Beranda / Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / The Beauty with Brains

Share

The Beauty with Brains

Penulis: NaoMiura
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 20:00:30

Ia berjalan cepat menuju kantin, berniat menyeret Erina pergi dari sana secepat mungkin.

Namun, begitu sampai di ambang kantin, pemandangan di depannya membuatnya ingin putar balik. Di salah satu meja, Erina tampak sedang tertawa lebar. Di hadapannya, Pak Angin serta Khai baru saja meletakkan nampan makanan mereka.

Erina melambai dengan semangat begitu melihat Mao berdiri mematung di pintu masuk.

"Mao! Sini! Kebetulan banget ini ada Om Angin sama Pak Khai!" teriak Erina tanpa dosa.

Khai, yang sedang mengaduk kopinya, perlahan mendongak. Matanya bertemu dengan mata Maorielle, dan ia mengangkat alisnya sedikit. Sebuah ekspresi yang seolah berkata, aku ada di sini juga lho. Maorielle tidak punya pilihan. Menarik Erina pergi sekarang hanya akan membuat suasana jadi aneh. Pria itu pasti akan menertawakannya dalam hati. Dengan langkah yang dipaksakan seanggun mungkin, Mao berjalan menghampiri meja pojok itu.

"Siang, Pak Angin. Siang, Pak Khai," sapa M

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bilur Bulir Bertaut   Oleh-oleh

    Jumat siang yang terik itu terasa berbeda bagi Naomi. Saat ia berjalan menuju area parkir kantor untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil, langkahnya mendadak terkunci. Di sana, di sebelah mobilnya, seharusnya itu tempat kosong. Tapi, dia melihat sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali. Mobil Mareeq.Tiiinn! Mareeq menekan klakson singkat yang membuat Naomi tersentak terkejut. Naomi berjalan mendekat dengan perasaan campur aduk antara senang dan bingung. Ia mengetuk kaca jendela mobil yang gelap itu perlahan. Begitu kaca diturunkan, Mareeq sudah menyambutnya dengan senyum lebar yang selama ini Naomi rindukan di kantor."Kamu sudah pulang? Bukannya seharusnya masih di luar negeri sampai akhir pekan? Dan ini kan masih hari liburmu, kenapa malah ke kantor?" berondong Naomi dengan rentetan pertanyaan.Mareeq tertawa kecil melihat ekspresi panik sekaligus lega yang terpancar di wajah Naomi. Mareeq tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menep

  • Bilur Bulir Bertaut   Mengapa kamu tidak menyukaiku?

    Suasana di ruang rapat terasa dingin, meskipun pendingin ruangan sudah disetel ke suhu normal. Di ujung meja, Rahaal duduk dengan wibawa yang tak tergoyahkan, sementara kursi di sampingnya, yang seharusnya ditempati Mareeq, kosong melompong karena yang bersangkutan masih berada di luar negeri.Agenda hari ini menentukan project untuk semester depan. Di layar proyektor, terpampang dua proposal besar. Project "Authentic Roots" ide dari Mareeq dan Project "Glacier Chill" dari Rahaal."Ide Authentic Roots terlalu berisiko," buka Rahaal sambil mengetukkan pena di meja. "Pasar herbal sudah jenuh. Kita butuh inovasi teknis seperti Glacier Chill untuk memimpin pasar."Naomi, yang sejak tadi hanya diam, merasa dadanya sesak. Ia tahu betul berapa lama Mareeq meriset bahan-bahan herbal itu. Ia juga tahu bahwa ide Mareeq jauh lebih ramah lingkungan."Saya tidak setuju, Pak," potong Naomi, membuat beberapa rekan kerja di sana menahan napas. Rahaal menoleh perlah

  • Bilur Bulir Bertaut   Menghindar

    Setelah pertemuan yang memalukan di ruangan itu, Naomi sebisa mungkin menarik diri. Selama Mareeq masih cuti dan tidak ada di kantor, Naomi seolah memiliki misi rahasia: menghindari Rahaal. Ia selalu mencari jalan memutar jika melihat sosok Rahaal dari kejauhan, melewatkan jam makan siang yang biasa, dan hanya berkomunikasi melalui email atau pesan singkat untuk urusan pekerjaan yang benar-benar darurat.Namun, persembunyian itu berakhir ketika sebuah pesan masuk ke Slack. Rahaal memintanya datang ke ruangan. Naomi masuk dengan langkah ragu. Ia berdiri cukup jauh dari meja Rahaal, bersikap seformal mungkin. Rahaal tidak membahas soal konfrontasi mereka yang lalu, ia langsung pada intinya."Aku sedang meninjau target ekspansi kita untuk kuartal depan," ujar Rahaal tanpa basa-basi sambil membolak-balik berkas. "Kita butuh akses ke perusahaan Gigantic. Aku dengar persaingan untuk masuk ke sana sangat ketat."Rahaal mendongak, menatap Naomi dengan intensita

  • Bilur Bulir Bertaut   Melabrak Rahaal

    Sebuah kabar sampai ke telinga Naomi seperti bisikan beracun. Seorang teman setim Leon menghampirinya. Dia mengatakan bahwa Leon baru saja didepak secara sepihak dari proyek yang dipimpin oleh Rahaal.Sepanjang jalan pulang, pikiran Naomi berkecamuk. Ia tahu ada ketegangan dingin antara Rahaal dan Leon. Naomi selalu berpikir bahwa Rahaal tidak menyukai Leon sejak mereka berpacaran.Begitu sampai di apartemen, Naomi menemukan Leon sedang duduk di sofa ruang tamu, menatap layar televisi yang menayangkan program sepak bola. Bahunya tampak merosot, menciptakan siluet pria yang sedang dihancurkan oleh keadaan."Leon," panggil Naomi lirih. Ia meletakkan tasnya dan duduk di samping pria itu. "Aku dengar kamu dikeluarkan dari project yang dipimpin Rahaal. Apa itu benar?"Leon menghela napas panjang, sebuah suara berat yang penuh dengan beban. Ia menoleh perlahan, menatap Naomi dengan mata yang tampak sayu. "Ya, itu benar," jawab Leon pelan. "Aku keluar dari tim R

  • Bilur Bulir Bertaut   Killa

    "Aku pikir Rahaal hanya berusaha melindungi rumah tangga saudaranya. Dia tidak sedang menjahatimu, dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan." ucap Killa, suaranya tenang namun tajam.Kata-kata Killa menghujam tepat di titik yang selama ini Naomi coba abaikan. Di hadapan kejujuran Killa yang brutal, Naomi menyadari bahwa kegalauannya bukan sekadar karena kerinduan pada Mareeq, melainkan karena ia sedang berdiri di atas fondasi yang salah. Selama ini ia menganggap Rahaal sebagai penghalang yang jahat, tanpa mau mengakui bahwa dalam norma apa pun, dirinyalah yang berada di posisi yang keliru.Killa, dengan cara yang paling tidak nyaman, baru saja meruntuhkan semua tembok penyangkalan yang Naomi bangun. Kebenaran itu kini telanjang di depannya. Ia mencintai pria yang sudah memiliki keluarga, dan Rahaal hanya sedang menjaga keutuhan keluarga sepupunya."Aku harus bagaimana?" tanya Naomi dengan suara bergetar, nyaris berupa bisikan yang putus asa.Killa tid

  • Bilur Bulir Bertaut   Sahabat

    Naomi menyesap matcha latte-nya dengan lemas. Satu-satunya awan mendung yang menggelayuti kepalanya hanyalah kerinduan pada Mareeq. Anehnya padahal baru kemarin mereka bersama. Itulah alasan utama mengapa ia langsung mengiyakan ajakan Killa untuk makan siang. Ia butuh pengalihan. Ia butuh mengobrol dengan satu-satunya sahabat yang ia percayai."Kenapa murung? Apa sesuatu terjadi?" ujar Killa begitu melihat Naomi menghela nafas."Tidak ada. Aku hanya merasa kesepian," Naomi berusaha meredakan sesak di dadanya.Killa menaikkan sebelah alisnya, mengamati wajah sahabatnya dengan saksama. "Kesepian kenapa? Leon meninggalkanmu?"Naomi menggeleng pelan, memaksakan sebuah senyum tipis agar suasana tidak menjadi terlalu melankolis. "Tidak apa-apa. Lupakan saja. Apa yang membuatmu mengajakku makan siang?" Tanya Naomi.Killa menyesap minumannya sejenak, lalu meletakkan gelasnya dengan denting pelan yang terdengar mantap. "Aku berhenti bekerja di Legacy."

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status