Se connecterIa berjalan cepat menuju kantin, berniat menyeret Erina pergi dari sana secepat mungkin.
Namun, begitu sampai di ambang kantin, pemandangan di depannya membuatnya ingin putar balik. Di salah satu meja, Erina tampak sedang tertawa lebar. Di hadapannya, Pak Angin serta Khai baru saja meletakkan nampan makanan mereka.Erina melambai dengan semangat begitu melihat Mao berdiri mematung di pintu masuk.
"Mao! Sini! Kebetulan banget ini ada Om Angin sama Pak Khai!" teriak Erina tan
"Tidak ada." jawab Rahaal. "Kamu hanya terlihat seperti biasanya.""Bagaimana progres proyek dengan Gigantic?" tanya Naomi kemudian."Lancar. Semua sudah selesai dan tinggal produksi. Sebentar lagi peluncuran produk.""Bagus." Naomi menanggapi."Kamu ingin kembali ke proyek itu?" tanya Rahaal."Nggak." jawab Naomi tanpa ragu. "Proyek itu bukan mainan yang aku bisa keluar dan masuk. Jika semua berjalan lancar tanpaku itu bagus.""Kamu juga ambil bagian dalam proyek itu. Masih ada tahap peluncuran produk yang perlu perhatian.""Tetap saja." ujar Naomi. "Claudia pasti lebih bisa diandalkan dalam proyek ini."Naomi menggeleng sambil tertawa karena membayangkan sesuatu."Jika aku masih di proyek itu dan kamu membuatku kesal. Aku akan menyalahkan kakkku dan memerasnya."Ia memandang ke arah langit yang jauh, masih tertawa karena mengingat kejadian yang pernah terjadi. Sebenarnya Naomi memang suka membuat kakaknya
“Hai.” sapa Naomi.“Hai.” Suara Maya terdengar pelan.Naomi berdiri beberapa langkah darinya. Suasana di antara mereka langsung terasa canggung. Maya memegang kedua tangannya di depan tubuhnya. Tatapannya beberapa kali terangkat, tetapi segera kembali turun. Naomi tahu kenapa.Gosip tentang Leon dan Maya sudah mulai menyebar. Dan meskipun Naomi tidak pernah secara terbuka membicarakannya kepada siapa pun, Maya pasti tahu bahwa Naomi sudah mengetahui semuanya. Nama Maya pasti juga ikut terseret. Apalagi di sini Maya menjadi orang ketiga.“Aku tidak marah.”Maya mengangkat wajah. Naomi melihat keterkejutan yang jelas di matanya.“Apa?”“Aku tidak marah.” kata Naomi sekali lagi.Maya tampak semakin bingung.“Setidaknya, tidak seperti yang mungkin kau pikirkan.”Maya menggigit bibir bawahnya. "Aku minta maaf."Naomi menghela napas pelan. &l
“Kamu ingat Claudia pernah mengalami kecelakaan?" Mareeq mencoba mengingatkan Naomi.Naomi menoleh sepenuhnya ke arahnya. Naomi hanya mengangguk. Ya, Mareeq pernah mengatakannya dulu.“Sudah cukup lama kejadiannya. Dia mengalami masalah di punggungnya.”“Ya,” gumam Naomi. “Kamu pernah mengatakan itu.”“Menurut Claudia, rasa sakitnya mulai semakin parah.”Naomi memandang ke luar jendela. “Jadi itu sebabnya dia cuti?”“Sepertinya begitu.”“Dia perlu periksa?” tanya Naomi.“Dia tidak menjelaskan banyak. Tapi, dia emmang sering mengeluhkan sakit punggung itu.”Naomi kembali menoleh kepadanya. “Dia selalu memberi tahu kamu?”Mareeq tersenyum tipis. “Ya. Aku bertanya apakah dia baik-baik saja. Dia bilang akan menangani semuanya.”Naomi mengangguk pelan. Itu terdengar seperti Claudia. Naomi
“Kita sudah membicarakan ini.” ujar Naomi.“Aku tahu. Tapi aku tidak bisa begitu saja menyerah.”“Itu risiko atas apa yang kamu lakukan.”Leon tampak terluka. Naomi menyadarinya. Dan untuk sesaat, ada bagian dari dirinya yang merasa tidak nyaman melihat wajah pria yang pernah begitu dekat dengannya itu. Namun rasa tidak nyaman tidak sama dengan keinginan untuk kembali.“Aku masih mencintaimu, Naomi.”Naomi terdiam. Leon sedikit mendekat.“Aku tahu aku menghancurkan semuanya. Aku tahu aku membuat kesalahan yang mungkin tidak bisa kau maafkan sekarang. Tapi beri aku kesempatan.”Naomi menggeleng. “Tidak ada kesempatan.”“Kenapa kamu bahkan tidak mau memberi kesempatan?”Pertanyaan itu membuat Naomi menatapnya lebih tajam. Benar. Kenapa Naomi tidak ingin memberi kesempatan? Mungkin benar kata Kill bahwa kesalahan Leon merupakan hal yang pali
Claudia menatapnya tanpa berkedip. “Saling menggoda?”Leon mengangguk kecil, terlihat tidak nyaman dengan pengakuannya sendiri.“Awalnya cuma bercanda. Kami bicara, saling menggoda. Lalu waktu itu kami ada di apartemen dan…” Ia menghela napas. “Semuanya terjadi begitu saja.”Claudia tertawa pendek, tetapi sama sekali tidak terdengar lucu.“Di luar kendali?”Leon kembali diam."Aku tidak menyangka Naomi akan pulang hari itu. Biasanya aman.""Biasanya?" selidik Claudia.Jika ada biasanya itu berarti kejadian itu bukan pertama kalinya."Kamu gila, Leon!" maki Claudia yang ikut kesal.Leon menatap Claudia dengan frustrasi."Aku sebenarnya ingin membantumu. Tapi, entahlah jika ternyata kamu segila ini.""Berhentilah jika tidak ingin membantuku. Aku sudah sangat stres."Claudia memandangnya beberapa detik, lalu menghela napas. Dia benar-benar ha
Suasana ruangan kembali seperti semula. Beberapa orang mulai kembali fokus ke pekerjaan masing-masing. Meskipun mereka sempat saling pandang.Tidak berapa lama, pintu ruangan kembali terbuka. Naomi secara refleks mengangkat kepala. Mareeq baru datang.Mareeq mengenakan pakaian kerja dan membawa tas di satu tangan. Begitu melangkah masuk, pandangannya langsung menyapu ruangan seperti biasa. Kemudian ia melihat Naomi, membuat langkahnya sedikit melambat.Naomi sudah kembali. Beberapa hari terakhir, kursi itu kosong. Dan pagi ini, perempuan itu akhirnya duduk di sana lagi.Mareeq tidak langsung menghampirinya. Namun senyum kecil muncul di wajahnya. Senyum yang begitu tipis sehingga mungkin tidak semua orang akan menyadarinya.Naomi melihat kedatangannya. Dia membalas senyuman itu. Hanya sebentar. Sederhana. Seolah-olah mereka sedang mengatakan sesuatu tanpa perlu mengucapkannya. Bahwa dirinya baik-baik saja.Mareeq kemudian berjalan menuju ruan
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru







