INICIAR SESIÓNPagi berikutnya, udara masih dingin setelah hujan semalam. Naomi berjalan menyusuri trotoar dengan tas kerja di bahunya. Ia tidak berniat datang ke kantor terlalu cepat hari ini. Ada satu tempat yang ingin ia datangi lebih dulu. Sebuah kafe kecil di sudut jalan yang sering ia lewati.
Di depan kaca kafe terpajang tulisan “Christmas Special” dengan hiasan daun pinus dan lampu kecil yang berkelap-kelip. Aroma kopi dan susu hangat langsung menyambut begitu ia membuka pintu. Di
Naomi menoleh sedikit, tampak tidak keberatan. Tanpa banyak kata, mereka berdua berjalan berdampingan menyusuri koridor.Rahaal tetap di tempatnya. Ia tidak ikut. Hanya berdiri diam beberapa detik, memperhatikan punggung Naomi yang perlahan menjauh bersama Mareeq.Langkah mereka tidak terburu-buru. Suara sepatu mereka terdengar pelan di lantai koridor yang mengilap. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan vending machine di ujung lorong. Lampu mesin itu menyala terang, menampilkan berbagai pilihan minuman dalam botol dan kaleng. Naomi berhenti di depannya.“Aku butuh sesuatu yang dingin,” gumamnya pelan.Mareeq berdiri di sampingnya. Ia memasukkan uang ke mesin, lalu menekan salah dua tombol. Suara mesin berdengung pelan sebelum sebuah botol jatuh ke bagian bawah.Kopi hitam dan matcha latte. Naomi tersenyum dengan tindakan otomatis Mareeq. Bahkan Naomi belum sempat mengatakan ingin apa."Aku belum mengatakan ingin minum a
Raya melihatnya. Claudia melihatnya juga. Potongan terakhir itu akhirnya jatuh pada tempatnya. Ia menurunkan pandangannya ke meja, menyembunyikan pandangan yang tidak bisa lepas dari Naomi.Sementara itu Naomi sama sekali tidak menyadari pertukaran pandangan kecil itu. Ia hanya merapikan garpu dan pisaunya dengan gerakan tenang. Seolah percakapan tadi bukan sesuatu yang perlu ia pikirkan.Pelayan datang kembali membawa kartu pembayaran dan struk. “Silakan, Pak.”Rahaal mengambil kartu itu dan menandatangani struk dengan gerakan tenang. Pulpen pelayan berputar sebentar di jarinya sebelum ia mengembalikannya.“Terima kasih.”Pelayan mengangguk lalu pergi meninggalkan meja mereka.Suasana di meja kembali bergerak seperti biasa. Seolah percakapan barusan hanyalah bagian kecil dari makan siang yang santai. Namun bagi Raya, makan siang itu baru saja menjadi jauh lebih menarik daripada yang ia bayangkan sebelumnya.Fl
Raya menjawab tanpa berpikir panjang. “Kemarin tidak,” katanya tenang. Ia lalu menambahkan dengan nada ringan, “Tapi kalau Naomi mau mengajak pacarnya boleh. Kita bisa double date.”Raya tertawa kecil seperti membayangkan hal yang akan terjadi. “Tapi Freya pasti akan mengganggu kencan Naomi.”Flora ikut tertawa mendengar bayangan itu. Namun Naomi hanya tersenyum tipis. Sementara Claudia mengangguk pelan, masih dengan senyum yang sama. Rupanya Raya tahu juga soal Leon. Tidak ada yang ditutupi. Tidak ada yang disembunyikan. Seolah semuanya memang sudah biasa dibicarakan.Percakapan kembali bergerak ke arah yang lebih ringan. Tentang rencana liburan Raya di Indonesia, tentang makanan yang mereka pesan. Namun bagi beberapa orang di meja itu, makan siang itu tidak lagi terasa sesederhana yang terlihat.Claudia menyesap minumannya perlahan. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi tentang Leon. Namun pikirannya terus kembali pada sat
Mereka akhirnya keluar dari gedung kantor bersama. Udara siang terasa hangat, jalanan di depan gedung cukup ramai oleh karyawan yang juga mencari tempat makan. Raya berjalan di samping Naomi, sementara Claudia dan Flora sedikit di belakang mereka.Raya tampak santai, sesekali berbicara ringan dengan Naomi. Sikapnya hangat, seperti seseorang yang memang sengaja datang untuk bertemu.“Ada restoran kecil di seberang jalan,” kata Raya. “Aku penasaran sekali. Ayo kita makan di sana.”Naomi mengangguk. “Boleh.”Sebelum siapa pun sempat bergerak menuju pintu keluar, sebuah suara tenang tiba-tiba terdengar dari samping mereka.“Aku akan ikut.”Semua orang menoleh. Rahaal berdiri beberapa langkah dari mereka, tangan dimasukkan ke saku celana dengan sikap santai seperti biasa. Naomi dan Raya juga tampak sedikit heran.Naomi menatapnya sebentar. Ia tidak benar-benar mengerti kenapa Rahaal tiba-tiba
Rahaal lalu mengalihkan pandangannya dan melihat ke meja Claudia.“Claudia.” panggilnya pelan tapi mampu membuat semua orang menoleh.Wanita itu langsung berdiri dari kursinya. “Ya?”“Saya butuh laporan proyek minggu lalu. Versi yang sudah direvisi.”Claudia mengangguk dan segera membuka folder di komputernya. Rahaal berdiri di sana menunggu beberapa saat. Namun, tanpa sadar pandangan Rahaal kembali melirik ke arah meja Naomi.Naomi masih sama. Fokus, tidak menyadari bahwa ia sedang diperhatikan. Rahaal menarik napas pelan, lalu menerima berkas dari Claudia.“Terima kasih,” katanya singkat.Setelah itu ia kembali berjalan ke ruangannya. Ketika pintu tertutup, Rahaal duduk di kursinya dan secara refleks melirik ke sisi meja. Di sana, tumbler merah edisi Natal miliknya masih berada di tempat yang sama. Rahaal menatapnya beberapa detik. Lalu, tanpa sadar, senyum tipis yang sama kembali munc
Pagi berikutnya, udara masih dingin setelah hujan semalam. Naomi berjalan menyusuri trotoar dengan tas kerja di bahunya. Ia tidak berniat datang ke kantor terlalu cepat hari ini. Ada satu tempat yang ingin ia datangi lebih dulu. Sebuah kafe kecil di sudut jalan yang sering ia lewati.Di depan kaca kafe terpajang tulisan “Christmas Special” dengan hiasan daun pinus dan lampu kecil yang berkelap-kelip. Aroma kopi dan susu hangat langsung menyambut begitu ia membuka pintu. Di dalam, suasana masih cukup sepi, anya suara mesin espresso dan denting sendok di cangkir.Naomi berdiri di depan kasir. Naomi sebenarnya hanya ingin membeli matcha dan latte untuk Rahaal. Dia harus membalas untuk cheese cake kemarin.“Matcha latte satu,” katanya setelah melihat menu beberapa detik. Lalu ia menambahkan, sedikit lebih pelan, “Dan satu café latte.”Barista mencatat pesanannya. Saat itu Naomi melihat rak kecil di samping mesin kopi







