Share

Meja Sebelah

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-03-29 20:00:33

Naomi menatap cheesecake itu beberapa detik sebelum akhirnya meletakkan garpunya kembali di piring. Ia tidak memakannya lagi. Sebaliknya, ia meraih gelas minumnya dan meneguk sedikit.

"Kakak."

"Hmm"

“Cepat habiskan makanannya.” pinta Naomi. "Kita ke tujuan selanjutnya."

Vino mengangkat alis. "Kamu buru-buru sekali. Biasanya juga nongkrong dulu bukan?

Naomi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap piringnya sebentar, lalu berkata dengan nada yang

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Si Penengah

    Naomi menutup mata sebentar. Dadanya terasa penuh. Naomi benar-benar tidak bisa bicara. Dia tidak bisa lagi mengatakan tidak bisa atau tidak boleh. Mareeq tidak sedang bercanda. Ia serius. Sangat serius.Naomi kemudian menatap lurus ke depan. Lampu jalan berpendar samar di kaca mobil, memantul di matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia menarik napas pelan. Lama. Seolah sedang mengumpulkan sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.Mareeq melirik Naomi sekilas. Ia melihat jelas bagaimana wanita itu menahan sesuatu. Bukan lagi sekadar ragu, tapi hampir runtuh di dalam diamnya sendiri.“Aku nggak akan maksa kamu,” ujar Mareeq pelan.Naomi tidak bergerak. Kalimat itu membuat jemari Naomi yang saling menggenggam perlahan mengendur. Mareeq menarik napas, lalu melanjutkan, suaranya lebih rendah.“Tapi jangan menjauh dariku cuma karena kamu takut ini salah. Kalau kita memang salah…” lanjut Mareeq, “biar itu jadi tanggung j

  • Bilur Bulir Bertaut   Hal yang Boleh dan Tidak

    Secara reflek Naomi memandangnya. Mata mereka bertemu di kegelapan malam. Naomi tersenyum padanya."Aku tahu," ujarnya. "tapi, aku juga nggak tahu."Ekspresi wajah Naomi berubah seketika. Suaranya mulai gemetar. Mareeq tahu gadis itu sedang menahan tangisnya. Dia pun melepas genggaman tangannya, berganti menjadi sebuah pelukan.Naomi membenamkan wajahnya pada pria itu. Meskipun tidak terisak, tapi Mareeq tahu Naomi sedang lelah. Hanya pelukan dan usapan lembut di punggungnya yang bisa dia berikan.Selama kurang lebih sepuluh menit mereka berada di posisi itu. Sementara di dalam penginapan, dari jendela Claudia berdiri diam... Melihat semuanya.Naomi mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Mareeq. "Aku baik-baik saja."Mareeq melihat ke arah mata yang sembap itu. Rasa cemas di matanya terlihat berkurang. Mareeq pun tersenyum."Kita masuk saja?" pinta Mareeq.Naomi lalu mengangguk. Mareeq lalu berjalan lebih dulu diikuti oleh Na

  • Bilur Bulir Bertaut   Kekacauan di Beach Club

    Naomi menatap permukaan danau yang mulai beriak tertiup angin malam. Suasana tenang beberapa menit lalu terasa hilang begitu saja.Mareeq berdiri sambil mengambil kunci mobil. “Kita pergi sebentar.”Naomi menatap ke Mareeq. “Ada apa dengan Claudia?”“Entahlah.”Nada suara Mareeq datar, tapi Naomi bisa melihat rahangnya sedikit menegang. Mereka berjalan kembali menuju parkiran kedai. Tidak banyak percakapan selama perjalanan menuju beach club itu.Naomi duduk diam di kursi penumpang, memegang cup matchanya yang kini hanya tersisa setengah. Ia meminumnya pelan, lebih untuk mengisi keheningan daripada karena ingin. Lampu-lampu kota lewat begitu saja di balik jendela.Ada perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Ia seharusnya tidak ikut. Ini bukan urusannya. Selain itu, Claudia pasti akan berusaha memperlihatkan kedekatan mereka.“Kamu bisa menurunkanku di sini kalau memang harus ke sana,&rdqu

  • Bilur Bulir Bertaut   Dekat yang Membingungkan

    Mobil Vino berhenti pelan di depan apartemen Naomi hampir pukul sembilan malam. Vino melirik pada adiknya. Naomi masih tetap dia, melamun bersandar kaca jendela."Siapkan energimu untuk belanja besok," ujar Vino sambil melepas seatbelt Naomi.Naomi menghela napas. "Siapkan kartu kakak untuk besok."Vino menatap adiknya beberapa detik. “Kamu capek.”Bukan pertanyaan. Naomi tersenyum tipis seolah ingin menenangkan kakaknya.“Aku butuh tidur.”Namun Vino tahu Naomi berbohong ketika wanita itu langsung turun tanpa banyak bicara. Biasanya akan ada percakapan lain yang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Tapi, ini dia terlihat ingin segera menghindari kakaknya.Begitu pintu apartemen terbuka, kesunyian langsung menyambut Naomi. Gelap. Tidak ada suara televisi. Tidak ada aroma makanan atau minuman yang biasanya dibuat Leon. Bahkan sepatu Leon pun tidak ada di dekat pintu.Naomi berdiri diam beberapa saat. Padah

  • Bilur Bulir Bertaut   Rumah

    Langit sudah benar-benar gelap ketika Naomi keluar dari gedung kantor. Hari Jumat terasa panjang. Terlalu banyak percakapan yang membuat kepalanya penuh.Naomi sudah menunggu di depan gedung. Dia meminta kakaknya untuk menjemputnya. Terlalu banyak hal yang harus dibahas.Mobil hitam milik Vino sudah berhenti tidak jauh dari pintu lobby. Begitu Naomi masuk, aroma kopi dan parfum familiar langsung menyambutnya.Vino melirik sekilas. “Capek?”Naomi menyandarkan tubuh ke kursi. “Sedikit.”“Kerjaannya?”“Orangnya.”Vino terkekeh kecil sambil mulai menjalankan mobil.Naomi menatap kakaknya beberapa detik. Di kantor, banyak orang mengenal Vino sebagai sosok yang sulit didekati. Namun Vino tetap kakaknya yang selalu datang kalau Naomi meminta dijemput.Mereka akhirnya berhenti di restoran Jepang kecil yang biasa mereka datangi sejak dulu. Tidak terlalu ramai. Tenang.Begitu

  • Bilur Bulir Bertaut   Proyek Besar

    Pagi itu kantor sudah cukup ramai meski jam kerja baru berjalan beberapa jam. Naomi baru saja selesai mengecek email ketika suara Claudia terdengar dari area pantry. Beberapa staf tampak berkumpul di sana.“…jadi akhirnya meeting langsung ditangani pihak pusat,” kata Claudia sambil menyandarkan tubuh santai di meja pantry. “Aku juga tidak menyangka bakal ditangani langsung olehnya.”Nada suaranya terdengar ringan. Tapi cukup keras untuk didengar sekitar. Naomi yang sedang membuat minum sempat melirik sekilas.Claudia tampak jauh lebih segar dibanding beberapa hari lalu. Make up-nya rapi, senyumnya percaya diri seperti biasa. Untuk orang yang habis sakit, dia terlalu senang menerima pekerjaan berat itu.“Serius?” tanya salah satu staf penasaran. “Bukannya proyek Gigantic biasanya susah ditembus?”Claudia tersenyum kecil. “Memang. Rahaal yang berusaha menembusnya. Tapi sebelumnya ditangani

  • Bilur Bulir Bertaut   Keheningan Sebelum Badai

    "Aku senang mendengarnya," ujar Naomi datar. Suaranya terdengar seperti robot, kering dan tanpa nyawa. Hanya basa-basi itu yang bisa ia ucapkan demi menutupi gemuruh di dadanya. Dia tidak benar-benar senang. Dia justru merasa mual oleh rasa bersalah yang mendadak meluap.Mareeq menoleh, ma

  • Bilur Bulir Bertaut   Benang Merah yang Menjerat

    Setelah perdebatan teknis yang menguras energi, suasana ruang rapat perlahan mencair saat para staf senior Legacy mulai berbenah. Mereka akhirnya mengakhiri perang dingin tentang kemasan produk kolaborasi mereka.Namun, pemandangan berbeda tersaji di sudut meja. Ridel, salah satu perwakila

  • Bilur Bulir Bertaut   Perang Dingin Dua Perusahaan

    Pintu ruangan kaca itu berdentum pelan saat Rahaal melangkah keluar dengan aura yang sanggup membekukan seisi ruangan. Jas di tangan segera dia pakai untuk membuat sempurna penampilan. Seolah menunjukkan dia sedang dalam mode "pemburu".Langkahnya terhenti tepat di deretan meja Naomi. Tanp

  • Bilur Bulir Bertaut   Mama

    Begitu pintu lift tertutup dengan denting halus, Naomi langsung menyandarkan punggungnya ke dinding besi dingin. Ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada. Nafasnya tampak berat."Dia tahu, Ma," bisik Naomi pelan. "Rahaal sudah tahu siapa Nona."Mama Naomi terli

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status