan. Di hadapan kejujuran Killa yang brutal, Naomi menyadari bahwa kegalauannya bukan sekadar karena kerinduan pada Mareeq, melainkan karena ia sedang berdiri di atas fondasi yang salah. Selama ini ia menganggap Rahaal sebagai penghalang yang jahat, tanpa mau mengakui bahwa dalam norma apa pun, dirinyalah yang berada di posisi yang keliru.Killa, dengan cara yang paling tidak nyaman, baru saja meruntuhkan semua tembok penyangkalan yang Naomi bangun. Kebenaran itu kini telanjang di depannya. Ia mencintai pria yang sudah memiliki keluarga, dan Rahaal hanya sedang menjaga keutuhan keluarga sepupunya."Aku harus bagaimana?" tanya Naomi dengan suara bergetar, nyaris berupa bisikan yang putus asa.Killa tid

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status