Mag-log inNaomi mengucapkannya tanpa ekspresi. Tanpa berusaha mencari belas kasihan. Justru terdengar seperti seseorang yang sudah lelah menjelaskan.
Rahaal menelan ludah. Selama beberapa hari terakhir ia memang mendengar banyak gosip. Tentang Leon yang ingin menikahi Naomi. Namun ia menganggap itu hanya rumor kantor. Kini Naomi sendiri yang mengatakannya.
Naomi terdiam. Rahaal juga terdiam. Ia merasa tidak punya hak untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan pribadi Naomi. Mereka tidak te
Naomi mengucapkannya tanpa ekspresi. Tanpa berusaha mencari belas kasihan. Justru terdengar seperti seseorang yang sudah lelah menjelaskan.Rahaal menelan ludah. Selama beberapa hari terakhir ia memang mendengar banyak gosip. Tentang Leon yang ingin menikahi Naomi. Namun ia menganggap itu hanya rumor kantor. Kini Naomi sendiri yang mengatakannya.Naomi terdiam. Rahaal juga terdiam. Ia merasa tidak punya hak untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan pribadi Naomi. Mereka tidak terlibat pembicaraan lain.Lift berbunyi pelan. Ting. Pintu terbuka. Naomi lalu berjalan lebih dulu menuju ruang rapat. Rahaal tetap berdiri di dalam lift selama beberapa detik. Pintu hampir menutup kembali ketika ia akhirnya melangkah keluar. Di dalam dadanya ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.Bukan karena Naomi akan menikah. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perasaan yang selama ini ia simpan memang harus berhenti sampai di sini. Naomi tidak pernah membe
Suasana kantor kembali dipenuhi suara keyboard, dering telepon, dan obrolan ringan para karyawan yang baru memulai pekan. Naomi melangkah masuk dengan membawa tas kerjanya. Wajahnya masih terlihat lelah. Namun tidak lagi semurung beberapa hari terakhir.Dia menarik napas panjang sebelum duduk di kursinya. "Hari ini aku harus bekerja."Bukan untuk melupakan. Melainkan agar pikirannya tidak terus berputar pada masalah yang sama. Naomi benar-benar ingin menenggelamkan diri dalam pekerjaan.Ia menyelesaikan laporan yang tertunda. Membalas email klien. Merevisi desain promosi. Membantu teman mengecek materi presentasi. Bahkan Flora sampai beberapa kali melirik ke arahnya."Hari ini rajin banget."Naomi hanya tersenyum tipis. "Lagi pengin kerja."Flora tertawa kecil. "Kalau setiap hari begini, bos pasti senang."Naomi ikut tersenyum, lalu kembali menatap layar komputernya. Satu per satu pekerjaannya selesai lebih cepat dari biasanya. Saat j
Vino pun meletakkan cangkir berisi coklat. Dia membuat satu gelas lagi untuk adiknya. Ketika dua gelas coklat hangat sudah di tangan. Dia pun menghampiri adiknya."Minum dulu."Naomi menerima cangkir cokelat hangat yang disodorkan kakaknya. "Terima kasih, Kak."Vino duduk di sofa sebelah. Ia melirik Naomi sekilas. Mata sembap. Wajah pucat. Jelas sekali ada sesuatu yang sedang terjadi. Pasti ada masalah.Pikiran itu muncul begitu saja. Namun Vino memilih menyimpannya sendiri. Ia mengenal Naomi lebih dari siapa pun. Semakin dipaksa bercerita, adiknya justru akan semakin menutup diri. Dia belum mendapat informasi apa pun dari kaki tangannya."Mau nonton film?"Naomi menggeleng pelan. "Hm... nggak.""Mau main game?""Nggak juga.""Mau denger Kakak main piano?"Naomi akhirnya menoleh. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Itu kan minggu lalu."Vino terkekeh pelan. "Iya juga."Keheningan kembali hadir. Namun
Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika mobil Mareeq memasuki kawasan apartemen Naomi. Tidak ada lagi perdebatan. Hanya keheningan yang nyaman.Naomi membuka sabuk pengamannya. Sebelum turun, ia menoleh."Terima kasih untuk malam ini."Mareeq tersenyum tipis. "Jaga diri baik-baik."Naomi mengangguk pelan.Begitu pintu apartemen terbuka, Naomi langsung melihat Leon yang sedang berdiri di ruang tamu. Pria itu tampak baru saja mondar-mandir. Begitu melihat Naomi, wajahnya berubah lega."Sayang!" Leon segera menghampirinya. "Kamu ke mana? Aku benar-benar khawatir."Naomi memaksakan senyum kecil. "Aku jalan-jalan sebentar karena butuh hiburan."Leon memperhatikan wajah Naomi. Mata perempuan itu masih sembap. Seolah habis menangis. Namun Leon memilih untuk tidak mendesaknya. Ia hanya menggenggam tangan Naomi."Ayo duduk."Mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Beberapa detik berlalu tanpa suara. L
"Aku tidak tahu.""Ketika ban mobilmu kempes. Ketika aku hampir tertabrak. Kamu menarikku." paparnya. "Perutku berkedut. Rasanya aneh.""Hmm." gumam Mareeq. "Pantas saja kamu diam setelah itu."Naomi masih tetap memandang ke luar jendela. "Aku memang mengeluhkan terkait terlambat haid. Ternyata itu karena sesuatu tumbuh di perutku.""Mungkin dia mengenali ayahnya." Ia melirik ke arah Naomi.Naomi tidak langsung menjawab atau bereaksi. Hanya ada satu kata yang keluar. "Mungkin."Sekitar lima belas menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kedai pizza kecil yang masih ramai meski malam semakin larut. Papan neon bertuliskan OPEN 24 HOURS menyala terang. Aroma adonan yang baru dipanggang langsung tercium begitu mereka turun dari mobil.Di balik etalase kaca, beberapa pizza baru saja keluar dari oven. Keju yang meleleh masih mengepul. Dihias berbagai toping.Naomi berdiri beberapa detik di depan kaca. Tatapannya mengikuti seora
Naomi menatap Mareeq. Mareeq terlihat membeku dengan apa yang dikatakan Naomi. Tatapannya sangat tidak percaya bahwa dia mengatakan hal itu."Apa maksudmu?" tanya Mareeq meminta penjelasan."Aku tidak bisa menikah dengan Leon." ujar Naomi. "Dan kamu tidak bisa meninggalkan keluargamu." air matanya pun mulai mengalir.Mareeq bangkit dari kursinya. Ia berjalan perlahan hingga berdiri di samping Naomi. Dengan sangat hati-hati ia berjongkok di hadapan Naomi agar tinggi pandangan mereka sejajar. Mareeq menggenggam tangan Naomi yang mengepal."Aku sudah bilang padamu Freya bukan anak kandungku." ujar Mareeq"Kamu tahu aku dan Raya adalah teman masa kecil. Aku menikahinya karena dia hamil dan pria itu tidak bertanggung jawab.""Cukup, Mareeq..." air matanya terus mengalir. "Jangan bilang begitu.""Naomi, dengarkan aku dulu." Mareeq mencoba meminta pengertian."Freya mungkin bukan anak kandungmu." sela Naomi. "Tapi dia tetap anakmu." S
Ia berjalan cepat menuju kantin, berniat menyeret Erina pergi dari sana secepat mungkin. Namun, begitu sampai di ambang kantin, pemandangan di depannya membuatnya ingin putar balik. Di salah satu meja, Erina tampak sedang tertawa lebar. Di hadapannya, Pak Angin serta Khai baru saja meletakka
"Aku bilang dia tidak membencimu," sahut Mareeq singkat. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut. Seolah ada dinding transparan yang ia bangun untuk melindungi Naomi agar tidak melangkah terlalu jauh ke dalam zona berbahayaMareeq menyodorkan jagung bakar milik Naomi ke mulutnya. "Makanlah. Jang
Mereka sampai di depan mobil Mareeq yang terparkir di bawah bayangan pohon besar. Mareeq membukakan pintu untuk Naomi. Sebuah gestur sederhana namun terasa sangat protektif bagi Naomi. Setelah itu, Mareeq berjalan mengitari sebagian badan mobil dan masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. C
Mareeq mengangkat kepalanya sedikit, dia sedikit meninggikan suara karena harus bersaing dengan dentuman musik rock. "Mau ke mana?" tanya Mareeq, nadanya datar namun ada sedikit perintah di dalamnya.Naomi terkejut sesaat karena Mareeq menahannya. Ia menatap mata sekilas ke arah Claudia. T







