Se connecterIa berjalan cepat menuju kantin, berniat menyeret Erina pergi dari sana secepat mungkin.
Namun, begitu sampai di ambang kantin, pemandangan di depannya membuatnya ingin putar balik. Di salah satu meja, Erina tampak sedang tertawa lebar. Di hadapannya, Pak Angin serta Khai baru saja meletakkan nampan makanan mereka.Erina melambai dengan semangat begitu melihat Mao berdiri mematung di pintu masuk.
"Mao! Sini! Kebetulan banget ini ada Om Angin sama Pak Khai!" teriak Erina tan
“Dan bilang pada dia, saya berharap dia tidak mengecewakan saya.”Naomi tersenyum. “Saya yakin dia tidak akan mengecewakan Bapak.”Pak Rino kemudian pamit karena harus menemui seseorang di tempat lain. Naomi menundukkan kepala sedikit.“Terima kasih banyak, Pak Rino.”“Ya. Saya tunggu kabarnya dari Leon.”Setelah Pak Rino pergi, Naomi berdiri beberapa detik sambil melihat ke arahnya. Mareeq akhirnya berjalan mendekat.“Kamu baru saja menyelamatkan proyek Leon.”Naomi menoleh. “Aku hanya menyampaikan apa yang aku tahu.”Mareeq tersenyum tipis. “Kamu sangat yakin padanya.”Naomi terdiam sebentar."Aku juga ingin melihat Leon berhasil."Mareeq memperhatikan wajah Naomi. Ada rasa aneh dalam diri Mareeq melihat Naomi berusaha untuk orang lain. Padahal sudah sewajarnya memang Naomi membantu Leon, pacarnya.Setelah makan sia
Keesokan harinya, suasana kantor kembali dipenuhi kesibukan. Sejak pagi, Naomi sudah duduk di depan komputernya. Beberapa dokumen terbuka di layar, sementara tangannya sibuk mencatat poin-poin penting dari laporan yang harus diselesaikannya hari itu. Sesekali ia memeriksa email masuk, kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.Pagi itu berjalan cukup tenang sampai sebuah pesan dari Leon masuk ke ponselnya.Leon: Hari ini aku mungkin kerja dari apartemen dulu. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan bareng Maya.Naomi membaca pesan itu sebentar.Naomi: Oke. Jangan lupa makan.Tidak sampai satu menit, balasan masuk.Leon: Oke, Sayang. Kamu juga jangan terlalu capek.Naomi tersenyum kecil melihat jawabannya. Ia kemudian kembali bekerja.Menjelang siang setelah meeting di luar, Naomi keluar bersama Mareeq untuk makan. Mereka berjalan menuju restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor. Mareeq membawa ponselnya sambil sesekali membi
"Sudah." Naomi menggenggam tangan Leon. "Kamu mandi dulu." pintanya.Leon menatapnya. "Aku harus selesaikan ini. Besok harus bertemu klien lagi.""Kamu sudah terlalu lama duduk di sini." Naomi mengambil beberapa lembar dokumen dari hadapannya. "Aku akan bantu."Leon tampak ragu. Naomi tersenyum kecil, meyakinkan kekasihnya bahwa semuanya tidak harus diselesaikan malam ini. Dia tahu Leon sedang bersemangat, tapi tubuhnya butuh istirahat."Pergi mandi. Setelah itu kita lanjutkan." bujuk Naomi.Leon menatap Naomi beberapa detik. Akhirnya ia menyerah. Leon berdiri. Kemudian dia masuk ke kamar mandi.Begitu suara air terdengar, Naomi mulai memperhatikan dokumen-dokumen yang berserakan. Ia membaca satu per satu. Tidak butuh waktu lama sampai Naomi menyadari masalahnya.Bukan pekerjaannya yang terlalu sulit. Dokumen-dokumen itu hanya bercampur. Ada data klien, permintaan revisi, catatan internal, serta dokumen yang sebenarnya sudah sel
Keesokan harinya, Naomi kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi itu, dia baru saja keluar dari ruang meeting ketika melihat dua sosok yang sudah tidak asing lagi. Leon dan Maya.Keduanya berdiri di dekat area lounge kantor sambil melihat beberapa dokumen. beberapa map terbuka di hadapan mereka, sementara beberapa lembar kertas penuh catatan tersebar di atas meja. Dari ekspresi mereka, keduanya terlihat sangat sibuk. Naomi yang awalnya hendak menghampiri akhirnya mengurungkan niat. Ia tidak ingin mengganggu.Naomi baru saja berbalik ketika Leon mengangkat wajah dan melihatnya. Tatapan mereka bertemu. Leon langsung tersenyum."Sayang." panggil Leon dengan lantang.Naomi tersenyum balik. "Hai."Leon menutup mapnya sebentar dan berjalan menghampiri Naomi. Begitu sampai di hadapannya, Leon seperti biasa mencium kening Naomi dengan lembut."Kamu terlihat sibuk." ujar Naomi.Leon mengangguk. "Kami lagi buru-buru. Kliennya mau k
"Naomi!" Flora melambaikan tangan. "Sini!"Naomi menghampiri mereka."Punyamu sudah ada di mejamu." ujar Flora dengan semangat.Naomi mengernyit. "Punyaku?""Iya." jawab Flora. "Kamu dapat yang spesial." kekehnya.Naomi berjalan menuju mejanya. Begitu sampai, langkahnya berhenti. Di atas meja terdapat satu paket sushi yang langsung dikenalnya. Sushi kesukaannya. Di sebelahnya ada satu gelas matcha latte dingin. Naomi menatap makanan itu beberapa saat.Flora yang berdiri tidak jauh darinya langsung berkata, "Pesanan khusus. Kesukaan kamu."Naomi melihat sushi di depannya. Ia tahu siapa yang memesannya. Claudia pasti akan menyeragamkan pesanan. Jadi, itu pasti permintaan Mareeq. Entah kenapa, hatinya terasa sedikit hangat.Namun bersamaan dengan itu, ada rasa tidak nyaman yang ikut muncul. Dia harus berterima kasih. Naomi mengambil ponselnya. Ia membuka pesan pribadi dengan Mareeq.Naomi: Terima kasih untuk sushi dan match
"Kamu mau ke mana?" tanya Leon."Sky terrace. Mau cari udara."Leon mengangguk.Maya tersenyum kepada Naomi. "Hai.""Hai, Maya."Naomi melihat keduanya bergantian. Kemudian ia tersenyum tipis. "Kalian sudah kembali seperti semula."Maya hanya tersenyum.Leon tertawa kecil. "Bukan begitu." Leon memasukkan satu tangan ke saku celananya. "Kami mendapatkan tugas bersama."Maya mengangguk.Leon menghela napas kecil. "Kliennya agak sulit.""Agak?" Maya tertawa."Oke. Sangat sulit." Leon merevisi.Naomi ikut tersenyum. Mereka benar-benarkembali arab seperti semula."Kami harus banyak koordinasi." Leon kemudian tiba-tiba seperti mengingat sesuatu. "Eh, tapi kamu mungkin tahu klien ini."Naomi mengernyit. "Siapa?"Leon menyebut nama perusahaan tersebut. Lalu menyebut nama salah satu perwakilan proyek ini.Naomi langsung mengangguk. "Oh, aku tahu."Leon terlihat lega. "Syukur
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru







