共有

bab 47

last update 最終更新日: 2026-01-07 22:53:55

Pagi itu, rumah terasa begitu sunyi saat Alya membuka mata. Ranjang di sampingnya sudah dingin, menandakan Reihan sudah lama beranjak.

Ia bangkit perlahan. Tubuhnya terasa sedikit pegal, dan ada sensasi lengket samar di kulitnya, sisa kehangatan dan gairah semalam yang belum sepenuhnya pudar. Alya menghela napas pelan, lalu melangkah menuju kamar mandi.

Begitu air hangat mengguyur tubuhnya, Alya memejamkan mata. Ia mengusap kulitnya perlahan, membiarkan air membersihkan jejak-jejak semalam yang masih tertinggal. Ada rasa malu yang menyusup, tapi juga sesuatu yang membuat dadanya menghangat, kenangan akan sentuhan yang terlalu intens untuk dilupakan begitu saja.

Ia berdiri cukup lama di bawah shower, membiarkan pikirannya kosong. Saat akhirnya ia keluar dan mengenakan pakaian rumah yang longgar, perasaannya terasa sedikit lebih ringan, meski kegelisahan kecil masih bertahan di sudut hatinya.

Alya turun ke lantai bawah. Begitu tiba di ruang makan, langkahnya terhenti. Di atas meja sudah
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 55

    Kalimat terakhir Reihan menggantung di udara, menciptakan beban yang jauh lebih berat daripada rasa sakit di pipi Alya. Reihan membuang napas kasar, menyandarkan punggungnya ke jok mobil dengan gerakan frustrasi."Maaf..." ucap Alya lirih, suaranya pecah di antara isak tangis yang mulai tak terbendung. Ia menunduk dalam, memerhatikan jemarinya yang saling bertaut erat di pangkuan."Aku... aku hanya tidak ingin semakin menjadi beban untukmu, Mas," lanjutnya dengan suara bergetar.Mendengar kata itu, rahang Reihan kembali mengeras. Ia menoleh ke arah Alya, menatap istrinya yang tampak begitu kecil dan rapuh."Beban... beban... beban... Selalu saja kata itu yang keluar dari mulutmu," sahut Reihan, nadanya terdengar letih sekaligus kesal. "Mau sampai kapan kamu menganggap dirimu seperti itu, Alya?"Alya mengangkat wajahnya yang sembab, menatap Reihan dengan tatapan terluka. "Tapi memang nyatanya begitu, kan? Semenjak aku masuk ke dalam hidupmu, masalah selalu bermunculan tanpa henti. Oran

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 53

    Sari, yang mendengar janji pelunasan biaya, seketika matanya berbinar meski masih ada rasa takut. Baginya, uang ganti rugi itu jauh lebih berharga daripada ponsel yang belum tentu tahu cara menjualnya. Dengan gerakan kaku, ia mengeluarkan ponsel itu dari balik punggungnya."I-ini... Ibu tadi cuma mau mengamankan saja, Nak Reihan. Takut hilang karena di sini bangsal umum," kilah Sari mencari alasan sambil menyerahkan benda pipih itu ke tangan Reihan.Reihan mengambil ponsel tersebut, lalu beralih menatap istrinya. Ia baru saja akan mengusap rambut Alya saat jemarinya menyentuh helai rambut yang menempel di pipi gadis itu. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Reihan menyelipkan rambut Alya ke belakang telinga. Detik itu juga, rahang Reihan mengeras.Bekas tamparan merah padam di kulit putih Alya dan sudut bibir yang pecah terpampang nyata. "Siapa yang melakukannya?" tanya Reihan.Sari mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Itu... itu tadi Alya tidak sengaja jatuh, Nak Reihan! Dia menab

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 53

    Bau karbol yang menyengat menyambut Alya saat ia melangkah masuk ke bangsal kelas tiga. Ruangan itu penuh sesak, hanya dibatasi tirai tipis antar ranjang. Begitu kakinya melewati ambang pintu, sebuah suara melengking langsung menusuk pendengarannya."Bagus kamu, ya... Mentang-mentang sudah jadi istri orang kaya, sudah tinggal di rumah mewah, kamu lupa sama orang tua yang melarat di sini," sembur Sari, ibu tirinya, bahkan sebelum Alya sempat mengucap salam.Kata-katanya yang tajam seketika membuat suasana bangsal yang tadinya bising menjadi sunyi. Pasien di ranjang sebelah dan para penjaga menoleh serentak, menatap Alya dengan pandangan menghakimi seolah ia adalah anak durhaka yang tega menelantarkan keluarga.Alya hanya menunduk, meremas tali tasnya kuat-kuat. Ia tidak membalas. Dengan langkah berat, ia mendekati ranjang ayahnya. Beruntung, luka ayahnya tidak separah yang ia bayangkan, hanya ada beberapa perban di lengan dan lecet di pelipis."Kenapa bisa sampai begini, Yah?" tanya Al

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 52

    Cahaya matahari pagi perlahan menyeruak masuk melalui celah gorden, menyentuh kelopak mata Reihan. Ia mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Secara naluriah, tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya, namun yang ia rasakan hanyalah sprei yang dingin dan kosong. Sambil mengusap wajah, ia bangkit dan melangkah keluar kamar dengan harapan menemukan sosok yang semalam membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum.Reihan menuruni anak tangga satu per satu, langkahnya tertuju langsung ke dapur. Biasanya, di jam-jam seperti ini, ia akan melihat punggung Alya yang sibuk di balik kompor, bergelut dengan wajan untuk menyiapkan sarapan. Namun, dapur itu tampak mati. Tidak ada suara denting sudip, tidak ada suara air mengalir."Alya?" panggil Reihan, suaranya menggema di lorong rumah yang sunyi.Hening. Tidak ada sahutan. Reihan berjalan menuju ruang tengah, lalu kembali memanggil nama istrinya, namun rumah itu tetap terasa kosong. Hanya ada keheningan yang menyambutnya.Langkahnya terhenti

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 51

    "Membuatmu seperti apa, Alya?" Reihan kembali bertanya, dengan nada polos yang dibuat-buat, seolah ia benar-benar tidak mengerti kekacauan yang sedang terjadi di dalam dada istrinya.Alya tampak semakin gelisah. Ia meremas ujung taplak meja, mencoba mencari kekuatan untuk bersuara. "Me... membuatku gugup," ucap Alya akhirnya, suaranya sangat lirih, nyaris tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.Reihan tersenyum tipis. Alih-alih menjauh, ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya pada wajah Alya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Tatapan matanya yang gelap mengunci pandangan Alya, membuat napas wanita itu terasa tertahan di kerongkongan."Kamu gugup?" Reihan mengulang kalimat itu dengan suara rendah yang serak, terdengar sangat intim di telinga Alya. "Katakan padaku, bagian mana yang paling membuatmu gugup, hm?"Alya tidak bisa berkata-kata lagi. Ia merasa wajahnya kian memanas, bahkan mungkin sudah semerah warna kepiting rebus. Pikirannya bena

  • Bimbingan Malam Dengan Dosenku    bab 50

    Alya tertegun di kursinya, merasa benar-benar terjebak. Dinginnya kursi kayu itu kontras dengan rasa panas yang masih menjalar di pipinya. Ia melirik slip dress putih gading yang dikenakannya, lalu beralih pada Reihan yang kini sudah duduk dengan tenang, seolah-olah suasana baru saja tidak dipenuhi ketegangan yang menyesakkan napas."Tapi Mas, ini benar-benar..." Alya menggantung kalimatnya, kehilangan kata-kata untuk menggambarkan betapa merasa tidak pantasnya ia duduk di meja makan dengan pakaian sesedikit itu."Sangat cantik," potong Reihan cepat. Ia mengambil piring, lalu menyodorkannya pada Alya. "Isikan nasinya, Sayang."Alya melakukan perintah itu dengan gerakan mekanis. Tangannya masih sedikit gemetar saat menyendokkan nasi dan sup ayam ke piring Reihan. Setiap kali ia bergerak, tali tipis gaunnya terasa merosot di bahunya, memaksanya untuk terus-menerus membetulkan posisi pakaiannya dengan risih.Suasana makan malam itu terasa sunyi, hanya terdengar denting sendok yang beradu

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status