ANMELDENMereka sampai di depan mobil Mareeq yang terparkir di bawah bayangan pohon besar. Mareeq membukakan pintu untuk Naomi. Sebuah gestur sederhana namun terasa sangat protektif bagi Naomi. Setelah itu, Mareeq berjalan mengitari sebagian badan mobil dan masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. Cahaya dari dasbor yang temaram seketika menerangi garis rahangnya yang tegas, memberikan kesan maskulin yang kuat di tengah kegelapan kabin.
Naomi secara tidak sadar melirik ke arah cup holder
Sejak pagi langit sudah mendung. Namun tidak ada yang benar-benar memperkirakan hujan akan turun sedemikian deras. Menjelang jam makan siang, suara hujan mulai terdengar menghantam kaca-kaca gedung kantor. Lalu semakin lama semakin deras.Sampai area luar gedung terlihat seperti tertutup tirai air. Naomi yang baru saja selesai rapat kecil bersama beberapa anggota tim berjalan menuju sky terrace untuk membeli minuman. Di saat yang sama, Mareeq datang. Mereka berpapasan di koridor."Hujan." ujar Naomi."Iya.""Deras sekali."Mareeq melirik ke luar jendela. "Mungkin sampai sore."Naomi mengangguk. "Aku benci hujan hari ini.""Kemarin kamu suka hujan.""Itu hujan hari Minggu.""Apa bedanya?""Hujan hari Minggu romantis. Hujan di hari kerja itu menyebalkan."Mareeq tertawa kecil.Ponsel Naomi kemudian bergetar. Naomi menerima telepon dari bagian administrasi. Ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani
Naomi secara reflek mengambil ponselnya dan melihat pesan yang dikirim Mareeq. Ada beberapa pesan dari Mareeq. Dan semuanya belum terbaca."Aku tidak lihat.""Kamu sengaja meninggalkanku." tuduh Mareeq."Aku tidak meninggalkanmu." ujar Naomi. "Aku memberi kalian kesempatan.""Kesempatan apa? Apa yang sedang coba kamu lakukan?" suara Mareeq mulai terdengar kesal."Kamu dan Claudia.""Kamu tahu aku tidak suka kamu begitu.""Claudia yang meminta.""Kamu tahu aku tidak ingin.""Lalu aku harus bagaimana?""Dia benar-benar memintamu?" tanya Mareeq seolah tidak percaya.Naomi tidak menjawab. Karena dia benar-benar malas membahas Claudia. Seharusnya Mareeq sudah tahu Naomi tidak akan berbohong."Jika kamu melakukannya lagi maka aku tidak akan menahan diri lagi." ujar Mareeq mengalihkan pandangannya.Naomi semakin bingung. Apa yang akan dilakukan Mareeq. Apakah dia akan menolak Claudia mentah-mentah? A
Naomi dan Killa masih tertawa saat meninggalkan tenant batagor. Setiap kali Killa mulai tenang, ia akan teringat wajah bersalah Naomi ketika menyadari pisang goreng itu milik penjual. Lalu tertawa lagi."Aku benar-benar minta maaf sama bapaknya.""Aku tahu.""Jangan ketawa terus." protes Naomi."Aku berusaha." jawab Killa sambil menahan tawa.Ponsel Naomi tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari Claudia. Naomi membuka pesan itu sambil berjalan.Claudia: Aku ingin pulang sama Mareeq. Kamu tidak apa bukan? Jika Mareeq bertanya padamu kamutahu jawabannya bukan?Naomi membaca pesan itu beberapa detik. Lalu mengetik balasan singkat.Naomi: Oke.Killa melihat layar ponsel Naomi. Tidak seluruh isi pesan. Tapi cukup untuk menangkap nama Mareeq dan Claudia. Killa tidak berkomentar. Ia hanya menyimpan informasi itu dalam hati."Mau pulang?" tanyanya.Naomi mengangguk. "Sudah sore.""Aku antar."Naomi
Naomi berhenti beberapa meter dari pintu. Melihat tas snack di tangannya. Kemudian menoleh ke belakang. Beberapa detik berlalu. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia berbalik kembali masuk.Petugas cleaning service itu terlihat terkejut ketika Naomi muncul lagi. "Ada yang ketinggalan?"Naomi mengulurkan tas snack besar itu. "Untuk Ibu saja."Wanita itu berkedip."Buat anak Ibu." jelas Naomi.Wanita itu langsung menggeleng. "Jangan, Mbak. Jangan.""Tidak apa-apa.""Ini kan mahal."Naomi tersenyum kecil. "Anak Ibu lebih senang menerima tas ini daripada saya."Wanita itu terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca."Ambil saja, Bu." Naomi menyerahkan tas itu ke tangannya. "Kebetulan saya juga sudah kebanyakan beli makanan hari ini."Kalimat terakhir itu membuat wanita tersebut tertawa. Dengan senyum yang jauh lebih lebar dari sebelumnya. "Terima kasih, Mbak."Naomi mengangguk. "Sama-sama."Melihat senyum itu, N
Sekitar satu jam setelah Killa meninggalkan festival, ponsel Naomi bergetar. Saat itu Naomi masih duduk di area makan. Di depannya ada sisa minuman, dua bungkus camilan, dan sebuah kotak makanan yang entah mengapa masih ia simpan meski sudah mengaku kenyang.Claudia dan Mareeq berada tidak jauh darinya. Atau lebih tepatnya Claudia sedang berbicara tanpa henti pada Mareeq. Naomi sendiri sedang membalas pesan-pesan yang menumpuk di ponselnya. Salah satunya dari Killa.Killa: Kamu butuh teman?Naomi langsung membalas.Naomi: Tidak.Balasan datang cepat.Killa: Yakin?Naomi: Iya.Claudia tiba-tiba berdiri. "Mareeq.""Hm?""Ayo ke area belakang." ujar Claudia sambil menarik lengan Mareeq."Ada tenant minuman yang mau aku coba."Mareeq tampak ragu. "Kamu mau?" tanya Mareeq pada Naomi."Nggak. Kalian ajah. Aku tunggu di sini."Claudia sudah berdiri di samping kursinya. "Ayo."Naomi kemb
Naomi sedang mencari kursi kosong ketika pandangannya berhenti pada seseorang. Ia menyipitkan mata. Lalu wajahnya langsung berubah cerah."Killa?"Tanpa menunggu jawaban, Naomi langsung berjalan ke arah salah satu meja. Seorang pria yang sedang memegang gelas minuman menoleh. Dan langsung melotot ke arahnya."Naomi!"Mereka saling menyapa seperti teman lama yang kebetulan bertemu. Di samping Killa duduk seorang wanita yang pernah beberapa kali Naomi temui sebelumnya. Tunangan Killa."Halo," sapa Naomi ramah."Halo, Naomi." Wanita itu tersenyum hangat."Senang bertemu lagi.""Aku juga."Killa menunjuk kursi kosong. "Duduk."Kemudian Killa melihat ke belakang Naomi. Tatapannya bergerak ke kiri. Lalu ke kanan. Lalu ke belakang lagi.Naomi memperhatikan. "Kamu kenapa?"Killa masih melihat ke arah kerumunan. "Aku sedang mencari.""Mencari apa?""Singa."Naomi berkedip. Dia diam sejena
Vino menyipit tipis. Tatapan yang seolah mengatakan kamu sengaja. Naomi membalas tatapan itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. Tentu saja sengaja. Keluarga mereka semua tidak bisa minum kopi pahit.Sekarang, melihat kakaknya berusaha mempertahankan wibawa di depan satu ruangan sambil menaha
Naomi mengirim pesan pada OB itu lagi meminta dijemput untuk membantunya membawa barang. Beberapa menit kemudian OB itu datang dan dengan cekatan membantu membawakan barang.“Mbak Naomi rajin juga ya ngurus beginian,” kata OB itu sambil berjalan.Naomi tertawa kecil. &ld
Naomi akhirnya tersenyum kecil meski matanya terlihat lelah. “Aku berencana memeras kakakku hari ini.”Kalimat itu terdengar seperti candaan yang meyakinkan Mareeq untuk tidak khawatir."Aku akan mengantarmu." ujar Mareeq.Naomi menahan lengan Mareeq. Naomi langsung
"Kita bisa memesan makanan ke sini." ujar Mareeq.Mareeq melihat ke arah pantai. Claudia dan Flora mendapatkan teman bermain voli dan terlihat lebih bersemangat bermain."Sepertinya mereka masih lama bermain."Naomi melihat ke arah yang dimaksud Mareeq. Ada beberapa orang yan







